RAHASIA Cinta SMA

RAHASIA Cinta SMA
First Moon


__ADS_3

Sebenarnya aku tidak ingin menceritakan hal ini karena aku rasa ini sedikit saru dan memalukan. Saru yang aku maksud disini adalah tidak pantas karena mengandung unsur tidak senonoh yang mungkin tidak bisa diterima oleh sebagian orang. Tapi aku harus menceritakannya untuk dapat mengambarkan pribadi Dimas secara utuh. Untuk itu sebelum memulai cerita ini aku ingin mengucapkan permohonan maaf apabila ada yang tidak berkenan dengan tutur bahasa dalam bab ini.


-*-*_*-*-


Saat itu sejak malam rasanya perutku seperti kembung dan begah, ada rasa seperti ingin buang hajat tapi berlama-lama di toilet tidak juga keluar. Aku berfikir mungkin masuk angin karena menunggu Dimas tadi malam. Hari itu aku ingin tidak masuk sekolah tapi karena minggu lalu guruku bilang akan memberikan kisi-kisi untuk ujian semester maka aku memaksakan diri untuk masuk sokolah.


Dua jam berlalu perutku semakin sakit terasa seperti diremas-remas dari dalam. Jam berikutnya Aura mengantarku izin ke UKS karena aku merasa sudah tidak sanggup menahan sakit. Dipertengahan jalan menuju UKS aku merasa antara seperti diare dan buang air kecil tapi terasa sangat nyeri di perut bagian bawah dan keluar begitu saja tanpa aku bisa mengontrolnya.


“Aura sepertinya aku harus ke kamar mandi dulu deh,” kataku kepada Aura yang berjalan disampingku


“Mules perut kamu?” tanya Aura memastikan


“Iya, diare kayaknya,” jawabku ragu


Setelah di dalam toilet aku menjerit histeris melihat celana dalamku yang penuh dengan darah dan gumpalan-gumpalan hitam. Aku teringat si Embah yang tiga tahun lalu meninggal karena penyakit kista. Ciri-ciri awalnya sama persis seperti yang aku alami saat itu, pendarahan hebat dan keluar gumpalan hitam yang semakin lama semakin banyak dan besar. Aku sangat ketakutan saat itu, aku berfikir aku akan meninggal seperti si Embah. Aku terus menjerit histeris.


“Eka kenapa?” Aura panik mendengar aku menjerit histeris


“Dimas, huhuhu panggilin Dimas Ra, cepet Ra huhuhu,” aku mulai menangis


“Kamu kenapa? Ada apa Ka?” Aura masih bertanya untuk memastikan, mungkin dia bingung harus mengatakan apa kepada Dimas


“Huhuhuhu pokoknya panggilin Dimas suruh telepon bunda, cepat huhuhu,”


“Yaudah sebentar, kamu tunggu disini ya?”


Aku menangis semakin kencang, di luar bilik toilet aku mendengar ada beberapa siswi sedang berbisik ketakutan mungkin mereka berfikir aku adalah hantu penunggu kamar mandi. Mereka berlari keluar kamar mandi dengan berteriak


“Hantuu, tolong hantuu.”


Tak berselang lama Dimas datang mengetuk bilik toiletku. Aku tidak tahu bagaimana dia berani masuk toilet putri.


“Eka, kamu kenapa?” tanya Dimas terdengar khawatir


“Dimaas, huhuhu telponin bunda huhuhu, aku berdarah seperti si Embah,” jawabku sambil menangis tanpa henti


“Iya aku telponin, kamu tenang dulu, rok kamu kena darah nggak?” tanya Dimas menenangkan aku


“Iya bagian belakangnya huhuhuhu,” jawabku tersedu-sedu

__ADS_1


“Kamu tunggu sebentar ya aku segera kembali!”


Tidak berselang lama dari Dimas pergi aku mendengar riuh kerumunan orang di luar toilet. Aku tidak tahu persis apa yang sedang terjadi tapi aku rasa itu ada hubungannya dengan aku. Samar aku mendengar seperti doa-doa dipanjatkan namu bukan dalam bahasa arab mungkin itu bahasa jawa kuno, entahlah aku tidak yakin mungkin itu sejenis mantra atau doa atau jampi - jampi, atau apapunlah namanya. Sampai akhirnya ada yang mengedor pintu bilik toilet entah oleh siapa tapi sepertinya oleh orang yg membacakan mantra itu.


Aku baru tau setelah keesokan harinya geng kriwul menceritakan ternyata orang itu adalah pak Sugeng guru sejarah. Aku tidak akan pernah melupakan guru yang satu itu, guru yang membuatku terkenal sebagai murid kesurupan di kamar mandi putri.


Setelah selesai membaca mantra pak Sugeng menyuruhku keluar bilik kamar mandi tapi aku tidak mau.


Brak brak brak


"Metuwo kowe roh alus!" terdengar pak Sugeng mengedor pintu sambil berteriak, kurang lebih artinya keluarlah kau wahai roh halus. Ada banyak monolog yang dibawakan oleh beliau saat itu tapi aku tidak terlalu mengingatnya.


Aku menyadari situasi diluar tidaklah bagus, aku segera membersihkan diri dan area sekitar bilik toilet itu sambil berharap Dimas akan segera datang menyelamatkan aku dari situasi ini. Aku mencoba menenangkan diri dengan berusaha berhenti menangis. Tidak lama kemudian terdengar klakson motor Dimas yang sangat khas. Klakson yang membuat aku bergegas keluar kost setiap pagi.


"Bubar, bubar, belajar woi belajar!" aku mendengar Dimas membubarkan kerumunan orang di luar


“Pak minggir pacar saya bukan kesurupan!” sepertinya dia juga mengusir pak Sugeng yang sedang menjampi-jampi aku


"Dimaaas huhuhu, anterin aku pulang huhuhuhu," aku menangis sejadi jadinya entah karena takut, sakit atau malu rasanya campur aduk dalam hatiku


"Eka, kamu dengar aku ya! sekarang kamu bersihkan diri dulu terus biarkan Aura sama Ayu masuk untuk membantu kamu, aku akan jaga pintu depan,” Dimas mencoba menjelaskan agar aku mau membuka pintu bilik toilet


“Iya aku antar pulang, tapi kamu nurut dulu,” kata Dimas membuatku lebih tenang dan berusaha menghentikan tangisku.


Abas benar Dimas itu pandai merangkul orang, aku yang tadinya panik seketika tenang dan mau menurut. Ku buka pintu bilik toilet dan Aura membantu aku melekatkan pembalut di celana dalam yang dibawa Dimas, itu adalah celana dalam pria mungkin milik Dimas. Sebenarnya aku ragu untuk memakainya tapi aku harus karena itu adalah jalan satu-satunya agar aku bisa segera pulang. Setelah selesai Aura melingkarkan jaket milik Dimas menutupi bagian belakang rok ku yang merah tembus oleh darah.


Aura membuka pintu depan kamar mandi, kulihat Dimas duduk di motor dan Abas berdiri di depannya, ada pula Pak Doni guru BP dan wali kelasku Pak Tri. Aku tidak tahu bagaimana caranya Dimas bisa membawa motornya masuk ke dalam sekolah apalagi sampai di depan kamar mandi putri. Jika melihat ada guru disitu mungkin dia sudah izin.


"Sudah?" tanya Dimas kepadaku, aku hanya mengangguk


"Ini tas nya Eka," Diah memberikan tas ku kepada Dimas


"Oke, terimakasih ya geng kriwul, ayo naik Ka aku antar kamu pulang," aku melihat ragu ke arah guru-guru berdiri


"Ayo cepat naik sebelum Pak Doni berubah fikiran," kata Dimas mengisyaratkan jika dia sudah memita izin guru BP


"Eka istirahat di rumah saja, nanti saya izinkan ke guru kelas" kata Pak Tri wali kelasku, aku hanya mengangguk dan segera naik ke motor Dimas


“Ingat lewat belakang ya Mas, Pak Min sudah saya suruh buka gerbang belakang," kata Pak Doni menginggatkan Dimas

__ADS_1


"Oyi, siap pak" Pak Doni adalah orang asli Malang Jawa Timur yang biasa membolak balik kata seperti oyi dari kata iyo yg artinya iya, umak dari kata kamu, nakam dari kata makan dan lain sebagainya.


Dimas mengendarai motornya dengan hati-hati melewati kelas 2 IPS I sampai dengan 2 IPS III lalu belok ke kantin dan keluar melalui pintu belakang.


Sesampainya di kos dia menyuruhku untuk istirahat, dan ganti pembalut yang dia berikan paling tidak lima jam sekali. Aku tidak menjumpai Kak Ana dan Kak Ajeng ada di kamar lalu aku berlari keluar, Dimas masih ada di depan. Dia memang selalu memastikan aku masuk terlebih dahulu baru meninggalkan tempat.


"Antar aku ke rumah sakit saja Mas!" teriak ku


"Loh kenapa?" tanya Dimas heran


"Aku takut seperti si Embah," aku mulai menangis lagi.


Dimas tersenyum lalu turun dari motornya dan mendekatiku. Dia mengenggam tanganku dan berkata dengan lembut.


"Eka cantik, kamu ini sedang menstruasi, satu minggu kedepan kamu akan berdarah seperti ini, dan akan berulang bulan-bulan berikutnya, aku sudah tanya Pak Tri tadi" Aku terdiam mencoba mencerna ucapan Dimas.


Menstruasi? mengapa tidak terpikirkan oleh ku akan hal itu? aku gadis yang hampir berusia 16 tahun dan sangat panik di hari pertama menstruasinya. Jika di ingat sekarang rasanya sangat memalukan, payah benar-benar payah.


Aku melihat Dimas mulai tertawa walaupun dia berusaha menahannya. Karena malu aku memukulnya ke segala arah dan dia menangkisku, diraihnya kembali tanganku dan digenggamnya erat.


“Sekarang kamu tenang, istirahat dulu, nanti sore bunda datang,” jawabnya menenangkan aku


“Tapi aku malu, apa kata teman-teman besok di sekolah?” aku tertuduk malu


“Hahaha ya pasti mereka tertawalah hahaha” Dimas tertawa lepas aku semakin malu dan kembali memukulnya


“Kamu jahat, ih berhenti gak tertawanya? Berhenti! Hiii Dimaas,” Aku salah tingkah dan mencoba menghentikan tawa Dimas


“Polos sekali sih pacarku ini, hahahaha” Dimas mencubit pipiku dan mengoyang-goyangkannya aku hanya pasrah.


Sebenarnya aku ingin menangkisnya waktu itu, aku tidak ingin terlihat seperti orang pacaran betulan.Tapi aku sendiri ingin tertawa, jadi kubiarkan saja.


“Sudah kembali ke sekolah sana, aku mau istirahat!” aku mengusir Dimas untuk menyembunyikan malu


“Ayo ke rumah sakit saja deh,” kata Dimas kemudian


“Kenapa? kamu lagi ngece aku ya?” tanyaku kesal


“Soalnya aku sedih kencan pertamaku gagal lagi, setidaknya aku bisa melihat pacarku lebih lama jika di rumah sakit,” jawab Dimas dengan senyuman iseng yang super nyebelin.

__ADS_1


“Bodo amat!” kataku dengan wajah kesal bercampur malu dan segera berlenggang pergi dari hadapan Dimas. Ku tutup pintu depan kostku dan ku tinggalkan Dimas mengoceh sendirian.


__ADS_2