
Serangkaian perlombaan dalam rangka peringatan HUT sekolah ke 36 telah usai. Kini tiba saatnya malam Pentas Seni yang ditunggu-tunggu. Aku sangat antusias untuk menghadiri pensi itu, mungkin karena aku tidak sabar ingin melihat Abas, Aura dan Ayu tampil dalam pensi itu.
Malam itu aku mengenakan gaun berwarna hitam dengan tas kecil berwarna putih. Beruntung aku memiliki Kak Ajeng dan Kak Ana yang siap sedia menjadi make up artis ku. Sementara Kak Ana mencatok rambutku, Kak Ajeng merias wajahku, aku merasa bagai ratu semalam.
Malam itu Dimas menjemputku dengan sepedah motorya, saat itu aku ingat dia mengenakan baju koko berwara putih dengan peci hitam di kepala. Kak Ajeng dan Kak Ana yang melihat tampilan Dimas itu langsung mengomel dan menyuruhnya berganti pakaian. Jika ingat omelan kak Ajeng hari itu rasanya aku masih ingin tertawa.
“Subhanallah, kamu mau ke pensi apa pengajian?"seru kak Ajeng
“Tadinya mau ke pensi sekarang pingin ke KUA aja deh,” jawab Dimas usil
“Hahahaha cantik banget kan Eka?” goda Kak Ana kepada Dimas
“Loh ini Eka toh? Aku kira bidadari,” jawab Dimas membuatku malu
“Halaaah sudah yuk berangkat,” ajak ku kepada Dimas
“Eeh enggak boleh, Dimas ganti baju dulu!” cegah Kak Ajeng
“Aku adanya ini sama baju seragam aja nggak bawa kemeja lain Kak,” jawab Dimas enggan untuk berganti pakaian
“Pokoknya ganti! kamu itu masih muda cakep lagi masa ke pensi pakai baju koko? Memangnya mau tahlilan? Entar orang kira Eka pergi sama Bapaknya, pokoknya nggak boleh bareng Eka kalau nggak ganti baju dulu!” Kak Ajeng mulai mengomel kepada Dimas
“Yup bener, cepet lepas bajunya sekarang juga! Disini!” kata Kak Ana usil
“Heh Ana! malah ambil kesempatan! Ayo Dimas kita ke rumah Joni pinjam baju” Kak Ajeng menyeret Dimas naik motornya
“Yah Kak Ajeng curang Dimas dimonopoli sendiri!” teriak kak Ana tidak terima, kak Ana memang sangat menyukai Dimas, dia penasaran dengan bentuk dada dan perut Dimas.
Dimas yang tidak bisa menghindar akhirnya pergi dengan pasrah, sementara Kak Ana terus mengomel ingin melihat perut Dimas yang sixpack. Setelah cukup lama menunggu akhirnya Kak Ajeng dan Dimas kembali dari rumah Kak Joni. Saat itu aku sungguh terpesona oleh penampilan Dimas. Aku sama sekali tidak menyangka jika dia akan begitu tampan mengenakan tuxedo hitam dengan kemeja putih didalamnya. Dia tampak lebih dewasa dengan rambut klimis yang disisir rapih. Aku yakin sesampainya di sekolah pasti semua murid perempuan akan histeris dibuatnya, seperti Kak Ana yang begitu heboh.
Aku hanya berdiri menatap Dimas, entah mengapa saat itu aku merasa seakan membeku, yah aku terpesona tapi aku rasa lebih dari itu. Sementara Dimas hanya tersipu malu dan terlihat tidak percaya diri, baru kali itu aku melihatnya seperti itu dan itu menarik.
“Tunggu! Jangan pergi dulu, aku mau ambil kamera, kalian berdua harus foto dulu,” cegah Kak Ana saat kami hendak berangkat
“Apa aku bilang? Kamu itu cakep banget Dimas, Eka aja sampai terpanah begitu, hahaha,” kata Kak Ajeng mencoba membuat Dimas percaya diri sedangkan aku hanya tersenyum kecil
“Tapi ini berlebihan Kak, pasti aku bakal ditertawakan teman-teman,” jawab Dimas
“Enggak, kamu cakep! Orang ganteng pakai apa aja kelihat cocok Dimas!” bujuk Kak Ajeng
...“Tapi aku malu Kak, pakai kaos aja deh,” kata Dimas kemudian...
“Jangan!” entah mengapa kata itu keluar dari mulutku, maksudku itu memang keinginan hatiku tapi aku tidak bermaksud untuk mengatakannya
“Tuh kan Eka suka, iya kan Ka?” aku hanya menganggukan kepala sambil tersenyum, Dimas pun tersipu malu dan hanya bisa pasrah untuk tetap terus memakai baju itu. Baru sekali itu aku melihat Dimas menunjukan ekspresi seperti itu, ternyata dia imut juga.
__ADS_1
Dari dalam kos kak Ana keluar membawa kamera, dia sangat bersemangat untuk memotret kami berdua. Aku dan Dimas sangat canggung hari itu, kita berteman sudah cukup lama tapi entah mengapa hari itu rasanya aku sangat gugup dan begitu pula Dimas yang kulihat telapak tangannya mulai berkeringat tanda dia juga merasa gugup.
-*-*_*-*-
Sesuai ekspektasi, sesampainya di sekolah Dimas langsung diserbu oleh segerombolan murid perempuan. Aku yang tersingkirkan perlahan berjalan menuju area samping panggung tempatku janjian dengan teman-teman. Kudapati Ayu dan Diah sedang menunggu di selasar depan kelas 2 IPS 2.
“Cantik betul kamu Ka?” Diah menggodaku
“Hehehe terimakasih, dimana Aura?” jawabku mengalihkan topik pembicaraan, aku malu digoda seperti itu
“Masih breafing, mau tampil dia” jawab Ayu
“Kamu udah tampil?” tanyaku kepada Ayu
“Belum, nanti setelah Dimas,” jawab Ayu
“Dimas? Memang dia ikut tampil?” tanyaku penasaran
“Hahaha tidak tapi dia kan paling banyak dapat piala,” jawab Ayu sambil tertawa
“Nggak bareng Dimas Ka?” tanya Diah kemudian
“Bareng sih, tapi tau sendirilah fans-nya Dimas kayak apa,” jawabku sedikit sewot
“Hahaha terabaikan kamu?” kata Diah mengodaku
“Enak aja dia bukan pacar aku ya!” seruku mulai kesal
“Eh eh lihat itu Dimas Ka?” tanya Ayu kepadaku, kulihat Dimas berjalan dengan sesekali berhenti untuk berfoto dengan teman-teman yang mengajaknya berfoto. Aku mengangguk tanda membenarkan jika itu adalah Dimas.
“Wow ganteng banget!” seru Ayu dan Diah hampir bersamaan
“Calon imamku itu!” kata Ayu dengan mata berbinar-binar
“Ngawur udah punya Eka itu!” ucap Diah kepada Ayu
“Kan Eka nggak mau, buat aku aja!” ucap Ayu sambil melirik ke arahku
“Eh Ka, kalau aku jadi kamu nggak akan aku sia-sia kan kesempatan, kapan lagi dimaui cowok sekeren Dimas?” kata Diah kepadaku, aku mengerti maksud teman-teman ku itu baik, Dimas memang keren tapi masalahnya yang ku sukai adalah Abas.
“Ia Ka, jual mahal amat sih?” kata Ayu mendukung perkataan Diah
“Aku udah over dosis Dimas, buat kalian aja kalau mau” jawabku seadanya
“Benar ya? Aku pikat nih, Awas nyesel!” ucap Ayu sambil menunjukan wajah jahat ala sinetron dengan mode zoom in zoom out
__ADS_1
“Eh, kamu kan sudah banyak stock, Dimas buat aku saja!” kata Diah tidak ingin kalah dari Ayu.
Aku tidak mengerti dengan mereka berdua, baru saja menyuruhku untuk menerima Dimas dan sekarang mereka berebut untuk dirinya sendiri.
“Tapi yang kayak Dimas belum ada!” jawab Ayu juga tidak mau kalah
“Yang kayak Dimas, kayak gimana tuh maksudnya?” Tiba-tiba Dimas sudah ada diantara kami yang sedang membicarakannya.
Aku melihat Ayu dan Diah salah tingkah karena malu, berbagai macam alasan dilontarkannya, aku hanya tertawa melihat reaksi mereka. Tak lama kemudian Aura dan Abas keluar dari ruang breafing datang untuk menyapa kami.
“Weits, ganteng benar kawan ku ini, pinjam baju siapa kau? Bukannya tadi bergaya ala-ala pak haji?” goda Abas kepada Dimas yang membuat Dimas tampak malu
“Jangan usil, terpaksa ini demi restu kakak kost Eka” jawab Dimas sedikit mengerutu
“Eka cantik banget rambut lurus begitu, kok bisa sih ka?” tanya Aura kepadaku
“Kerjaan kakak kost aku, pake catokan atau apalah itu namanya, kayak setlikaan gitu alatnya panas,” jawabku menjelaskan
“Tapi memang cantik banget!” aku tersipu malu Abas memujiku
Malam itu kami terlarut dalam obrolan ringan yang garing tapi seru, hingga datang giliran Aura dan Abas untuk tampil. Mereka membawakan lagu Andai dia tahu dari Kahitna. Suara merdu Aura berpadu dengan syahdu petikan gitar Abas membuat suasana malam menjadi romantis. Banyak murid yang turut bernyanyi membuat suasana semakin hidup.
-*-*_*-*-
“Dengar baik-baik, lagu itu untuk kamu,” kata Dimas kepadaku saat Aura dan Abas baru akan memulai penampilan mereka.
Sebelumnya aku tahu jika mereka telah menyiapkan beberapa alternatif lagu dan salah satunya adalah lagu Kahitna itu. Namun setelah Dimas mengatakan itu aku merasa Abas sedang mengungkapkan isi hatinya untukku lewat lagu ini, meskipun aku merasa lagu itu lebih cocok jika aku yang menyanyikannya untuk Abas.
Aku tidak bisa menyembunyikan aura bahagiaku, aku tersipu malu dan senyum-senyum sendiri. Malam itu sangat meriah namun aku merasa semua orang hilang lenyap ditelan malam tinggal aku berdua saja dengan Abas duduk dibawa bintang-bintang, mendengarkan Abas bermain gitar dengan lagu-lagu romantis. Sesekali kami saling bertemu pandang dan tersipu malu, sangat indah.
“Jadi mungkinkah dia jatuh hati?” Dimas berbisik ditelinga kiri ku menirukan lirik lagu yang sedang dinyanyikan Aura, aku mengangguk malu sambil tersenyum Dimas juga tersenyum.
“Mungkinkah dia jatuh cinta?” Dimas kembali berbisik di telinga kiri ku dan aku kembali mengangguk sambil tersipu malu lalu Dimas tertawa kecil sambil mengigit ujung bibirnya.
“Sekarang hari apa?” tanya Dimas kemudian
“Sabtu,” Aku menjawab dengan pasti
“Bukan!” kata Dimas membuatku bingung
“Lalu?” aku bertanya penasaran
“Hari jadian Kita,” Dimas membisikan kata-kata itu sambil meraih tanganku dan mengenggamnya dengan erat.
Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi, aku hannya diam mencoba untuk mencerna suasana malam itu. Aku terus menatap Dimas dengan pandangan kosong, dia tersenyum seakan tersipu malu, aku melihat matanya sungguh berbinar-binar.
__ADS_1
Apakah ini artinya lagu itu dari Dimas bukan Abas? Apakah pertanyaan tadi itu adalah untuk Dimas bukan Abas? lalu apakah sekarang Dimas menganggap aku menerima perasaannya? Lalu apakah artinya sekarang kami resmi pacaran? beribu pertanyaan berputar dikepalaku.