
"Ada apa sih mbak?"tanyaku kepada Mbak Fina
Sejak pagi aku asik bekerja sampai-sampai tidak terasa sudah hampir jam pulang kantor. Kulihat beberapa pegawai wanita berkerumun dan bergosip termasuk Mbak Fina. Aku penasaran apa yang sedang terjadi tapi malas ikut bergerumbul.
"Ada cogan di lobby" jawab Mbak Fina
"Cogan?"
"Cowok ganteng, ganteng banget hahaha"
"Ooh"
"Oh doang? Eka Eka aku yang sudah beranak pinak aja seger lihat yang begituan, kamu yang masih jomblo cuma Oh doang" ucap Mbak fina heran
"Hehehehe terus kudu gimana mbak?" tanyaku sebagai formalitas
Bukannya aku nggak suka cowok ganteng tapi bagiku Dimas adalah yang terganteng sejagat raya. Aku sendiri tidak tahu kenapa tiba-tiba aku mengilai Dimas separah ini. Aku fikir aku hanya tidak ingin kehilangan dia, tapi sepertinya aku sudah jatuh cinta padanya entah sejak kapan.
"Eka itu cintanya sama kerjaan Mbak, sama cowok dia mati rasa" sela Tito yang membuat semua tertawa
"Hahaha kalo aku jadi kamu Kak udah aku samperin tuh cowok ajak kenalan, siapa tahu jodoh hahahaha" ucap Mbak Fina membuat suasana semakin rame
"Iya kalau cowoknya single kalau sudah punya istri?" tanyaku
"Ya nggak papa toh kenalan aja, siapa tahu bisa jadi customer" jawab Mbak Linda
"Nih Kak gue ambil fotonya tadi, kali aja lu kepo" Silfi menunjukan foto dalam hp nyax
Pria dengan hem putih lengan panjang digulung sampai di siku. Sedang duduk tertunduk melihat hp, tidak begitu jelas wajahnya hanya terlihat dari samping, tapi seperti tidak asing bagiku. Silfi menggeser fotonya untuk menunjukkan masih banyak foto yang dia ambil.
"Dimas?" seruku kaget
Rupanya sosok yang sedang dibicarakan teman-temanku adalah suamiku. Aku bergegas mencari hp ku yang ternyata sedang kehabisan batrai. Lalu aku segera bangkit dari duduk dan bergegas mengemasi barang-barangku.
"Kamu kenal kak?" tanya Mbak Fina heran
"Suamiku Mbak" jawabku seadanya
"Haah?"seru semua orang terpanah tidak percaya
"Kapan lu nikah?" tanya Tito
"Gue cabut duluan ya To?"
"Masih 10 menit lagi nih, jawab dulu pertanyaan gue" Ujar Tito tidak ku hiraukan.
Aku segera berlenggang pergi menuju lobby. Ku lihat Dimas sedang duduk bersandar di bahu sofa. Matanya terpejam tangannya mengenggam hp dan dua jari telunjuknya dipukul pukulkan ke punggung hp, kuhampiri dia perlahan.
"Sudah lama?" tanyaku membuat Dimas terbangun
"Huuuh, aku kira istriku hilang" jawabnya seperti sangat lega melihatku
"Kok bisa disini?" tanyaku
"Iya kangen hahaha" jawabnya iseng
Dimas segera bangun dari duduknya dan mengambil tas yang sedang ku jinjing. Dibawakannya tasku dan digandengnya tanganku. Kami berjalan meninggalkan lobby kantor menuju parkiran.
"Loh bukannya ini mobil kamu?" tanyaku heran kenapa mobilnya Dimas bisa sampai Depok
__ADS_1
"Hehehe iya aku nyetir sendiri dari rumah" jawab Dimas sambil nyengir
Tentu saja aku memarahinya habis-habisan. Dia selalu saja melakukan hal nekat seperti itu. Rasanya sangat kesal, untung saja dia sampai dengan selamat, bagaimana jika hal buruk terjadi? Aku tidak berhenti mengomel tapi Dimas cuma senyam senyum seperti menikmati omelanku membuatku semakin kesal.
"Kamu itu ya dimarahain bukannya merasa bersalah malah senyam senyum! Pokoknya aku ngak suka kamu nekat kayak gitu lagi!"
"Aku suka kamu marahin kayak gini, berasa kamu sayang banget sama aku, aaaah ngebut aaaah" ucapnya membuatku semakin kesal
"Dimas! awas kamu ya! nanti malam tidur diluar!" seruku membalas keisengannya
"Yaaah jangan dong, aku sudah istirahat kok, tadi nyampek Jakarta pagi terus aku pulang, tidur, makan, mandi, ganti baju yang rapih baru ke kantormu, jadi sekarang sudah segar, malah sempat mampir potong rambut segala jadi jangan suruh tidur luar ya?" ucapnya tidak kalah iseng
Aku baru sadar yang membuat Dimas tampak lain adalah gaya rambutnya yang lebih pendek, pantas saja tadi aku tidak langsung mengenali fotonya. Sebenarnya aku lebih suka gaya rambutnya yang sekarang tapi dia terlihat terlalu ganteng dan aku tidak suka jika banyak wanita yang meliriknya.
"Potonganmu jelek" ucapku sambil memalingkan muka
"Ganteng kok, sampe difoto tukang cukurnya mau dipajang buat contoh katanya" ucap Dimas percaya diri
"Pokoknya aku nggak suka! biar apa dandan macem-macem? biar dikerumuni cewek-cewek?" tanyaku kesal
"macem-macem gimana? aku cuma potong rambut aja nggak pake bedak, lipstik, apalagi bb cream, cc cream, dd cream, ee cream, ff ....."
"Hahahaha udah-udah" aku mulai tertawa dan Dimas masih melanjutkan mengurut nama cream sampai XX cream. Aku membungkam mulutnya barulah dia berhenti.
Dimas tiba-tiba menepikan mobilnya membuatku bertanya apa yang akan dia lakukan. Aku sudah bersiap menangkisnya seandainya dia melakukan serangan mendadak. Maksudku bisa saja dia tiba-tiba memeluk atau menciumku. Bukannya aku berfikir mesum hanya saja Dimas memang tidak tertebak.
"Kenapa menepi?" tanyaku
"Kita mau kemana?" tanya Dimas balik
Aku tertawa dan Dimaspun ikut tertawa, aku hampir lupa meskipun sudah jadi suamiku Dimas belum tahu dimana aku tinggal.
-*-*_*-*-
"Mau kemana kamu?" tanyaku
"Kamar pengantin" jawabnya iseng
"Yaudah kamu istirahat dulu aja, aku mau mandi"
"Aku juga"
"Maksudnya?" tanyaku kaget
"Habis cukur rasanya gatal kena rambut, aku mau mandi keramas"
Entah apa yang aku pikirkan, sejak tadi rasanya aku berfikir yang bukan-bukan.
"Yaudah kamu dulu kalau gitu, aku mau siapkan makan malam dulu" ucapku kemudian
"Bareng aja" ucap Dimas persis seperti prediksiku
"Enggak mau, kamu duluan aja, aku masak dulu" jawabku tegas membuat Dimas hanya bisa menurut.
-*-*_*-*-
Aku hanya memasak tumis wortel brokoli dan telur dadar jadi tidak butuh waktu lama untuk memasaknya. Setelah semua siap dimeja makan aku mengetuk pintu kamar mandi. Aku menjerit melihat Dimas keluar kamar madi hanya memakai handuk di pinggulnya.
"Aaaaaaa Dimaaas! kok cuma pake handuk sih?"
__ADS_1
"Aku nggak bawa baju ganti, yang aku pake tadi banyak rambutnya" jawab Dimas memelas
Lagi-lagi aku berfikiran kotor, kufikir Dimas sengaja melakukannya. Kemudian ku pinjamkan baju tidurku yang berukuran jumbo. Aku memang suka memakai baju yang longgar saat tidur.
"Masak aku pake baju hellokity warna pink sih Ka?" protes Dimas
"Ini yang paling gedhe, udah pakai saja!" ucapku galak
Sebenarnya aku ingin tertawa tapi ku tahan agar Dimas mau memakainya. Sementara Dimas ganti baju aku pergi mandi dan mencuci baju Dimas agar bisa digunakan esok hari. Setelah itu kami makan malam bersama.
"Kamu kok bisa tahu tempat kerjaku?" tanyaku ingin tahu
"Aku punya saham disana" jawab Dimas ringan membuatku tidak percaya, ku pikir dia hanya bercanda.
"Mama sama Papa sudah balik Jakarta?" tanyaku mengalihkan pembicaraan
"Belum, Papa mau meletakkan batu pertama di masjid baru jadi mungkin sekitar 2 minggu lagi baru balik Jakarta" terang Dimas
"Kak Putri dan Citra sudah tahu kita menikah?"
"Belum hahaha, sengaja nggak dikasih tau sampai acara resepsi biar jadi kejutan" ucap Dimas usil
Kami ngobrol tentang hal-hal kecil tidak jelas lainnya hingga makanan kami habis. Aku beruntung memiliki Dimas menjadi suamiku. Dia tidak segan membantuku untuk mencuci piring, Dia yang mencuci dan aku membilasnya.
Setelah mencuci piring Dimas tiba-tiba memelukku dari belakang.
"Kangen" katanya
Aku mengerti perasaannya karena aku juga merasakannya. Aku berbalik badan dan menyambut pelukannya.
"Aku juga" jawabku sambil kulingkarkan tanganku di pinggangnya dan memandang dalam ke matanya.
Dimas tersenyum kecil dan mendekatkan bibir merahnya menyentuh kening, pipi, hidung dan bibirku, ciumanpun tidak terelakkan. Aku tidak tahu dengan Dimas tapi bagiku itu adalah ciuman pertama. Rasanya jantungku memompa begitu cepat hingga darah yang mengalir keseluruh tubuh terasa panas membara.
Dimas mengendongku menuju kamar dan merebahkanku diatas kasur. Aku mengerti apa yang dia inginkan bukan maksud menolak tapi aku harus menghentikannya.
"Mas" ucapku lirih disambut dengan cumbuannya yang lembut.
Sepertinya Dimas tidak ingin berbincang lagi, dia mulai membuka kancing bajuku. Segera ku raih lehernya dan ku bisikkan ditelinganya
"Aku lagi datang bulan"
"Apa?" Dimas tampak terkejut aku hanya tersenyum
"Beneran?" tanyanya lagi untuk memastikan
"Iya, baru tadi siang mulai keluar" jawabku meyakinkan
Dimas merebahkan tubuhnya disampingku lalu berguling kesana kemari sambil merengek-rengek.
"Aaaah tidaaak, nggak boleh, Aaah nggak mau, nggak adil, Aaaaahhh nggak tahan"
Aku tertawa melihat tingkah konyol suamiku itu.
"Kamu bohong kan?" tanyanya kemudian
"Beneran Mas ngapain bohong?" jawabku yang menbuat Dimas kembali berguling guling
"Aaah kejaaamnya, sungguh teganya kau teganya teganya teganya" rengek Dimas lagi
__ADS_1
Aku hanya tertawa terpingkal-pingkal dan Dimas terus berguling dan merengek seperti anak kecil.