RAHASIA Cinta SMA

RAHASIA Cinta SMA
Putus


__ADS_3

Seperti biasa Dimas menjemputku berangkat ke sekolah, pagi itu sedikit gerimis, Dimas memberikan jaketnya untuk ku agar aku tidak kehujanan. Jaket itu adalah jaket yang sama yang Dimas pinjamkan untuk menutupi noda darah di rok seragam ku waktu itu. Dua hari yang lalu aku baru saja mengembalikannya.


Hari itu adalah hari terakhir ujian semester genap. Kami berencana pulang tapi karena kami mendapatkan tiket kereta sore maka kami memutuskan untuk jalan-jalan dulu sepulang sekolah sebagai ganti kencan pertama kami yang dua kali gagal.


Aku melihat Dimas tampak sangat antusias dia bahkan berkata akan menyelesaikan ujian dalam waktu sepuluh menit agar bisa segera pergi kencan denganku.


Ujian terakhir hari itu adalah bahasa inggris, aku sangat ingat saat itu aku baru mengerjakan sekitar tujuh belas soal dari lima puluh soal tapi Dimas sudah selesai dan beberapa kali mengintipku dari cendela kelas. Aku lupa siapa yang menjaga ujian saat itu, tapi aku ingat Dimas di hukum berdiri satu kaki di depan kelasku karena menganggu jalannya ujian. Bukannya menyesal dia malah senang mendapatkan hukuman.


“Waktu telah habis, kumpulkan semua lembar jawaban kalian di meja saya sekarang! dan kamu hukumanmu sudah selesai, lain kali jangan menganggu temanmu yang sedang ujian, tidak semua orang pintar seperti kamu, mengerti?” Guru itu memarahi Dimas, sepertinya semua orang disekolah mengenal Dimas


“Siap mengerti, terimakasih hukumannya pak,” jawab Dimas membuat siswa yang lain tertawa


“Dihukum malah terimakasih,” dengan tumpukan lembar jawaban ujian guru itu memukul lengan Dimas, Dimas hanya nyengir kuda


Setelah pak guru meninggalkan kelas Dimas langsung duduk di bangku Jiwo yang berada dibarisan paling depan sepertinya kakinya capek, aku biarkan saja dia. Salah sendiri usil, sombong, sok paling pintar. Aku tidak mengerti mengapa aku harus mengkhawatirkan nilai Dimas, orang seperti Dimas meskipun mengerjakan sambil tidur juga tetap akan mendapat nilai sempurna.


Saat mengingat kembali masa itu baru terpikirkan olehku jika sepuluh menit mengerjakan lima puluh soal itu artinya dia hanya membutuhkan sekitar dua belas detik untuk menyelesaikan satu soal. Padahal dalam ujian bahasa inggris selalu ada soal reading yang harus super teliti. Rasanya dua belas detik untuk membaca soalnya saja tidak cukup bagiku, Dimas memang jenius!


“Capek mas? Hahaha,” goda Ayu


“Hehehe iya, kesemutan,” jawab Dimas polos


“Sok paling pintar sih!” kataku sambil melempar tas Dimas yang tergeletak di lantai, Dimas menangkapnya dengan sigap


“Kamu tidak ikut ujian? Cepet banget selesainya?” tanya Diah kepada Dimas


“Hahaha lembar jawabannya cuma aku isi nama, kelas dan nomor absen saja” jawab Dimas yang aku tahu dia berbohong. Mana mungkin seorang Dimas akan membiarkan lembar jawabannya kosong, itu mustahil.


“Hah beneran?” hampir saja Aura percaya


“Bohong lah, jangan percaya sama Dimas!” kataku membuat semua kesal pada Dimas, Dimas hanya tertawa usil


“Hehehe, eh ngomong-ngomong cewek itu kalau PMS berapa lama sih?” tanya Dimas kepada teman-teman yang mengerubunginya. PMS disini maksudnya dalah Premenstrual Syndrome yang dialami wanita menjelang menstruasi.


“Ih kenapa tanya itu?” tanya Aura geli


“Soalnya pacarku PMS nya lama, dua minggu setelah dan sebelum datang bulan, itu normal nggak sih?”


“Hahaha itu namanya pacar kamu galak!” jawab Diah sambil mendorongku

__ADS_1


“Udah ganti aja pacarnya ganti sama aku hahaha,” goda Ayu kepada Dimas


“Enggak ah, makin galak makin cantik soalnya hahaha,” ucap Dimas membuat semua bersorak


Dimas sangat menyebalkan, untuk apa dia berbicara seperti itu kepada teman-temanku? Hanya membuatku malu saja.


Aku segera berlenggang meninggalkan kelas, di koridor aku berpapasan dengan Abas, dia sempat melihat ke arahku namun seakan tidak menganggap aku ada dia berlalu begitu saja. Aku mendengar Dimas menyapa Abas dengan riang, aku menoleh ke belakang dan melihat mereka berpelukan tangan seolah Dimas memohon doa dan Abas memberikan semangat. Aku bertanya-tanya ada apa dengan Abas? mengapa dia begitu dingin kepadaku? Apakah aku membuat satu kesalahan? Ataukah dia cemburu mengetahui aku akan pergi kencan dengan Dimas? Pasti Dimas sudah bercerita kepadanya.


-*-*_*-*-


“Mau nonton apa?” tanya Dimas kepadaku


“Enggak ah, nanti ketinggalan kereta,” jawabku menghindar


“Makan yuk?”


“Enggak mau ah, beli minum saja aku haus,”


Pagi menjelang siang langit masih saja kelabu, gerimis sebentar pergi sebentar datang kembali, sepertinya musim hujan akan datang lebih cepat. Hari itu aku memesan jus alpukat sedangkan Dimas memesan kopi panas.


“Tumben kamu minum kopi?” tanyaku heran, tidak biasanya Dimas meminum kopi


“Tadi malam begadang mengerjakan proposal penelitian untuk kompetisi yang di Amerika itu,” jawab Dimas menjelaskan


“Kan proposalnya dalam bahasa inggris, ujiannya bahasa inggris jadi mengerjakan proposal sama saja belajar kan? Kalau kamu kenapa minum jus alpukat?” dia balik bertanya


“Ya karena pingin aja!” jawabku jutek dimas hanya tersenyum


“Jus alpukat bisa bikin cantik loh,” kata Dimas seolah sangat serius


“Memang iya?” tanyaku penasaran


“Iya, kalau diminumnya sambil tersenyum hehehe,” jawab Dimas mencoba mencari senyumku.


Aku sadar sejak tadi aku memang terus cemberut, aku tidak bermaksud seperti itu hanya saja aku masih kepikiran Abas yang tampak acuh padaku.


“Dimas kita putus!” kata putus tiba-tiba terlontar dari mulutku, aku tidak berniat mengatakannya tapi mengingat sikap Abas rasanya hatiku sangat ingin mengakhiri semua ini. Aku tidak tahan lagi dan semua terjadi begitu saja.


Perkataanku mengagetkan Dimas hingga membuat kopi yang tengah diminumnya tumpah mengenai bajunya, untung saja saat itu Dimas sudah melepas seragam sekolahnya dan hanya memakai kaos. Siswa jaman itu memang suka memakai kaos di dalam baju seragamnya.

__ADS_1


“Apa?” Dimas bertanya seolah memastikan jika dia tidak salah dengar


“Nggak usah pura-pura nggak dengar,” jawabku ketus, aku tidak bermaksud untuk kasar hanya saja aku merasa tertekan, rasanya aku tidak siap mengatakan kata putus. Sejujurnya setelah kejadian datang bulan itu aku merasa Abas benar, Dimas adalah orang yang akan menjaga ku lebih baik dari siapapun.


“Kenapa?” tanya Dimas sambil kembali meminum kopinya


“Pokoknya putus!” jawabku tegas


“Lagi PMS?”


“Enggak!”


“Malu karena aku dihukum di depan kelas tadi?”


“Bukan!”


“Marah, tersinggung aku bilang tentang jus alpukat tadi?”


“Apa sih? Bukan itu!” jawabku kesal, sepertinya Dimas menganggap ini sebagai gurauan


“Terus karena apa?” tanya Dimas mulai serius tampaknya dia menngerti jika aku tidak sedang becanda


“Aku ngak suka sama kamu,” jawabku sambil memalingkan muka


“Karena aku nyebelin?”


“Bukan!” jawabku singkat


“Ada orang lain?” aku kaget mendengar pertanyaan Dimas.


Saat itu aku hanya diam tidak menjawab pertanyannya. Kulihat Dimas menengadahkan kepalanya. Jari-jari dari kedua tangannya saling berpautan menopang kepala bagian belakangnya, ia memejamkan mata serta menghela nafas panjang. Dia diam beberapa saat, kemudian dia kembali memandangku dengan tatapan yang sangat serius. Aku bisa melihat dahinya berkerut dan satu alisnya terangkat. Aku belum pernah melihat Dimas seperti itu sebelumnya.


“Kepalaku pusing, kita pulang saja,” ajak Dimas kemudian, mungkin dia ingin menghindar dari situasi ini


“Tapi kita jadi putus kan?” tanyaku memastikan


“Kita bicarakan nanti,” Dimas bangkit dari tempat duduknya, dia berjalan meninggalkan aku di belakangnya.


Sejujurya dalam diriku mulai muncul perasaan takut jika Dimas akan marah dan pergi dari ku. Maksudku, aku memang tidak mau dengannya tapi Dimas adalah temanku, aku sudah terbiasa bersamanya, aku tidak bisa membayangkan jika harus tanpa dia.

__ADS_1


Di luar hujan cukup deras, Dimas memanggil becak yang parkir di depan gedung. Dia menyuruhku pulang lebih dulu. Saat itu aku tidak tahu pasti apa yang sedang aku rasakan, mungkin aku merasa bersalah atau takut kehilangan atau menyesal telah mengucapkan kata putus. Entahlah, aku hanya bisa bersandar pasrah dengan pandangan kosong.


Sesampainya di kost aku baru menyadari jika jaket Dimas masih aku pakai. Aku khawatir Dimas akan kedinginan, dia habis begadang dan kepalanya pusing, mungkin saja dia pulang kehujanan tanpa memakai jaket. Perasaanku semakin tidak karuan, aku terus melihat keluar cendela berharap hujan akan segera reda dan Dimas tidak kehujanan.


__ADS_2