
Sepanjang perjalanan suasana hening, beberapa kali ku lirik ke arah Dimas mengemudi, dia tampak fokus ke jalanan. Sebenarnya secara logika aku tidak melakukan kesalahan. Tidak ada hubungan apapun antara aku dan Dimas tentu saja aku tidak harus menjelaskan duduk perkaranya. Namun hatiku serasa tidak tenang dan ingin menjelaskan semuanya.
"Aku bisa menjelaskan semuanya," ucapku memecah keheningan
"Dia bilang dia calon suamimu dan kamu bilang itu benar, apa lagi yang harus di jelaskan?" tanya Dimas tanpa melihat sedikitpun ke arahku
"Ini tidak seperti yang kamu pikirkan!"
"Kamu tahu apa yang aku pikirkan?"
Aku kembali diam, Dimas benar aku bahkan tidak tahu apa isi kepala Dimas. Aku hanya cemas tidak jelas. Namun sesaat kemudian Dimas menepi, dia berhenti dibahu jalan yang cukup teduh.
"Jelaskan!" ucapnya membuatku kebingungan, aku benar-benar tidak mengerti Dimas.
"Dia anak teman ayah yang dijodohkan denganku, kami belum sepakat untuk menikah, kami baru kenalan saja," aku berusaha menjelaskan
"Lalu kenapa dia bicara seperti itu dan kamu membenarkannya?" Dimas memandangku dengan pandangan intimidasi membuatku takut
"Karena menang kami sedang dijodohkan, dan dalam tahap ta'aruf" jawabku lirih
"Dan dia merasa cocok mungkin sebentar lagi akan lanjut ketahap khitbah begitu? sejak kapan jadi genre religi gini?" ucap Dimas membuatku jengkel.
"Kamu kenapa sih?" kesalku
"Cemburu!"
Lagi-lagi Dimas membuatku terdiam. Aku menanyakan hal yang sudah jelas. Meskipun sempat ragu tapi aku merasa jika Dimas memang masih menyukaiku.
"Aku yang salah, seharusnya aku langsung memintamu, tapi aku malah menunggu, ku pikir kamu masih butuh waktu untuk menyelesaikan masa lalumu dengan Abas, Aaah sudahlah waktu tidak akan bisa kembali, lupakan saja!"
Dimas kembali mengemudikan mobilnya. Aku masih diam saja, yang ada di kepalaku saat itu mungkinkah Dimas kecewa, marah dan akan menjauhiku? mungkinkah kali ini aku akan kehilangan Dimas untuk selamanya? Lima belas tahun tanpanya hidupku terasa mati. Hanya rutinitas semata, tanpa gairah tanpa emosi.
-*-*_*-*-
Keesokan harinya Dimas tidak muncul sama sekali. Aku ingin menghubunginya tapi ragu. Hingga malam hampir pergi aku masih memikirkannya.
-*-*_*-*-
Kamis pagi setelah subuh aku dapati Dimas sedang bicara dengan Ayah di teras rumah. Aku bergegas membuat kopi untuk mereka.
"Tumben kamu yang bikin, Bundamu kemana?" tanya Ayah
"Masih belanja," jawabku
__ADS_1
Dimas tampak cuek tidak melihatku sedikitpun. Tidak seperti biasanya yang banyak omong dan usil hari itu dia hanya diam saja sambil terus memandangi gambar rencana bangunan masjid yang baru.
-*-*_*-*-
Langit begitu cerah, angin sore melambungkan layang-layang tinggi menyentuh awan. Tua, muda riuh ramai di lapangan, ada yang bermain layangan adapula yang sekedar melihat sepertiku.
Aku sengaja keluar rumah mencari udara segar. Rasanya penat kepalaku memikirkan Dimas ditambah sedari siang Adi terus menelfon tapi tidak ku balas panggilannya.
Aku tahu sikapku ini tidak adil untuk Adi. Tapi rasanya aku masih malas ngobrol dengannya. Aku merasa sangat buruk sebagai seorang wanita. Aku memberinya harapan namun tidak sedikitpun aku memikirkannya.
Kluklik kluklik
Suara pesan masuk, kudapati Adi pengirimnya. Dia mengajakku untuk bertemu, besok selepas sholat Jumat dia akan menjemputku. Aku mengiyakan ajakannya karena ada yang ingin aku bicarakan.
-*-*_*-*-
Wangi aroma parfum abah semerbak memenuhi seisi rumah. Adikku Dwi tampak ganteng dengan baju koko dan peci hitamnya. Ayah dan Dwi bersiap pergi sholat Jumat ke masjid, tiba-tiba Adi datang berkunjung, lebih cepat dari janjinya.
Sempurna, Dimas akan melihat Adi ke masjid bersama Ayah dan Dwi. Belum lagi si Ayah yang kemungkinan besar akan memperkenalkan Adi sebagai calon mantunya kepada para tetangga. Aduuh bisa-bisa Dimas mikir Adi bakal suamiku beneran nih makin runyam saja ini masalah, pikirku.
Apa yang ku takutkan benar terjadi, ditambah dengan agenda rapat pengurus masjid di rumahku membuat suasana semakin dramatis.
"Ayah, Eka pamit pergi dulu," aku berpamitan kepada Ayah yang saat itu sedang bersama Dimas, Papa Dimas, dan beberapa panitia pembangunan masjid baru
"Saya Adi, salam kenal bapak-bapak semua,"
"Wiih pantes Eka lama nunggu, yang dicari begini, udah ganteng dokter pula," ucap pak Kamil menyempurnakan kekacaubalauan ini.
Sebelum semua semakin ruwet aku segera pamit untuk pergi.
-*-*_*-*-
Kami pergi ke sebuah resto ternama di kota. Resto langganan keluarga Adi, tempatnya sejuk banyak pohon rindang. Tidak terlalu rame, mungkin karena harganya yang cukup mahal tapi memang harga membawa rasa. Rasa masakannya enak dan pas diperut.
"Dik Eka ada yang ingin saya bicarakan perihal perjodohan kita," ucap Adi memulai pembicaraan
"Eka juga ada yang mau dibicarakan Mas, boleh Eka duluan?" jawabku menyela pembicaraan
Bukan bermaksud tidak sopan hanya saja aku tidak mau terjebak dalam situasi yang tidak menguntungkan. Untungnya Adi mempersilahkanku bicara lebih awal
"Aku ingin perjodohan kita dibatalkan," jawabku tanpa basa-basi
"Karena pria yang di rumah sakit kemarin?"
__ADS_1
"Tidak, tapi karena perasaan Eka bukan untuk mas Adi,"
"Iya, karena perasaan Dik Eka sudah untuk dia," jawab Adi sambil tersenyum
"Maaf Mas Adi, tapi ini tentang saya, bukan tentang dia, sayalah yang merasa bukan Mas Adi orang yang saya cari,"
"Tidak apa Dik Eka, saya tahu kok, tadinya saya juga mau mengatakan hal yang sama," Perkataan Adi membuatku kaget
"Maksudnya Mas Adi juga mau mengakhiri perjodohan kita?" Tanyaku memastikan
"Iya, saya minta maaf waktu itu sudah lancang bilang kalau saya calon suamimu, tapi saya memang sengaja untuk tahu reaksi pria itu,"
"Maksudnya?"
"Saya langsung tau saat Dik Eka menolak makan dengan saya, awalnya saya pikir karena pria yang berjalan dengan Dik Eka, tapi rupanya karena yang satunya lagi. Jujur saja saat itu saya sedikit cemburu, tapi melihat reaksinya saya merasa malu, sepertinya perasaan saya tidak cukup kuat untuk bersaing dengannya,"
"Maksudnya?"
"Maksudnya, Dik Eka menikah dengan dia saja, saya yakin tidak ada yang sayang Dik Eka melebihi dia,"
"Kalau itu saya tahu," ucapku sambil tersenyum dan Adi pun menyambut senyumku
"Jangan panggil Mas lagi dong, saya berasa makin tua hahaha, Adi saja ya?"
"Boleh, kalau aku-kamu biar terkesan lebih akrab gimana?"
"Boleh, tapi saya sudah terbiasa dengan kata saya, maklum dokter hampir selalu menggunakan bahasa formal, jadi sudah kebiasaan, maaf kalau lupa ya?"
"Ya sudah, saya saja, hahaha,"
Kami tertawa bersama
"Makasih ya Di, saya pikir kamu bakal marah tidak terima,"
"Saya mau menikah untuk bahagia, kalau hatimu untuk orang lain bagaimana saya akan bahagia? jadi tidak usah meminta maaf, ini namanya bukan jodoh," ucap Adi bijaksana
Kami kembali tertawa bersama. Hatiku terasa lega seperti menghirup udara sejuk pegunungan setelah penat dengan polusi perkotaan. Aku memang yakin Ayah pasti akan memilihkan aku calon suami yang terbaik jadi tidak heran jika Adi sangat baik.
"Dik Eka besok mau datang reuni dengan saya?"
"Loh kita satu almamater?" tanyaku heran
"Saya juga baru tahu, Ayah Dik Eka tadi yang bilang, saya disuruh jemput Dik Eka, biar bareng datangnya,"
__ADS_1
Aku dan Adi mengobrol ini itu tentang sekolah kami. Rasanya beban hidupku telah berkurang satu. Kini tinggal masalah berdamai dengan Dimas.