RAHASIA Cinta SMA

RAHASIA Cinta SMA
Perjumpaan


__ADS_3

Malam telah mengambil alih. Bulan dan bintang tidak tampak ditempatnya, seolah mereka juga sedang berduka. Mengenang Abah yang baik dan penuh perhatian kepada kampung ini. Beliau mewakafkan tanahnya untuk dibangun sebuah masjid tempat warga berkumpul untuk sholat dan anak-anak belajar mengaji.


Hari itu sengaja kami sekeluarga datang lebih awal untuk membantu keluarga Dimas mempersiapkan acara haul Abah.


"Eka? makin cantik ya? apa kabar Nak?" sapa Mama Dimas


"Alhamdulillah baik Tante"


"Sekarang tinggal dimana?"


"Eka kerja di Depok, saya dengar Tante sekeluarga juga pindah ke Jakarta ya?"


"Iya, kembali ke rumah lama, disana banyak sejarahnya Om sama Tante Eka, Alhamdulillah berkat Dimas sekarang kami bisa kembali lagi kesana, nanti kalau sudah di Depok mampir ya?" ucap Mama Dimas membuat aku semakin kagum dengan Dimas


"Insyaallah," jawabku sambil tersenyum


Karena semua masakan telah di pesan jadi kami tidak terlalu repot, hanya perlu memasukkan berkatan ke dalam tas yang sudah disediakan. Namun jumlah berkat yang disediakan cukup banyak, karena mereka berencana membagikan ke seluruh warga di desa kami.


Selesai acara aku dan Dwi lanjut membantu Dimas membagikan berkatan ke warga yang tidak datang.


"Ini pasti kamu yang punya ide bagi berkatan ke semua warga?" tanyaku


"Hahaha kok tau?"


"Siapa lagi yang nyleneh kalau bukan kamu? masak anak bayi juga di hitung? memangnya mereka makan kambing guling?" tanyaku heran


"Kan bisa disimpan buat besok, buat sarapan Bapaknya," jawab Dimas santai


"Iya sih, tapi menurutku lebih manfaat kalau dibagi mentahan saja, masakan matengnya cukup yang bapak-bapak tahlilan aja,"


"Mentahan uang maksudnya?"


"Bukan, sembako, kayak beras, gula, minyak,"


"Bagus juga itu sarannya, nantilah kalau kita menikah bisa diterapkan," ucap Dimas sambil tersenyum usil


"Becandanya begitu teruus!" aku memukul punggung Dimas


"Aku cuma pingin semua orang disini ikut merayakan haul Abah, karena Abah suka sekali kambing guling jadi aku pikir Abah akan senang jika semua orang makan apa yang jadi kesukaannya, termasuk para bayi hahaha,"


Aku tahu Dimas pasti punya alasannya sendiri. Dimas yang aku kenal memang aneh, suka hal-hal yang nggak lazim, tapi dia selalu punya dasar yang kuat untuk melakukannya. Meskipun tidak jarang dibalut dengan candaan yang bikin orang geregetan.


-*-*_*-*-


Keesokan harinya Dimas datang menjemputku untuk pergi ke rumah sakit menjenguk Ibu Abas. Kami mampir ke toko buah untuk membelikan buah tangan. Aku hendak membeli parsel buah tapi kata Dimas jangan. Dia malah membeli 10kg buah anggur. Katanya ibu Abas suka anggur.


"Ya tapi nggak 10kg juga kali Mas, siapa yang makan segitu banyak?" tanyaku


"Kali aja Abas habis ketemu kamu jadi galau biar dia mabuk anggur hahahaha," ucap Dimas usil


Dia itu super duper nyebelin, masak sama temannya sendiri begitu? Aaah tapi kalau nggak begitu ya bukan Dimas, pikirku.


Sesampainya di rumah sakit kami hanya bertemu Istri dan Ibu Abas karena Abas masih mengurus pekerjaannya.


"Mas Abas masih keluar nyari wifi katanya ada urusan pekerjaan,"


"Oh, biar saya telfon saja," ucap Dimas sembari keluar meninggalkan kamar inap Ibu Abas


"Saya Eka teman SMA Abas," aku memperkenalkan diri


"Iya saya tahu, Mas Abas banyak cerita tentang Mbak Eka,"


Aku tidak tahu harus menjawab apa, aku juga tidak tahu Abas bercerita seperti apa.


"Yang tadi itu Dimas," ucapku menyambung pembicaraan agar tidak terkesan kaku

__ADS_1


"Iya saya juga tahu, Mas Dimas datang ke pernikahan kami,"


"Oh iya mereka sahabat karib hehehe,"


"Mbak Eka sekarang sudah menikah?" tanya Istri Abas membuatku takut salah bicara


"Belum, mohon do'anya saja semoga segera,"


"Amiin, sama Mas Dimas?" entah apa yang diceritakan Abas tentang aku sehingga pertanyaan itu muncul dari bibir Istrinya


"Oh bukan, kami hanya teman,"


"Tapi kata Mas Abas kalau bukan untuk Mas Dimas mungkin Mas Abas tidak akan melepaskan Mbak Eka,"


Lagi-lagi aku tidak tahu apa yang sudah diceritakan Abas, tapi jika sejauh itu mungkin sudah semuanya.


"Aah itukan cerita masa SMA, jodoh tidak ada yang tahu, tapi saya senang Abas mendapat istri yang cantik seperti Mbak," pungkasku untuk mengakhiri pembicaraan terkait rahasia cinta SMA ku


"Saya Shofia,"


"Ah iya, salam kenal," sedaritadi berbincang aku belum berkenalan dengannya


"Kondisi ibu bagaimana?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.


Bukan maksud tidak ingin membahas masalah itu, nyatanya aku datang memang untuk menyelesaikan masalah rahasia cinta SMA itu tapi sepertinya tidak tepat jika aku bicara dengan istri Abas. Aku takut kalau-kalau aku bercerita berbeda versi dengan Abas.


"Kemarin baru disedot cairan di paru-parunya, ini masih menunggu hasilnya,"


Dimas kembali memasuki ruang rawat inap


"Abas sudah di jalan," ucap Dimas


"Kemarin juga bilang kalau Mas Dimas mau kesini, sudah ditunggu sejak pagi," ucap Shofia


"Mas Dimas kabarnya mau menetap disini apa betul?" tanya Shofia


"Cerita banyak ya Abas?"


"Iya, Mas Abas kalau sudah cerita tentang Mas Dimas saya suka cemburu," jawaban Shofia membuatku tertawa


"Apa kamu ketawa? jangan-jangan dulu kamu juga suka cemburu sama aku ya?"


"Apa sih kamu ini?" Aku merasa sungkan kepada Shofia


"Wah wah wah seru nih kayaknya!" rupanya Abas sudah datang


"Waduuuh lama tak jumpa makin makmur kau rupanya, masakan Shofia pasti enak nih sampe jadi begini suaminya?" goda Dimas yang melihat tubuh Abas berubah menjadi gendut


"Mangkanya cepat menikah, apapun makanannya kalau dimakan berdua jadi nikmat rasanya," balas Abas tidak mau kalah


"Cobalah kau makan ini, habiskan dengan istrimu siapa tahu kali ini jadi cewek," goda Dimas sambil memberikan 10kg buah anggur yang tadi ia beli


Semua tertawa hingga membuat Ibu Abas terbangun dari istirahatnya.


"Nak Dimas ya?" tanya Ibu Abas


"Eh iya bu, maaf saya berisik sampai membangunkan ibu," ucap Dimas sambil mendekat ke tempat Ibu Abas berbaring dan memijat lembut kakinya


"Ibu malah senang ramai, ini istrinya?" ucap ibu Abas sambil melihatku


"Insyaallah bu, mohon do'anya," ucap Dimas usil yang ku sambut dengan kepalan tangan di punggungnya


Siang itu berkat Dimas kami bercengkrama dengan lugas tanpa ada rasa canggung. Itulah kenapa aku sangat bersyukur menjadi teman Dimas.


Setelah cukup lama kami saling bicara Aku dan Dimas berpamitan. Abas pun mengantar kami keluar. Dimas berjalan lebih dulu karena ingin memberikan kesempatan aku bicara dengan Abas.

__ADS_1


"Saya minta maaf ya Bas, meskipun sangat terlambat tapi saya tidak akan tenang jika tidak menyampaikannya," ucapku mengawali pembicaraan


"Saya juga, sangat disesalkan berakhir seperti itu, tapi jika bicara hikmah, berkat semua itu saya mendapat istri yang sabar dan pengertian," Abas bicara sambil tersenyum


"Iya, saya sempat kaget istri kamu tahu semuanya, kamu beruntung Bas,"


"Alhamdulillah,"


Sedang bicara dengan Abas tiba-tiba seseorang memanggil


"Dek Eka!"


"Loh Mas Adi? kok disini?"


"Lagi dinas, Dek Eka sendiri?"


Aku hampir lupa jika Adi adalah dokter di rumah sakit itu.


"Oh lagi besuk ibu teman saya ini," ucapku sambil melihat ke arah Abas


"Sudah selesai atau baru datang?"


"Sudah selesai ini mau pulang," jawabku


"Makan siang dulu yuk?" ajak Adi membuatku kelabakan, entah mengapa aku takut jika Dimas sampai tahu tentang dia


"Saya bareng teman nih Mas, lain kali saja gimana?"


"Ngak papa sekalian saya pingin kenal juga sama teman Dik Eka,"


"Bas gimana?"


"Loh ya terserah kamu, tapi maaf ya dok, saya nggak bisa ikutan, harus kembali ke kamar ibu saya," tolak Abas


"Teman saya yang satunya tadi sudah jalan duluan ambil mobil,sekarang pasti sudah nungguin, hhmmm lain kali saja ya Mas Adi?" aku masih mencoba menolak


"Hhmmm ya sudah tapi saya antar Dik Eka sampai depan ya?"


Abas kembali ke kamar ibu nya dan aku berjalan bersama Adi sampai di Lobby depan. Ku lihat Dimas berjalan menuju tempat kami berdiri. Aku menyiapkan berbagai macam jawaban atas kemungkinan pertanyaan yang akan dilontarkan Dimas.


"Siapa Ka?" tanya Dimas


"Ahh ini..." belum selesai aku menjawab Adi sudah memotong pembicaraanku


"Adi, calon suami Eka,"


"Benar Ka?" tanya Dimas tegas


"Dia anak...." kini giliran Dimas yang memotong pembicaraanku


"Benar atau tidak?"


Aku diam dalam waktu yang cukup lama, hingga Dimas kembali bertanya dengan intonasi sedikit lembut.


"Benar dia calon suamimu?"


"Benar," jawabku tertunduk


"Mau pulang sama dia?" tanya Dimas membuatku melihat bergantian ke arah Dimas dan Adi


"Tidak, saya masih dinas," ucap Adi membuatku lega


"Kalau begitu Ayo!"


Tanpa salam tanpa pamit Dimas langsung pergi menuju mobil yang sudah di parkir lebih dekat dengan lobby

__ADS_1


__ADS_2