RAHASIA Cinta SMA

RAHASIA Cinta SMA
Pertemuan Pertama


__ADS_3

Sore itu seperti biasa aku janjian dengan Dimas untuk lari sore di alun-alun. Dimas itu selain otaknya encer ototnya juga keras, sepertinya aku sudah cerita jika dia atlet lari semasa SMP. Pada saat SMA dia ikut ekskul basket. Dengan wajah ganteng dan postur tubuh yang atletis banyak wanita yang menjerit dibuatnya setiap saat dia bertanding di lapangan. Dimas memang punya banyak fans, ku akui memang dia pantas untuk dikagumi.


Kembali ke sore itu, aku sudah cukup lama lari sendiri, tidak biasanya Dimas terlambat. Lelah berlari aku istirahat meluruskan kaki sambil sekedar membasahi tenggorokan, tiba-tiba ada yang mendorongku dari belakang hingga aku hampir terjungkal namun dia kembali menarikku kebelakang membuatku kaget setengah mati.


“Untung tak tulungi” Ucap Dimas yang artinya untung aku selamatkan. Dimas membuatku tersedak oleh air yang sedang aku minum. Becandanya kadang memang kelewatan.


Dia tertawa iseng seperti biasa sambil menepuk-nepuk punggungku dan meminta maaf. Tapi aku kesal dan engan memaafkannya, ku lihat di belakangnya ada seorang laki-laki berjalan mengikutinya.


Dia imut wajahnya seperti bayi, kulitnya putih bening dan bibirnya merah delima, senyumnya juga manis, jika diperhatikan betul bulu matanya panjang dan lentik, matanya bulat dan berwarna coklat, rambutnya sedikit bergelombang dia lebih cocok disebut cantik daripada ganteng.


Sebenarnya aku sudah sering melihatnya bersama Dimas, mereka hampir selalu bersama. Saat aku menangis di kost Dimas waktu itu sepertinya aku juga melihatnya diantara teman-teman kost Dimas yang lain. Sejujurnya sudah lama aku ingin berkenalan dengannya namun aku malu.


Sore itu entah karena selesai berlari, kaget oleh candaan Dimas atau memang sedang kejatuhan cinta, jantungku rasanya berdetak sangat keras hingga telingaku sangat jelas mendengar debarannya. Tubuhku juga terasa sangat panas. Dan disinilah ceritaku dimulai.


“Kenalin nih Ka, Abas teman tidurku hahaha,”


Mungkin karena aku terus memandangi temannya lantas Dimas berdiri memperkenalkan Abas padaku sambil tertawa lebar. Tawa khas Dimas yang iseng dan menyebalkan. Aku hanya tersenyum kecil kepada pria imut dihadapanku dan dia membalas senyumanku sambil mendorong bahu Dimas, dia tampak malu. Aah dia sangat imut bersikap malu-malu begitu.


Jika kalian tahu senyum Abas itu sangat manis seperti senyuman bayi yang bisa membuat setiap orang yang memandangnya ikut tersenyum. Jika kalian mengenalnya, mungkin kalian akan paham mengapa aku bisa jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Abas. Aku tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata. Pokoknya senyumnya itu menyejukkan jiwa.


“Jadi kamu toh yang namanya Eka?” Tanya Abas yang sepertinya sudah tau banyak tentang aku. Pasti Dimas si mulut besar suka bergosip tentang aku pikirku.


“Cerita apa saja Dimas tentang saya?”


Aku bertanya untuk memastikan jika Dimas tidak bercerita hal buruk tentang aku tapi entah mengapa cara berbicaraku menjadi aneh. Rasanya lidah ini kaku dan irama detak jantung yang semakin ugal-ugalan membuatku menjadi salah tingkah, takut jika Abas akan bisa mendengarnya.

__ADS_1


“Tentang yang baik-baik saja kok hehehe, temani Abas pemanasan ya Ka, aku mau lari dulu” jawab Dimas sambil mengencangkan tali sepatunya


“Lah kamu nggak pemanasan dulu?” tanyaku kepada Dimas yang sudah bersiap untuk lari. Mungkin dia sudah pemanasan sebelum berangkat menuju alun-alun.


“Enggak usah, lihat kamu udah panas banget hahaha,”


Dimas tertawa sambil mengambil langkah pertamanya memulai lari. Begitulah Dimas yang kalau ngomong suka seenaknya. Jika baru kenal mungkin bisa saja orang akan tersinggung atau salah paham. Tapi aku sudah terbiasa dengan sikapnya yang seperti itu.


“Cerita apa saja Dimas tentang saya?” aku mengulangi pertanyaanku yang belum sempat dijawab oleh Abas.


“Banyak banget, udah kayak dongeng sebelum tidur,” jawab Abas sambil memulai peregangan pada leher dan lengannya


“Serius! Cerita apa saja dia?” tanyaku ingin tahu


“Katanya kamu punya sayap,”


“Iya, katanya kamu bisa terbang, katanya kamu pernah terbang ke bulan terus katanya kalau bulan purnama kamu bisa berubah,” Abas tertawa kecil


"Memangnya saya unicorn?"


"Aah iya unicorn, kenapa aku kepikirannya srigala ya? kan srigala tidak bersayap tapi berbulu domba hahaha"


"Hahaha iya, lalu apa lagi yang dia ceritakan tentang saya?" Aku mulai menikmati obrolan kami. Abas anak yang seru, dia ramah dan suka bercanda persis seperti Dimas. Bedanya candaan Dimas suka terasa nyebelin sedangkan candaan Abas rasanya menyenangkan juga mendebarkan. Mungkin karena aku menyukainya.


"Apa lagi ya? oh iya katanya kamu kalau kentut wangi,"

__ADS_1


“Apa? Terus kamu percaya?”


“Tentu saja tidak, hhmmmm tapi katanya kamu suka ngompol, itu benar?”


"Dimas bilang begitu? Enak saja! Fitnah itu!” jawabku kesal tapi bibirku masih mengembangkan senyum


“Hahahaha kemarin Dimas ngompol,” jawab Abas sambil tertawa memegang perutnya


“Hah ngompol? Dimas? yang benar?” tanyaku heran tidak percaya sambil sedikit menahan tawa.


“He’em, mimpi kamu katanya,” kali ini Abas yang menahan tawa sedangkan aku yang saat itu belum mengerti arti pembicaraan Abas, malah ikut tertawa.


“Hahaha kacau Dimas itu, masak udah SMA masih ngompol? apa kata para fans-nya kalau tau? hahaha, terus cerita apalagi dia?” tanyaku penasaran


“hhmmmm, kamu cantik,” jawab Abas dengan senyum yang manis sambil berlari mundur meninggalkan aku, dia mulai menyusul Dimas yang sudah lari terlebih dulu.


Entah mengapa jantungku rasanya berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Aku yakin kata kamu cantik diucapkaannya menirukan ucapan iseng Dimas, yaah Dimas memang sering kali bilang seperti itu. Tapi terasa begitu manis saat Abas yang mengucapkannya. Rasanya aku seperti terbang, kakiku seolah tidak menyentuh tanah. Aku tidak pernah menyangka jika dibilang cantik oleh seseorang akan sebrutal ini sensasinya.


Aaah sore itu sangat sempurna, angin yg lembut, senja yang cantik dan pria yang imut. Aku tidak mau pulang rasanya. Ingin ku hentikan waktu agar kami bisa berbincang lebih lama.


Celakanya perbincangan singkat dengan Abas sore itu mampu membuatku senyum-senyum sendiri hingga malam hampir berakhir. Setiap kali aku memejamkan mata senyumnya tampak jelas melayang difikiranku. "Kamu cantik," kata-kata itu juga masih bergema ditelingaku. Resah tidak bisa tidur aku mengambil buku dan pensil. Mulai ku gambar wajah yang terus muncul difikiranku itu.


Begitulah awal mula perkenalanku dengan Abas teman Dimas yang rupawan. Si pembuat gaduh jantungku yang mewarnai kehidupan SMA ku. Abas yang menjadi rahasiaku, yang kisahnya ku simpan untukku sendiri.


Sejujurnya aku masih memikirkannya. Aku penasaran bagaimana kabarnya, tapi aku memilih untuk mengabaikan rasa ingin tahuku. Aku belum siap untuk sekedar merindukannya. Hingga akhirnya aku bertemu Dimas dan kembali mengenang semua tentangnya.

__ADS_1


Hai kamu, apa kabar?


__ADS_2