RAHASIA Cinta SMA

RAHASIA Cinta SMA
Hujan


__ADS_3

Terlihat lalu lalang orang takziah hampir semuanya perempuan, beberapa orang yang aku kenal menyapaku dan bersalaman denganku. Rupanya Dimas belum kembali dari pemakaman. Di rumahnya ku jumpai Bunda yang sedang memeluk Mama Dimas, di sampingnya ada Citra yang menangis, rupanya Kak Putri belum tiba. Kusalami mereka dan ku peluk Mama Dimas untuk mengucapkan bela sungkawa.


“Sabar Tante, hari ini hari Jumat insyaallah Abah terhindar dari siksa kubur dan semoga khusnul khotimah,” ucapku menguatkan Mama Dimas


“Terima kasih Eka, terimakasih sudah menyampaikan pesan dan menjaga Dimas, jika tidak ada Eka semuanya bisa jadi terlambat, mungkin Om dan Tante tidak akan sempat mendengar wasiat Abah,” jawab Mama Dimas dengan suara yang parau


“Apa wasiat Abah?” tanyaku ingin tahu


“Merawat masjid tempat Abah mengamalkan ilmunya,” jawab mama Dimas dengan senyum yang bercampur tangis. Aku tersenyum dan mengusap lengan Mama Dimas


Dimas dan rombongan penyelawat kembali dari pemakaman. Aku melihat Dimas berjalan bersama Papanya serta Ayah dan Dwi. Kulihat Dimas tersenyum ke arahku, aku tahu dia sedang berduka tapi tidak ingin menunjukannya. Aku dan Abas meghampirinya untuk menyapannya.


“Maaf terlambat tidak bisa ikut mengantarkan Abah ke peristirahatan terakhirnya,” kata Abas kepada Dimas


“Tidak apa-apa, sebagai gantinya nanti malam kamu kesana mainkan lagu bengawan solo kesukaan abah biar abah bisa istirahat nyenyak,” kata Dimas mengoda Abas dan Abas memukul lengan Dimas, sedangkan aku malah menangis


“Kalau sedih kenapa tertawa? Sedih itu menangis, dasar Dimas bodoh!” kataku padanya.


Aku tidak bermaksud kasar pada Dimas, hanya saja sepanjang perjalanan aku mengkhawatirkan dia. Dia belum sembuh total dengan predikat pasien pulang paksa, aku takut jika dia akan kembali sakit.


“Nangisnya nanti malam di kamar sendirian,” kata Dimas kepadaku sambil mengambil saputangan dari saku Abas dan diberikannya padaku


“Itu kan punyaku,” kata Abas


“Pinjam nanti dikembalikan,” jawab Dimas membuatku mulai tertawa lalu Dimas dan Abas ikut tertawa.


Begitulah Dimas dia selalu menjadi pelindungku walau disaat dia yang membutuhkan perlindungan. Aku sangat beruntung memliki teman seperti Dimas.


-*-*_*-*-


Keesokan harinya kami berangkat sekolah diantar Papa Dimas. Beliau sekalian akan menjemput kak Putri di stasiun Kota. Maklum kereta api dari Jakarta hanya berhenti di stasiun-stasiun besar. Sepertinya kereta yang dinaiki kak Putri sama dengan kereta yang aku dan Dimas naiki saat ini.


Aku sempat bertanya kepada Dimas apakah tidak sebaiknya dia izin tidak sekolah mengingat dia baru saja sakit dan Abah baru saja meninggal lagipula hari itu adalah Sabtu.


“Kamu yakin pergi sekolah hari ini? Tidak bolos saja?” tanyaku kepada Dimas


“Jangan, siswa teladan harus memberi contoh yang baik,” katanya sambil mengunyah bekal yang telah disiapkan Mamanya

__ADS_1


“Katanya kamu yang paling banyak bolos di sekolah? Tambah sehari tidak masalah dong?” Kataku menyindir perkataannya waktu itu


“Mama tidak libur memasak, Papa tidak libur menjemput Kak Putri, masak aku libur sekolah?” tanya Dimas membuatku dan Abas tersenyum dan Papanya angkat bicara


“Sok dewasa sekali kau anak muda, nggak ingat saat putus cinta nangisnya gimana? iya nggak Bas?” tanya papa Dimas kepada Abas


“Ssstttt ada orangnya disini nanti dia besar kepala udah ditangisi cowok ganteng,” kata Dimas menghentikan Papanya dan Abas bercerita.


Semua tertawa kecuali aku, aku cemberut dan menjitak kepala Dimas dari belakang. Saat itu Dimas duduk di depan samping papanya yang mengemudi, aku duduk di belakang Dimas dan Abas di belakang papa Dimas.


“Loh kok aku yang di jitak, kan Papa yang mulai,” ucap Dimas tidak terima


“Tapi aku sebelnya sama kamu!” jawabku ketus


“Jangan sebel-sebel nanti cinta hahaha,” jawab Dimas sambil tertawa membuat aku semakin kesal lalu aku mencekik lehernya dari belakang.


Dimas mengadu kepada Papanya namun Papanya hanya tertawa. Aku jegkel dengan Dimas maksudku apa perlu dia mempermalukan aku di depan Abas dan Papanya? Sementara itu aku melihat Abas membuang pandangan kearah luar cendela sepertiya dia sedang memikirkan sesuatu.


-*-*_*-*-


Tiba waktunya jam istirahat, Aura dan Ayu datang ke kelas ku dan Diah. Mereka menanyakan kondisi Dimas setelah mendengar kabar dari Ayu jika Abah Dimas meninggal. Aku menjelaskan jika Dimas baik-baik saja dan sudah kembali ke sekolah. Aura juga menambahka jika di kelas Dimas tampak baik-baik saja dan mengikuti pelajaran seperti biasa meskipun banyak guru yang menanyakan kabarnya. Kemudian aku mulai mengubah topik pembicaraan untuk menagih janji Ayu.


“Hhmmm tapi kalian janji nggak akan marah ya?” tanya Ayu kepada kami


“Memangnya ada apa Yu?” tanya Diah ingin tahu


“Janji dulu!” kata Ayu memohon lalu aku memulai berjanji dan yang lain mengikuti


“Bagas yang suka kasih puisi itu aku sudah bertemu dengannya,” jawab ayu pasrah


“Terus? Benar dia orangnya?” tanya Diah penasaran


“Bukan, tapi Rendi,” jawab Ayu malu yang membuat aku dan teman-teman kaget


“Karena itu kamu jadian sama dia?” tanyaku kepada Ayu yang membuat Aura dan Diah terkejut


“Jadian? Sama Rendi?” seru Aura yang membuat Ayu kelabakan dan memohon agar kami tenang, dia tidak ingin gosip menyebar cepat.

__ADS_1


“Please jangan rame-rame, plis plis pliiis, dengerin aku dulu,” ucap Ayu lalu kami menyimak dengan seksama cerita Ayu.


"Sebenarnya karena saran Eka aku jadi berani untuk meminta bertemu dengan si Bagas itu. Setelah bertemu aku kaget ternyata selama ini orangnya adalah Rendi. Lalu aku menanyakan kepada Pak Min ternyata waktu itu Pak Min salah tangkap. Dikira Pak Min aku bertanya siapa yang merusak sepedahku mangkanya Pak Min jawab Bagas, karena biasannya si Bagas itu yang buat ulah merusak atau mencuri aksesoris sepedah di parkiran,” jelas Ayu yang membuat kami semua tertawa terbahak-bahak.


“Hahaha jadi Pak Min tidak tahu siapa yang taruh puisi itu? Tapi dikira kamu tanya tentang pencuri? Konyol banget sih Yuk,” Diah tertawa terpingkal-pingkal sambil memukul-mukul bangku. Ayu tampak malu namun ikut tertawa


“Terus bagaimana kalian akhirnya pacaran?” tanyaku penasaran


“Setelah pertemuan itu Rendi sering ajak aku jalan ke perpustakaan mini di taman yang baru itu, ternyata itu milik keluarganya. Kami berbincang banyak tentang sastra, lalu dia menyatakan perasaannya lewat lagu yang dia ciptakan sendiri khusus untuk aku,” Ayu bercerita dengan tersipu malu.


“Jangan bilang itu lagu yang aku bawakan saat diminta untuk kolaborasi sama RAIN band?” tanya Aura memastikan


“Hehehe iya,” jawab Ayu malu-malu


“Aw Ayuu lagu itu romantis sekali, hmmm aku iri sama kamu,” ucap Aura sambil memeluk Ayu.


Kami memberi selamat kepada Ayu tapi juga terus mengodanya. Bahkan saat Rendi masuk kelas Diah langsung menyandranya dan mengumumkan di depan kelas pasangan baru teromantis itu. Baik Ayu maupun Rendi keduanya tampak tersipu malu. Aku sangat senang melihat gelagat salah tingkah mereka berdua. Setidaknya kabar itu adalah kabar baik yang membawa angin segar diantara badai yang berhembus akhir-akhir itu.


-*-*_*-*-


Pagi mendung dihari Minggu, aku dan Dimas tidak pulang karena takut Dimas akan kecapekan jika mondar-mandir pulang. Pagi itu aku sedang sibuk membungkus kado untuk Dimas. Selembar saputangan berwarna biru muda yang ku rajut inisial D.N disudut kanan bawah. Jangan tanyakan kado itu untuk merayakan apa, aku sendiri tidak tahu. Mungkin untuk menyemangatinya agar dia terus berjuang meraih mimpinya dan membanggakan Almarhum Abah.


Dimas mempunyai kebiasaan tangan berkeringat saat sedang gugup, aku pikir sapu tangan akan sangat cocok untuk dia, apalagi aku tahu dia hampir tidak pernah membawa saputangan dan selalu meminjam Abas.


Hari itu kami janji akan pergi ke alun-alun untuk jalan-jalan pagi aku berencana memberikan kadonya saat itu. Namun ternyata cuaca berkata lain, baru saja kami bertemu di alun-alun hujan sudah menguyur kami. Kami berteduh di dalam pos penjaga yang hanya dipakai saat ada kegiatan di alun-alun. Dimas memberikan jaketnya untuk ku agar aku tidak kedinginan. Merasa berterimakasih aku berikan kado yang sudah aku siapkan sebelumnya.


“Kamu saja yang pakai biar tidak sakit,” aku menolak jaket yang ia selimutkan di punggungku


“Kamu pilih jaket atau aku yang peluk?” ucapan Dimas membuatku tidak punya pilihan selain memakai jaket itu


“Terimakasih, eh aku punya sesuatu untuk kamu Mas,” ucapku sambil menyerahkan kado yang terbungkus rapi “Aku harap kamu tetap semangat untuk terus mengejar cita-citamu,”


Aku melihat dimas memandangi kado itu cukup lama tanpa mengucapkan kata-kata, lalu tampak air mata mengalir di pipinya, aku yakin itu air mata meskipun dia berkata itu air hujan. Aku tidak yakin apakah Dimas tersenyum ataukah menangis tapi rasanya waktu itu aku ingin menepuk punggungnya untuk menenangkannya. Aku rasa dia teringat Abah yang suka memberinya hadiah setiap kali dia menang lomba.


Dia memandangku seolah sangat jauh kedalam diriku. Setelah cukup lama memandang dia tersenyum, senyuman yang berbeda dari biasanya, senyum yang tulus yang membuat hatiku terasa bergetar. Entah apa yang terjadi tiba-tiba Dimas menarikku dan memelukku cukup erat. Dia berbisik ditelingaku


“Kangan pergi, jangan tinggalkan aku.”

__ADS_1


Aku tidak ingin orang akan melihat dan menjadi salah sangka dengan pelukan itu, tapi aku tidak sampai hati untuk melepaskannya. Aku merasa Dimas sedang sangat membutuhkannya. Dia telah mengalami hari-hari yang sulit.


__ADS_2