
Lalu lalang orang di area UGD tampak begitu sibuk. Setiap wajah tampak sedih, khawatir, penuh pengharapan. Aku menyandarkan bahuku di bangku ruang tunggu untuk sejenak. Aku mencoba menenangkan diriku dan berdoa agar Dimas baik-baik saja.
Merasa lebih baik, aku segera kembali ke UGD sudah tidak kudapati Dimas ada disana. Aku tanyakan pada suster katanya Dimas dipindahkan ke ruang rawat inap. Segera aku menyusulnya, saat aku membuka pintu ku lihat Dimas sedang tertawa bersama mama nya, aku lega dia baik-baik saja.
“Assalamualaikum,” aku mengetuk pintu dan mengucap salam
“Waalaikumsalam,” jawab Dimas dan mamanya hampir bersamaan
“Eh Eka, maaf tadi buru-buru pindah kamar nggak tunggu kamu dulu,” Mama Dimas seperti merasa bersalah meninggalkan aku
“Tidah apa-apa Tante, lama soalnya antri telefonnya, apa kata dokter Tan?” tanyaku ingin tahu kondisi terakhir Dimas
“Sakit magh dia, bandel sih kalau sedang asik belajar disuruh makan alasan terus, kalau di rumah tante suapin, kalau di kost masak tante minta tolong Eka yang suapin?” Mama Dimas berbicara sambil melilrik Dimas, Dimas hanya tersenyum
“Hehehe” aku tertawa lega Dimas baik-baik saja
“Bagaimana Bunda? Boleh kamu tidak pulang?” tanya mama Dimas kemudian
“Besok bunda sama ayah mau kesini sekalian tengokin Dimas, oh iya dapat salam dari Bunda, Om mana Tante?” aku tidak melihat papa Dimas ada di ruangan itu
“Om pulang ambil perlengkapan tempur sekalian jemput Citra sama Abah, tadi Citra masih sekolah waktu Tante berangkat, habisnya tadi panik dikira kecelakaan kayak gimana,” Mama Dimas bicara sambil mengacak-acak rambut Dimas seperti sedang geregetan kepada putra tercintanya itu
“Eka tau dia jatuhnya gimana?” tanya Mama Dimas kepadaku, aku hanya mengelengkan kepala lalu Mama Dimas menjawab sendiri pertanyaanya
“Dia menghindari anak kecil main hujan-hujanan terus jatuh sendiri nyungsep di parit, tuh kakinya tepos, untung tidak retak atau patah,”
“Mama katanya mau beli makan?” Dimas memotong pembicaraan Mamanya, sepertinya sama sepertiku Dimas terbiasa menghindar saat mendengar omelan Mamanya. Aku berfikir apakah semua ibu-ibu di dunia ini cerewet kepada anaknya?
“Iya Mama ngerti, Eka mau makan apa?”
“Apa saja Tante asal halal hehehe,”
”Ya sudah, Tante tinggal dulu ya? titip Dimas,”
“Siap Tante!” jawabku sambil memberi hormat
“Ma, aku juga titip!” kata Dimas menghentikan langkah Mamanya
__ADS_1
“Titip apa? Kan belum boleh makan sembarangan?” tanya Mama Dimas sambil mengerutkan dahi ingin marah
“Titip keluarnya yang lama hehe,” kata Dimas sambil nyengir
“Hahaha dasar kamu ini!" Mama Dimas kembali mengacak acak rambut putranya itu
-*-*_*-*-
Mama Dimas meninggalkan kami berdua saja, aku merasa suasana menjadi canggung karena Dimas terus memandangiku. Aku mencoba memulai pembicaraan.
“Apanya yang sakit?” tanyaku sambil melihat area kaki dan tangan Dimas
“Hatinya,” kata Dimas singkat sambil memandang aku
“Maaf,” aku tertunduk merasa bersalah telah membuat kekacauan itu
“Tidak mau!” jawab Dimas sedikit bercanda tapi aku tidak sedang ingin bercanda
“Terus? Aku mesti gimana?” tanyaku sambil tetap tertunduk
“Jadi pacarku seumur hidup,” jawab Dimas sambil tersenyum membuat aku merasa lebih baik
“Bagus!” Dimas berseru sambil mengepalkan tangannya seperti orang yang senang telah sukses melakukan sesuatu
“Kok bagus?” tanyaku heran
“Berarti bisa aku jadikan istri,” jawab Dimas iseng membuatku kesal
“Apaan sih, nggak lucu!” Aku mulai cemberut
“Memang nggak lagi ngelucu, aku cuma pingin digalakin,” jawab Dimas dengan seyumnya yang mulai menyebalkan
“Kalau kamu kayak gini aku pulang nih!” kataku mengancam agar Dimas berhenti mengodaku
“Memang siapa yang nyuruh kamu tungguin aku disini?” tanya Dimas membuatku terdiam, memang tidak ada yang menyuruhku menunggu, entah mengapa aku ingin tetap di samping Dimas hingga memastikan dia baik-baik saja.
“Aku tahu kamu sayang sama aku,” kata Dimas kemudian
__ADS_1
“Sok tahu!” aku menjawab dengan ketus
“Tapi aku lebih sayang sama kamu, kalau memang kamu tidak mau aku tidak akan memaksa,” tiba-tiba obrolan kami menjadi serius
“Maaf,” kataku sambil tertunduk
“Huuuuh, kamu benar-benar ingin putus?” Dimas menghela nafas seolah dadanya penuh sesak dengan segala macam perasaan kecewa
“Maaf,” aku hanya tertunduk dan terus mengucapkan kata maaf
“Tapi janji kamu akan lebih banyak tersenyum setelah ini!” kata Dimas sambil meraih tanganku, dia membelainya dengan lembut rasanya belaian di tangan itu dapat aku rasakan hingga ke jantungku.
Aku tidak tahu apa yang aku rasakan saat itu, maksudku seharusnya aku senang karena Dimas setuju untuk putus tapi air mataku turun tanpa komando seakan tidak setuju dengan keadaan itu. Aku hanya diam tidak memberikan jawaban. Mungkin Abas benar aku membutuhkan waktu untuk merasakan ketulusan hati Dimas dan mungkin aku akan mau suatu hari nanti.
-*-*_*-*-
Tok tok tok
Aku mengetuk pintu kamar dimana Dimas di rawat. Aku bersama Ayah, Ibu dan Adikku Dwi datang menjenguk Dimas. Disana kami bertemu dengan Mama Dimas dan Abah. Mereka mempersilahkan kami masuk, Abah, Bunda dan Mama Dimas duduk di sofa kecil samping tempat tidur Dimas. Ayah duduk di kursi lipat samping tv, Dwi berdiri dibelakang ayah dan aku berdiri bersandar di dinding samping Dwi. Saat itu Dimas sedang tidur, orang tuaku berbincang dengan Mama dan Abah Dimas, sementara aku hanya melamun memandangi wajah Dimas.
Apakah sekarang kita sudah putus? Aku belum memberikan jawaban tapi apakah Dimas telah menganggap hubungan kami sudah berakhir? Setelah ini apakah kita akan bisa berteman seperti dulu lagi? Mengapa aku tidak merasa senang jika aku memang ingin putus dari Dimas? Seperti biasa ada beribu pertanyaan berputar di kepalaku. Saat aku tergugah dari lamunan aku melihat Dimas tengah memandangku dengan tatapan penuh tanya, mungkin dia sama sepertiku mempertanyakan setatus hubungan kita. Aku tersenyum dan dia membalas senyumanku.
“Kak Dimas sudah bangun?”seru Dwi
“Eh, kami berisik ya? Nak Dimas jadi bangun,” kata bundaku menyapa Dimas
“Tidak Bunda, Dimas senang ada Bunda,” jawab Dimas dengan mencoba senyum
“Eka kemarin telefon sambil nangis katanya nak Dimas kecelakaan terus dia mau temani nak Dimas saja katanya, eh kok ternyata sakitnya magh? Jadi nak Dimas ini sakit karena jatuh apa jatuh karena sakit?” tanya bunda kepada Dimas
“Hehehe iya nih Bun Dimas kurang hati-hati untung tidak sedang bawa Eka,” jawab Dimas sambil melihatku, aku hanya diam saja menyandarkan diri di dinding rumah sakit
“Justru kalau bawa Eka mungkin kamu tidak akan jatuh,” kata Ayah menghibur Dimas
“Laki-laki memang begitu, jika ada tangungjawab dibelakangnya akan jadi lebih waspada, karena itu Abah senang kalau ada Eka yang menemani Dimas, Dimas orangnya suka sembrono dan ngampangin keadaan,” ucap Abah sambil mengelus kepala cucu kesyangannya itu
Mama Dimas berjalan kearahku dan memeluk pundak ku smbil berkata
__ADS_1
“Eka akan selalu menemani Dimas kok, iya kan sayang?” aku hanya bisa tersenyum dengan setengah hati. Maksudku tentu saja aku ingin berteman dengan Dimas selamanya, tapi rasanya aku mengerti apa yang dikatakan Mama Dimas itu berbeda. Sepertinya beliau sudah tahu hubungan kita. Dimas sangat dekat dengan Mamanya, dia menceritakan segalanya kepada Mamanya, jadi mungkin saja jika dia juga menceritakan tentang hubungan kita. Hari itu Aku dan Dimas saling pandang dalam diam seolah kami menikmati jarak yang kami bangun dari sebuah kata putus.
Sebelumnya aku sangat yakin jika aku tidak mau pada Dimas, tapi setelah hari itu aku menjadi ragu, aku ragu apakah benar ini adalah yang aku mau? Mengapa kini rasanya perasaanku begitu hampa? Tidak ingin melakukan apapun, tidak ingin mengatakan apapun, aku hanya ingin memandang wajah Dimas dalam diam.