
Memasuki kelas dua aku dan geng kriwul terpisah kelas. Aku dan Diah tetap satu kelas di II IPA 2 Aura melejit ke II IPA 1 bersama Dimas dan Abas, Ayu masuk di kelas 2 Bahasa 1. Kelasku yang berada di tengah menjadi tempat berkumpul geng kriwul saat jam istirahat tiba.
Selama Dimas di Amerika Abas sering bermain ke kelasku untuk menemui Rendi. Dia biasanya pergi ke kelasku bersama Aura. Tampaknya mereka semakin dekat bahkan Aura pernah bercerita jika Abas sudah mengajaknya ke kost dan mengenalkannya pada Om nya. Aku hanya pasrah dengan hubungan mereka berdua. Sudah tidak ada lagi harapan untuk ku.
Saat itu adalah hari pertama Dimas datang dari Amerika. Aku mendengar dari Aura katanya dia tidak lolos ke bapak final, rasanya aku merasa bersalah maksudku mungkin Dimas menjadi tidak konsentrasi karena putus deganku. Aku tidak ingin menemuinya tapi tetap saja aku ingin tahu kabarnya. Aku ingin melihatnya walau hanya dari jauh.
“Cari siapa? Nggak ada orangnya, lagi diruang kepala sekolah,” kata Abas kepadaku saat aku diam-diam mengintip kelas mereka dari cendela.
“Cari Aura kok!” jawabku singkat sambil bergegas meninggalkan Abas berlari menuju kelasku.
-*-*_*-*-
Keesokan harinya Dimas menjemputku di Kos, dia tampak sedikit pucat, seperti kelelahan. Aku ingin menolak ajakannya berangkat sekolah bersama, tapi aku khawatir akan terjadi apa-apa dijalan jika dia sendirian seperti waktu itu. Pagi itu Dimas sangat berbeda, dia tidak banyak bicara, hanya menjawab pertanyaanku sekata dua kata mungkin dia marah karena aku telah membuatnya kalah dalam kompetisi di Amerika.
“Kamu sakit?” tanyaku pada Dimas yang tampak pucat
“Tidak,” jawabnya singkat
“Kok pucat?” aku ingin memastikan
“Kecapekan,”
“Kecapean di perjalanan dari Amerika?”
“Bukan,”
“Kecapean banyak wawancara?”
“Bukan,”
“Terus capek apa?”
“Capek mikirin kamu,” jawabnya lirih hampir tak terdengar olehku, aku hanya bisa menghela nafas panjang, entah mengapa pagi yang cerah itu terasa mendung.
“Kenapa?” tanya Dimas tiba-tiba
“Enggak apa-apa,” jawabku lirih
“Bukan sekarang, kenapa mencari aku di kelas?” tanya Dimas membuat aku binggung harus menjawab apa
“Siapa yang cari kamu? Aku cari Aura kok,” aku berusaha untuk mencari alasan
“Lalu kenapa lari?” tanya Dimas kemudian
“Tidak tahu,” jawabku lirih dengan sedikit menahan tangis, entah kenapa rasanya aku ingin menangis
“Jika kesal, marah saja, teriak saja, pukul saja tapi jangan diam,”
“Iya,”
Kata iya keluar begitu saja dari mulutku diiringi air mata yang mulai membasahi pipi, jangan tanyakan kenapa aku menangis, aku sendiri tidak tahu jawabanya.
-*-*_*-*-
Seperti biasa saat jam istirahat geng kriwul berkumpul di kelas, Aku dan Diah sedang membantu ayu mengunting kertas-kertas untuk mading. Aura yang baru saja datang dengan separuh berlari tampak panik
“Eka Dimas masuk UKS, dia pingsan!” ucap Aura dengan nafas tersengal-sengal
“UKS?” tanyaku
Aku seketika berlari menuju UKS. Aura, Ayu dan Diah mengejarku. Setibanya di sana aku melihat Abas yang sedang berbicara dengan dokter jaga UKS, wajahnya tampak khawatir. Aura mendekatinya dan bertanya ada apa dengan Dimas. Rupanya magh nya kambuh, kemungkinan karena kelelahan dan banyak fikiran. Dokter menyarankan segera membawanya ke Rumah Sakit untuk mendapatkan pengobatan yang lebih baik. Aku sangat panik, merasa bersalah telah mengabaikannya. Maksudku aku sudah tahu dia sakit sejak pagi tapi aku membiarkannya begitu saja.
-*-*_*-*-
Sepulang sekolah Aku, Aura, Ayu, Diah dan Abas menjenguknya di rumah sakit, dia tampak lebih segar dari sebelumnya. Di rumah sakit aku bertemu Mama Dimas dan Citra adik Dimas. Papa Dimas sedang mengurus administrasi rumah sakit. Rupanya Dimas baru saja dipindahkan dari UGD.
“Citra kemarin ujian masuk pondok ya? Lancar kan?” tanyaku kepada Citra.
Aku mendengar kabar itu dari Bunda yang bercerita tentang kekagumannya kepada Mama Dimas yang bisa mendidik putra putrinya menjadi orang-orang yang hebat.
“Susah kak, hafalan ayatnya banyak,” jawab Citra mengeluh
“Tapi kamu bisa kan?” tanyaku mengoda yang disambut dengan senyuman manis Citra
__ADS_1
“Kok udah ujian masuk pondok memangnya Citra kelas berapa?” tanya Aura
“Kelas tiga SMP kak,” jawab Citra dengan seyum yang manis
“Wah hebat ya masih muda tapi udah semangat belajar agama,” kata Diah
“Hehehe doakan lulus ya kak? Doakan lulus Ujian Nasional juga hehehe,” jawab Citra sambil nyengir mirip dengan Dimas saat nyengir
“Pasti lulus, anak Mama dan Papa kan pintar-pintar,” jawabku menghibur Citra
“Amiin,” ucap Mama Dimas mengaminkan doa ku
“Alhamdulillah,” terdengar suara Dimas yang baru bangun dari tidurnya
“Eh sudah bangun yang di tengokin, gimana kabarnya?” sapa Abas kepada Dimas
“Kangen banget sama kamu Bas, belum puas rasanya tidur dipeluk kamu setelah lama berpisah hahaha,” jawab Dimas mengoda Abas yang sontak membuat semua orang di ruangan itu tertawa
“Cok! gilo,” Abas berseru kencang lupa jika ada Mama Dimas disitu.
Cok atau jancok adalah kata umpatan dalam bahasa Surabaya, kata ini tergolong kasar tapi sangat lazim digunakan oleh anak laki-laki dalam keakrabannya bergaul. Sedangkan gilo adalah jijik.
“Maaf tante” kata Abas kemudian
“Udah bisa iseng gini berarti udah sembuh, yuk teman-teman pulang aja,” kataku membalaskan dendam untuk Abas
“Eh jangan Kak, masih kangen,” cegah Dimas yang membuat teman-teman berseru
“Ciyee, kangen siapa Mas?” tanya Ayu
“Siapa lagi yuk? hahaha,” jawab Diah
Semua orang diruangan itu tertawa aku yakin tawa itu ditujukan untuk ku. Abas pun ikut tertawa, menyebalkan, aku mulai tidak suka suasana itu. Maksudku hal-hal yang seperti ini yang membuat aku dan Dimas menjadi canggung jika harus kembali berteman pasca putus.
“Kangen Abas kan tadi aku bilang?” jawab Dimas setelah melihat raut wajahku yang cemberut.
Aku tahu dia ingin menjaga perasaanku karena bisa dikatakan kami baru saja berdamai.
“Sama, sama siapa?” tanya Dimas heran
“Sama kayak Aura, kangen juga sama Abas” goda Ayu untuk Aura yang disambut dengan Diah yang mendorong Aura mendekat pada Abas, tampak wajah canggung Abas menanggapi senyum malu Aura. Semua orang tertawa kecuali aku, sekedar tersenyum kecil agar tidak terkesan kaku.
-*-*_*-*-
Malam itu Bunda menelponku menyampaikan kabar jika Abah jatuh dari kamar mandi. Hari itu kira-kira hari ketiga Dimas dirawat di rumah sakit. Aku segera pergi ke rumah sakit naik becak. Dimas sedang istirahat saat itu.
“Assalamualaikum Tante, Om,”
Aku memberi salam untuk orangtua Dimas.
Mereka tampak terkejut aku datang, saat itu memang sudah pukul sembilan malam sudah bukan jam besuk.
“Waalaikumsalam, ada apa Eka malam-malam kesini nak?” tanya Mama Dimas
“Hhmmm” aku bingung memulainya dari mana “Anu, Eka mau menyampaikan pesan dari Bunda, katanya Om dan Tante diminta pulang, Abah jatuh di kamar mandi Tante,” ucapku berhati-hati takut orang tua Dimas terkejut.
“Inalillahiwainnailaihirajiun, benar itu Eka?” tanya Papa Dimas kaget, Mama Dimas juga tampak terkejut
“Kasihan Citra pasti bingung Pa,” ucap mama Dimas sambil meremas-remas kedua telapak tangannya
“Sudah dipanggilkan Ayah dokter kok Tante, tapi pesan Bunda sebaiknya Tante dan Om pulang, biar sementara saya yang menjaga Dimas,” ucapku menenangkan Mama Dimas yang sudah mulai menangis
“Tante titip Dimas ya nak, besok pagi Tante akan segera kesini”
“Iya Tante tidak perlu khawatir, ada teman kakak kos saya yang bisa bantu jaga Dimas besok pagi tante,”
“Baiklah, Dimas sudah istirahat seperti ini biasanya baru bangun subuh, tolong cek infusnya kalau habis kamu panggil suster, dia bisa makan sendiri untuk sarapan, kalau ada apa-apa kamu telpon rumah ya Eka,” Papa Dimas menjelaskan keadaan Dimas “Om dan Tante pamit dulu ya nak, titip Dimas,” ucap Papa Dimas sebelum pergi.
Malam itu aku berdua saja dalam satu ruangan bersama Dimas, rasanya sangat aneh. Aku memandangi wajahnya yang sedang tidur.
“Sedang tidur saja ganteng,” ucapku pelan sambil tersenyum. Entah sejak kapan aku mulai suka mengamati wajah Dimas. Seandainya ada kertas dan pensil saat itu aku pasti sudah mengambarnya. Merasa mengantuk aku merebahkan tubuh di sofa samping tempat tidur Dimas.
-*-*_*-*-
__ADS_1
Tubuhku terasa hangat dan nyaman, aku rasakan seperti belaian Bunda dikepala saat hendak membangunkanku sholat subuh.
“Bunda,” ucapku sambil tersenyum dengan suara yang masih serak.
Ku raih tangan yang sedang membelaiku terasa besar dan kokoh bukan seperti tangan Bunda lalu perlahan aku membuka mata samar aku melihat wajah Dimas sedang memandangku sambil tersenyum. Aku hampir lupa jika aku di rumah sakit untuk menjaga Dimas. Aku langsung terbangun tapi Dimas menahanku
“Masih malam,” katanya sambil merapihkan selimut yang sudah dia balutkan menutupi tubuhku.
Kulihat jam dinding menunjukkan pukul satu dini hari, lalu ku lihat infus Dimas sudah berganti penuh. Rupanya dia terbangun karena infusnya habis. Aku merasa bersalah karena bukannya aku yang menjaga Dimas malah dia yang menjaga aku dan memakaikan aku selimut.
“Maaf, aku ketiduran sampai tidak tahu infusmu habis,” ucapku menyesal
“Tidak apa-apa kebetulan aku sedang ingin ke kamar mandi,” jawabnya dengan senyuman yang manis, entah mengapa rasanya Dimas sekarang berbeda, lebih lembut.
“Mau aku bantu?” kataku menawarkan diri yang kemudian membuat Dimas tertawa
“Hahaha, bantu apa? Lepas celana? Lepas baju? Atau mandi sekalian?” Dimas tertawa mengodaku.
Aku hampir lupa jika Dimas adalah laki-laki, bagaimana bisa aku menawarkan bantuan ke kamar mandi. Terkadang aku ini memang payah.
“Nggak lucu!” jawabku ngambek untuk menyembunyikan rasa malu Dimas hanya tertawa.
Aku ralat kembali Dimas tidak berubah masih sama menyebalkan seperti biasanya.
“Kok kamu bisa disini? Mama Papa mana?” tanya Dimas kepadaku yang membuat aku bingung bagaimana akan menjelaskannya
“Hhhmmm, itu hhmmm,” aku masih berfikir alasan yang tepat agar Dimas tidak terkejut “hhmmm pulang menemani Citra,” kataku kemudian
“Aneh untuk apa? Apa terjadi sesuatu?” tanya Dimas memastikan
“Abah jatuh dari kamar mandi, tapi sekarang sudah baik-baik saja kok, sudah ditangani dokter, hanya saja kasihan Citra sendirian di rumah,” aku mencoba menenangkan Dimas
“Semoga Abah tidak apa-apa,” kata Dimas dengan wajah khawatir
“Kamu mau minum?” Tanyaku mengalihkan pembicaraan dan sepertinya Dimas mengerti jika aku mencoba menenangkannya.
“Enggak, aku maunya di peluk,” jawab Dimas membuat aku kesal dan berdiri memukul lengannya sambil marah-marah, dia hanya tertawa dan akting kesakitan.
-*-*_*-*-
Adzan subuh bergema membangunkanku dari tidur. Aku melihat Dimas sedang asik dengan benda ditangannya. Aku baru tahu dia mempunyai hand phone. Menyadari aku sudah bangun Dimas tersenyum kepadaku dan mengucapkan
“Assalamualaikum cantik yang kalau tidur ngorok,” Dia merusak pagi ku dengan kata-katanya, aku melemparnya bantal sofa dia tertawa “loh malah marah-marah, nggak dijawab nih salamku?” katanya kemudian
“Waalaikumsalam ganteng yang kalo tidur ngowoh, untung nggak ada kecoak yang masuk!” jawabku membalas gurauannya, dia hanya tertawa.
“Sebentar lagi Abas kesini kamu bisa pulang,” kata Dimas kemudian
“Loh Abas nggak sekolah?” tanyaku ingin tahu
“Laki-laki harus pernah bolos biar nggak dibilang cupu,” kata Dimas sambil tertawa
“Jadi inikah siswa teladan SMA kita?" ucapku mengoda Dimas
“Hahaha, tapi tanpa disadari aku adalah siswa yang paling sering bolos, kemarin ke Amerika aku bolos satu minggu, lomba robotik bolos tiga hari, olimpiade bolos dua hari, belum proses bimbingannya, rasanya hampir setiap hari aku meninggalkan jam pelajaran di kelas,” Jawabnya sambil mengingat-ingat “Tapi meskipun banyak bolos tetap saja aku rangking satu, heran yang lain pada ngapain sih di sekolah? Rajin masuk nilainya segitu-gitu saja,”
“Somboooong!”
Aku meneriakinya dan menengelamkan dia dalam selimut yang tadi aku kenakan. Dimas tertawa lepas dan aku masih mengomel sampai terdengar bunyi 'klotak' HP baru Dimas jatuh ke lantai. Buru-buru aku mengambilnya, lega rasanya saat kulihat bentuk luarnya tidak tergores sedikitpun.
“Sejak kapan kamu punya HP?” tanyaku sambil mengembalikan HP itu kepada Dimas
“Kemarin beli waktu di Amerika biar bisa telponan sama yang di rumah,” jawab Dimas, aku hanya mengangguk tanda mengerti.
“Sebentar lagi akan masuk era digital, semua orang pasti akan memiliki HP tidak sekedar untuk telepon atau sms tapi juga untuk berkirim gambar bahkan live video” dimas mencoba menjelaskan namun aku tidak bisa membayangkan, HP yang biasa saja entah kapan aku akan punya apalagi yang bisa berkirim live video.
“Aku ingin ikut andil dalam pengembangannya” katanya sambil melihat HP yang ia pegang.
Mungkin yang dimaksud Dimas saat itu adalah HP android seperti yang saat ini kita pakai. Saat itu aku merasa Dimas sedang kecewa karena tidak dapat memenangkan kompetisi itu. Aku merasa bersalah tapi aku tahu jika aku meminta maaf Dimas tidak akan menerimanya, maka aku memilih untuk menyemangatinya agar dia kembali optimis.
“Amin, aku yakin seorang Dimas akan mampu mencapai cita-cita nya, aku jamin,” kataku sambil tersenyum, lalu dia ikut tersenyum.
Hari itu tanpa kata perdamaian, tanpa permintaan maaf aku dan Dimas kembali berteman. Ternyata tidak sesulit yang aku pikirkan, benar kata Raka Dimas pasti tidak keberatan untuk kembali menjadi teman karena dia ingin aku bahagia.
__ADS_1