Putri Yang Terabaikan

Putri Yang Terabaikan
Lukisan


__ADS_3

Bastian memperhatikan Senyuman diwajah Nadia, Dia mengulurkan tangan untuk membuah beberapa potong ketas yang menempel dirambutnya.


Aroma maskulisn Bastian memasuki lubang hidung Nadia, Wajah Nadia merona sesaat tanpa diketahui oleh Bastian.


Sementara Nyonya Sinta sedang sibuk menyiapkan ulang tahun Nadia, jadi dia tidak sempat untuk memperhatikan Nadia.


“Astaga, aku luma melakukan hal sekecil ini, aku benar- benar talah tua”Ucap Nyonya Sinta sambil menepuk jidatnya, dia pergi mematikan lampu, dan ruang tamu benar- benar gelap saat ini.


Bastian merasa sakit kepala karena tingkah neneknya, seharusnya sejak awal dia yang membuat pest aini, bukannya malah menyerahkannya kepada neneknya.


Sementara Nyonya Sinta sedang menyalakan lilin dengan angka delapa belas di ruang tamu, setelah lilin menyala dia merasa puas. “Nadia kesini, buat permintaan dan tiup lilin.” Panggilnya penuh perhatian.


Nadia berjalan mendenkat, dia menyatukan telapak tangannya menutup mata dan berdo’a, setelah beberapa detik dia membuka mata dan meniup lilin yang berbentuk angka 18 itu.


“Aku yakin do’amu akan terkabul, Nadia ayo potong kuenya” Ucapnya dengan senyum gembira sambil memberikan pisau ke pada Nadia.


Bastian melihat ukuran kue yang sangat tinggi itu, kue yang selalu di pajang di pesta pernikahan, dia merasa sakit kepala.


Butuh waktu 30 menit untuk memotong kue itu.

__ADS_1


“Nadia kamu tidak harus memotong semuanya, potong saja beberapa bagian” Ucap Bastian memberi saran.


“OK” sahut Nadia.


Saat Nadia memotong kue itu Bastian mengambil pisaunya “Biar aku yang melakukan” dia tidak ingin membuat Nadia melakukan pekerjaan seperti ini, dia akan memperlakukan Nadia seperti seorang putri dan memperlakukannya dengan baik.


Saat Nyonya Sinta melihat permandangan ini dia mendengus kesal ‘Dasar bocah nakal!’


Melihat keperdulian Bastian kepada Nadia membuat Nyonya Sinta merasa kesal dan bahagia secara bersamaan.


Melihat Bastian menyukai Nadia dan sangat perduli dengannya, membuat dirinya sangat senang, karena kemungkinan besar Nadia menjadi cucu menantunya semakin besar, dan dia tidak akan membiarkan pria lain mendekati Nadia.


Semua orang telah memakan potongan kue itu.


Nyonya Sinta mengeluarkan tumpeng Nasi kuning berukuran mini, dengan beberapa jenis lauk, ayam goreng, telur goreng suir, dan lain- lain.


“Nadia aku membuat ini dengan tanganku sendiri, aku sudah lama tidak membuatnya, mungkin keterampilan memasakku mungkin telah hilang” sambill menyerahkan tumpeng nasi kuning itu ke Nadia.


Nadia mengambilnya dengan senang hati. Dia segera mencicipi nasi kuning itu dengan semangat “Ini benar- benar enak, aku tidak pernah memakannya sebelumnya.”

__ADS_1


Nadia adalah orang yang sangat tidak tahu apa- apa tentang masakan, menyuruhnya kedapur hanya akan membuat isi dapur meledak.


Sementara keterampilan Nyonya Sinta sangat bagus, begitupun dengan Bastian dia selalu memasak untuk dirinya sendiri saat di Villa.


Mendengar pujian Nadia nyonya Sinta tersenyum dan berkata “Bagus kalau kamu menyukainya.” Dia menatap Bastian dengan tatapan bangga, dia yakin jika didalam hati Nadia, dialah orang yang menduduki peringkat pertama ‘Kamu masih terlalu dinii untuk bersaing denganku!’


Bastian tidak bisa melakukan apa- apa saat melihat tatapan sombong neneknya.


Tatapan Nyonya Sinta Kembali lembut dan penuh kasih saat menatap Kembali Nadia.


Nasi kuning itu tidak terlalu banyak, tapi Nadia sudah merasa kenyang.


Nyonya sinta mengeluarkan hadiah, itu adalah Lukisan Nyonya Sinta yang menjadi favoritnya di kehidupan sebelumnya.


Lukisan itu pernah di tawar dengan harga 2M tapi nyonya Sinta menolaknya “Nadia ini hadiah untuk ulang tahunmu.”


Nadia memperhatikan lukisan itu, dia tidak menolaknya dan langsung menerimanya “Terima kasih nenek.”


Melihat Nadia mengambil lukisan itu Nyonya Sinta tersenyum bahagia, dia sangat menyukai sikap Nadia yang jujur, tidap seperti sosialita lain yang berpura- pura menola pemberian tapi menerimanya.

__ADS_1


__ADS_2