
Bumi serasa berhenti berputar, bintang-bintang yang tadinya berkilauan hilang ditelan mendung. Entah aku ada dimana, seperti ruang gelap hampa udara. Sekeras apapun ku coba memahami keadaan tetap tidak ku mengerti apa yang sedang terjadi.
“Cie gandengan!” teriak Ayu kepada aku dan Dimas yang sontak membuatku kembali pada realita dan melepaskan genggaman Dimas
“Katanya Dimas buat aku? hahaha,” goda Ayu
“Kalian pacaran ya? Udah ngaku aja kita ikhlas kok, iya kan Yu?” tanya Diah
“Asalkan kalian bahagia huhuhu,” Ayu berpura-pura menangis, dan Dimas menjawab dengan anggukan dan seyuman yang mempertegas bahwa benar kami pacaran
“Tuh kan, sudah ku duga, Ih kok Eka nggak pernah cerita sih? Selalu bilangnya enggak, nyebelin,” ungkap Ayu yang terlihat pura-pura kesal
“Enggak salah lagi maksudnya yuk hahaha,” goda Diah kepadaku, aku masih diam mematung mencoba mencari akar kesalah pahaman ini.
“Barusan aja kok, baru dua menit yang lalu, aku nyatakan perasaan dengan lagunya Abas,” jawab Dimas yang membuat Ayu dan Diah berseru heboh dan orang-orang disekitar kami melihat ke arah kami.
Aku masih membisu, aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa, semua ini salah paham tapi aku tidak bisa menjelaskannya. Sementara itu Abas dan Aura yang baru saja turun panggung penasaran apa yang sedang terjadi.
“Ada apa ini rame-rame?” tanya Aura penasaran
“Dimas sama Eka jadian!” teriak Ayu histeris
“Wow sejak kapan?”
“Barusan berkat lagu kalian hahaha,” jawab Ayu dengan riang
“Beneran?” tanya Aura tidak percaya
“Kita saksinya, udah gandengan tangan loh,” goda Diah kepadaku
__ADS_1
“Ciiee, selamat ya! Aku terharu penampilan kita bisa mempersatukan kalian,” kata Aura memberikan selamat untuk aku dan Dimas.
Aku masih membatu tidak bisa berkata apa-apa meskipun aku sangat ingin
“Jadi untuk ini kamu meminta aku bawakan lagu yang ini?” tanya Abas kepada Dimas yang disambut senyuman malu Dimas.
“Selamat!” Abas mengulurkan tangannya memberikan selamat untuk ku.
Aku tidak tahu apa yang sedang Abas pikirkan. Aku merasa sangat buruk dihadapannya, maksudku baru saja kita baikan dan dia mengatakan akan selalu mempercayaiku, tapi malam ini aku seolah merusak kepercayaannya. Aku tahu kami tidak ada hubungan apa-apa tapi aku sangat ingin menjelaskan padanya jika semua ini hanyalah salah paham. Namun mulutku seakan terkunci, aku hanya bisa tertunduk dan air mata perlahan menetes di pipi.
Tidak ku sambut jabat tangan Abas, aku berpaling dan berlari pergi. Aku mendengar Dimas dan teman-teman memanggilku, aku juga tahu jika Dimas mengejarku tapi aku terus berlari tanpa arah, aku berusaha untuk bisa menghindar.
-*-*_*-*-
Langkah kakiku terhenti disebuah gang buntu, aku tidak tahu itu ada dimana tempatnya sangat sepi dan lampu penerangannya cukup redup. Aku meluapkan segala yang menganjal di dada dengan menangis, aku tidak tahu apa yang sedang aku rasakan. Kesal ataukah kecewa, sedih ataukah marah, aku merasa begitu banyak beban di hati dan pikiranku namun aku tidak tahu beban apakah itu.
Cukup lama aku menangis lalu aku mendengar ada suara laki-laki dari belakang yang ternyata adalah bapak-bapak yang sedang ronda.
Nduk atau genduk atau denok adalah panggilan dalam bahasa jawa untuk anak perempuan oleh orang yang lebih tua seperti kata nak atau anak dalam bahasa Indonesia.
“Omahe ngendi?” tanya bapak yang lain maksudnya beliau bertanya rumahku dimana. Aku hanya diam saja lalu bapak itu kembali bertanya
“Tekan ngendi kok iso nyasar ning kene?” kurang lebih artinya adalah dari maka kok bisa tersesat disini?
Aku masih terdiam dan melanjutkan tangisanku, sebenarnya jika diingat sekarang aku malu, maksudku aku adalah siswa SMA bukan anak TK tapi aku sering sekali tertangkap sedang menangis seperti ini. Benar kata Dimas aku ini cengeng tukang nangis. Mau bagaimana lagi saat itu rasanya sangat kacau, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan kecuali menangis.
Kedua Bapak itu membawaku ke pos ronda memberiku segelas teh hangat dan melanjutkan mencari informasi tentang diriku.
“Ora dijahati uwong kan nduk?” artinya tidak diganggu orang jahat kan nak?
__ADS_1
“Cerita saja, mungkin bapak bisa bantu,” kata bapak yang satunya
“Mboten nopo-nopo pak, kulo mung nyasar pas badhe mantuk,” jawabku yang kurang lebih artinya tidak apa-apa pak, saya hanya tersesat saat mau pulang
“Yowes, omahmu ngendi? tak terke moleh,” bapak itu menanyakan rumahku dimana hendak mengantarkan aku pulang
“Matur suwon pak tapi mboten sisah, kulo mlampah mawon,” aku mencoba menolak karena sungkan dengan mengatakan mau jalan kaki saja
“Wis bengi, cah wedhok ra apik mlaku dewe, ora usah sungkan ben di terke bapak” Bapak itu meyakinkan aku untuk mau diantar pulang yang kurang lebih artinya adalah sudah malam anak perempuan tidak baik berjalan sendirian, tidak perlu sungkan biar diantar bapak.
Saat itu aku masih terlalu muda, tidak berfikir panjang hanya menuruti emosi sesaat. Beruntung aku bertemu dengan orang-orang baik, bagaimana jadinya jika saat itu aku bertemu dengan orang jahat? Aku berharap remaja jaman sekarang bisa lebih dewasa dalam bersikap, tidak labil seperti aku di masa itu.
-*-*_*-*-
Sesampainya di Kost aku melihat Kak Ana dan Kak Ajeng sedang mondar mandir berjalan di depan kos. Rupannya mereka tahu dari Dimas jika aku lari dari pensi sekolah.
“Eka, darimana saja kamu? Dimas bingung cari kamu!” taya Kak Ajeng
Aku tidak menjawab dan langsung berjalan masuk ke kamar diikuti dengan Kak Ana dan kak Ajeng yang masih terus bertanya.
“Ada apa si Ka? Kenapa kamu pergi begitu saja? Marahan sama Dimas?” tanya Kak Ana ingin tahu
“Ka, apapun masalahnya harusnya bisa diomongkan baik-baik bukan main kabur seperti ini, ini sudah kedua kalinya loh kamu main kabur begini, kami kan jadi khawatir Ka!” ucap Kak Ajeng menasehatiku
“Maaf Kak, tapi Eka sedang capek ingin istirahat,” jawabku ingin mengakhiri pertayaan mereka.
Ku dengar kak Ajeng menghembuskan nafas panjang lalu berkata
“Ya sudah kita omongkan lagi besok, sekarang kamu ganti baju bersihkan make up dan cuci kaki, baru tidur,”
__ADS_1
Aku mengabaikan begitu saja ucapan Kak Ajeng dan segera menutup seluruh tubuhku dengan selimut. Aku tidak bermaksud tidak sopan tetapi aku sangat lelah dan malam itu aku hanya ingin tidur, tidak tahu apa yang akan terjadi besok pagi tapi yang jelas aku ingin melupakan malam itu dan segera terlelap bersama gelap. Meskipun pada kenyataannya aku tidak bisa tidur memikirkan apa yang Abas pikirkan tentang aku.