
Pramugari cantik dengan seragam biru orange khas PT KAI menghampiriku membawa segelas coklat panas dan sepucuk surat di nampannya.
“Maaf, saya tidak pesan ini mbak,” kataku menolak pemberiannya secara halus
“Oh iya maaf, ini dari penumpang di gerbong satu Bu, beliau menyertakan surat ini,”.
Ku buka kertas itu bertuliskan “Jangan melamun sendiri, lebih baik ditemani secangkir coklat panas, D.N.” Aku tersenyum kecil, bisa ku tebak itu pasti dari Dimas, sama seperti waktu itu.
-*-*_*-*-
Suatu hari dikoridor depan kelas, aku baru selesai meraut pensil dan hendak kembali masuk kelas. Sinyal Alimabbas tiba-tiba berdering cukup kencang, dari kejauhan ku lihat Abas berjalan ke arahku. Jantungku berdebar tak beraturan, aku sangat yakin dia akan menghampiriku. Benar saja dengan sepucuk kertas yang baru dia ambil dari saku baju seragamnya dia berkata sambil tersenyum kepadaku
“Ada pesan nih, dibaca ya!”. Akupun tersenyum malu, sepertinya waktu itu wajahku sungguh merah.
Entah kata apa yang tepat untuk menggambarkan perasaanku saat itu, aku berfikir jika Abas akan menyatakan perasaannya lewat surat itu. Khayalanku sudah melambung tak berarah, aku sangat senang, sangat bahagia, namun kebahagian itu berlangsung tak cukup lama, hingga Ayu merebut kertas itu dari tanganku lalu membaca isinya dengan lantang di depan kelas.
“Tunggu aku di warung Bu Ida jam 4 sore, tertanda D.N” semua teman bersorak mengodaku, tak terkecuali teman-teman geng kriwul. Aku sangat malu dibuatnya. Rasanya ingin marah pada Ayu tapi aku malas membuat keributan.
-*-*_*-*-
Sore harinya dengan malas aku meninggalkan kamar kostku hendak pergi ke warung bu Ida
“Bukan! aku tahu bukan dia! inisial surat ini D.N pasti Dimas Nuzulazmi, lagipula Abas mana tahu tentang warung Bu Ida?” gumamku sambil menghela nafas panjang.
Ku remas surat itu dan ku buang di tempat sampah depan kostku. sore itu rasanya aku tidak bersemangat tapi tetap saja menunggu dengan sedikit harapan Abas yang akan datang.
“Maaf telat, sudah lama menunggu?” tanya Dimas sambil duduk di sampingku, ku lihat dia masih mengenakan seragam sekolah. Sepertinya dia belum sempat pulang ke kost.
“Hampir habis satu mangkok borju, lagian ngapain sih pake nulis surat segala? Malu tau, ngomong langsung kan bisa, terus ngapain pake janjian segala? norak! Kamu itu sekalinya muncul selalu saja bikin masalah!”
Rasanya aku ingin sekali marah, entah karena aku malu surat itu dibaca di depan kelas atau kecewa karena benar bukan Abas pemilik surat itu.
__ADS_1
“Ini nih yang aku kangenin, Eka cantik yang galak hhhmmm bukan bukan Eka galak yang cantik lebih tepatnya hahaha,” ucap Dimas sambil tertawa.
Aku tahu Dimas berusaha menghiburku tapi aku tidak bisa, rasanya sangat kesal, pokoknya ingin marah. Aku tahu itu bukan sepenuhnya salah Dimas, akulah yang berkhayal kelewatan. Saat itu aku hanya bisa diam sambil melanjutkan suapan terakhirku.
“Tim ku menang loh, tadinya aku mau langsung menemui kamu di sekolah tapi tidak sempat, banyak wartawan yang minta wawancara terus kepala sekolah mengundang kami untuk makan siang sepulang sekolah jadi aku tulis surat saja untuk ketemuan,” Dimas mencoba menjelaskan alasannya menulis surat
“Yaudah selamat, terus kenapa?” tanyaku mengakhiri kekesalan.
Sejujurnya aku bangga pada temanku ini, dia memang pintar, tapi robotik adalah dunia baru baginya dan dia mampu menakhlukannya dengan cepat. Dimas memang benar-benar hebat.
“Kenapa apanya?” dia balik bertanya membuatku kembali kesal
“Ya kenapa kamu mau ketemuan? Pasti ada alasanya dong?”
“Nggak ada, pingin ketemu aja, nggak boleh?”
Aku hanya diam dan memandang tajam kedalam matanya dengan wajah merah padam hampir membara yang membuat Dimas langsung menjelaskan alasannya ingin bertemu
“Iya, iya.... duuuh cantiknya muka seramnya hihihi," Dimas tertawa usil sambil menutupi mulutnya "aku mau traktir kamu makan borju pake uang hadiahku,”
Sebenarnya aku tidak benar-benar menolak, hanya saja Dimas ingin memiliki gitar seperti Abas, saat itu dia sedang belajar bermain gitar dari Abas.
“Iya sih, tapi aku lebih pingin makan bareng sama kamu” jawabnya sambil menunjukan wajah seperti anak kecil yang manyun, entah itu tulus atau tidak, tapi aku merasa rasa kesalku mereda bersama kepalan tanganku yang mendarat di bahunya.
Dengan ekspresi kesakitan yang dibuat buat dia mengadu pada Bu Ida, katanya aku melakukan KDRT. Bu Ida hanya tertawa. Dimas memang pandai mengambil hati, dia menyebalkan tapi sulit untuk marah padanya.
“Kamu nggak pingin tanya kabarku?” tanya Dimas kemudian
“Buat apa? Udah ketahuan sehat begini,” jawabku remeh
“Dari luar terlihat sehat, belum tentu kan dalamnya?”
__ADS_1
“Jadi kamu lagi sakit?” tanyaku kemudian
“Enggak,” jawabnya sambil tersenyum membuatku kesal
“Mas jangan nyebelin deh, aku masih kesel tau sama kamu,” kataku kesal
“Iya dek, maaf,” jawab Dimas membuatku semakin kesal
“Dek dek mbok kiro aku adhek mu?” jawabku dengan bahasa jawa yang artinya kamu kira aku ini adikmu?
“Papa kalau panggil si Mama adhek juga, mama kalau panggil si papa mas juga, karena kamu panggil aku mas boleh dong aku panggil kamu dek” jawabnya membuatku makin kesal
“Dih, aku panggil kamu Mas karena namamu Dimas!” jawabku emosi
“yaaah Kirain,” jawabnya dengan wajah kecewa tapi iseng yang super nyebelin
"Ngarep!" jawabku sewot
Sore itu warung bu Ida ramai oleh aku yang tidak berhenti kesal pada Dimas dan Dimas yang tidak berhenti mengodaku. Kami asik sendiri seakan di warung itu tidak ada pelanggan lain. Untungnya Bu Ida sangat baik, dia justru senang warungnya jadi ramai setiap kami datang.
“Maaf ya Bu Ida, jadi berisik warungnya,” kataku merasa sungkan pada Bu Ida
“Ibu malah seneng neng, rame kalau ada kalian, lucu terhibur Ibu,”
“Harusnya kasih gratis dong Bu borjunya kalau terhibur,” goda Dimas
“Maunya sih gitu, tapi nanti Mas Dimas gagal romantis dong sama Mbak Eka?” goda Bu Ida meladeni keisengan Dimas, Dimas tertawa tapi aku tidak mengerti apa maksudnya
“Maksudnnya bu?” tanyaku penasaran
“Lah kan tadi katanya Mas Dimas mau traktir Mbak Eka, kalau saya gratiskan nggak jadi traktir dong?” rupanya Bu Ida sedang membalas candaan si Dimas. Kami semua tertawa dalam candaan garing itu.
__ADS_1
Apa kabar warung Bu Ida sekarang? Aku tidak pernah menyangka akan merindukan saat–saat seperti itu. Dulu aku kira surat itu salah tuan, aku selalu berharap Abas lah pemilik surat itu, ternyata hanya Dimas. Aku kira aku benar kecewa, tapi jika diingat lagi mungkin memang lebih baik jika itu adalah Dimas.
Betapapun pilunya masalalu jika dikenang kembali terkadang jadi lucu juga.