
Pagi yang lebih pagi dari biasanya, aku dan Dimas berangkat lebih awal karena jarak rumah Dimas dan kantorku cukup jauh. Aku masih kesal karena perbuatan Dimas yang dengan lancang mengirim voice notes ke grup geng kriwul tadi subuh. Aku tahu Dimas tidak akan meminta maaf karena baginya itu bukan kesalahan. Dia sengaja melakukannya karena iseng. Tapi bagiku itu sama saja dia mempermalukanku. Dan aku ingin menunjukkan pada Dimas jika aku marah tidak suka dengan sikapnya itu.
"Nanti pulang kerja nggak usah dijemput," ucapku kesal
"Kenapa?" tanya Dimas, aku hanya diam
"Ngambek?" sambung Dimas
"Iya!" jawabku tegas dengan melipat kedua tangan di depan dadaku
Dimas tidak berkata apapun membuat aku semakin jengkel. Maksudku dia tahu jika istrinya marah tapi tidak berusaha meminta maaf atau apalah untuk merayuku agar tidak marah.
"Waah udah macet aja jam segini," gumam Dimas sambil melihat gps untuk menghindari zona merah
"Kamu nggak pingin minta maaf gitu sama aku?" tanyaku ketus
"Untuk?" tanya Dimas balik membuatku semakin kesal
Aku memandangnya galak, aku tidak percaya dia tidak tahu harus meminta maaf untuk apa. Maksudku meskipun tidak merasa bersalah atas perbuatannya setidaknya harusnya dia merasa tidak enak membuat istrinya marah.
"Salah sendiri bangun tidur yang pertama kali dilihat bukan aku, malah hp," ucapnya dengan wajah kesal
Aku tersentak mendengar ucapan Dimas. Rupanya dia juga sedang marah. Sepertinya memang aku salah, bahkan aku tidak tahu kapan Dimas bangun, tiba-tiba sudah memelukku. Dia tahu aku berbalas pesan dengan siapa itu artinya dia sudah memperhatikanku dengan seksama. Aku jadi merasa tidak enak, tanpa sadar aku terus memandangi Dimas.
"Hayooo!" Dimas mengagetkanku
Benar-benar super nyebelin, aku sangat kaget dan dia tertawa puas. Aku yakin dia sadar jika aku memandanginya dan merasa bersalah.
"Aku nggak marah kok, cuma nggak suka!" ucap Dimas sambil tersenyum
"Maaf," entah mengapa jadi aku yang meminta maaf
"Sun dulu," ucap Dimas diiringi jari telunjuknya menyentuh pipinya.
Aku tersenyum, entah mengapa aku merasa lega. Aku mengubah posisi dudukku dan kudekatkan bibirku ke pipinya hendak menciumnya. Tidak disangka Dimas justru berbalik dan mengecup bibirku membuatku terkejut.
"Dimas!" seruku kaget
"Hahahaha," dia tertawa sangat puas
Sebenarnya aku tidak jengkel tapi aku tetap memarahinya. Aku tahu memutuskan bersedia menikah dengan Dimas itu artinya bersedia menjadi bahan keisengannya seumur hidupku. Tapi aku tetap ingin memarahinya dan terus galak padanya.
-*-*_*-*-
"Nggak balik Ka?" tanya Tito
"Loh sudah sepi ya?" tanyaku sambil melihat sekitar ruangan
"Buruan gue tungguin," ucap tito
__ADS_1
Aku bergegas mengemasi mejaku dan bersiap pulang. Tito mematikan ac dan memastikan seluruh komputer sudah mati.
"Sorry ya To, gara-gara gue lu jadi sering pulang telat," ucapku sungkan
"Gue memang selalu pulang lima belas menit lebih lambat dari yang lainnya kok, meskipun lu nggak lembur," ucap Tito sambil mematikan saklar lampu ruangan kami
"Gue nggak enak kalau nggak memastikan pergantian shift dulu sebelum pulang," sambung Tito
"Iya sih tapi gue nggak enak aja sama lu hehehe,"
"Lu nggak di jemput?" tanya Tito kemudian
"Enggak, sungkan gue sama yang lain, tiap suami gue jemput selalu bikin heboh,"
"Hahaha, sungkan atau cemburu?" goda Tito
"Hehehe," aku hanya tertawa kecut
"Mau bareng gue? sekalian gue mau ke tempat Fina," ajak Tito
"Boleh,"
Aku dan Mbak Fina tinggal di apartemen yang sama hanya berbeda lantai saja, aku di lantai 6 sedangkan Mb Fina di lantai 14 karena itu aku cukup dekat dengan Mbak Fina. Aku tidak tahu apa hubungan Tito dan Mbak Fina sebenarnya, di luar kantor mereka cukup dekat. Kadang Tito main ke apartemen Mbak Fina bahkan menginap. Tapi saat di kantor mereka tampak biasa saja bahkan Tito memanggilnya 'Mbak' sama seperti teman-teman lainnya. Setahuku baik Tito maupun Mbak Fina sama-sama sudah menikah dan mempunyai anak. Hanya saja suami dan anak Mbak Fina tidak disini, aku tidak tahu dimana mereka tinggal. Aku tidak ingin ikut campur urusan orang lain karena itu aku tidak pernah bertanya.
-*-*_*-*-
Sore itu aku baru saja turun dari mobil Tito. Kami berjalan sambil membaca brosur perumahan baru di dekat kantor kami yang baru saja kami peroleh saat memasuki area apartemen.
"Regency pula one gate system aman tuh," tambahku
"Lu nggak tertarik Ka?" tanya Tito
"Enggak deh To, gue mau pulang kampung soalnya," jawabku ragu
"Loh maksudnya lu mau pindah? terus kerjaan lu gimana?" tanya Tito sepertinya dia terkejut
"Nggak tahu deh masih belum pasti," ucapku sambil nyengir
Asik mengobrol dengan Tito sampai-sampai aku tidak sadar ada Dimas berdiri menunggu di lobby. Dia terlihat serius tanpa senyum sedikitpun.
"Loh kamu disini? oh iya kenalkan ini Tito teman kantorku, To ini suami gue," segera ku perkenalkan Tito padanya.
"Oh jadi ini yang bikin heboh para cewek di kantor? salam kenal gue Tito," ucap Tito sambil menjabat tangan Dimas dengan senyum sumringah
"Dimas suami Eka," jawab Dimas tegas tanpa basa-basi
Aku merasakan adanya aura mistis disekitarku, aku seperti familiar dengan ekspresi Dimas kali ini. Sudah barang pasti dia cemburu, sama seperti saat bertemu dengan Adi waktu itu. Sebelum suasana semakin mencekam segera ku tarik tangan Dimas dan berpamitan dengan Tito.
"To makasih ya tebengannya, gue duluan, salam ke Mbak Fina," ucapku sambil bergegas memasuki lift yang mulai terbuka
__ADS_1
Aku memberikan isyarat mata kepada Tito agar dia menggunakan lift sebelah. beruntung Tito mengerti, ku lihat dia menganggungkan kepalanya sambil tersenyum.
-*-*_*-*-
Aku sudah mandi dan berganti pakaian, ku lihat Dimas duduk di sofa sambil memindah-mindah chanel tv seperti tidak tahu ingin menonton apa. Wajahnya masih datar dengan mulut tertutup rapat. Aku sengaja menyandarkan kepalaku di pundaknya untuk mengodanya.
"Aaah capek sekali," ucapku sambil bersandar, Dimas tidak bereaksi
"Laper nih, kamu mau makan apa?" tanyaku kemudian
"Terserah," jawabnya singkat
"Tadi itu Tito mau ke tempat Mbak Fina, dia tinggal di lantai 14, jadi ya sekalian aku bareng," aku mencoba menjelaskan apa yang terjadi, Dimas tidak bergeming
"Tito itu sudah menikah, punya anak, nggak perlu dicemburuin," ucapku kemudian
Dimas menatapku dengan pandangan tajam mengintimidasi membuatku kebingungan apa yang harus aku perbuat.
"Emmm masak apa ya enaknya? aku lihat dulu deh apa yang ada di kulkas," aku berusaha menghindari tatapan mata Dimas yang menyeramkan
Saat aku baru akan berdiri tiba-tiba Dimas menarikku kembali duduk. Suasana saat itu sungguh menegangkan, aku menahan nafas saking takutnya. Setelah beberapa saat Dimas terdiam, akhirnya dia merobohkan dirinya kedalam pelukanku seperti anak kecil yang manja.
"Biarkan aku saja yang mengantar-jemput kamu, jangan pergi dengan pria lain, jangan seperti Abas," ucapnya lirih
Aku mengerti perasaan Dimas, dia bukan hanya cemburu tapi juga takut aku akan menyukai pria lain sama seperti saat aku menyukai Abas. Aku memeluknya erat dan mengusap-usap punggungnya.
"Maaf, aku janji tidak akan mengulanginya,"
"Kamu sayang aku kan?" tanya Dimas dengan masih dalam pelukanku
"Tentu saja aku sayang kamu, sayaaang banget," ucapku sambil tersenyum menghiburnya
"Aku tahu, tapi aku tidak percaya diri, dulu aku pikir kamu juga sayang aku tapi ternyata tidak," Dimas kembali mengungkit masalalu
"Katanya sudah tidah usah ngomongin masalalu? rencanain masa depan saja?" sindirku mengingatkan Dimas pada ucapannya sendiri
"Iya, tapi rasanya aku benar-benar ragu, habisnya sampai sekarang kita belum itu," ucap Dimas membuatku memutar otak
"Aku berfikir apa jangan-jangan cuma alasanmu saja? apa kamu belum yakin? atau belum siap?" ucap Dimas sambil melepaskan pelukan dan berganti merebahkan kepalanya di pangkuanku
"Aku benar-benar masih datang bulan Mas, kalau tidak percaya ayo ikut aku ke kamar mandi, kamu lihat sendiri!" ucapku meyakinkan suamiku yang tampak begitu meragukanku
"Aku kayak anak kecil ya?"
" Baru sadar?" tanyaku balik
"Aaaahhh Eka, aku ini keren tau!" ucapnya sambil melingkarkan tanganku ke kepalanya
"Hahahaha iya keren, suamiku paling keren se dunia, se jagat raya," godaku membuat Dimas malu
__ADS_1
Akhirnya aku tidak jadi memasak dan kami makan malam di luar sekaligus kencan.