
"Bagus yang ini atau yang ini?" tanyaku meminta saran Dimas perihal gaun pengantin
"Kamu beneran pingin pakai gaun? nggak pake adat jawa aja?" tanya Dimas meyakinkan
"Kalau adat jawa nanti ribet dan menor banget riasannya, aku mau yang simpel aja,"
"Hmmm ya sudah terserah kamu,"
"Jadi bagus yang mana?" tanyaku
"Yang ini terlalu seksi nanti banyak yang naksir," ucap Dimas sambil menunjuk sketsa gaun duyung yang aku buat
"Seksi? panjang begini seksi?" tanyaku heran
"Hehehe terlihat banget lekuk tubuhmu,"
"Hmmm kamu nggak suka yang model begini?" tanyaku
"Suka, tapi jangan dilihatin orang lain, buat aku saja," ucap Dimas malu
"Hahaha, terus buat apa resepsi kalau yang lihat cuma kamu?"
"Ya bukan begitu, maksudnya kalau mau pake itu pas lagi sama aku aja jangan pas lagi resepsi, hihihi," ucap Dimas sambil cekikikan
"Berarti fix yang ini aja ya?" ucapku sambil menunjuk gaun satunya
"Siiiip," seru Dimas sambil mengacungkan kedua jempol tangannya
"Venue jadi yang ini, undangan tinggal cetak, dekor fix ini, katring pake langganan ibu sama mama, fotografer kenalan Ayu, souvenir sudah tinggal tunggu jadi, gaun udah fix tinggal kirim desain ke Bagas, pengisi acara serahin ke Ayu sama Aura, apalagi ya yang kurang Mas?" tanyaku memastikan semua ceklist
"Kalau misal sebelum resepsi kamu hamil gimana?" tanya Dimas tiba-tiba
"Ya jangan dong! mangkanya kamu hati-hati, pakai ****** kalau perlu," ujarku
"Tapi aku kan sudah pingin jadi bapak Ka, masak harus nunda momongan sih? kenapa nggak resepsinya saja yang dimajuin? minggu depan mungkin,"
"Dimas tanggalnya itu sudah hasil musyawarah mufakat keluarga kita dipilih yang waktunya pas sama liburan jadi kerabat bisa hadir semua,"
"Ngak tahu ya tapi aku ngerasa kalau yang kemarin itu bakal jadi hihihihi," lagi-lagi Dimas cekikikan
Entah mengapa aku jadi ikut was-was. Kalau benar nanti hamil gimana? Maksudku tentu saja aku senang jika benar-benar hamil tapi acara resepsi apa bisa terus jalan? waktu yang tersisa adalah empat bulan sepertinya memang terlalu lama.
Aku kembali mencari tanggal yang sekiranya bisa untuk mengantikan acara resepsi lebih awal.
"Kalau di majuin Oktkber gimana Mas? ada libur hari Jumat nih," tanyaku membuat Dimas tertawa
"Hahaha masih dua bulan lagi dong? sama saja Eka, keburu kamu hamil, minggu depan saja lah,"
"Iiih kamu itu, nikah dadakan masak resepsi juga? aku kan juga pingin merencanakan pernikahan impian Mas," protesku
"Bukannya aku juga nggak pingin tapi aku mikirin kebaikan kamu dan calon anak kita, resepsi itu capek loh, kalau kalian kecapekan gimana?" ujar Dimas
"Tapi kan belum tentu hamil, lagian kalau kamu mikirnya kayak gitu harusnya kamu kontrol dong itu nafsu," ujarku kesal
"Ya gimana, 33 tahun puasa masak waktu lebaran masih ditunda juga? Kamu nggak ngerti sih tersiksanya aku," jawab Dimas tidak kalah kesal
__ADS_1
"Hihihi, terus gimana dong?" melihat Dimas kesal aku jadi merasa senang
"Hhmmm acaranya direncanakan seramah mungkin untuk ibu hamil saja," usul Dimas
"Gimana itu?" tanyaku sambil memikirkan konsep
"Kayak dekor tidak perlu naik ke pelaminan terlalu tinggi, terus gaunmu juga jangan yang terlalu berat, pakai flat shoes saja, dan acaranya tidak usah berlama-lama," ucap Dimas membuatku terinspirasi
"Gimana kalau pesta kebun saja? acara casual gitu, yang di undang kerabat dekat saja," usulku
"Boleh," jawab Dimas setuju
"Tapi harus ganti venue, terus dekor juga list undangan, aaah banyak yang berubah Mas," gerutuku
"Kita serahkan ke WO sajalah, tinggal list undangan saja yang ditinjau ulang,"
"WO mahal Dimas!"
"Aku sanggup kok kalau untuk mewujudkan pesta impiannya istriku," pungkas Dimas percaya diri
"Iya tapi sayang uangnya, apalagi beberapa udah kita bayar DP nya nanti hangus lagi, kan sayang banget," keluhku
"Lebih sayang lagi kalau kamu dan dedek kecapekan," ucap Dimas sambil mencubit pipiku yang mulai memerah karena tersipu malu
"Kamu ngomongnya kayak aku sudah hamil saja," ucapku sambil merebahkan badan dan menutup buku catatanku
"Kalau belum yuk sekarang aku hamili," ucap Dimas sambil mengambil posisi menerkam membuatku berteriak kencang sambil tertawa dan berusaha menghindar.
-*-*_*-*-
Karena perkataan Dimas aku jadi terus kepikiran bagaimana kalau nanti beneran hamil. Sepulang kerja aku membeli beberapa merk test pack untuk berjaga-jaga barangkali memang aku akan segera hamil. Sesampainya di rumah segera aku coba salah satu test pack.
Merasa ragu aku coba satu kali lagi dengan merk yang lain, tapi hasilnya sama saja. Merasa binggung aku berencana untuk menanyakan kepada Mbak Fina.
"Mas aku mau ke Mbak Fina sebentar ya?" ucapku
"Ngapain? ada Tito?" tanya Dimas penuh curiga
"Apa sih kamu ini? aku cuma mau tanya ini positif atau negatif, aku menunjukkan hasil test pack ku pada Dimas,"
"Kamu test pack? sini lihat," Dimas merebutnya dari tanganku
"Hhhmmm ini garis dua kan? positif berarti Ka?" tanya Dimas
"Aku nggak tahu, di contohnya begini kalau positif, mangkanya mau tanya Mbak Fina," jawabku
"Aku ikut deh," Dimas segera berganti celana.
FYI saat di rumah Dimas seringkali memakai sarung.
-*-*_*-*-
Mbak Fina segera membuka pintu sesaat setelah kami mengetuk pintu apartemennya. Kami dipersilahkan duduk di ruang tamu dan benar saja kudapati ada Tito disana sedang menemani anak Mbak Fina mengambar.
"Ada apa ini? tumben kesini berdua?" tanya Mbak Fina
Tito mendekat dan duduk diantara kami. Aku meremas paha Dimas sebagai ancaman agar dia tidak bersikap yang aneh-aneh.
__ADS_1
"Aduh gimana ya ngomongnya, malu nih Mbak," ucapku malu-malu
"Kenapa malu? urusan wanita? atau lu lagi hamil ya?" tanya Tito
"Apa sih Pa? sana temani Akira gambar saja!" ucap Mbak Fina membuatku kaget
Mbak Fina memanggil Tito Pa? Papa maksudnya?
"Iya Mbak aku bingung ini positif apa negatif ya?" tanyaku sambil menunjukkan hasil test pack
Sebenarnya aku tidak bermaksud to the point begitu tapi karena Tito sudah menebaknya jadi langsung saja aku bertanya.
"Waaah beneran hamil?" tanya Mbak Fina
"Itu masalahnya kenapa kami datang kesini, mau tanya Mbak karane kami nggak yakin baru kali ini coba test pack hehehe,"
ucapku malu
"Ini sih sepertinya positif, tapi masih belum begitu jelas, mungkin umur kandungannya masih muda banget, hhhmmm coba deh kamu test pack ulang pas bangun tidur besok pagi, biasanya hasilnya lebih akurat," saran Mbak Fina
"Oh gitu ya Mbak, terimakasih ya?" ucapku
"Eh Eka hhmmm aku tahu kamu nggak suka ikut campur urusan orang karena itu aku percaya sama kamu, tapi aku rasa biar tidak salah paham ada baiknya aku cerita," ucap Mbak Fina Ragu sambil melihat ke arah Tito
Aku yakin ini pasti berhubungan dengan hubungan mereka.
"Tentang hubungan kalian?" tanyaku memastikan
"Iya, kamu pasti heran kan kenapa Tito sering kesini?" tanya Mbak Fina
"Iya sih tapi itukan urusan kalian," jawabku
"Sebenarnya kami suami istri," ucapan Mbak Fina membuatku kaget
"Looh? beneran?" tanyaku
"Iya, Fina istri kedua gue, dia tidak mau yang lain tahu, malu katanya," ucap Tito
Aku hanya diam dan saling memandang dengan Dimas. Sepertinya Mbak Fina merasa tidak enak dan menjelaskan permasalahannya.
"Istri pertama Tito sakit tidak bisa punya anak, lalu dia menyuruh Tito menikah lagi, waktu itu aku baru saja bercerai karena KDRT, terus kita ketemu di acara gethering kantor, waktu itu aku masih di kantor Semarang, sama-sama lagi galau kita jadi curhat-curhatan hehehe dan pas aku di pindah ke kantor pusat kami jadi makin dekat terus akhirnya menikah dan punya anak," Mbak Fina menjelaskan panjang lebar
"Terus anak Mbak Fina tinggal sama Tito?" tanyaku
"Iya, karena aku kerja jadi dia sama ibu tirinya hehehe, kadang kalau kangen kayak hari ini ya Tito ajak dia pulang kesini,"
"Oh aku kira dia di Semarang," ucapke sambil tersenyum
"Tolong jangan bilang yang lain ya Ka? soalnya aku nggak enak, pasti jadi bahan omongan di kantor," mohon Mbak Fina
"Eka jagonya nyimpan rahasia kok Mbak," ucap Dimas membuat semua tertawa dan aku tersipu malu
-*-*_*-*-
"Begini saja ya? simpel dan aman untuk ibu hamil," aku menunjukan rancangan gaun pengantinku kepada Dimas
__ADS_1
"Cantik, aku suka bagian belakangnya," jawab Dimas sambil tersenyum.