RAHASIA Cinta SMA

RAHASIA Cinta SMA
Mak Comblang


__ADS_3

Malam itu aku dan Kak Ana menemani Kak Ajeng bertemu dengan Kak Joni di taman kota. Kak Ajeng sudah lulus kuliah dan sedang merencanakan pernikahan dengan Kak Joni. Kita berempat duduk di bangku taman sambil menikmati kue moci oleh-oleh Kak Joni dari Jogja. Dari belakang ada seorang perempuan yang tiba-tiba menyiram kepalaku dengan minuman. aku tidak mengenalnya hanya pernah melihatnya beberapa kali di pertandingan basket, dia adalah anggota cheerleader aku tahu namanya Elsa dari Ayu keesokan harinya di sekolah.


“Apa nih maksudnya?” tanya Kak Ana dengan nada tinggi penuh emosi


“Eh nggak usah ikut campur ya! Ini urusan antara aku dan dia!” jawab wanita itu dengan penuh emosi.


Malam itu aku bertanya-tanya ada apa ini sebenarnya? Aku tidak mengerti dengan keadaan waktu itu, aku tidak bisa mencernanya dalam otak ku, suara cacian bergemuruh tidak jelas di telingaku kemudian perlahan semua suara itu menghilang. Aku melihat Kak Ana dan Kak Ajeng bertengkar hebat dengan Elsa dan empat orang temannya, mereka saling caci, saling tunjuk bahkan saling dorong, Kak Joni dan beberapa orang yang aku tidak tahu datang darimana berusaha melerai mereka, aku tidak ingat bagaimana itu semua bisa berakhir. Aku ingat Kak Joni mengantarku pulang ke kost dengan sepedah motor sementara Kak Ana dan Kak Ajeng menyusul dengan naik becak. Sambil menunggu Kak Ana dan Kak Ajeng, kak Joni bertanya padaku."


“Kamu masih pacaran sama Dimas?” aku hanya mengelengkan kepala. “Anak yang tadi itu mengaku pacar Dimas, jika memang benar sebaiknya untuk sementara kamu menjauh saja dari Dimas, Kak Joni bukan ingin ikut campur masalah kalian, Kakak cuma tidak ingin Eka terluka, Eka itu masih polos, sedangkan mereka remaja kota yang salah pergaulan bisa saja mereka kembali menyerang Eka, sebaiknya sekarang Eka fokus belajar saja, ingat Eka sudah kelas tiga, Eka ingin kuliah kan?” aku hanya menganggukan kepala tanda mengerti dan mengiyakaan nasehat Kak Joni.


-*-*_*-*-


Sepanjang malam aku tidak bisa tidur memikirkan nasehat Kak Joni. Aku merasa apa yang dikatakan kak Joni itu benar namun aku sudah berjanji pada Dimas untuk tidak akan pergi meninggalkannya lagi. Aku pernah merasakan tidak enaknya jauh dari Dimas dan aku tidak ingin itu terulang lagi. Akhirnya aku memutuskan untuk menemui Elsa bermaksud menyelesaikan masalah dengan baik-baik.


Pagi itu aku ditemani Ayu pergi mencarinya di kelas 3 IPS III. Dia masih tampak kesal padaku.


“Aku datang untuk menyelesaikan yang tadi malam,” kataku dengan tegas


“Lebih baik jika kamu menjahui Dimas dan tidak muncul lagi dihadapan ku!” jawabnya dengan nada tinggi.


Percayalah itu menyebalkan, aku datang baik-baik tapi dia malah mengajak ribut. Kulihat Ayu mulai geram namun aku menahannya karena aku tahu kami berada di kelasnnya.


“Dimas adalah temanku jadi tidak mungkin aku menjahuinya,”


“Eh nyolot kamu ya!” Elsa mengacungkan jari telunjuknya tepat di wajahku.

__ADS_1


“Eh santai dong, kita kan datang baik-baik!” Ayu tidak sabar melihat tingkah Elsa.


“Sabar Yu,” kataku menenangkan Ayu, “kalau kamu suka sama Dimas bukan begini caranya, Dimas malah akan marah jika tahu temannya dikasari,,” ucapku membuat wanita itu sedikit menurunkan nada bicaranya.


“Bukannya kamu mantannya? Aku ditolak karena katanya dia masih mau sama kamu,” jawabnya dengan wajah yang masih menyebalkan.


“Dimas memang selalu menggunakan aku untuk menolak wanita,”


“Benarkah? Jadi kalian tidak ada hubungan apa-apa?”


“Benar!” jawabku singkat.


“Aku minta bukti!” kata wanita itu dengan sangat menjengkelkan.


“Apa?” tanyaku ingin tahu apa yang sedang wanita itu rencanakan.


-*-*_*-*-


Malam itu aku berjanji pada Elsa untuk membantunya PDKT dengan Dimas. Aku mengajak Dimas makan malam di taman kota. Aku ingat hari itu hujan, Dimas datang menjemputku dengan becak. Sepanjang perjalanan ke taman kota Dimas terus meremas-remas tangannya yang berkeringat. Sepertinya dia sedang gugup, mungkin dia berfikir aku sedang mengajaknya kencan. Sejujurnya aku merasa bersalah merencanakan semua itu.


Sesampainya di taman kota sudah ada Elsa yang menunggu, kami menemuinya dan bergabung dengannya. Sepertinya saat itu Dimas sudah mulai curiga, dia bertanya darimana aku kenal Elsa. Aku jawab saja saat menonton pertandingan basket. Tidak begitu lama aku meminta izin ke toilet dan meminta Dimas untuk tetap menunggu bersama Elsa. Tampak dari jauh Elsa begitu senang, dia tidak berhenti tersenyum. Lalu aku pulang meninggalkan mereka berdua dan tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya.


Keesokan harinya di sekolah aku bertemu Dimas. Tampaknya dia sedang marah padaku, mungkin karena aku sudah menjebaknya tadi malam. Aku berusaha berbicara denganya tapi dia menghindar. Lalu aku datang menemui Elsa aku pikir dia bisa menjelaskan apa yang terjadi.


“Dimas marah dan memintaku untuk tidak mengganggumu lagi,” ucap Elsa dengan wajah sedih.

__ADS_1


“Maaf, tidak berhasil ya?” jawabku meminta maaf, aku merasa tidak enak karena sudah membuat Dimas semakin membencinya.


“Hmmm bagaimana kalau kita coba sekali lagi, aku akan ajak Dimas makan siang di kantin bersama teman-teman, nanti kamu datang dan aku memintamu untuk bergabung dengan yang lain, biar terlihat lebih natural dari yang kemarin,” aku berusaha menawarkan alternatif yang lain dan Elsa pun setuju.


Seperti biasa aku dan geng kriwul juga Abas, Dimas dan Rendi makan siang bersama di kantin sekolah. Seperti rencana, Elsa datang menghampiri dan aku memanggilnya untuk bergabung.


Teman-temanku tampak tidak suka dengan Elsa karena Ayu pernah bercerita tentang sikap Elsa kepadaku. Sementara itu Dimas langsung berdiri dan mengajak Abas pergi. Aku mencoba mencegahnya dan menyuruhnya untuk kembali duduk tapi dia malah marah.


“Cukup Ka, nggak ada acara comblang-comblangan lagi!” bentak Dimas degan wajah marah, baru kali itu aku melihatnya marah padaku. Aku rasa teman-temanku juga baru kali itu melihat Dimas marah.


“Nggak mau ya sudah, nggak usah pake kasar!” jawabku sambil bangkit dari tempatku duduk balik membentak dia.


Dimas hanya diam dengan pandangan seperti menahan marah lalu dia meninggalkan kantin dan diikuti oleh Abas. Menyadari orang-orang disekitarku melihat ke arahku Aura menarik rok seragamku untuk menyuruhku duduk.


“Sudah Ka tidak apa-apa, aku tahu jika akhirnya akan seperti itu, maaf sudah merepotkan kamu,” ucap Elsa sambil berdiri dari tempatnya duduk


“Maaf jadi makin berantakan,” ucapku merasa bersalah


“Tidak, sejak awal memang Dimas tidak mau dengan aku, terimakasih kamu sudah sangat baik sama aku, aku jadi malu pernah kasar sama kamu, maaf untuk waktu itu, aku senang bisa mengenal kamu,” ucap Elsa dengan tulus


“Aku juga senang bisa mengenal kamu,” ucapku melepas kepergian Elsa.


Jika sudah mengenalnya ternyata Elsa bukan orang yang buruk. Mungkin dia memang temperamen tapi sebenarnya hatinya lembut. Dia tampak sangat sedih siang itu.


“Apa-apaan sih Ka? Bukannya dia jahat sama kamu?” tanya Ayu yang merasa heran mengapa aku mau membantu Elsa

__ADS_1


“Dia tidak bermaksud seperti itu,” ucapku sambil terus memandang punggung Elsa yang semakin jauh pergi


-*-*_*-*-


__ADS_2