
Denting alarm membangunkanku, rasanya sangat malas untuk beranjak dari tempat tidur tapi seperti biasa Kak Ajeng sudah membangunkan aku dan Kak Ana untuk sholat subuh. Mataku bengkak oleh tangisan semalam, untungnya hari ini adalah hari minggu aku bisa melanjutkan tidur sambil mengompres mata agar lebih segar. Seusai sholat subuh Kak Ana memberikan sepucuk surat padaku.
“Ka, kemarin Dimas kesini lagi, aku pikir kamu sedang tidak ingin diganggu, jadi aku bilang kamu sudah tidur,” kata Kak Ana kepadaku
“Iya kak terimakasih,” jawabku lemas
“Katanya dia mau ke Jakarta terus nitip ini buat kamu,”
Aku menerima surat itu tapi tidak kubaca hanya ku letakkan di bawah bantal. Sepanjang hari aku hanya tidur bermalas-malasan, Kak Ajeng dan Kak Ana pergi ke warnet untuk mencari bahan tugas kuliah. Jaman itu belum banyak wifi apalagi paket internet seperti sekarang yang setiap orang bisa mengakses internet dari android atau smart phone miliknya.
Saat sore menjelang aku merapikan tempat tidur, kuambil surat dari Dimas yang tadi ku letakkan di bawah bantal. Aku hanya memandangnya berfikir untuk membuangnya atau mengembalikannya. Seakan sudah tahu apa isinya aku tidak ingin membacanya atau lebih tepatnya apapun isinya aku tidak mau tahu, aku hanya ingin mengakhiri kesalah pahaman ini.
“Surat itu ditulis untuk dibaca bukan cuma dipandangi saja” kata Kak Ana
Aku tidak ingin menanggapi komentar Kak Ana, ku remas surat itu dan ku buang di tempat sampah pojok kamar. Kak Ana dan Kak Ajeng saling pandang, aku kembali berbaring ditempat tidur. Rupanya Kak Ana mengambil surat itu dan membacanya
“Kalian pacaran?” Kak Ana menyerahkan surat itu kepada Kak Ajeng
“Kapan kalian jadian? Kok nggak cerita ke kita?” tanya Kak Ajeng ingin tahu
“Sudah ah kak aku nggak pingin bahas itu” ucapku kesal
“Duh aku makin jatuh cinta nih sama Dimas, udah ganteng, pinter, baik, sabar pula ngadepin cewek kayak kamu Ka” kata Kak Ana kesal
“Ana katanya mau latihan wall climbing? Buruan pergi sana!” Kak Ajeng mencoba menghentikan Kak Ana
“Mau kamu apa sih Ka? Perasaan Dimas itu salah terus sama kamu,”
“Ana!” Kak Ajeng mulai meninggikan suaranya
“Kalau kamu nggak suka sama dia bilang nggak suka, kalau suka jangan kayak gini, kasihan Dimas digantungin terus sama kamu!” ucapan kak Ana membuatku kesal
“Kayak Kak Ana yang paling bener aja, itu cowok-cowok yang suka antar jemput Kak Ana juga nggak ada yang di terima kan? Nggak segampang itu Kak suka sama cowok!” jawabku dengan penuh emosi
“Sudah-sudah! kok kalian malah berantem sih?” Kak Ajeng berusaha menghentikan perdebatan antara aku dan kak Ana
“Ah sudahlah aku pergi dulu kak, Kak Ajeng urus itu adik kesayangan Kakak” kata Kak Ana sebelum meninggalkan kamar
Aku tidak bermaksud kasar kepada Kak Ana tapi saat itu aku sedang tidak ingin disalahkan dan emosiku masih labil. Jika aku melihat dari sudut pandangku saat ini sebenarnya aku merasa apa yang dikatakan Kak Ana saat itu ada benarnya. Maksudku Dimas tidak sepenuhnya salah, justru sikap ku yang tidak adil bagi Dimas. Dimas menyukaiku, semua orang kecuali aku menyadari hal itu. Malam itu dia juga sudah menyatakan perasaannya, hanya saja aku yang sedang kasmaran dengan Abas tidak dapat menangkap pesan dari Dimas malah mengartikannya lain. Bukan salah Dimas jika dia menganggap aku membalas perasaannya karena memang sikapku yang seolah menerima dia. Aku yang tidak pernah mengatakan jika aku menyukai Abas, bukan Dimas.
__ADS_1
“Eka, kamu tau kan sikap kamu itu salah?” tanya kak Ajeng mengingatkan
“Maaf Kak” jawabku lemas
“Nanti kamu minta maaf sama Ana dan coba kamu baca surat dari Dimas” kak Ajeng memberikan surat dari Dimas
Teruntuk Pacarku yang sedang marah,
Bersama ini aku yang bertanda tangan dibawah ini bermaksud untuk mencintaimu selama-lamanya, aku akan bertahan meskipun kamu galak untuk selama-lamanya.
Nama Lengkap : Dimas Nuzulazmi milik Krasiva Eka Putri
Tempat Tanggal Lahir : Bumi, lima bulan sebelum jodohnya lahir
Alamat Tinggal : Kontrak di Hati Krasiva Eka Putri
Demikian surat ini dibuat untuk dipergunakan sebagai obat penawar rindu selama aku di Jakarta
TTD
Dimas Nuzulazmi
-*-*_*-*-
Lagu Indonesia Raya mengiringi Bendera Merah Putih mencapai puncak tiang bendera. Murid-murid berbaris rapih dengan seregam abu-abu putih lengkap dengan dasi dan topi. Pagi itu langit tampak cerah berbeda dengan suasana hatiku yang mendung. Awan mendung semakin tebal menyelimuti hatiku ketika usai upacara teman-temanku membahas kejadian di pensi.
“Ka maaf ya kemarin yang di pensi gara-gara kita, kamu jadi marah,” Ayu memulai pembicaraan dengan meminta maaf kepadaku, sebenarnya aku tidak marah kepada mereka tapi aku tidak bisa menjelaskan yang sebenarnya terjadi.
“Iya Ka, sorry kita nggak maksud bikin kamu malu, kita cuma senang akhirnya kalian resmi jadian ” Aura turut meminta maaf
“Kamu ingin merahasiakan hubungan kalian ya Ka?” Tanya Ayu ingin tahu
“Ayu!” Diah menghentikan arah pembicaraan Ayu
“Aku nggak marah kok, tapi tolong jangan bahas itu lagi,” jawabku dengan nada pengharapan.
Aku merasa diriku sangat buruk, maksudku sejak kejadian itu aku jadi marah kepada semua orang. Aku terus menciptakan masalah dengan orang-orang disekitarku, aku tidak suka diriku yang seperti itu. Aku rasa Kak Ana benar aku harus membuat semuanya menjadi jelas, lalu aku putuskan untuk menyelesaikan urusanku dengan Abas. Sepulang sekolah aku tunggu Abas di gerbang sekolah.
“Abas!” sapaku menghentikan langkah Kaki Abas
__ADS_1
“Dimas izin tidak masuk sekolah” jawab Abas seketika
“Saya menunggu kamu bukan Dimas, ada yang ingin saya bicarakan” jawabku tidak ingin basa basi
“Sambil makan yuk, kamu masih punya hutang makan siang sama saya kan?”
Aku merasa ada yang aneh dengan reaksi Abas, maksudku aku kira dia akan marah atau bersikap dingin padaku seperti waktu itu, tapi ternyata Abas terlihat baik-baik saja. Kami pergi ke taman kota untuk membeli makan siang sambil berbincang.
“Tadi mau bilang apa?” tanya Abas
“Hhmm masalah yang di pensi itu,” jawabku ragu
“Yang kamu jadian sama Dimas?” rupanya Abas mengerti maksud hatiku
“Iya,” aku menjawab pelan
“Eka, kamu tidak perlu menjelaskan apa-apa kepada saya,”
“Tapi semua itu salah paham!” seruku
“Tapi kalian jadian kan?” aku hanya mengangguk lemas rasanya lidahku kelu saat itu.
Kami terdiam cukup lama, ada banyak hal yang ingin aku jelaskan tapi entah mengapa rasanya sangat susah untuk keluar dari mulutku.
“Eka, terakhir kali saya bilang saya percaya sama kamu itu benar tapi saya tidak ingin kamu salah paham, bukan maksud saya untuk mau sama kamu, saya tidak ingin bertengkar dengan Dimas karena wanita,”
“Maaf,” aku tertunduk lemas tidak tahu harus berkata apa
“Saya senang jika orang itu adalah Dimas, dia laki-laki yang baik dan sangat sayang sama kamu, saya tahu persis Dimas akan menjaga kamu lebih baik dari siapapun,”
Mendung yang tadi menyelimuti hatiku kini berubah menjadi badai, badai yang kencang. Air mataku deras mengalir tak terbendung dengan mulut yang terkunci rapat. Abas memberikan sapu tangan untuk ku. Sebenarnya aku tidak ingin terlihat seperti ini di depan Abas namun aku tidak kuasa mengendalikan diriku.
Abas menghela nafas panjang, aku melihatnya tampak begitu binggung. Saat itu aku masih belia bahkan aku belum menstruasi. Mungkin aku belum siap menghadapi masalah asmara seperti itu. Aku mengerti jika Abas serba salah tapi rasanya aku tidak mau mengerti dan hanya ingin bersama Abas.
“Kemarin Dimas mencari kamu hingga nyaris ketinggalan kereta api, sebelum pergi dia berpesan agar saya menjaga kamu selama dia di Jakarta, Kamu tahu apa artinya?” Aku hanya tertunduk diam lalu Abas menjawab sendiri pertanyaannya “Dia sangat mempercayai saya dan saya tidak ingin merusak kepercayaan itu,”
“Terserah, tapi saya tidak ingin kesalah pahaman ini terus berlanjut,” jawabku dengan suara sedikit bergetar
Pertemuan hari itu tidak mengubah apapun. Sejak awal Abas sudah tahu jika itu adalah salah paham namun dia tidak ingin menghentikannya. Mungkin aku egois, aku tidak mau memikirkan bagaimana dengan persahabatan Abas dan Dimas nantinya jika aku mengatakan yang sebenarnya kepada Dimas, tapi aku merasa kesalah pahaman ini harus segera dihentikan agar tidak semakin luas.
__ADS_1