
Hujan mulai reda, terdengar Adzan Dhuzuh berkumandang. Aku segera mengambil wudhu untuk sholat. Aku dan Dimas akan pulang dengan kereta pukul 15.00 WIB namun aku ingin berangkat lebih awal untuk memastikan Dimas sudah pulang dan baik-baik saja.
Aku meminta tolong Kak Joni yang baru saja akan pulang setelah berteduh dari hujan untuk mengantar ke kost Dimas. Sesampainya di kos Dimas aku bertemu Abas yang sedang menjinjing tas pakaian, wajahnya tampak cemas. Aku ragu untuk menyapanya, tapi ternyata dia menghampiriku terlebih dahulu.
“Dimas kecelakaan sekarang di rumah sakit, saya mau kesana membawa baju gantinya, kamu mau ikut?” ucapan Abas seperti petir yang menyambar setelah hujan berhenti. Aku sangat terkejut
“Apa?” aku tersentak dan langsung menangis
Entah apa saja yang ada dipikiranku saat itu, aku merasa sangat bersalah atas apa yang menimpa Dimas. Seandainya aku tidak meminta putus, seandainya kita pulang bersama, seandainya aku tidak egois, kalimat pengandaian terus memenuhi kepalaku. Jika terjadi sesuatu yang buruk kepada Dimas aku tidak akan memaafkan diriku untuk selamanya.
Sampai di rumah sakit aku langsung berlari ke UGD, disana kujumpai bapak kost Dimas sedang mengurus administrasi rumah sakit. Abas menghentikan langkahku dan menyuruhku untuk menunggu diluar, katanya pakaian Dimas basah kuyup jadi mau dia gantikan dulu. Aku duduk di kursi ruang tunggu sambil berdoa agar Dimas tidak terluka parah. Abas yang sudah selesai menganti pakaian Dimas duduk di sebelahku.
“Dimas tidak apa-apa, dia masih tidur sekarang,” Abas menenangkanku
“Dia tidak mau menemuiku?” tanyaku pasrah
“Dia tidur Eka, saking semagatnya mau kencan sama kamu dia begadang ingin menyelesaikan proposal penelitiannya malam itu juga, sampai-sampai dia tidak sarapan tadi pagi karena ingin segera menjemput kamu ke sekolah,” Abas mencoba menjelaskan padaku jika Dimas benar-benar sedang tidur
”Jadi dia begadang karena aku?” tanyaku dengan suara parau
“Bukankah seharusnya kalian sedang kencan?” tanya Abas heran
“Bukan kencan tapi aku minta putus,” aku mulai menangis lagi
“Kamu benar-benar ingin putus?” tanya Abas namun aku hanya tertunduk dalam tangis
“Dimas pasti menyetir dalam kondisi marah, mangkanya tidak hati-hati sampai kecelakaan huhuhuhu” tangisku semakin tak terbendung mengingat terakhir kali Dimas berjalan meninggalkanku tidak seperti biasa.
“Memangnya kamu dimana saat kecelakaan itu terjadi?”
“Dimas menyuruhku pulang naik becak huhuhuhu, harusnya aku bersamanya, harusnya aku tidak meninggalkannya, harusnya huhuhuhu,” aku tidak bisa melajutkan kalimatku lagi, aku menangis tersedu-sedu.
“Sudah Eka, saya yakin Dimas tidak akan marah sama kamu, Dimas sayang banget sama kamu,” Abas mencoba menenangkanku, dia memberiku selembar sapu tangan untuk membersihkan air mata
“Aku jahat banget ya Bas? Aku egois!” tanyaku kepada Abas
“Tidak, kamu hanya perlu waktu untuk menyadari ketulusan hati Dimas, aku yakin suatu saat nanti kamu akan mau sama dia,”
Aku rasa saat itu Abas mencoba menghiburku. Aku hanya diam tertunduk sampai bapak kost Dimas menghampiri.
“Ini pacar Dimas yang waktu itu kan? Siapa namanya?” bapak kost Dimas mencoba mengingat-ingat aku. Aku bangkit dari tempat duduk ku untuk memberi salam.
“Eka Om, bagaimana kata dokter?” tanyaku ingin tahu kondisi Dimas
“Untuk saat ini Dimas tidak apa-apa, namun butuh observasi lanjut setelah dia bangun, karena tadi dia sempat muntah, kamu jangan cemas,” bapak kost Dimas mencoba menenangkan aku
“Terimakasih Om” jawabku pelan
__ADS_1
“Om harus balik ke kantor, Abas pulang kereta jam berapa?” tanya bapak kost Dimas kepada Abas
“Jam dua Om” jawab Abas sambil melihat jam tangannya
“Nah ini sudah hampir jam dua, nanti kamu terlambat loh,” bapak kost mengingatkan Abas untuk segera bergegas ke stasiun
“Eka tidak apa-apa saya tinggal?” tanya Abas kepadaku, sepertinya dia tidak tega meninggalkan aku sendirian di rumah sakit
“Tidak apa-apa Bas, kamu pulang saja” jawabku mencoba tegar
“Tadi papanya Dimas yang telfon minta tolong Om untuk mengurus Dimas, mereka sudah dalam perjalanan kesini, sebantar lagi pasti sampai,”
“Iya Om terimakasih banyak,” jawabku sambil mencoba tersenyum.
-*-*_*-*-
Abas dan bapak kostnya beranjak pergi, aku masuk ke UGD untuk menemani Dimas. Dia tertidur dengan sangat lelap padahal saat bersamaku tadi dia sedang minum kopi. Aku takut jika Dimas pingsan atau koma, jadi aku konsultasikan ke dokter. Aku memang mempunyai kebiasaan mengkhayal yang tidak-tidak hal itu seringkali membuatku panik atau terperangkap dalam masalah. Aku tidak suka diriku yang seperti itu.
“Dokter permisi, teman saya yang kecelakaan itu apa benar tidur ya dok?” tanyaku kepada dokter untuk memastikan jika Dimas tidak dalam bahaya
“Iya benar dia sedang tidur,” jawab dokter dengan yakin
“Tapi tadi sebelum dia kecelakaan sempat minum kopi,” kataku kemudian
”Apakah dia minum kopi dalam kondisi perut kosong?” tanya dokter kemudian
“Apakah sebelum kecelakaan dia mengeluh sakit perut atau sesak nafas atau pusing?”
“Saya tidak yakin, tapi saya melihat dia beberapa kali menghela nafas panjang dan dia bilang dia pusing,” maksudku tidak yakin adalah mungkin dia melakukannya karena terbebani oleh permintaanku untuk putus bukan karena sakit. Tapi bisa jadi memang Dimas benar-benar pusing saat itu
“Saya akan mengobservasinya setelah dia bangun,”
“Terimakasih dok,”
Aku duduk di samping tempat Dimas berbaring, ku pandangi wajahnya sangat pucat, sesekali dia batuk. Aku tidak tahu bagian tubuh mana saja yang luka karena seluruh tubuhnya tertutup selimut. Pelan ku sentuh keningnya untuk memeriksa suhu tubuhnya, sangat panas, aku bertanya pada suster yang menanganinya, teryata memang dia sedang demam. Apakah sejak tadi bersamaku dia sudah sakit? Dia begadang, tidak sarapan, kehujanan, di hukum berdiri satu kaki, semua itu karena aku, dia kecelakaan juga karena aku. Dimas begitu baik padaku tapi mengapa aku begitu tega padanya? Aku mulai menangis lagi.
“Eka, kamu disini? Kamu tidak apa-apa kan?” Mama Dimas menghampiri dan tampak khawatir padaku
“Tante huhuhu,” aku beranjak memeluk Mama Dimas, aku merasa bersalah telah menyakiti putra kesayangannya
“Kenapa Eka menangis? Dimas baik-baik saja kan?” tanya Mama Dimas memastikan bahwa putranya baik-baik saja
“Dimas masih tidur, kata dokter saat ini dia baik-baik saja tapi masih butuh observasi setelah dia bangun, maafkan Eka Tante huhuhu” aku menjelaskan dengan menangis
“Kenapa Eka minta maaf? Eka tidak apa-apa kan?” Mama Dimas mencemaskanku, beliau berfikir Dimas bersamaku saat kecelakan
“Tidak Tante, tadinya Eka pergi sama Dimas tapi Eka pulang duluan jadinya Dimas jatuh, huhuhuhu,”
__ADS_1
“Justru syukur Eka pulang duluan jadi Dimas jatuh sendiri tidak ajak-ajak Eka hehehe,” Papa Dimas berusaha untuk menghiburku
“Eka bukannya harus pulang? Nanti dicari Bunda loh,” Bujuk Mama Dimas agar aku mau pulang
“Eka mau disini saja nemenin Dimas tante,” jawabku sambil mengusap air mataku
“Tapi harus pamit Ayah Bunda dulu ya anak cantik,” bujuk Papa Dimas
“Iya Om, Eka mau telpon Bunda dulu,”
Keluarga Dimas sangat baik, Mama dan Papanya berfikiran terbuka, mereka tampak seperti teman dengan anak-anaknya. Abah Kakek Dimas juga baik, beliau ramah dan lucu sama seperti Dimas terkadang beliau juga suka iseng. Aku suka dengan keluarga mereka.
Aku beranjak menuju telefon umum untuk menelfon Bunda. Lama aku antre menunggu gilaran telefon. Rasanya saat itu aku sangat tidak sabar menungggu giliran untuk telefon. Beruntung saat ini hampir semua orang sudah memiliki hand phone jadi bisa kapan saja dan dimana saja menelepon dalam keadaan darurat. Pada masa itu HP hanya digunakan oleh kalangan tertentu, untuk telefon aku harus pergi ke telefon umum atau warnet.
“Hallo,” aku mendengar bunda yang mengangkat telepon, langsung saja aku berteriak sambil menangis
“Bundaaa,”
“Assalamualaikum dulu lah,” kata bunda mengingatkan aku
“Waalaikumsalam,” jawabku
“Kenapa nangis? kamu belum pulang?” tanya bunda seperti khawatir
“Eka tidak jadi pulang Bunda huhuhu, Dimas kecelakaan sekarang di rumah sakit huhuhu,” kataku sambil menangis
“Innalillahi wainnailaihi rojiun, terus bagaimana keadaannya? Jatuhnya sama kamu? Kamu baik-baik saja kan? Kok bisa kecelakaan? Sekarang dirawat di rumah sakit mana? Orang tua Dimas sudah di kabari?” Pertanyaan bunda lebih panjang dari deretan gerbong kereta Api
“Bunda, satu-satu Eka binggung,” jawabku dengan mulai berhenti menangis
“Iya, iya maaf, bunda panik, kamu baik-baik saja kan?” tanya bunda kemudian
“Dimas jatuh sendiri, tadinya pergi sama Eka tapi Eka pulang duluan, Dimas baik-baik saja, sekarang masih tidur, ada Mama sama Papanya disini” jelasku kepada bunda
“Syukurlah kalau begitu,” bunda terdengar lega
“Eka mau pamit tidak jadi pulang, tidak apa-apa kan bunda?” tanyaku kemudian
“Iya tidak apa-apa, besok Bunda sama Ayah insyaallaah akan kesana sekalian jenguk Dimas, kamu yang sabar ya, jangan ngerepotin orang tua Dimas, nggak boleh nangis,” bunda mulai cerewet, begitulah bundaku jika bicara tidak bisa berhenti.
“Iya Bunda, udah ya Bunda banyak yang antri telefonnya,” aku berusaha menutup pembicaraan karena aku melihat tagihan telefonnya sudah cukup banyak
“Iya, salam untuk orang tua Dimas ya, semoga Dimas lekas sehat,” kata bunda kemudian
“Iya nanti disampaikan, Assalamualaikum Bunda,”
“Waalaikumsalam,”
__ADS_1