
Sepulang sekolah aku bermaksud kembali ke rumah sakit untuk mengantikan Abas menjaga Dimas. Walau bagaimanapun akulah yang harus bertanggung jawab menjaga Dimas karena orangtua Dimas menitipkan Dimas kepadaku. Di perjalanan pulang aku melihat Ayu berbincang berdua bersama Rendi namun aku heran mengapa Rendi yang menuntun sepedah Ayu? sejak kapan mereka sedekat itu? Mungkin sepadah Ayu sedang rusak pikirku. Diam-diam aku mendekati mereka ingin mengejutkan dari belakang. Namun justru aku yang terkejut saat mendengar obrolan mereka.
“Serius itu lagu khusus kamu ciptain buat aku?” taya Ayu kepada Rendi
“Iya sayang, aku sudah lama bikinnya tapi sengaja mau launching setelah kita resmi jadian” jawab Rendi kepada Ayu yang membuatku terkejut dan reflek berseru
“Apa?”
Ayu yang mengetahui aku mendengar pembicaraan mereka langsug menutup mulutku dengan telapak tangannya dan berbisik ditelingaku menyuruhku diam.
“Diam... diam sssttttt diam!” kata Ayu menyuruhku diam, aku masih tidak percaya dengan apa yang aku dengar
“Kalian pacaran?” tanyaku meyakinkan kalau-kalau aku salah dengar, Rendi menganggukan kepala sambil tersenyum sementara Ayu sibuk meyakinkan aku untuk tidak bercerita kepada siapa-siapa terlebih dulu.
“Ka please besok aku jelaskan semuanya, tapi sekarang kamu diam dulu jangan cerita ke Aura dan Diah,” Ayu tampak panik tapi aku mengerti dan berjanji untuk menjaga rahasia.
“Eka, tunggu!” tiba-tiba terdengar suara Abas dari kejauhan memakai motor Dimas meluncur dari arah stasiun
“Itu Abas kan Ka? Jangan cerita ke dia juga ya, nanti dia cerita ke Aura” bisik Ayu kepadaku
“Eka, saya sudah membeli tiket kereta jam tiga” kata Abas membuatku jadi bingung, untuk apa tiket kereta? Pikirku dalam hati, lalu Abas berkata “Abah Dimas meninggal” bagai disambar petir disiang hari aku tercengang dan bayangan Abah melayang-layang difikiranku.
__ADS_1
“Inalillahiwainailaihirajiun,” jawab Ayu dan Rendi yang hampir bersamaan
“Dimas sudah tahu? Dia dimana sekarang?” tanyaku kepada Abas
“Dimas sudah pulang di jemput papanya, pulang paksa dari rumah sakit karena ingin menghadiri pemakaman Abahnya, dia berpesan supaya saya menemani kamu pulang,” jawab Abas membuatku tenang.
Aku fikir Dimas masih di rumah sakit dan memaksa akan pulang bersama kami naik kereta api.
“Tolong antar saya ke kost sebetar, saya harus pamit ibu dan kakak kost saya supaya mereka tidak panik mencari saya,” ucapku kepada Abas
-*-*_*-*-
Abas yang melihatku murung mencoba menguatkan aku dengan bercerita tentang Ayahnya. Aku baru tahu jika Abas itu anak yatim, ibunya menikah lagi dengan ayahnya yang sekarang.
“Saat Ayah pergi, saya merasa hidup saya telah berakhir, apalagi saat Ibu memutuskan untuk menikah lagi, saya sangat sedih, beberapa hari tidak mau keluar kamar,” Abas memulai ceritanya
“Ayah kamu meninggal karena apa?” tanyaku ingin tahu
“Sakit ginjal, sudah sejak lama Ayah terus cuci darah, saat itu saya masih kelas satu SMP saya belum mengerti apa-apa, saya memandang Ibu sebagai wanita jahat, saya benci Ibu lalu saya pindah sekolah disini ikut Om Toni dan saya menjadi anak nakal, suka bolos sekolah, kluyuran tidak jelas, sampai seseorang mengatakan kepada saya jika kematian itu adalah pasti, kita tidak akan bisa mencegahnya, menangisi kematian dan mengabaikan yang masih hidup itu adalah kekonyolan, dan kita akan semakin menyesal setelah mereka juga pergi. Kamu tahu siapa yang memberi pengertian itu kepada saya?”
Tanya Abas kepada ku yang kemudian ia jawab sendiri “Dimas!”
__ADS_1
Abas memandang saya seakan berkata Dimas akan kuat menghadapi ini lalu aku tersenyum dan Abas melanjutkan kata-katanya
“Sekarang saya mengerti, Ibu berjuang sedirian untuk menopang kehidupan kami, dalam kesusahan itu Om Ridwan yang sekarang menjadi Ayah Tiri saya hadir membantu Ibu saya. Setelah Ayah tiada om Ridwan menikahi ibu dan menyekolahkan adik-adik saya, tidak seharusnya saya membencinya malah seharusnya saya berterimakasih beliau telah menjaga keluarga saya,”
“Saya tahu Dimas akan tegar, dia menyuruh kamu menemani saya pulang itu sudah mengambarkan jika dia lebih mengkhawatirkan saya dibanding dirinya sendiri,” jawabku sambil tersenyum dan Abas membalas senyumanku
“Itulah yang membuat saya menyerah atas kamu, saya merasa kalian lebih cocok bersama, tampak serasi dan saling mengisi, tapi saya tidak bisa membohongi diri saya,” ucap Abas seketika membuatku kaget, aku memandangnya dan menunggu kata-kata yang selanjutnya akan ia ucapkan
“Saya suka kamu Ka, saya tahu ini bukan waktu yang tepat tapi bukankah tidak akan pernah ada waktu yang tepat untuk ini?” tanya Abas kepadaku
Kereta Api telah sampai di stasiun kampung halamanku. Jarak kota dan desaku bisa ditempuh dengan waktu 15 menit menggunakan kereta api. Sesampainya di stasiun kami naik angkot kurang lebih selama 10 menit.
Aku terus memperhatikan Abas, aku belum menjawab penyataannya. Aku bingung harus mengatakan apa. Andai dia bicara seperti itu sebelum tragedi pensi waktu itu mungkin kita akan jadi pasangan yang paling bahagia di muka bumi.
Sekarang keadaannya sudah semakin ruwet. Aku baru saja berdamai dengan Dimas pasca putus. Aura jelas menyukai Abas. Aku sendiri tidak yakin apakah aku masih menyukai Abas seperti dulu. Maksudku, aku tidak menyangkal jika aku masih mempunyai perasaan pada Abas tapi sinyal Alimabbas belakangan semakin melemah. Sebenarnya bukan karena tidak berdering tapi karena aku mengabaikannya. Aku tidak ingin berkhayal terlalu tinggi. Terlebih lagi Aura sudah lebih dulu mengambil start untuk mempublikasikan perasaannya kepada Abas. Aku juga tidak ingin Dimas menjauh. Rasanya menyakitkan saat harus jauh dari Dimas. Jadi aku putuskan untuk menyerah.
Mengetahui cintaku berbalas seperti ini aku jadi ragu akan keputusanku. Apakah aku boleh berharap lagi? Apakah aku terlalu egois jika mau Abas? Apakah aku akan bahagia jika Aura dan Dimas kecewa?
Jika dipikirkan sekarang rasanya Eka remaja sangatlah plin-plan dan serakah. Pada mulanya aku sangat menyukai Abas seolah hanya Abas pria di dunia ini. Lalu karena sebuah kesalahan aku jadian dengan Dimas, saat itu aku bersih keras ingin putus tapi setelah putus aku sangat sedih. Baru beberapa hari memantapkan hati untuk berteman saja tiba-tiba menjadi ragu ketika tahu Abas juga menyukaiku. Aku mau Abas tapi juga tidak ingin kehilangan Dimas dan aku ingin tetap menjadi sahabat Aura.
-*-*_*-*-
__ADS_1