RAHASIA Cinta SMA

RAHASIA Cinta SMA
Sinyal Alimabbas


__ADS_3

Setelah perkenalan sore itu wajah Abas terus muncul difikiranku bahkan dia hadir di mimpiku. Setiap kali aku bertemu dengannya waktu seakan berhenti berputar dan aku hanya terdiam menunggu dia berlalu. Rasanya sangat ingin berbincang dan bercanda dengannya tapi entah mengapa kata-kata yang keluar dari mulutku adalah kata-kata formal yang kaku dan terdengar aneh untuk perbincangan remaja seusia kita saat itu.


Tawa yang selalu mekar saat aku melakukan keanehan di depannya membuat aku semakin salah tingkah dan terus melakukan kekonyolan yang tak terkendali. Dalam situasi seperti itu dia akan tetap tertawa dan bilang “Kamu lucu!” lalu aku akan ikut tertawa untuk menutupi rasa malu.


Sejak perkenalan itu aku lebih rajin berangkat ke sekolah, jika biasanya Dimas menjemputku pukul 06.30 WIB maka aku berangkat sekolah dengan jalan kaki pukul 06.15 WIB.


Entah ini mitos atau fakta tapi aku benar merasakannya.


Jika kita akan bertemu dengan orang yang kita sukai maka jantung kita akan berdebar kencang seolah kita tahu kita akan bertemu dengannya.


Aku menamai keadaan ini sinyal Alimabbas.


-*-*_*-*-


Saat berjalan kaki menuju sekolah aku melewati kost Dimas, setiap aku merasa jantungku berdegup kencang aku akan mengurangi kecepatan lajuku. Disana aku akan melihat Abas dan Dimas di depan kost sedang bersiap berangkat sekolah.


Abas selalu saja mendapati aku mencuri pandang kepadanya dan tersenyum manis ke arahku. Saat seperti itu sudah cukup bagiku, aku seperti memiliki separuh isi dunia. Aku akan berjalan dengan sangat bahagia sambil senyum-senyum sendiri sampai Dimas menghampiriku.


“Naik!” Dimas menyuruhku naik ke atas motornya


“Enggak, aku mau jalan kaki aja,” jawabku ketus


“Ngambek?”


“Kenapa ngambek?”


“Aku telat jemputnya,”


“Memangnya kamu ojek antar jemput aku setiap hari?” tanyaku mulai kesal


“Iya, aku dibayar Bunda buat antar jemput kamu, mangkanya ayo naik,” ajak Dimas setengah memaksa


“Enggak mau, kamu sama teman kamu itu saja,” jawabku kesal


“Abas? dia cowok bisa jalan,”

__ADS_1


“Emang kalau cewek nggak bisa jalan?” jawabku membuat Dimas serba salah


“Yaudah, bentar, Baas, Abas buruan sini!” Dimas berteriak memanggil Abas yang berjalan jauh di belakang kami


Saat Dimas memanggil Abas campur aduk fikiranku tidak karuan, aku memperlambat ritme jalanku. Aku berharap Dimas meminta Abas menemaniku jalan kaki, meskipun besar kemungkinan Dimas mengikuti kata-kataku dan membonceng Abas pergi ke sekolah, namanya juga berharap, boleh dong memilih kemungkinan terindah? namun ternyata kenyataannya adalah


“Ada apa mas?” tanya Abas dengan nafas sedikit terengah karena berlari kecil mendengar panggilan Dimas


“Bawa motor ku, parkir ditempat biasa ya”


“Terus kamu?” tanya Abas heran


“Jalan kaki sama Eka,” Jawab Dimas sambil tertawa usil dan mengangkat satu alisnya, Abas menjawab dengan tawa dan acungan jempol “siiip!”.


Pyaaaar terdengar mahkota harapan di hatiku pecah berkeping-keping. Dari belakang aku lihat punggung Abas berlalu dengan cepat, aku menjadi kesal sendiri lalu ku percepat lajuku agar cepat sampai di sekolah. Begitulah hari-hari ku berangkat sekolah, mengendap-endap berharap akan bertemu dan melihat senyum pria yang aku sukai dalam diam.


-*-*_*-*-


Sinyal Alimabbas juga berdering disaat kita akan bertemu di kantin. Aku tidak mengerti mengapa aku bisa merasakan dengan begitu jelas sinyal ini, aku merasa sangat gugup dan aku akan menghentikan setiap kegiatan yang kulakukan hanya untuk menunggunya berlalu dari hadapanku.


“Pak Ri, mie ayam satu dimeja tiga ya pak,” kataku kepada Pak Ri yag disambut dengan kata “Oke,” sambil tersenyum.


Belum juga beranjak dari tempatku memesan mie ayam tiba-tiba jantungku berdegup kencang, aku melihat lingkungan sekitar dan benar saja tampak Abas berjalan mendekat ke arahku. Bukannya segera berjalan ke meja tempat teman-temanku duduk aku malah terdiam menunggu dia datang.


“Pak Ri, dua seperti biasa ya!” Abas juga memesan mie ayam


“Buat mas Dimas satunya?” tanya pak Ri meyakinkan, Dimas kurang suka sayur jadi mie ayam khusus Dimas selalu tanpa sawi


“Yoi!” jawab abas singkat, selesai memesan Abas mendekatiku melihatku dari ujung kepala hingga ujung kaki lalu tersenyum dan berkata


“mau sampai kapan berdiri disini?”


Aku salah tingkah dan bergegas berlari meninggalkan tempat itu tapi malah terpleset dan jatuh. Abas mengulurkan tanganya untuk membantuku berdiri sambil berkata “Hati-hati lantainya licin!” Jika mengingat hari itu sungguh sangat memalukan.


-*-*_*-*-

__ADS_1


Sinyal Alimabbas juga pernah berdering disaat aku sedang piket kelas. Saat itu aku sedang menyapu kelas, sesampainya dipintu tiba-tiba jantungku berdegup kencang. Ku tengok kanan dan kiri tidak ku jumpai ada Abas, lalu ku lanjutkan menyapu, namun aku mendengar sangat dekat di telingaku


“boleh lewat nggak nih?”


Ternyata Abas ada di belakangku hendak keluar kelas. Rupanya dia baru saja bertemu Rendi teman kelasku yang merupakan teman band Abas. Rendi dan Abas tergabung dalam satu band bernama RAIN band. Rendi sebagai vokalis dan Abas sebagai gitarisnya.


Cekuk, cekuk


Seketika suara cegukan keluar dari mulutku karena sangat terkejut. Aku melihat Abas tertawa sambil berkata


“Jadi nggak boleh lewat nih?”


Aku tidak menjawab tidak juga beranjak dari tempatku berdiri malah terus cegukan. Abas memencet hidungku hingga aku merasakan sedikit kesulitan bernafas


“Hembuskan nafas dari mulut,” kata Abas sedikit berbisik tepat didepan mukaku, aku semakin salah tingkah.


Tidak tahu mengapa nasibku begitu sial, alih-alih berhenti cegukan aku malah bersin yang membuat ingus di hidungku yang masih dipencet Abas keluar mengotori tangan Abas. Saat itu rasanya aku ingin menyelam kedasar laut dan tidak akan pernah muncul lagi ke permukaan.


Kulihat Abas tertawa sambil mengelengkan kepala. Aku hanya bisa tertunduk malu sambil mundur satu langkah memberikan jalan untuk Abas keluar dari kelas.


Aku melihat dia berjalan menuju kran air yang ada di antara kelas IPA I dan IPA II untuk mencuci tangannya. Aku hanya bisa menghembuskan nafas panjang yang sudah kutahan sejak tadi lalu membenturkan kepala di daun pintu kelas. Aku tidak bisa membayangkan apa yang difikirkan Abas tentangku gadis jorok yang tidak sopan. Aku sangat malu, saking malunya rasanya aku tidak akan sanggup bertemu dengan Abas lagi.


-*-*_*-*-


Saat pulang sekolah sinyal Alimabbas paling sering kurasakan. Memasuki semester dua Dimas sudah disibukan dengan berbagai macam persiapan olimpiade dan lomba robotik dia seringkali mengutus Abas untuk mengantarkan aku pulang menggunakan sepeda motornya.


Pernah suatu hari saat aku akan pulang sekolah aku merasakan sinyal Alimabbas begitu kuat, aku perhatikan sekitarku tidak kujumpai Abas. Aku sangat yakin Abas akan muncul, entah mengapa aku menunggunya dan benar saja tidak begitu lama aku melihat dari arah tempat parkir Abas mengemudikan sepeda motor Dimas. Lagi-lagi aku hanya diam menantikan dia sampai dihadapanku.


“Nunggu Dimas ya? Yuk sama aku saja,” aku masih terdiam “Dimas ada bimbingan untuk olimpiade,” jelas Abas kemudian namun aku masih diam membatu “Dimas minta aku antarin kamu pulang,” ucap Abas membuatku tersadar dan aku mulai duduk di boncengan motor itu.


Siang itu sungguh sangat indah, sangat sempurna, aku terus tersenyum sepanjang perjalanan namun sesampainya di kos lagi-lagi aku melakukan kebodohan.


“sampai kapan mau diatas motor?” tanya Abas membuatku tersentak dan segera tersadar betapa bodohnya aku terlena pada keadaan hingga lupa daratan.


Aku bergegas turun namun rok seragamku tersangkut dan aku hampir saja terjungkal ke tanah. Dengan sigap tangan Abas meraih tanganku dan menarik ke arahnya sehingga aku tidak sampai terjatuh. Bukannya meminta maaf atau berterimakasih aku malah memejamkan mata seolah menunggu dia menciumku.

__ADS_1


Aku mendengar Abas tertawa, perlahan ku buka mataku dan benar saja Abas tertawa hingga mengeluarkan air mata di sudut matanya. Aku sangat malu hari itu, rasanya aku ingin mati saja. Bagaimana bisa aku melakukan semua itu di depan pria yang aku sukai?


__ADS_2