RAHASIA Cinta SMA

RAHASIA Cinta SMA
Publikasi


__ADS_3

Hari yang cerah, udara yang segar, sarapan yang nikmat, dan suami yang keren mengantarku pergi bekerja. Kami sepakat setiap senin sampai dengan kamis kami pulang ke apartemenku sementara hari jumat hingga minggu kami pulang ke rumah Dimas.Pertimbangan kami adalah lokasi apartemenku lebih terjangkau untuk ke kantorku dan tempat kerja Dimas.


Sejujurnya sampai saat ini aku belum paham apa sebenarnya pekerjaan Dimas. Di bincang alumni tempo lalu Dimas bercerita jika dia berhasil menemukan sebuah rumus baru dibidang informatika yang membuat heboh dunia digital hingga membuat Rusia, Jerman dan Amerika berebut meminangnya menjadi warga negaranya. Disisi lain Pemerintah Indonesia menjanjikan Sekolah IT untuk Dimas di kampung kami. Mungkin dia bekerja dibidang IT pikirku.


-*-*_*-*-


Memasuki ruang kantor aku disambut oleh para rekan kerjaku, mereka tampak antusias menungguku. Pasti soal Dimas pikirku. Aku berjalan menuju mejaku dengan diikuti Mbak Fina dan Silfi.


"Cowok kemarin beneran suami lu?" tanya Silfi aku hanya diam


"Udah jelaslah gandengan tangan gitu" jawab Mbak Fina "Pertanyaannya kapan kamu menikah?" lanjut Mbak Fina membuatku kelabakan


"Jangan bilang cuti kemarin itu sebenarnya cuti menikah?" tanya Tito curiga


"Bener Ka?" Mbak Fina tampak Penasaran


"Iya, aku baru menikah hari sabtu kemarin" jawabku sambil nyengir


"Ekaaaaa! kenapa nggak bilang? tahu gitu aku nggak bakal suruh cepet-cepet balik Kaa!" Mbak Fina tampak menyesal


"Lu gimana sih? menikah kan ada cuti dan tunjangan sendiri, ngapain disembunyiin?" ujar Tito


"Takut kita rebut tuuh cowoknya ganteng gitu!" seru Silfi


"Pantes ya kamu nggak pernah respon kalo dikenalin cowok, ternyata cowokmu jauh lebih juara! hahaha" goda Mbak Fina aku hanya tersenyum


"Lu curang ah Ka, masak nikah nggak undang-undang kita? biar sederhana juga harusnya lu undang kita dong" kesal Silfi


"Bukannya gitu, gue nikahnya juga mendadak, gue aja juga nggak percaya gue udah nikah" jawabku sambil tertawa


"Hah? gimana sih? cerita dong!" Silfi tampak sangat penasaran begitu pula dengan yang lainnya


"Tuh tuh Pak Bram datang" ucapku membuyarkan kerumunan. Pak Bram adalah manejer kami.


"ssssttt lu hutang cerita sama gue!" bisik Silfi yang mejanya tepat di depanku


"Aku juga!" tambah Mbak Fina yang bersebelahan meja denganku


"Lu cepet urus berkas pernikahan lu, siapa tahu masih bisa dapat cuti sama tunjangan pernikahan, lumayan tuh" ucap Tito menasehatiku


"Siiip, Thanks" jawabku sambil membulatkan telunjuk dan jempol tanganku


*-*_*-*


"Kak, tadi gue lihat suami lu di rapat direksi" ucap Hanum


"Hah? Direksi? suami lu direksi?" tanya Silfi


"Nama suami lu Dimas Nuzulazmi?" tanya Hanum lagi


"Dimas Nuzulazmi yang terkenal itu?" tanya Mbak Fina


"Dimas Nuzulazmi si Jenius asli Indonesia itu?" tanya Silfi lagi


"Gue nggak tahu soal itu, yang gue tau Pak Dimas itu pemegang saham yang lumayan berpengaruh, katanya sahamnya lebih besar dari punya Cantika Liam" ucap Hanum membuat semua berdercik kagum


Cantika Liam adalah adik dari Bagus Liam direktur sekaligus pewaris perusahaan tempatku bekerja.


"Beneran itu suami lu Ka?" Tito tidak kalah rumpi dengan ibu-ibu

__ADS_1


"Gila lu Ka, mujur bener nasib lu? dapat suami cakep, pinter, sukses pula, waaah gue mau dong rahasianya" ucap Silfi membuat semua tertawa


"Aji-aji gunung Kawi nih pasti!l" seru Mbak Fina membuat suasana makin riuh.


Aku hanya terdiam tidak tahu harus menjawab apa, karena memang aku tidak tahu apa-apa. Dimas memang bercerita jika dia memiliki saham di perusahaan ini tapi aku kira itu hanya guyonan.


"Sssttt ssssttttt" Tito memberi isyarat jika ada Pak Bram.


Kami semuapun kembali pada pekerjaan kita masing-masing.


"Eka, kamu ke ruangan Pak Bagus Liam sekarang" perintah Pak Bram


"Baik Pak" aku bergegas bangkit dari tempat duduk


"Ada apa? Kok direktur cari kamu?" tanya Pak Bram membuat semua orang heran


Selama kami bekerja, Pak Bram selalu menampilkan kesan tegas, disiplin, berwibawa, beliau tidak suka bercanda apalagi mengurusi urusan orang lain. Beliau hanya mau tahu tentang pekerjaan, karena itu kami selalu bersikap serius di depan beliau. Namun kali ini beliau seperti kepo ada urusan apa aku dengan direktur.


"Saya juga tidak tahu pak"


"Hhmm maksud saya barangkali kamu melakukan kesalahan dalam bekerja" ucap Pak Bram mencari alasan agar tidak tampak kepo


"Apa kamu punya hubungan sama Pak Bagus?" tanya Pak Bram lagi yang membuat orang menahan tawa


"Sepertinya suami Eka yang ingin bertemu pak" sela Mbak Fina


"Suami? Eka sudah menikah?" tanya Pak Bram terkejut


"Sudah pak tapi rahasia, suaminya direksi perusahaan ini" jawab Silfi


"Direksi?" tanya Pak Bram


-*-*_*-*-


Tok tok tok sekretaris direktur mengetuk pintu sebelum membukanya. Ini adalah kali pertama aku memasuki kantor direktur. ruangannya sangat luas dengan furniture ala industrial. Kudapati Dimas sedang berbincang bersama Pak Bagus Liam dan Liam Salim dengan akrabnya. Liam Salim adalah kakek dari Bagus Liam sekaligus pemilik perusahaan ini.


"Ooh ini istri Pak Dimas?" sambut Pak Liam saat aku memasuki ruangan


"Mari Silahkan duduk Bu" ucap Bagus Liam sambil berdiri mempersilahkan aku duduk


Aku benar-benar bingung dengan kondisi waktu itu, maksudku bukan saja aku tidak tahu apa yang sedang terjadi tapi aku juga tidak tahu bagaimana harus bersikap menghadap direktur dan CEO perusahaan. Aku hanya tersenyum dan duduk di samping Dimas.


Dimas meraih tanganku dan memperkenalkan aku


"Ini istri saya Eka, Krasiva Eka Putri, cantik ya pak?" ucap Dimas


"Cantik sesuai namanya, hahaha" jawab Pak Liam diikuti tawa setiap orang, aku hanya tersenyum malu.


"Selamat ya Dim akhirnya lu dapat juga yang lu mau sejak lama" ucap Pak Bagus berbicara tidak formal


"Terus kamu kapan? hahaha gaya ya? sekarang aku bisa ngomong gini hahaha" ucap Dimas yang membuat suasana semakin ramai


"Sialan lu, mentang-mentang sudah laku" jawab Pak Bagus Liam yang tidak ku duga bisa bercanda seriang itu.


"Aah saya mau berterimakasih pada Mbak Eka, eh Mbak apa Bu ini ya?" tanya pak Liam padaku


"Mbak saja pak" jawabku sambil tersenyum


"Kalau bukan karena Mbak Eka mungkin perusahaan ini sudah gulung tikar" sambung Pak Liam membuatku bingung

__ADS_1


"Disaat saham perusahaan hancur dan krisis besar waktu itu, saya sudah hampir menjual perusahaan ini, lalu muncul Pak Dimas memberikan investasi besar hanya dengan dua syarat, boleh nggak Pak Dimas saya sampaikan disini?" tanya Pak Liam kepada Dimas


"Jangan Pak Lim nanti saya dimarahi" ucap Dimas memelas membuat semua tertawa


"Apa?" tanyaku pada Dimas


"Nanti deh dijelasih di rumah" jawab Dimas


Setelah berbincang sani-sini Dimas pamit undur diri dan meminta izin untuk sekalian mengajak aku pulang. Saat itu memang sudah hampir jam pulang kantor.


-*-*_*-*-


Dimas ku minta menunggu di lobby tapi dia tidak mau, katanya dia ingin melihat ruang dan suasana kerjaku.


"Tunggu di lobby aja, nanti teman-temanku heboh" ucapku kesal


"Sekalian kenalan sama teman-temanmu, aku ingin tahu lingkungan kerjamu"


"Ya udah tapi nggak usah sok kecakepan!" ancamku


"Temanmu banyak yang ngefans sama aku ya?" goda Dimas


"Dih enggak ya, mereka cuma kepo aku nikah sama siapa"


Sesampainya di ruangan aku melihat klisak-klisik teman-temanku saling berbisik. Silfi langsung mendekat dan menyapa. membuat yang lain ikut merapat.


"Halo, saya Silfi teman Eka" sok kecentilan aku tidak suka


"Saya Dimas suami Eka" jawab Dimas sambil tersenyum membuatku semakin kesal


Aku meninggalkan Dimas bersama para wanita kecentilan yang kepo sama suami orang. Aku menuju mejaku mengemasi barang-barangku.


"Pulang awal lagi?" tanya Tito


"Iya nih To, gue jadi nggak enak hehehe" jawabku sambil nyengir


"Halaah biasanya juga lu pulang telat mulu, anggap aja sebagai gantinya" pungkas Tito sambil merapikan berkas-berkas di mejanya


"Mbak Fina udah balik?" tanyaku


"Iya ngejar kereta dia, takut macet hari jumat gini"


"Yaaah telat gue" keluhku "Ada titipan nggak?" sambungku menanyakan kalau-kalau Mbak Fina nitip tambahan jobdesk yang harus aku handle selama dia cuti.


"Kayaknya ada di Silfi, tadi gue juga lagi meeting sama Pak Bram soalnya"


"Yaudah, gue balik dulu ya To"


"Yooi hati-hati"


Sementara suamiku masih sibuk menanggapi teman-temanku yang kepo.


"Sudah ya ibu-ibu, saya mau bawa pulang suami saya dulu" ucapku sambil memeluk lengan Dimas.


"Yaaah Eka harusnya dirayain bareng dong, masak nikah diem-diem aja?" goda Silfi


"Nanti kami adakan resepsi, insyaallah semua diundang" jelas Dimas


"Tuuh sudah dengarkan? yuk sayang kita pulang" pungkasku sambil menarik Dimas keluar dari kerumunan

__ADS_1


Aku tidak suka sikap norak teman-temanku, mungkin ini yang namanya cemburu.


__ADS_2