
Drama pernikahan usailah sudah. Papa dan Mama Dimas yang kini juga menjadi Papa dan Mamaku pamit undur diri. Pak Penghulu, Pak Lurah dan para saksi yang lain juga pamit untuk pulang. Dimas dan Dwi membantu Ayah merapikan ruang tamu seperti semula. Sementara aku sibuk menghapus riasan wajahku. Aku belum siap pulang ke rumah Dimas jadi Dimaslah yang menginap di rumahku.
Malam semakin larut, Dimas merebahkan tubuhnya dikasurku. Jantungku berdebar tidak karuan, aku bingung sendiri harus berbuat apa. Beragam alasan aku buat untuk menyibukkan diri, mulai dari cuci muka hingga haus ingin minum. Hingga kudapati Dimas telah tertidur pulas dengan mulut sedikit terbuka.
Aku menghela nafas lega, kurebahkan tubuhku di samping Dimas. Guling ku letakkan diantara kami sebagai pembatas, rasanya saat itu aku belum siap menjalankan peran sebagaia istri. Aku hampir tidak percaya jika pria disampingku adalah suamiku, pria yang sejak kecil bermain denganku yang kerap membuatku jengkel dan marah.
Kupandangi wajah suamiku itu dengan seksama, dia terlihat sangat lelah.
Pasti sangat lelah, lari kesana kemari menyiapkan pernikahan dadakan sampai ngowoh begitu tidurnya. Ucapku dalam hati, ku ambil hp ku dan ku foto wajah lucunya saat tidur.
"Tetap ganteng," gumamku sendiri sambil tersenyum melihat hasil jepretanku.
-*-*_*-*-
Malam telah pulang, kini fajar siap menyapa. Tangan kekar yang terasa dingin menyapu pipiku membuatku terbangun. Dimas sudah bersiap untuk sholat subuh di masjid. Ia tampak begitu tampan memakai baju koko putih, sarung dan peci hitam dikepala. Dia tersenyum melihatku sepertinya dia tahu aku terpesona melihatnya.
"Ganteng ya suamimu? dari atas sampai bawah pinjam Dwi hahaha," ucap Dimas membuatku ikut tertawa
"Maaf aku ketiduran, capek banget belum tidur tiga hari, kalau tahu akhirnya begini, kemarin galau aku pake tidur saja seharian, kamu bener sekarang aku nyesel ngapain kopi, rokok sampai ******?" sambung Dimas sambil geleng-geleng kepala.
Terdengar adzan berkumandang, Dimas bergegas menuju masjid bersama Ayah dan Dwi. Aku bersiap untuk mandi dan membantu bunda di dapur. Cucian gelas dan piring saji cukup banyak hasil pernikahan kilat kemarin.
"Gimana nduk? jadi balik Depok nanti sore?" tanya bunda membuatku tersadar jika sekarang sudah hari minggu waktuku untuk kembali ke Depok, bersiap memulai kembali rutinitas kerja.
"Belum diomongin sama Dimas, tapi ya harus Bun, soalnya Eka janji mau gantian cuti sama mbak Fina,"
"Cepat diomongin, sekarang kamu sudah jadi istri orang, tidak bisa memutuskan segala sesuatu sendirian lagi, harus atas izin suami, ngerti nduk?" nasehat bunda lagi-lagi menyadarkanku jika kini aku telah bersuami.
-*-*_*-*-
Aku mengemas pakaianku kedalam tas, Dimas memandangku dengan begitu dalam seperti melamun.
"Kamu beneran harus balik sekarang?" tanya Dimas meyakinkan lagi
"Iya, aku sudah janji sama Mbak Fina, nggak enak kalau batal, dia juga butuh cuti, ibunya mau pergi umroh," jawabku tegas
"Yaaaah, kenapa semalam aku malah tidur sih?" sesal Dimas sambil merebahkan dirinya dikasur, aku hanya tersenyum kecil.
"Besok pagi deh aku antar naik pesawat," Dimas kembali bangun dari tidurnya
__ADS_1
"Nggak bisa Mas, bandara ke kantorku jauh, lagian ribet oper sana sini, kalau kereta kan tinggal sambung krl udah sampai di depan kantor,"
"Naik taksi biar cepat,"
"Senin pagi naik taksi? cepet juga jalan kaki Mas, macetnya nggak ketulunganlah apalagi dari arah bandara,"
"Aaaarrrggghhh," Dimas kembali membanting tubuhnya ke kasur
Entah mengapa aku jadi merasa terhibur. Melihat Dimas kesal dan merengek adalah hal yang menyenangkan bagiku.
"Mana aku juga ada janji sama Pak Camat buat tinjau lokasi sekolah, terus rabu mau belanja material sama Ayah buat renovasi masjid," Dimas tampak semakin putus asa.
"Siapa suruh nikah buru-buru, nggak diomongin dulu? Sekarang rasain nikah sehari langsung LDR deh hihihi," kataku usil membuat Dimas geram
"Yaudah sekarang aja kalau gitu!" Dimas bergegas bangun dan berusaha menangkapku
Aku berteriak sekencang-kencangnya sambil berlari menghindar. Kami berlarian kesana kemari hingga membuat Ayah dan Bunda menghampiri kamar kami karena khawatir. Aku berlari keluar kamar dan Dimas masih mengejarku. Dwi tertawa melihat aksi konyol kami. Bunda berteriak setengah khawatir jika kami menyenggol dan memecahkan guci serta hiasan kramik koleksi Bunda. Ayah hanya mengelengkan kepala sambil tertawa.
Begitulah hari pertama pernikahan kami. Aku tahu sejak sah menjadi istrinya hariku pasti akan berubah. Bersama Dimas hidupku pasti akan begitu ramai dan harus ku ucapkan selamat tinggal suasana damai.
-*-*_*-*-
"Apa aku ikut saja?" tanya Dimas membuatku tertawa kecil
"Minggu depan aku susul deh," sambungnya kemudian
"Selsaikan dulu urusanmu disini, lagipula aku tidak akan hilang kok," jawabku menggoda
"Kalau kangen gimana?"
"Baca ini," aku tunjukkan buku kecil Dimas yang ia berikan padaku semasa SMA dulu
"Wah masih kamu simpan?" Dimas tersenyum sambil merebut buku itu dan membacanya dengan lantang
Malam
Waktu yang menjadi musuh sekaligus sahabatku
Musuh karena membuatku jauh dari Eka
__ADS_1
Sahabat karena menjadi saksi atas rindu yang beradu satu
^^^D.N^^^
"Hahaha aku norak ya?" ucap Dimas menertawakan dirinya sendiri
"Banget!" jawabku sambil tertawa dan mengambil kembali buku itu
"Kok kamu masih simpan sih?" tanya Dimas ingin tahu
"Iya dong, tiap malam aku baca, sampai hafal sama isinya," aku tersenyum sambil menyimpan buku itu kedalam tas kecilku.
"Selama ini kamu juga kangen?" Dimas berubah menjadi serius
Aku hanya mengangguk malu, Dimas meraih tubuhku dan memelukku.
"Maaf membuatmu bersedih," lirih suara Dimas ditelingaku
"Sekarang sudah bahagia," Jawabku membuat Dimas lebih mengencangkan pelukannya
"Aku janji akan berusaha sebaik yang aku bisa untuk membahagiakanmu,"
Perkataan dan pelukan Dimas membuat langkahku semakin berat, rasanya enggan untuk pergi.
"Aku juga punya bekal ini," kutunjukan foto Dimas yang tidur melongo
Dimas tidak terima aku menyimpan wajah jeleknya yang tetap ganteng menurutku. Dia bersih keras untuk menghapusnya tapi bisa kuamankan harta karun itu. Itu adalah pembalasan untuk video pengakuanku.
Gagal mendapatkannya Dimas hanya pasrah dan pura-pura ngambek. Sebagai gantinya aku mengambil foto kami berdua untuk disimpan bersama. Dengan sombongnya Dimas mengeluarkan hp nya yang lebih bagus dengan kamera yang terang dan membuat aku tampak lebih cantik. Kami berfoto sebanyak mungkin dengan gaya yang beragam, mulai senyum manis hingga ekspresi konyol.
Kereta telah datang dan kamipun harus berpisah semantara. Aku tidak lagi bisa melihat Dimas, begitupun Dimas. Segera ku tempati kursiku dan ku kirim pesan untuk Dimas
Aku : Aku sudah duduk, sebentar lagi kereta melaju, sampai jumpa lain waktu suamiku๐
Dimas : Harusnya tadi aku cium dulu ๐ญ
Aku : Hahaha, udah ah aku mau tidur, kamu hati-hati pulangnya.
Dimas : Selamat jalan istriku, kabari kalau sudah sampai ya ๐ untuk kening, ๐ ๐untuk pipi, buat bibir nanti aku antar sendiri ๐
__ADS_1