RAHASIA Cinta SMA

RAHASIA Cinta SMA
Positif


__ADS_3

Adzan subuh berkumandang, seperti biasa kecupan dingin di kening membuatku terbangun. Dimas tampak sangat ganteng dengan baju taqwa putih dan senyum yang manis.


"Bangun, mandi, sholat yuk?" ucap Dimas lembut


"He'em," gumamku sambil meregangkan punggungku


"Jangan lupa ini," Dimas memberiku satu bungkus test pack, aku menerimanya dan tersenyum


"Bismillah," ucap Dimas yang ku sambut dengan senyuman


-*-*_*-*-


Memasuki kamar madi irama jantungku tidak beraturan. Aku sangat penasaran tapi juga grogi, aku tidak tahu mengapa rasanya jauh lebih menegangkan dari kali pertama aku mencobanya.


"Bismillah, semoga jadi yang terbaik untuk kami," ucapku mengawali membuka bungkus test pack


Ku pejamkan mataku sambil menunggu hasilnya. Sebenarnya proses deteksinya tidak lama tapi aku takut membuka mata. Sementara Dimas sudah mengedor-gedor pintu terdengar sangat tidak sabar melihat hasilnya.


"Sayang kok lama? kenapa? hasilnya apa?"


Aku memberanikan diri membuka mata dan taraa ku dapati dua garis merah tanda positif. Aku sangat senang saat itu, segera aku mandi dan menemui Dimas.


Dimas tampak cemas mondar-mandir di depan kamar mandi membuatku ingin mengodanya.


"Gimana? coba lihat!" pinta Dimas


"Eeh kamu kan sudah wudhu, ini kan habis kena kencingku," aku mencoba mengulur waktu agar Dimas semakin penasaran padahal sebenarnya test pack itu sudah aku masukkan ke kantong plastik bersih.


"Aku pingin lihat!"


"Nanti saja selesai sholat,"


"Nggak mau Eka nanti nggak khusyuk sholatnya, ayo buruan kasih tahu," rengek Dimas membuatku semakin ingin mengodanya


"Hhmmm masih sama kayak yang kemarin kok," ucapku sambil berlenggang masuk kamar dan memakai mukenah


"Lihat! kamu taruh mana?" Dimas tampak sangat penasaran


"Sholat dulu," jawabku


"Positif kan? kamu nggak bisa bohongin aku!" ucap Dimas dengan mata tajamnya


"Sholat dulu," ucapku sambil tidak bisa menahan tawa


"Aaah Eka, buruan kasih tahu biar lega!" Dimas terus merengek seperti anak kecil


Aku tidak bisa menahan tawa melihat suamiku begitu imut. Lalu aku tunjukkan hasil test pack yang aku simpan di rak buku tempatku mengambil mukenah.

__ADS_1


"Selamat ya Pak Dimas, anda akan menjadi Ayah," ucapku sambil memberikan hasil test pack


"Alhamdulillah," Dimas tersungkur sujud syukur di lantai


Aku menepuk punggungnya dan dia segera memelukku dan mencium rata seluruh mukaku.


"Terimakasih sayang," ucapnya dengan sinar mata yang berbinar


"Ayo sholat," ajakku.


-*-*_*-*-


Kabar gembira terkait kehamilanku dengan cepat tersebar. Dimas segera mengabari orangtua kami dan juga Kak putri, Citra, Dwi, dia juga megambik foto test pack ku dan di uploadnya sebagai status yang membuat heboh geng kriwul.


Reaksi orangtuaku sangat senang, bunda langsung membuat tasyakuran begitu pula dengan mama, beliau menyuruh kami pulang ke Jakarta untuk ikut acara khataman dan berbagi dengan anak yatim. Kak Putri, Citra dan Dwi juga sangat senang, mereka memberikan ucapan selamat kepada kami. Kak Putri memberi banyak nasehat untuk Dimas agar menjagaku dengan baik.


Geng kriwul begitu heboh memberikan selamat dan memberiku banyak nasehat agar sehat ibu dan anak. Begitupula dengan Abas yang langsung menelfon Dimas mengucapkan selamat.


"Selamat ya bro, waah mantap baru dua bulan langsung dung hahaha," goda Abas kepada Dimas


"Kejar setoran Bas, masak kamu udah dua aku belum sama sekali? hahaha," jawab Dimas


"Hahaha tapi kalau lagi hamil muda begini puasa dulu loh ya, kasihan janinnya belum kuat," Abas mencoba menasehati Dimas


"Wah yang bener kamu Bas?"


"Waduh berat nih," ucap Dimas yang disambut dengan tawa oleh Abas.


-*-*_*-*


Sementara di kantor Silfi mendengar percakapanku dengan Mbak Fina saat menanyakan hasil test pack ku.


"Gimana Ka? positif?" tanya Mbak Fina


"Alhamdulillah Mbak hehehe," jawabku


"Waah selamat ya, tokcer juga Suamimu hihihihi," goda Mbak Fina


"Tapi aku takut Mbak, kan katanya kalau sudah tiga puluh ke atas itu resiko tinggi," keluhku


"Nggak usah khawatir, asalkan nggak kecapekan dan konsumsi makanan bergizi terutama asam folat insyaalah lancar," saran Mbak Fina


"Asam folat ya? itu di dapat dari makanan apa aja mbak contohnya?" tanyaku


"Banyak, sayur kayak bayem, brokoli hijau pokoknya sayur hijau deh, terus buah kayak jeruk, pisang, kacang-kacangan juga bagus tuh, telur, pokoknya makan yang bergizi lah Ka, atau ada juga bentuk kayak suplemen gitu di apotek, nanti kalau kamu ke dokter juga bakal di kasih resep untuk vitamin dan asam folat kok," jelas Mbak Fina panjang lebar


"Aku belum ke dokter nih mbak, dokter mana yang bagus ya?" tanyaku

__ADS_1


"Sama dokterku dulu saja, orangnya detail kalau ngejelasin, tapi mending nanti dulu deh tunggu usia delapan mingguan ke atas, soalnya belum kelihatan juga sih di usg kalau awal banget gini, paling cuma kelihatan kantungnya saja,"


"Gimana cara tahu sudah berapa minggu kalau nggak periksa Mbak?" tanyaku polos


"Kamu hitung dari tanggal hari pertama haid terakhir kamu, biasanya dokter perkirain usia kehamilan....."


"Eka hamil?" potong Silfi yang tiba-tiba ada di belakang kami membuat kami terkejut


"Apa sih Sil? bikin kaget saja! nguping kamu ya?" Mbak Fina memarahi Silfi


"Maaf Mbak habis kepo kalian seru berdua saja," jawab Silfi cemberut


"Jangan disebarin dulu ya Sil?" pintaku


"Kabar baik harus dibagi dong Ka, ngapain di umpetin? kayak yang hamil di luar nikah saja!" ucap Silfi membuatku sedikit kesal


Tidak butuh waktu lama, Tara datang ke mejaku memberi ucapan selamat.


"Ekaaa, selamat ya? akhirnya lu bakal jadi ibu, aaah iri gue hahaha,"


"Hehehe makasih ya, lu tahu dari Silfi?" tanyaku memastikan hal yang sudah pasti


"Iya, sudah berapa bulan Ka?" tanya Tara


"Baru juga tahu kemarin, belum ke dokter sih,"


"Semoga sehat ya Ka, gue tebak pasti anak lu cowok ganteng kayak bapaknya terus bakal jadi jodoh gue hahahaa," ucap Tara iseng


"Hahaha ogah gue punya mantu elu,"


Begitu jatuh ke tangan Silfi sudah barang pasti gosip tidak akan bisa terbendung. Sebenarnya aku kesal tapi ya sudahlah, toh Dimas juga sudah mem-publish kabar baik ini.


-*-*_*-*-


Dimas menjemputku di kantor, meskipun aku sudah mengatakan jika lebih baik menunggu usia delapan minggu untuk pergi periksa ke dokter seperti yang dikatakan Mbak Fina tapi dia tetap bersi keras untuk mengantarku ke dokter.


Bahkan Dimas sudah reservasi di sebuah poli eksekutif bersama dokter kandungan yang sangat terkenal. Aku mengerti dia sangat senang dengan kehamilanku tapi sebenarnya aku sayang dengan biaya pemeriksaanya. Bukannya pelit tapi rasanya sayang saja, karena aku sudah terbiasa hidup hemat agar uang gaji cukup untuk biaya hidup.


Tepat seperti yang dikatakan Mbak Fina, usia kandunganku berkisar 6 minggu dihitung dari HPHT. Dokter memberiku beberapa vitamin untuk menguatkan kandungan. Janin belum terlihat jelas masih sangat kecil seperti kacang polong. Tapi Dimas sangat senang memandang hasil usg itu, bahkan dia menyimpannya di dompet agar bisa dilihat sewaktu-waktu. Tidak lupa pula Dimas tanyakan kepada dokter perihal hubungan suami istri yang kata Abas tidak boleh.


"Selamat ya kantungnya sudah terlihat tapi ukurannya masih sangat kecil untuk bisa dilihat, saya beri vitamin untuk menguatkan kandungan ibu," jelas dokter kandungan


"Hhmmm dok kalau masalah nganu hehehe itu loh dok yang suami istri," ucap Dimas membuat dokter itu tersenyum


"Hubungan suami istri maksudnya? boleh tapi jangan terlalu sering ya, dilihat juga kondisi istrinya siap atau tidak, jangan memaksa," terang dokter


"Siap dok," jawab Dimas penuh semangat.

__ADS_1


__ADS_2