
“Eka! Krasiva Eka Putri kan? lupa sama aku?”
Sapa seorang pria yang tidak asing padaku, ternyata dia adalah Dimas teman lamaku, jika diingat sudah hampir 15 tahun kita tidak bertemu. Dia masih sama seperti dulu, ceria, iseng, tampan dan masih tampak pintar.
“Mau pulang?” tanyanya sambil melirik tiket kereta yang aku pegang.
“Iya nih udah kangen sama yang di rumah, kamu?” tanyaku balik.
“Dari dulu kita nggak berubah ya?” ucapnya sambil tersenyum
“Maksudnya?” tanyaku heran
“Kamu suka kangen, aku suka dikangenin” jawabnya dengan wajah iseng
“Mak-sud-nya?” tanyaku ulang dengan penekanan yang mempertegas pertanyaan awal
“Iya kan? Kamu kangen sama yang di rumah, aku dikangenin sama yang di rumah, dulu waktu SMA juga gitu, pernah kamu nangis pingin pulang karena kangen bunda, eh aku sebel ditelfonin melulu sama Abah” jawabnya mengingatkanku pada masalalu
“Iya ya? Hahaha masih inget aja kamu”
“Aku tebak sekarang kamu masih suka nangis” kata Dimas menggodaku
“Enak saja, aku menangis sekali itu saja ya!” jawabku membela diri
“Ah masak? Inga-ingat lagi, siapa dulu yang nangis di kamar mandi nggak mau keluar, sampai bikin heboh satu sekolah?” kembali ia membawaku ke masa lalu
__ADS_1
“Hahaha, aduh jadi malu aku, untung ada pahlawan tanpa tanda jasa yang menolongku waktu itu”
“Pak Sugeng maksudnya?”
“Pak Sugeng guru yang ngejampi-jampi aku itu? Ah apa kabar bapak itu sekarang ya?” tanyaku sambil mengingat-ingat
“Enggak tahu, tapi kalau kabarku baik-baik saja hahaha” jawabnya sambil tertawa, memang sejak bertemu tadi kami belum saling menanyakan kabar.
“Kelihatan kok, masih cerewet gini hahaha” kami tertawa bersama, rasanya sudah sangat lama aku tidak tertawa selepas itu.
Senja di stasiun terasa begitu hangat, mengenang cerita masa lalu yang manis juga lucu, sayang kereta kami segera datang dan kamipun terpisah gerbong untuk bisa bernostalgia bersama atau sekedar bertukar kabar hari ini.
Apakah dia sudah menikah? punya anak berapa? Kerja dimana? Tinggal dimana? apa kabar temannya? Ada banyak pertanyaan yang ingin kusampaikan tapi aku tidak sempat, bahkan bertukar nomor telepon saja tidak terpikirkan.
Perjalanan Jakarta ke kampung halamanku cukup jauh kurang lebih 12 jam, biasanya duduk sebantar saja aku akan langsung terlelap dalam ayunan kereta api yang melaju cepat, tapi hari itu setelah bertemu Dimas aku seakan dibawa kembali ke masa lalu. Masa–masa yang indah juga pahit untuk dikenang.
-*-*_*-*-
Yang aku ingat awal mula kenal Dimas adalah dibangku SD. Saat itu merupakan masa dimana kondisi perekonomian Negara sedang tidak stabil, banyak pekerja yang di PHK termasuk papa Dimas yang bekerja di Jakarta. Karenanya Dimas dan keluarganya pindah ke desa. Di desa mereka tinggal di rumah Abah. Abah adalah guru ngaji di masjid depan rumahku, aku dan adikku juga ikut mengaji dengan beliau.
Aku ingat saat itu aku duduk di kelas lima SD. Aku adalah siswi yang terbaik di desaku. Bukannya sombong tapi memang aku selalu mendapat peringkat pertama di sekolah dan menjadi juara bertahan lomba cerdas cermat se Kecamatan. Aku berkenalan dengan Dimas juga di lomba cerdas cermat itu. Kami mewakili sekolah kami masing-masing. Hari itu aku mendengar ada peserta lomba cerdas cermat baru dari SD tetangga, namanya Dimas anak pindahan dari Jakarta, dengan sangat percaya diri aku memperkenalkan diri pada si anak baru itu.
“Kamu Dimas? Perkenalkan aku Eka juara bertahan” kataku sambil menjabat tangannya.
Masih jelas diingatanku saat itu Dimas hanya tersenyum malu tanpa mengatakan sepatah katapun. Dimas kecil sangat imut, dia putih, gendut dan pendek, kira-kira tingginya tepat sedaguku. Dia tidak banyak bicara tapi suka tersenyum, mungkin karena dia tidak mengerti bahasa Jawa sehingga dia lebih memilih diam dan tersenyum saja.
__ADS_1
Setelah hasil tes tulis keluar aku melihat nilai Dimas berbeda tipis dengan nilaiku. Tanpa sadar aku terus memperhatikannya. Pada tes adu cepat lagi-lagi aku kalah, kali ini nilaiku jauh tertinggal oleh Dimas, aku mulai resah. Terakhir adalah babak final, peserta yang tersisa tinggal Aku, Dimas, Fitri dan Budi. Aku berusaha sangat keras tapi ternyata Dimas memang sulit untuk dikalahkan dan hari itu untuk pertama kali aku melepaskan gelar juaraku. Dimas keluar sebagai pemenang aku diposisi kedua dan Budi ketiga.
Sejak saat itu aku menjadi penasaran dengan Dimas, aku selalu memperhatikanya. Rasanya aku belum rela jika akhirnya Dimas merebut posisiku sebagai siswa terbaik di kampungku.
-*-*_*-*-
Kecamatan kami hanya memiliki satu SMP jadilah aku dan Dimas satu sekolah. Selama SMP Dimas selalu menjadi rangking satu dan aku harus puas dengan peringkat dua atau tiga. Karena kepandaiannya Dimas selalu mewakili sekolah kami dalam perlombaan antar SMP di kabupaten kami. Tidak jarang Dimas menjadi juara dan mewakili kabupaten dalam perlombaan ditingkat provinsi. Sementara aku tersingkirkan dan tidak pernah mengikuti perlombaan semacam itu lagi.
Sejujurnya aku tidak terlalu suka dengan Dimas, mungkin karena aku iri. Aku merasa saat SMP Dimas menjadi cerewet dan sok asik, mungkin karena dia sudah mulai terbiasa dan sedikit lebih mengerti bahasa jawa, jadi dia lebih mudah bergaul dan punya banyak teman. Apalagi setelah khitan Dimas mulai tumbuh tinggi dan tubuh gendutnya perlahan menjadi kekar karena Abah terus melatihnya olahraga. Abah ingin Dimas menjadi pemain bola suatu saat nanti, maklum saat itu sedang ramai piala dunia dan Dimas adalah satu-satunya cucu laki-laki Abah.
Gemblengan Abah tidak sia-sia, berkatnya akhirnya Dimas bisa menjadi atlet lari di sekolah kami, Aku bahkan mendengar jika dia ditawari masuk akmil tanpa tes setelah lulus SMA karena telah menjuarai perlombaan maraton ditingkat provinsi, yah walaupun aku yakin dengan tes pun dia tetap akan bisa lolos.
Dimas tidak tertarik dengan tawaran itu, dia mempunyai mimpi menjadi seorang insinyur meskipun saat itu gelar insinyur sudah tidak dipergunakan lagi di Indonesia. Dimas adalah orang yang paling konsisten dalam menentukan cita-cita, sejak TK ia ingin menjadi insinyur dan tidak pernah berubah. Berbeda dengan aku yang saat TK ingin menjadi dokter lalu SD berubah ingin menjadi guru lalu saat SMA ingin menjadi perancang busana dan kini malah menjadi marketing.
Yang paling menyebalkan dari masa itu adalah Dimas yang terus mengikuti kemanapun aku pergi. Dia sering sekali main ke rumahku dan memanggil orangtuaku dengan sebutan Ayah, Bunda seperti orang tuanya sendiri, sok akrab banget.
Adik ku Dwi yang saat itu masih kelas empat SD sangat senang bermain dengan Dimas, baginya Dimas sangat keren, dia ingin bisa menjadi atlet lari seperti Dimas. Setiap sore mereka lari memutari lapangan bola bersama, kadang aku juga terpaksa ikut karena ayah menyuruhku ikut.
Bayangkan saja betapa jengkelnya aku pada Dimas saat itu, aku merasa seluruh duniaku direbut olehnya. Semua orang memperhatikannya, semua orang menyukainya, bahkan orangtua dan adik ku juga sangat menyukainya. Entah bagaimana akhirnya kami menjadi teman, meskipun hingga akhir aku masih saja cuek dan galak padanya, tapi kami selalu bersama-sama bahkan kami merencanakan untuk melanjutkan sekolah di SMA yang sama.
-*-*_*-*-
Sama seperti SMP, SMA di kecamatan kami juga hanya ada satu dengan fasilitas yang tidak mumpuni, siswa–siswi yang memiliki kemampuan lebih baik secara akademis maupun finansial direkomendasikan untuk sekolah di luar daerah. Hal itu ditujukan agar nantinya kami tidak kesulitan mendaftar di Perguruan Tinggi Negeri. Aku beruntung bisa bertemu Dimas kembali dalam satu SMA yang sama di kota. Dengan nilai sempurna dia bisa masuk di kelas unggulan yaitu kelas I-1, sedangkan aku ada di kelas I-4.
Jarak kota dan desa kami adalah 45 km untuk itu kami tinggal di rumah kost dekat sekolah. Aku kost di Jalan Nangka sedangkan Dimas Kost di Jalan Apel. Untuk menuju sekolah aku berjalan kaki melewati kost Dimas, kadang Dimas menjemputku naik sepeda motor begitu pula saat pulang dia akan mengantarku sambil mampir ke warung Bu Ida di dekat kostku untuk membeli es bubur kacang ijo.
__ADS_1
“Aahh aku rindu masa itu” seketika lamunku berlari kencang mengikuti laju kereta.