
Kak Ajeng sedang sangat sibuk dengan skripsinya, dia sering pulang larut malam dan kembali lagi ke kampus di pagi buta. Kak Ana juga sibuk dengan kegitan organisasinya, kabarnya dia akan mencalonkan diri menjadi ketua BEM Fakultas. Setiap kali aku pulang ke kost kudapati kamar yang kosong, aku merasa sangat bosan.
Libur sekolah telah datang bulan depan aku akan berada di kelas baru. Aku bermaksud untuk mengemasi buku-buku kelas satu agar rak buku di kostku dapat aku pergunakan untuk menyimpan buku-buku kelas dua nanti.
Saat sedang merapihkan buku-buku semester lalu aku menemukan sebuah buku kecil aku ingat buku itu adalah milik Dimas, dia memberikannya padaku saat akan mengikuti karantina lomba robotik. Saat itu dia berkata aku boleh membacanya saat aku rindu, tapi hingga saat aku menemukan buku itu aku belum pernah membacanya. Aku membuka random halaman buku itu dan kudapati sebuah puisi yang sepertinya ditujukan untukku.
Wanita Gendut
Gelora hidupku redup
Asing degan bahasa yang tak ku mengerti
Aku ingin menangis
Aku ingin kembali
Lalu dia menyalakan api semangat
Dan mengusir sepi untuk ku
Suatu saat nanti akan kubuat dia gendut
Dengan makanan-makanan enak buatannya sendiri di dapur rumahku
Suatu saat nanti akan kubuat dia gendut
Dengan tidur malas bersama anak-anak yang lucu ditempat tidurku
D.N
Aku tersenyum membacannya, menyebalkan tapi lucu aku suka. Lau aku buka halaman berikutnya dan ku jumpai tulisan lainnya, aku tidak yakin disebut apa bentuk tulisan itu. Hanya terdiri dari sebuah kalimat yang sangat menyebalkan.
Krasiva Eka Putri 2
Dia galak seperti anjing tapi indah seperti surga, mungkin dia anjing dari surga!
D.N
Kali ini aku tertawa, meskipun cukup kesal jika benar dia yang di maksud dalam tulisan itu adalah aku. Sekali lagi aku membuka acak halaman buku itu dan kudapati beberapa buah puisi yang ditujukan untuk ku.
Cantik
Aku paling takut dengan Ayah
Karena terbukti do’a nya mustajab
Beliau menamakan putri pertamanya Krasiva
Dan sesuai namanya dia cantik
Aku suka
D.N
Rindu
Nafas terasa sesak
Dada terasa berat
Detak jantung tak beraturan
Gelisah tidak bisa tidur
Lemas dan berkeringat
Aku pergi ke dokter
Ku kira aku terkena serangan jantung
Ternyata aku hanya rindu melihat senyumnya
D.N
Tanpa sadar aku meneteskan air mata, aku merasakan kembali emosi dalam diriku.
“Dimas, aku rindu!”
-*-*_*-*-
Krasiva Eka Putri 11
Pernah aku berkata “kamu cantik”, Dia marah
Pernah aku berkata “kamu seperti bidadari”, Dia marah
Pernah aku “tersenyum”, Dia marah
Pernah aku bilang “kamu galak”, Dia tertawa
Aku katakan lagi “kamu galak”, Dia marah
Begitulah dia, lebih sulit dari matematika
D.N
Krasiva Eka Putri 9
__ADS_1
“Perkenalkan aku Eka juara bertahan”
Hari itu aku pikir aku sudah mengalahkannya
Ternyata dia tetap juara dan bertahan di hatiku
D.N
Krasiva Eka Putri 10
Kamu Dimas?
Sejak hari itu aku terus bertanya
Bagaimana dia tahu?
Ku rasa dia yang mencuri tulung rusuk ku
D.N
Krasiva Eka Putri 18
Dia menangis karena rindu Bunda
Jika rindu aku dia menangis tidak ya?
D.N
Sepupuku Raka menghampiri aku yang sedang duduk di balkon. Dia seumuran denganku, rumahnya di Depok saat itu dia dan keluarganya sedang berlibur ke rumahku untuk memperingati haul si Embah. Dia mendapatiku sedang menangis. Aku buru-buru menyeka air mataku dan mempersilahkan dia duduk.
“Buku apa yang bisa membuat Eka menangis?” tanya Raka kepadaku sambil melihat buku catatan Dimas yang ada ditanganku
“Ah ini buku catatan biasa,” jawabku sambil menyimpan buku itu dalam saku celana
“Lu bisa cerita sama gue kalau lu mau,” kata Raka kemudian.
Aku hanya diam, aku bukan tidak ingin menceritakannya kepada Raka, sebenarnya saat itu aku memang butuh teman untuk cerita. Tapi aku takut jika Bunda akan tahu aku sempat pacaran sama Dimas masalahnya aku belum cerita ke Bunda.
“Lu bisa percaya sama gue, masalah kalau di pendem sendiri ntar jadi jerawat loh,” goda Raka kepadaku lalu aku mulai menceritakan masalahku padanya
“Jadi lu itu sebenarnya mau sama Dimas apa Abas?” tanya Raka memastikan keaadaan.
Aku menjadi bingung sendiri. Awalnya aku sangat yakin yang aku sukai adalah Abas tapi sekarang aku jadi ragu jika aku tidak menginginkan Dimas.
“Kalau dari cerita lu gue nangkepnya Dimas itu pingin lu bahagia jadi dia pasti tidak keberatan kalau kalian balik jadi teman, sekarang masalahnya di elu, kalau memang lu nggak mau sama dia harusnya lu nggak perlu seperti ini dong?” perkataan Raka malam itu membuat aku semakin bimbang. Sebenarnya perasaan apa yang aku rasakan untuk Dimas?
-*-*_*-*
Mengingat puisi Dimas membuatku ingin membaca kembali buku catatan itu. Ku ambil buku kecil yang selalu menemani kemanapun aku pergi dari dalam tasku.
Keluarga
Ayah yang usil dan Abah yang kolot
Kakak yang ribet dan adik yang centil
Mereka sering membuatku kesal
Namun aku selalu rindu rumah
Aku selalu ingin pulang
Karena keluarga tidak harus sempurna
Apa adanya saja itu sudah cukup
Jika ditambah satu yang galak pasti akan lengkap
D.N
Membaca itu membuatku merindukan rumah dan aku tidak sabar untuk segera bertemu Bunda yang cerewet, Ayah yang selalu memanjakanku, adik ku Dwi yang jago protes dan juga pacarnya yang manis.Suasana hatiku menjadi bersemangat, kulihat jam ditangan rupanya baru lima jam berlalu.
“Huuft masih lama,” gumamku mengeluh pada diri sendiri.
Ingin berganti suasana aku berjalan ke gerbong restorasi yang berada tepat di depan gerbongku.
“Mas tolong satu botol air mineral yang tidak dingin ya,” Aku memesan minuman pada petugas restorasi
“Tambah satu lagi mas, tapi pake kopi,” tiba-tiba Dimas muncul disampingku membuatku kaget, dia memesan yang sama denganku tapi ditambah kopi mas pramugari kereta bingung dengan pesanannya.
“Eh kamu! Mau pesen kopi maksudnya?” tanyaku pada Dimas sambil tertawa, dia selalu bisa mencairkan suasana
“Cuma dia memang Mas yang bisa mengerti saya,” jawabnya mengiyakan pertanyaanku dengan cara yang menyebalkan.
“Bukannya kamu punya sakit magh? Ntar kambuh di kereta gimana?” tanyaku mengingatkan Dimas akan penyakit lamanya
“Sudah pengertian, perhatian lagi, kira-kira apa salah jika saya jadi mau sama dia mas?” tanya Dimas kepada pramugari kereta yang sontak membuat aku jengkel dan memukulnya, pramugari itu hanya tertawa dan tetap menerima pesanan kopi Dimas.
Setelah itu kami duduk di meja sudut gerbong restorasi melanjutkan nostalgia yang tertunda.
“Terimakasih coklat panasnya,” ucapku mengawali pembicaraan
“Tidak perlu,” jawabnya santai
“Kenapa?” tanyaku bingung
“Biar aku tidak perlu terimakasih kopi nya dibayarin,” jawab Dimas sambil menahan tawa
__ADS_1
“Siapa yang mau bayarin? Dasar!” ucapku sewot tapi sambil tertawa
Sudah lima belas tahun berlalu tapi Dimas masih sama, menyebalkan dan seenaknya. Pada akhirnya tentu saja aku yang membayar untuk kopi itu. Aku rindu Dimas yang seperti itu. Membuat aku kesal tapi tetap menuruti apa yang dia katakan.
-*-*_*-*-
“Rambut kamu sekarang bagus ya? Lebih cantik dari yang di pensi waktu itu,” Puji Dimas kepadaku membuatku malu
“Terimakasih jangan?” tanyaku pada Dimas
“Jangan,” jawab Dimas singkat
“Kenapa?” tanyaku sambil tertawa
“Supaya aku tidak perlu berterimakasih kalau kamu mau puji aku juga,” jawabnya sambil ketawa
“Siapa yang mau memuji kamu? Hahahaha,” Aku tertawa lepas
“Eh tapi aku serius, rambut kamu cantik nggak kriwul kayak dulu, ya meskipun kamu kriwul juga cantik,” ucap Dimas membuatku malu “Apa kabar geng kriwul? masih eksis?” tanya Dimas kemudian
“Aku lost contact sama mereka, terakhir kali bertemu ya saat wisuda SMA,” jawabku membuat suasana menjadi kaku
“Kalau Abas, jelek dia sekarang!” kata Dimas yang tiba-tiba membahas Abas, seperti tahu jika aku ingin menanyakannya tapi sungkan.
“Maksudnya?” tanyaku penasaran
“Gendut, buncit, berewokan,” jawab Dimas sambil tertawa
“Hahaha yang bener kamu?” tanyaku tidak percaya
“Beneran! yah memang laki-laki kalau sudah jadi bapak mayoritas berubah jadi buncit, gendut, jelek nggak keurus sibuk main sama anaknya itu sebabnya aku masih lajang, belum siap jelek hahahahaha,”
“Abas sudah menikah?” tanyaku memastikan
“Sudah punya dua anak malah,” Informasi ini yang ingin aku ketahui.
Semua orang termasuk Abas sudah menemukan kebahagiaannya tapi aku masih berputar pada duniaku sendiri.
“Eka, Ekaa... Woooiiii,” sentak Dimas menyadarkanku dari lamunan “Ngelamun?” tanyanya kemudian
“Eh sorry, kalau kamu?” tanyaku mengalihkan topik pembicaraan
“Benar-benar lagi nggak disini ya? Tadi kan aku bilang masih lajang,” jawab Dimas sambil meminum kopinya
“Tapi sudah punya pacar kan?” tanyaku melanjutkan pembicaraan.
Aku tidak ingin Dimas melihatku melamun setelah membicarakan Abas. Dia tidak tahu tentang hubunganku dengan Abas dan meskipun sudah lama berlalu aku tidak mau Dimas mengetahuinya. Biarkanlah yang berlalu tetap berlalu.
“Belum, kalau kamu?” Dimas balik bertanya
“Aku? Belum sih,”
“Tapi?”
“Nggak pake tapi” jawabku sambil ternsenyum usil
“Tapi pake sih,” jawab Dimas tidak kalah usil seolah dia tahu ada yang sedang aku sembunyikan
“Hahahahaa, iya deh ngaku, ini aku pulang dalam rangka mau dijodohin,” jawabku sambil tertawa
“Mau?” tanya Dimas penasaran
“Entahlah belum tau juga gimana orangnya, taunya cuma anak temannya Ayah,”
“Tapi kamu mau di jodohin?” tanya Dimas memastikan
“Mau gimana lagi nggak bisa cari sendiri, hahahahaaa,” Aku mencoba untuk membuat suasana tidak kaku
“Memang kamu cari yang kayak gimana sih? Sorry nih, kamu kan cantik, baik, pinter, mana mungkin sih gak ada yang mau?”
Pertanyaan Dimas seolah menyayat hatiku. Aku tidak tahu apa yang aku cari, aku bahkan tidak pernah memikirkannya. Melihatku terdiam cukup lama Dimas kembali bertanya
“Kamu sudah tahu siapa yang akan dijodohkan dengan kamu? setidaknya kepo gitu, kamu punya sosmed kan?”
“Belum tahu namanya gimana mau kepo? lihat nanti sajalah, Ayah tidak mungkin asal pilih,” jawabku sambil membuka botol minumanku
“Bilang saja sebenarnya kamu tidak tertarik!” jawab Dimas serius membuatku kaget dengan reaksinya
“Maksudnya?” tanyaku penasaran
“Mana mungkin ada orang yang tidak ingin tahu dengan siapa dia akan dijodohkan, bagaimana penampilannya, kepribadiannya, lingkunganya, paling tidak namanya, pasti ada rasa penasaran, kamu kan menikah untuk kamu sendiri bukan untuk Ayah atau orang lain,” ucap Dimas seperti sedang kesal padaku, aku tidak mengerti mengapa dia kesal.
“Kamu sendiri belum menikah, apa yang kamu cari?” tanyaku seolah ikut kesal
“Aku tidak mencari, sudah ku temukan sejak jauh hari, hanya saja dia belum mau,”
“Katanya belum punya pacar?”
“Memang belum, soalnya dia marah kalau aku panggil pacar,” entah mengapa aku merasa kata itu ditujukan untuk aku
“Soalnya kamu nyebelin,” jawabku pura-pura marah
“Aku tidak tahu apa yang telah membuatmu seperti ini, Eka yang aku kenal memang polos tapi dia tidak akan menerima begitu saja apa yang tidak dia inginkan” jawabnya dengan serius.
Aku jadi teringat masa dimana aku putus dengan Dimas dan aku menghancurkan mimpinya.
“Aku minta maaf Mas, waktu itu karena aku ingin putus kamu jadi gagal meraih mimpimu,”
__ADS_1
Kata-kataku yang diiringi oleh air mata sepertinya juga mengingatkan Dimas akan masa itu. Malam itu kami bernostalgia melewati lika-liku bukit kenangan yang kadang landai kadang juga terjal.