
Sepulang sekolah geng kriwul berkumpu di rumah Aura. Jika tidak salah saat itu kami sedang membahas akan liburan bersama setelah selesai Ujian Kelulusan. Kami berencana menginap di villa keluarga Aura lalu pergi ke air terjun di dekat sana. Aura berencana akan menyatakan perasaannya kepada Abas di air terjun itu. Aku ingin merasa senang melihat temanku senang namun apa daya hati tidak bisa berbohong.
“Selain kita berempat aku ingin mengajak Abas, Dimas dan Rendi untuk ikut, kalian tidak keberatan kan?” tanya Aura kepada kami.
“Aku setuju hehe,” jawab Ayu sambil tersenyum malu.
“Tentu saja kamu setuju ada Rendi!” ucap Diah sewot.
“Aura dengan Abas, Eka dengan Dimas, lalu aku dengan siapa? Aah kalian curang!” Diah terus merengek membuat Ayu dan Aura tertawa.
“Aku ingin menyatakan perasaanku kepada Abas di bawah air terjun hehe,” kata Aura malu-malu. Ayu dan Diah berseru kegirangan mendukung rencana Aura.
“Jaman sekarang nggak harus cowok yang nembak duluan, emansipasi wanita, aku mendukungmu Ra!” ucap Diah penuh semangat.
“Tapi aku masih bingung konsepnya, nggak mungkin kan aku kasih bunga, coklat atau boneka?” tanya Aura kepada kami.
“Iya juga ya?” jawab Diah yang tampak ikut memikirkan ide untuk Aura.
“Bagaimana jika pakai musik? Hehe seperti Rendi waktu itu,” Ayu memberikan usul dan sepertinya Aura menyukainya.
“Boleh sih tapi aku tidak bisa menciptakan lagu seperti Rendi,” jawab Aura sambil mengerutkan dahi.
“Pakai lagu orang saja, yang penting kamu yang nyanyi,” jawab Ayu.
“Betul juga! Eka tahu lagu favorit Abas? tolong tanyakan Dimas dong Ka,” pinta Aura kepadaku.
“Kenapa tidak tanya langsung ke Abas?” jawabku menghindar, aku merasa tidak ingin terlibat dalam rencana itu.
“Aku ingin kasih kejutan, sekalian kamu tanyakan ke Dimas benda apa yang paling di inginkan Abas saat ini, aku ingin memberinya kado hehehe,” ucap Aura membuatku sangat kesal, hati kecilku menolak untuk tetap berada disitu dan mendengarkan segala rencana yang menyakiti hatiku. Tapi aku hanya bisa menyanggupi permintaan Aura dan bertahan dalam kerapuhan.
-*-*_*-*-
“Ka, tolong aku PDKT sama Abas dong?” pinta Aura kepadaku disuatu siang saat istirahat sekolah. Saat itu aku sedang berdua saja dengan Aura entah yang lainnya dimana.
__ADS_1
“Bukannya kamu sudah dekat?” tanyaku sedikit jutek.
“Aku ingin nonton bersama ada film bagus minggu ini, kamu ajak Dimas dan suruh Dimas ajak Abas, hhmmm kita seperti double date gitu, seru kan? Tolong ya Ka please, aku yang traktir deh tiketnya,” Aura terus membujukku.
“Ogah ah, aku mau pulang minggu ini,” aku mencoba untuk menolak permintaan Aura.
“Yaah Eka comblangin Elsa aja mau masak comblangin teman sendiri nggak mau? Ayo lah Ka demi persahabatan kita,” Aura terus merengek hingga akhirnya aku tidak bisa menolak permintaannya.
Saat itu aku sungguh kesal kepada diriku sendiri yang tidak mampu mengungkapkan keinginannya. Aku sudah berkorban untuk merelakan Abas demi Aura tapi sepertinya pengorbananku itu terasa semakin berat setiap saat Aura memintaku membantu dia mendekati Abas. Aku sangat ingin menolak dan mengatakan semua isi hatiku pada Aura namun aku tidak sampai hati untuk melakukannya. Pada akhirnya aku selalu menuruti kemauan Aura.
-*-*_*-*-
Sebenarnya saat itu Dimas masih kesal padaku karena kejadian Elsa waktu itu. Aku merasa bersalah sudah memaksanya lalu aku mengajaknya pulang sekolah bersama. Kami mampir di warung Bu Ida untuk membeli es bubur kacang hijau, sejak kelas tiga rasanya kami sangat jarang mampir kesana.
“Mas, Sabtu besok nonton yuk?” aku mencoba mengajak Dimas.
“Berdua saja?” tanya Dimas seolah tidak percaya aku mengajaknya nonton.
“Hhmm ajak Abas deh hehehe,” ucapku dengan sedikit nyengir karena merasa tidak enak kepada Dimas “Aura ingin pergi degan Abas, semacam double date gitu” ucapku kemudian sambil menyantap sesuap borju.
“Iya semacam itu lah,” jawabku seadanya.
“Jadi kita pacaran lagi nih?” tanya Dimas sambil tersenyum, rasanya sudah lama tidak melihat dia tersenyum kepadaku.
“Bukan begitu, cuma dulu kan kamu janji mau ajak aku nonton tapi nggak jadi sampai sekarang,” aku mencoba mengungkit masalalu aku berharap Dimas akan merasa bersalah dan mau menerima ajakanku.
“Siapa suruh minta putus?” taya Dimas dengan wajah yang sudah kembali normal alias iseng, aku kesal dengan sikap iseng Dimas tapi aku seperti terus mencarinya dan ingin dia selalu seperti itu.
“Janji kan tetap janji, aku masih simpan loh surat kamu waktu itu!” ancamku kepada Dimas yang membuat Dimas tertawa terbahak-bahak.
“Hahaha, dengar nggak Bu Ida? Saya diancam Bu, ini KDRT bukan?” tanya Dimas kepada Bu Ida yang juga ikut tertawa.
“Eh tapi bener itu janji adalah janji mesti di tepati! Janji itu ibarat hutang, di bawa sampai mati, iyakan Mbak Eka?” ucap Bu Ida mendukungku aku hanya tertawa dan mengangguk-anggukkan kepala.
__ADS_1
“Alamak kesalahan mengadu masalah wanita ke wanita, jadi ditawur kan? Wanita memang selalu benar! Hahaha,” Seru Dimas sambil tertawa
“Jadi? Mau kan?” tanyaku memastikan
“Ya sudah nanti aku ajak Abas, tapi kenapa sih kamu jadi suka comblang-comblangin orang? Kan belum tentu orangnya suka? Aku masih kesal loh kamu comblangin sama Elsa, sudah tahu aku maunya sama kamu malah di comblangin ke orang lain, kamu nggak mikirin perasaan aku apa?” tanya Dimas dengan wajah kesal.
“Maaf, awalnya aku terpaksa tapi lama-lama aku kasihan sama dia,” jawabku memelas.
“Terpaksa bagaimana?” tanya Dimas ingin tahu.
“Aku cerita tapi kamu jangan marah ya? Masalahnya sudah selesai,”
“Iya, Kenapa?”
“Janji?” tanyaku memastikan agar Dimas benar-benar tidak marah.
“Iya janji, buruan cerita!” jawab Dimas sudah tidak sabar
“Malam itu tiba-tiba Elsa menyerangku di taman kota,” aku baru saja memulai cerita Dimas sudah memotong pembicaraanku.
“Menyerang gimana maksudnya?” kata Dimas dengan nada emosi.
“Tuh kan marah, nggak jadi deh,” tuturku kesal sambil mengambil satu suap borju.
“Iya, iya lanjutkan deh,” ucap Dimas ingin tahu kelanjutannya.
“Dia menyiram kepalaku dengan minuman dingin, waktu itu ada Kak Ana dan Kak Ajeng yang membelaku. Besoknya di sekolah aku ditemani Ayu mencarinya bermaksud menyelesaikan masalah, aku tidak ingin punya musuh, lalu aku jelaskan jika aku dan kamu itu hanya teman sejak kecil, terus dia minta bukti dengan aku membantunya PDKT sama kamu, ya sudah aku iyakan saja, mangkanya waktu itu aku pertemukan kalian di taman kota, tapi setelah malam itu aku malah kasihan sama dia, dia seperti cari perhatian karena suka banget sama kamu, dia tidak benar-benar jahat mangkanya aku bantu dia sekali lagi waktu dikantin itu,” Aku bercerita panjang lebar dan Dimas hanya diam menatap aku seperti ada banyak hal yang tidak bisa dia ungkapkan lalu dia meminta maaf.
“Maaf,” ucap Dimas membuatku bingung. Dia bukanlah orang yang mudah meminta maaf terutama jika memang dia tidak bersalah.
“Kenapa minta maaf? Kamu tidak salah, justru aku yang seharusnnya meminta maaf, seharusnya aku memikirkan perasaanmu lebih dulu sebelum bertindak,”
“Seharusnya aku melindungi kamu bukan malah membahayakan kamu, aku memang tidak pantas jadi pacarmu,” ucap Dimas seperti benar-benar merasa bersalah.
__ADS_1
Aku jadi merasa tidak enak maksudku Dimas sudah menjagaku dengan sangat baik selama ini tapi aku malah membuatnya merasa buruk. Aku mencoba menjelaskan jika itu bukan kesalahannya tapi sepertinya dia sudah tidak mendengarkan aku lagi dan terlarut dalam perasaan bersalah.
-*-*_*-*-