RAHASIA Cinta SMA

RAHASIA Cinta SMA
Apa kabar?


__ADS_3

Jingga mulai mengusir biru, matahari bersiap pulang. Aku baru saja selesai membantu bunda mencuci piring yang digunakan untuk jamuan tamu siang tadi. Maksud hati ingin menghirup udara segar sore hari di teras rumah, namun ku jumpai Dimas dan papanya sedang berbincang dengan Ayah dan Pak Kholil pengurus masjid. Sepertinya mereka membicarakan rencana renovasi masjid. Takut mengganggu akhirnya ku urungkan saja niatku dan aku pergi ke kamar.


Aku bersandar pada daun cendela kamar memandang jauh menembus langit. Sudah lama tidak ku lihat senja yang tenang. Ditemani secangkir coklat panas pasti enak pikirku. Tapi aku terlalu malas untuk kembali ke dapur dan membuatnya. Akhirnya aku bermain hp saja.


Permintaan pertemanan di sosmed yang ku minta tadi pagi telah dijawab oleh Ayu dan Aura. Mereka tampak sangat senang menyambutku. Terutama Aura yang langsung meminta maaf dan mengajak untuk ketemuan. Ayu meminta nomor hp ku dan sesaat setelah ku berikan langsung dijadikannya aku anggota wa grup geng kriwul.


Ayu : Ekaaa kangeeeen


Aura : Ayo ayo wajib meet up nih


Aku : Waaah kalian udah ada grup ini? senengnyaa


Ayu : Ia, kamu sih ngilang😡


Aku : Hehehe maaf deh😬


Aura : Pokoknya ntar kita ketemuan yaaa! kamu sekarang dimana Ka?


Aku : Aku tinggal di Depok, tapi ini lagi cuti 5 hari di Rumah


Aura : Waaaah sampe kapan Ka cutinya?


Aku : Hari minggu sore aku balik


Ayu : Nanti?


Aku : Minggu depan


Aura: Wah sip nih, yook kapan ketemuan?


Ayu : Sabtu aja di acara reuni SMA gimana?


Aku : Ada Reuni?


Aura : Ada besok sabtu, Dimas jadi guest star looh, Ayu moderatornya


Aku : Iih dasar Dimas! gitu nggak bilang😤


Ayu : Kamu udah ketemu Dimas?


Aku : Udah, kemarin nggak sengaja ketemu di stasiun waktu pulang


Diah : Ini Eka? Krasiva Eka Putri?


Aku : Diaaah apa kabar?


Diah : Aaaaaaa Ekaaaaa😍😘😘


Obrolan kami berlanjut hingga berlarut-larut. Rasanya sudah sangat lama tidak bercanda seperti ini dengan teman-teman. Aku sangat rindu dan tidak sabar untuk berjumpa mereka.


Asik chat dengan teman-teman sampai aku tidak sadar Dimas dan yang lainnya sudah selesai rapat pembangunan masjid.


"Woooy cantik-cantik kok ketawa sendiri?" canda Dimas mengagetkanku


"Eh kamu, udah selesai rapatnya?"


"Udah, lagi apa sih?" Dimas mulai kepo


"Eh Eka? lama tidak ketemu,makin cantik saja," ucap papa Dimas membuatku malu


"Hehehe makasih om, eh maaf bukan bermaksud tidak sopan, Eka mau salim tapi dari cendela gini sungkan,"


"Aah tidak apa-apa,"


"Papa ini genitnya sama Eka! pake bilang Eka cantik segala, udah cepat pulang, ditunggu Mama itu loh," ucap Dimas mengusir papanya yang tentu saja hanya bercanda

__ADS_1


"Huuu dasar kamu, ya udah ya Eka, Om pulang dulu, main-main ke rumah," pamit papa Dimas


"Iya Om, salam buat Tante,"


Papa Dimas berlalu pergi, tinggal aku yang masih bersandar di daun jendela bersama Dimas yang berdiri di bawahnya.


"Jalan yuk Ka?" ajak Dimas


"Bentar lagi maghrib Mas,"


"Ya nggak sekarang,"


"Eh iya kok nggak ngomong sih kalau ada reuni SMA?"


"Hihihihi, biar kamu nanya," jawabnya iseng


"Huuuu, untung Aura bilang!"


"Udah baikan?"


"Udah dooong, udah balik jadi geng kriwul hehe,"


"Alhamdulillah, kalau Abas?"


"Hhmmmmm kalau Abas, aku nggak enak Mas kalau chat dia lewat sosmed, ntar istrinya marah,"


"Bener itu, nggak usah hubungi Abas, biar aku aja yang bilang kamu sudah nggak marah,"


"Kok kamu? janganlah!" cegahku


"Kenapa?"


"Ya kan aku yang bikin salah, masak kamu yang beresin?"


"Kalau gitu aku temani ya kalau mau ketemu Abas?"


"Besok haulnya Abah, gimana kalau selasa?"


"Hah? selasa? emang Abas sekarang tinggal Dimana?"


"Jogja,"


"Terus kita ke Jogja gitu?"


"Boleh,"


"Jauh juga ya Mas, bisa lain kali tidak ya? hehehe," aku mulai ragu


"Niat nggak?mumpung ada kesempatan nih,"


"Iya sih, tapi cutiku nggak lama, ke Jogja nggak mungkin sekali jalan kan?"


"Yaudah kalau gitu ke Kota aja,"


"Laah ngapain?"


"Ketemu Abas kan katanya?"


"Katamu dia di Jogja?"


"Rumahnya di Jogja, dia disini di tempat Ibunya,"


"Iiiih Dimaaas! terus kenapa bilang di Jogja?"


"Hahahaha," Dimas tertawa puas menjahiliku

__ADS_1


"Awas kamu ya!" Ancamku


"Kan kamu tanya dia tinggalnya dimana? ya di Jogja, tapi sekarang lagi disini, Ibunya sakit,"


"Sakit apa?"


"Paru-paru basah, eh maghrib, aku ke masjid dulu ya Ka?" ucap Dimas yang mulai mendengar suara adzan


"Iya, sholat yang khusuk,"


"He'eh, jangan kangen ya?" Dimas beranjak pergi tapi kemudian kembali lagi "Eh boleh deh,"


"Hiiih apa sih? hahahahaa," jawabku kesal


Dimas itu sudah dewasa dan sudah jadi orang sukses tapi entah kenapa rasanya dia masih saja kekanak-kanakan suka sekali bikin orang sebel.


-*-*_*-*-


Malam begitu cantik, banyak bintang di langit. Aku yang sedari pulang belum keluar rumah sama sekali berniat untuk jalan berkeliling kampung sambil melihat-lihat situasi. Setiap tahun aku selalu pulang, setidaknya waktu hari raya. Tapi aku jarang keluar rumah dan memperhatikan sekitarku.


Rupanya kampungku sudah banyak berubah. Banyak rumah besar dan mewah, ada juga taman dan toserba yang lumayan besar. Bangunan sekolah tempatku belajar saat SMP dulu kini terlihat lebih bagus dengan bangunan tingkat dua lantai. Fasilitasnya pun lengkap, ada lab komputer, lab biologi, lab kimia, galeri seni. Ada pula gedung serba guna yang cukup luas.


Aku melihat batu peresmian gedung serba guna dan ternyata itu sumbangan dari Dimas. Lalu aku kembali ke lab komputer dan lab-lab lainnya, ternyata sama itu sumbangan dari Dimas. Aku semakin bangga pada temanku satu itu, dia tidak hanya sukses tapi juga bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya.


Lelah berkeliling aku segera pulang. Di Rumah ku dapati Dimas yang sedang duduk bersama Dwi di teras rumahku.


"Sudah lama Mas?" sapaku basa-basi


"Sekitar dua tahun," jawabnya usil


"Haiis kamu ini, ditanya serius juga," kesalku


"Serius ini, rasanya malah lebih! habis kangen banget sih sama kamu," jawab Dimas membuat Dwi tertawa.


"Mbak Eka udah ada yang punya loh Mas," kata Dwi tiba-tiba


"Hah maksudnya?" tanya Dimas terlihat kaget


"Hus ngawur, sana anak kecil bobok cepet, besok kan sekolah, ada PR nggak?" godaku pada Dwi


"Dih aku guru, bukan siswa," kesal Dwi yang kemudian beranjak masuk ke dalam rumah.


"Apa maksud Dwi?" tanya Dimas yang tiba-tiba jadi serius


"Enggak, becanda dia," jawabku yang entah mengapa engan untuk menjelaskan terkait Adi.


Mungkin karena aku berfikir jika Dimas masih menyukaiku. Jadi aku tidak enak jika harus membahas Adi dengannya.Lagipula aku dan Adi tidak ada hubungan apapun, kami masih dalam tahap perkenalan.


"Eh tadi aku ke SMP kita dulu, hebat ya kamu bisa nyumbang gedung fasilitas sekolah begitu banyak," ucapku mengalihkan topik pembicaraan


"Aah itu cuma untuk menghargai almamater aja," jawab Dimas marendah


"Iya tahu, mangkanya kamu itu keren, nggak lupa sama almamater," jawabku masih memuji Dimas


"Kalau keren jadikan imammu dong," goda Dimas


"Huuuu dasar!" sorak ku "Eh selasa berangkat jam berapa Mas?" tanyaku memastikan rencana menemui Abas


"Berangkat ngelamar kamu?" tanya Dimas usil


"Nengokin Ibu Abas!" kesal ku


"Ooh kirain kamu minta dilamar,"


"Ngarep!"

__ADS_1


Aku tidak sabar untuk bertemu Abas. Aku harap kabarnya baik dan sudah bahagia sekarang. Aku harap semua orang telah memiliki hari yang lebih baik dariku.


__ADS_2