
Sabtu malam minggu Aku, Aura, Dimas dan Abas pergi nonton bioskop bersama. Abas tampak lebih tampan dengan kemeja berwarna hitam lengan panjang yang digulung lengannya sampai di siku. Sedangkan Dimas tampak konyol dengan kaos berwarna pink, entah mengapa dia memilih warna itu. Aura memakai rok pink dan blouse putih tampak cantik dengan rambut dikepang. Sedangkan aku seperti biasa memakai celana jeans biru dan kaos putih dengan rambut dikuncir belakang.
Sepertinya hari itu semua tampak ceria kecuali aku. Entah mengapa saat itu aku merasa tidak suka melihat Abas tertawa maksudku aku tahu film yang kami tonton adalah film komedi jadi wajar saja jika Abas tertawa tapi disaat itu kepalaku penuh rasa khawatir seakan aku yakin Aura akan memenangkan hati Abas. Sepanjang film diputar aku hanya melamun dan tanpa aku sadari aku tertidur.
“Ka, Eka bangun Ka capek nih pipimu berat,” ucap Dimas sambil mencubit pipi ku yang tengah bersandar di bahu Dimas.
Aku langsung terbangun seperti orang kebingungan. Saat itu suasana gedung bioskop sudah sepi, hanya tinggal aku berdua dengan Dimas serta beberapa petugas yang sedang membersihkan studio.
“Abas sama Aura mana?” tanyaku kepada Dimas yang sedang mengamati wajahku sambil tersenyum. Rupanya ada air liur di pipiku dan aku melihat lengan baju Dimas juga basah, aku sangat malu dan segera membersihkannya. Dimas memberikan sapu tangan pemberianku, aku senang dia memakainya.
"Abas mana?" tanyaku ulang
"Aku suruh keluar duluan,"
"Kenapa nggak bangunin aku?"
"Biar aku bisa berdua aja sama kamu,"
"Dimas!"
"Aura mau ke toilet jadi buru-buru keluar, kamu susah sih dibangunin, ngorok lagi," terlihat Dimas menahan tawa sangat menyebalkan.
Setelah keluar studio aku mampir ke toilet barangkali Aura masih disana tapi ternyata dia sudah pergi. Aku melihat wajahku di cermin, sangat kacau! sepertinya aku tidur cukup lelap mungkin juga mengorok seperti kata Dimas. Aku mencuci muka dan merapikan diri.
Sementara aku di toilet ternyata Dimas menelpon Abas memberitahu jika aku dan Dimas akan langsung pulang. Saat itu aku kesal pada Dimas maksudku aku ingin mengikuti Abas dan Aura aku tidak ingin mereka berdua saja. Tapi Dimas malah berkata jika lebih baik membiarkan mereka berdua saja.
__ADS_1
"Tapi aku kan juga lapar, kenapa nggak makan bareng dulu?" ucapku berusaha mencari alasan untuk bisa memantau Abas dan Aura
"Kita makan berdua saja, biar mereka punya lebih banyak kesempatan buat ngobrol berdua Eka, gimana sih mak comblangnya ini?"
Aku kesal dengan diriku sendiri, mengapa aku harus bersedia buat comblangin Abas dan Aura? jelas-jelas aku menyukai Abas.
-*-*_*-*-
Aku dan Dimas makan malam di taman kota. Pikiranku masih tertinggal di bioskop membayangkan apa yang sedang Abas dan Aura lakukan. Sementara Dimas asik memilih menu karena aku terus menjawab terserah saat ditanya mau makan apa.
"Kamu marah? kok cemberut gitu?"
Aku hanya Diam, sebenarnya aku tidak marah pada Dimas, aku hanya kesal pada diriku sendiri yang tidak tegas dalam bersikap.
"Masih pingin double date?"
Dimas meraih tanganku yang sedari tadi jemarinya terus beradu dengan meja menciptakan rangkaian nada tak beraturan. Aku kaget dibuatnya, hendak ku menariknya kembali namun tertahan melihat Dimas dengan wajah yang sangat serius.
"Aku tidak mengerti jalan fikiranmu, aku terus berfikir apa sebenarnya yang kamu mau, tapi sekeras apapun aku mencari jawabnya tidak pernah ketemu,"
"Apa sih Mas? malu tau dilihat orang," aku mencoba melepaskan genggamannya
Dimas melepaskan tanganku dengan pasrah. Malam itu aku melihat Dimas seperti sangat frustasi. Dia terus memandangku begitu dalam, dalam sangat dalam hingga aku bisa merasakan rasa putus asanya. Aku melihat Dimas persis seperti diriku. Menyukai seseorang namun tidak bisa berbuat apa-apa selain melepasnya pergi.
-*-*-*_*-*-*-
__ADS_1
Hari senin seusai upacara aku melihat Aura di koridor menuju kelas dia berjalan bersama Abas. Tidak lama aku memperhatikan mereka lalu Abas memanggilku tapi aku tidak peduli. Aku terus berjalan melewati mereka dan masuk ke dalam kelas. Abas berdiri di sampig mejaku dan melihatku murung. Lalu dia duduk di bangkunya.
Saat jam istirahat aku enggan untuk keluar kelas, aku malas bertemu geng kriwul
"Aura pasti akan bercerita tentag Abas tiada henti," kataku di dalam hati. Sejujurnya aku penasaran apa saja yang Aura dan Abas lakukan berdua saja tadi malam? Tapi aku rasa aku tidak akan sanggup mendengarnya.
Abas dan Rendi pergi ke studio band untuk latihan. Sebelum pergi Abas sempat mengatakan ingin bicara setelah pulang sekolah. Aku hanya diam sambil membenamkan kepalaku di jaket yang aku kenakan tadi pagi.
Tidak berselang lama geng kriwul datang menghampiri ku. Mereka tampak antusias untuk mendengarkan cerita Aura. Aku merasa sangat malas dan ingin menghindar namun aku tidak bisa. Diah mengomel kepadaku karena tidak datang ke kelasnya seperti biasa. Sedangkan Ayu yang duduk di bangku Rendi sibuk mencari kertas kosong dan pensil untuk menulis pesan. Aura duduk di bangku Abas dan bertingkah kecentilan dengan mendekap jaket Abas yang tersandar di punggung kursinya.
“Ayo buruan cerita Ra, katanya tadi mau cerita kalau sudah ada Eka?” ujar Diah tidak sabar menantikan Aura bercerita. Aku tidak ingin mendengar apapun, aku menutup kepalaku dengan jaket
“Eka kenapa lemes banget? Kamu sakit?” tanya Aura membuatku merasa tidak enak mengabaikannya
“Rada nggak enak badan,” jawabku menghindar
“Pantes kemarin kamu tidur di bioskop dan setelah itu langsung pulang, kenapa tidak bilang kalau sakit? Aku jadi merasa bersalah bahagia diatas kesakitan teman,” ucap Aura sambil membelai-belai rambutku
“Udah buruan cerita, entar Eka sembuh sendiri kalau mendengar kabar bahagianya,” ucap Diah membuatku berfikir macam-macam, mungkinkah Aura dan Abas jadian? Mungkinkah yang akan dibicarakan Abas adalah ini?
“Kemarin selesai nonton, aku dan Abas makan berdua karena Eka dan Dimas pulang duluan, terus Abas mengajak ku untuk makan malam berdua lagi setelah selesai ujian kelulusan, sepertinya dia mau menyatakan cinta,” ucap Aura dengan sangat bahagia, Diah dan Ayu juga turut bahagia dengan mengodanya
“Terus rencana di air terjun apa kabar kalau sudah keduluan Abas?” tanya Ayu
“Ya mau gimana lagi, aku sih lebih senang kalau Abas yang memulai duluan hehehe,” jawab Aura dengan tersipu malu.
__ADS_1
Rasanya hari itu dadaku penuh sesak. Aku ingin sendirian saja, aku ingin semua orang pergi dari sisiku. Rupanya Abas begitu mudah berpaling dariku. Tentu saja itu bukan salahnya, aku yang sudah membuangnya. Semua orang tahu, Aura itu cantik, pintar, baik, kaya dan pandai bernyanyi. Dia dan Abas sama-sama memiliki hobby bermusik bahkan saat duet mereka tampak serasi.