Putri Yang Terabaikan

Putri Yang Terabaikan
Lidia


__ADS_3

Raut wajah Aliwafa tidak berubah. Biasanya dia akan bersikap ramah dan penuh senyum saat bicara dengan Lidia, dia selalu menghormati Lidia. Tapi sekarang dia bersikap acuh tak acuh kepadanya “Kau bisa melihatnya nanti.”


Lidia terkejut dengan sikap dingin Aliwafa,  namun dia segera Kembali kesikapnya yang elegan, dia mangannuk sambil tersenyum “Ok.”


Dia merasa sangat kesal dengan sikapp Aliwafa.


Dia sudah terbiasa dengan sikap Ramah Aliwafa selama ini. Dia memandang rendang Aliwafa karena sikapnya yang arogan kali ini.


Dia hanya seorang guru, apa yang bisa dibanggakan?


Jika putri kesayangannya tidak berada dikelas 3A, dia tidak akan pernah memberi Aliwafa wajah.


Aliwafa mulai mengumumkan peringkat kelas, dia tidak seperti guru Sigit yang menjaga martabat muridnya. Dia juga tidak perduli dengan orang tua para siswa. Dia mulai mengeluarkan kalimat penghinaan tanpa ampun “Untuk ujian kali ini kalas 3A mengalami kemunduran, ini sangat mundur! Selama liburan tahun baru apa para siswa tidak pernah belajar saat dirumah?  Kalian tahu betul jika ujian masuk universitas sangat penting. Sebagai orang tua seharusnya anda memperhatikan mereka, jangan biarkan mereka bermain sesuka hati tanpa mengingatkan mereka untuk belajar.”


Sebenarnya ini tidak ada hubungannya dengan dirinya, mau mereka masuk universitas Nasional atau tidak, dia hanya menghawatirkan bonus yang selalu dia dapatkan. bonus 200 juta bukan angka yang kecil baginya, dia harus menabung selama satu tahun untuk mendapatkannya.


Lidia mencari hasil ujian Elisa, tatapanny atertuju kepapa nama Leni peringkat pertma dan perngkiat kedua adalah Leo, dia yakin jika peringkat ketiga akan diisi oleh nama Elisa.


Selama ujian Elisa selalu berada didalam peringkat sepuluh besar, sekalipun Peringkatnya turun dia tidak pernah keluar dari peringkat sepuluh besar. Dia sudah mencari nama Elisa dalam urutan nomor sepuluh, wajahnya memerah saat mengetahui Elisa berada di peringkat ke 15.

__ADS_1


Para orang tua mulai mencari anak- anak mereka, nilai mereka memang turu namun tidak urun terlalu banyak. Itu mungkin karena ujian kali ini lebih sulit dari pada biasanya.


Mereka tidak pernah memperhatikan nilai anak orang lain, hanya saja Lidia sangat sombong, jadi mereka ingin tahu hasil Ujian Elisa.


Elisa mendapat nilai rata- rata 85.75, dia mendapatkan peringkat 15 di kelas.


Beberapa orang tua mulai kesal, mereka berpikir jika Elisa akan menempati peringkat ke3 seperti biasa, hal itu akan membuat Lidia menjadi semakin sombong.


Ibu salah satu siswa Niko sudah dihina oleh Lidia, sebelumnya dia diberi tahu anaknya jika Elisa menempati peringkat 15 dikelas, dia secar belak- blakan memebri tahu orang tua siswa lainnya “Putri seseorang mendapatkan peringkat ke15 saat ujian, orang tuanya sangat sommbong karena pencapaiannya, lalu bagaimana denganku, anakku menempai peringkat 4 umum, apa dia berhak merendahkan orang lain.”


Ibu Niko kesabarannya seperti tissue yang tersiram air. Dia tidak akan mencari gara- gara dengan orang lain, tapi di ajuga tidak akan membiarkan orang lain membuat masalah dengannya.


Dia sudah mengambil kesempatan untuk mempermalukan Lidia, dia tidak akan melepaskan kesempatan ini bergitu saja.


Orang tua dari siswa yang mendapatkan peringkat 9 juga mengejek Lidia “memang orang selalu berpikir jika putrinya adalah yang terbaik dalam bidang apapun, tapi seharusnya mereka tidak harus merendahkan orang lain. Sekarang dapat dilihat bukan sikap sombongnya hanya memberinya rasa malu!”


“Sebagai orang tua, wajar jika membanggakan anak mereka, hanya saja semua ada batasnya, karena dunia ini tidak hanya terpu pada anaknya.”


Mereka duduk disamping Lidia setiap kalimat ynag mereka ucapkan terdengar langsung olehnya. Dia tidak bisa melakukan apapun, karena sebelumnya dialah yang terlebih dulu merendahkan mereka berdua.

__ADS_1


Lidia sangat marah dan malu secara bersamaan. Dia sebelumnya berpikir Jika Elisa akan mendapatkan peringkat ke 3 setelah kerja keras yang dia lakukan selama ini.


Namun dia berakhir dalam penghinaan.


Seberapa besar cintanyya kepada Elisa tapi dalam hatinya dia memiliki rasa benci kepadanya. Jika dari awal dia menceritakan keadaannya saat ini, dia tidak akan pernh mempermalukan dirinya sendiri seperti ini.


Sejak Aliwafa dipaksa minta maaf kepda Nadia, dia menjadi sangat kesal dan pemarah saat ini Aliwafa memandang Lidia “ Beberapa siswa mengalami kemunduran yang sangat serius terakhir kali dia menjadi peringkat ke 3 umum tapi sekarang dia menjadi peringkat 15 kelas. Dalam ujian itu ada selisih Nilai yang sangat jauh.”


Lidia dapat menebak jika ucapan Aliwafa mengacu kepada Elisa. Semua orang tua serempak menoleh kearahnya dan menatapnya dengan tatapan penuh penghinaan.


“Ibu Elisa kuharap kedepannya anda mengawasi Elisa dengan baik saat diruman, kali ini nilainya sangat buruk!” Kali ini Aliwafa tidak memberi wajah kepada Lidia, dia langsung menyebut namanya.


Wajah Lidia menjadi pucat pasi, dia tidak berkomentar apapun. Setelahnya dia tidak mampu mendengar ucapan yang keluar dari mulut Aliwafa. Dia ingin pergi dari sekolahan ini secepat mungkin. Pertemuan orang tua dan guru berakhir.


Elisa menunggu Lidia didepan kelas. Lidia menautkan alisnya dia menatap Elisa dengan tatapan tak senang “Elisa kenapa kau tidak bilang jika kau mendapatkan peringkat 15 kali ini?”


Elisa menjadi tegang mendengar pertanyaan darinya, dengan cepat dia membuat rautwajah sedih “Ibu kamu tahu jika aku demam selama beberapa hari ini, kepalaku pusing saat ujian.” Dia memasang wajah memelas sambil menundukkan kepala “Ibu, aku minta maaf, tidak perduli apa alasannya, itu semua salah ku karena tidak melakukan semua dengan baik.”


Komen dong kak biar rame, rasanya gak semangat pas lihat hanya sedikit orang yg mau komen. Kadang gak ada komen sama sekali dalam satu eps😥😥😥

__ADS_1


__ADS_2