RAHASIA Cinta SMA

RAHASIA Cinta SMA
Rumah Pintar


__ADS_3

"Sudah selesai belum?" tanya Dimas dengan suara lembut


"Tom yum nya? udah kayaknya, yuuk makan" jawabku iseng


"Ekaaa" Dimas enggan melepaskan pelukannya


"Masih empat hari sayang, kurang 4 hari lagi, sabar yaaa" jawabku sambil mengusap kepalanya


Dimas cemberut dan diletakkan kepalanya di pundakku, sangat manja membuatku gemas.


"Makan yuk? lapar nih, penasaran juga sama masakannya Koki" ucapku


-*-*_*-*-


Di meja makan telah tersaji sup tom yam seafood yang aromanya sangat menggugah selera. Aku segera duduk dan menyantapnya, benar saja rasanya seperti masakan chef restoran bintang lima. Aku tidak percaya ini adalah masakan robot.


"Koki masakanmu enak sekali, aku beri nilai 99/100" pujiku membuat Koki senang


"Terimakasih, Koki terkesan dengan pujian nyonya" jawab Koki membuatku semakin lahap menyantap hidangan.


"Kamu bikin semua robot ini sendiri?" tanyaku kepada Dimas


"Iya, aku kesepian di Amerika, capek ngomong bahasa inggris terus jadi aku bikin robot buat teman ngobrol hahaha" jawab Dimas sambil tertawa


"Terus rahasia kamu yang lain apa? katanya banyak?" tanyaku ingin tahu


"Kita punya banyak waktu buat cerita satu persatu, sekarang kita pacaran dulu, sini aaaa" Dimas menyuapi aku sesendok sup tom yum dengan udang besar segar


Selesai makan kami berkeliling melihat isi rumah Dimas, lebih tepatnya aku belajar mengenal rumah itu. Aku suka rumah Dimas, banyak kejutan seperti pemiliknya. Shower kamar mandinya sangat besar katanya biar berasa hujan-hujanan saat mandi bisa lari sana-sini. Jika ingin mandi air hangat tinggal bilang saja maka seketika air akan menjadi hangat.


Temperatur rumah juga bisa diatur sesuai selera. Kulkas di dapur sangat besar namun terdapat ceklist apa saja yang ada di dalamnya, tinggal pencet ceklist itu maka makanan yang kita maksud akan keluar lewat pintu saji. begitupun dengan pintu, ada banyak akses keluar rumah yang semuanya berupa lift menuju permukaan.


Tinggal di rumah ini tidak perlu repot bersih-bersih karena si robot bola akan langsung bekerja jika ada sedikit saja kotoran atau debu dilantai, kaca, ataupun perabotan yang lain.


Setiap sudut rumah ada layar LCD besar yang bisa berfungsi sebagai televisi atau hiburan, dapat juga berfungsi sebagai layar pemantau kondisi luar maupun isi rumah.


Jika kau bosan robot Eka juga siap menemanimu, menjadi lawan jika kau ingin main catur atau permainan yang lain.


Ada sebuah menara aah tidak, bukan, aku tidak tahu apa namanya, yang jelas ruangan kecil itu bisa muncul menjulang tinggi ke langit seperti menara, lalu kembali terlipat ke dalam tanah seperti tidak ada bangunan sama sekali. Fungsi menara itu untuk stasiun alien katanya. Aku harap Dimas hanya bercanda tapi aku tidak bisa menganggap ucapan Dimas sebagai candaan lagi.


Dari menara itu tampak begitu banyak bintang berterbangan menghiasi langit. Disana kami bersendau gurau, tertawa bersama, ngobrol sana-sini tanpa topik yang jelas, bermesraan dan merencanakan masa depan yang terdengar seperti khayalan.


"Kenapa kamu kepikiran bikin rumah kayak gini?" tanyaku


"Aku sedang lari dari pajak" bisik Dimas di telingaku


"Maksudnya?"


"Kalau pajak lahan kosong kan murah hahaha"


"Dasar!seriuus Dimas!" seruku merasa dipermainkan


"Hahaha, karena kalau rumah biasa nanti tetangga pada heboh" jawab Dimas sambil menahan tawa


"Karena kamu cakep, terkenal?" ucapku sewot


"Bukan"


"Lalu?"

__ADS_1


"Karena istriku galak hahaha" jawab Dimas sambil tertawa membuatku jengkel tapi juga ikut tertawa.


"Orang ini ditanya serius becanda melulu!" omelku sambil memukuli pundaknya


"Aku butuh ruang kerja yang tidak banyak gangguan dan tidak mengganggu orang lain" jawab Dimas serius


"Jadi ini tempat kerjamu?"


"Hhhmmm aku hanya membuat perencanaannya disini setelah jadi aku bawa ke kantor untuk diuji kelayakan pasarnya"


"Berarti pekerjaan kamu bikin robot?" tanyaku polos


"Hahaha robotku tidak dijual, hanya untuk teman agar tidak bosan saja"


"Terus pekerjaanmu apa? kenapa kamu bisa sekaya ini? sampai punya saham besar di perusahaanku?"


"Jika aku jelaskanpun kamu tidak akan mengerti, pekerjaanku bukan pekerjaan yang bisa dicari di internet"


"Maksudnya?"


"Tidak ada informasi terkait jenis pekerjaan sepertiku"


"Ceritakan saja semuanya apa yang kamu lakukan, jika aku tidak paham itu masalah nanti"


"Singkatnya aku merumuskan akses zona DN semacam big data untuk memetakan asal-usul setiap manusia, tujuannya untuk perdamaian dunia" Dimas menerangkan dengan panjang lebar tapi aku tidak mengerti yang dibicarakannya.


"Apa itu zona DN? aku pernah dengar istilah big data tapi tidak tahu apa itu" ucapku polos


"Hhmmm aku bisa jelaskan nanti pelan-pelan, sekarang bicarakan lainnya saja, aku jenuh ngomongin pekerjaan terus" rengek Dimas


"Hhmmm baiklah" jawabku sambil mencari topik pembicaraan yang lain "Kenapa kamu bisa cinta aku sampai seperti ini?" tanyaku kemudian


"Terus?"


"Kan kamu sendiri yang bilang aku orangnya konsisten, jadi kalau aku bilang cinta kamu ya selamanya aku akan cinta" jawabnya sambil memelukku dari belakang


"Kamu beneran suka aku sejak kita SD?" tanyaku


"Iya, aku pikir kamu juga suka aku waktu itu hahaha" Dimas tertawa mengenang masa itu, akupun begitu


"Memangnya kamu nggak pernah suka cewek lain?" tanyaku ingin tahu


"Jangan ah nanti kamu marah" jawabnya sambil mencium pipi kananku


"Jangan sok kecakepan juga!" ucapku kemudian


"Kalau kamu? cinta nggak sama aku?" tanya Dimas serius


Aku hanya tersenyum lalu mencium pipi kiri Dimas


"Jawab dong" pinta Dimas


"Ya iyalah suamiku"


"Iya apa?"


"Iya aku cinta kamu"


Dimas tersenyum dan meraih tanganku, disematkannya sebuah cincin cantik.

__ADS_1


"Aku belum melamarmu dengan benar" ucapnya sambil mencium tanganku yang ia pasangkan cincin.


Aku berbalik badan memeluknya dan berterimakasih. Dia mengecup keningku.


"Aku ingin punya anak yang banyak" katanya kemudian


"Tapi umurku sudah tua, dua saja ya?" pintaku manja


"Memang kenapa?kamu bisa hamil setiap tahun" jawabnya usil


"Dimas!" seruku


"Akan kubuat ini adalah menstruasi terakhirmu! setelah ini kau akan terus hamil, setelah melahirkan akan ku hamili lagi lagi dan lagi" ucapnya membuatku tertawa


"Jahat! itu pemerkosaan namanya hahaha" kami tertawa bersama


"Kita bikin rumah di tenggah kota yuk?" ajak Dimas


"Kenapa? aku suka disini, rumahnya pintar, suasananya tenang" ucapku


"Ini tempat rahasia kita, untuk pacaran, anak-anak harus tinggal di lingkungan normal, kalau disini nanti mereka tidak punya teman"


Ucapan Dimas ada benarnya juga, aku menyetujui ide Dimas.


"Tapi nanti dulu ya? Sementara kita tinggal di apartemen dan disini dulu" kataku


"kenapa?" tanya Dimas heran


"Kita harus menabung dulu" ucapku


"Aku punya cukup uang kalau hanya membeli rumah" kata Dimas


"Kita harus berhemat, kita sedang banyak pengeluaran, renovasi masjid, pembangunan sekolah, dan juga untuk resepsi"


"Pembangunan sekolah 100% dana pemerintah, masjid sudah ada bagiannya sendiri karena itu merupakan wasiat abah, resepsi bisa diatur" ucap Dimas


"Enggak, pokoknya harus nabung dulu!" jawabku tegas


"Iya deh tapi bolehkan kalau lihat-lihat dulu?"


"Boleh, besok gimana?" tanyaku antusias


"Hahaha iya besok boleh, kamu mau rumah yang seperti apa?" tanya Dimas sambil mengandeng tanganku dan menurunkan kembali menara itu.


"Hhhmmm rumahnya kecil tidak masalah mungkin 2 atau 3 kamar yang penting halamannya luas biar anak-anak puas bermain, "


"Kalau begitu beli tanah saja kita bangun sendiri rumahnya" saran Dimas


"Ide bagus tuh, beli tanah dulu terus kita bangun pelan-pelan sambil nabung, hhhmmm kita buat rumah pintar kayak gini juga ya? biar aku nggak capek beres-beres" jawabku antusias


"Jadi besok lihat tanah apa rumah?"


"Rumah dulu deh"


"Dasar plin-plan" ucap Dimas sambil mengusap-usap rambutku


"Kan cuma lihat-lihat" jawabku sambil nyengir


-*-*_*-*-

__ADS_1


__ADS_2