
Hari semakin sore, satu persatu teman kelasku mulai pulang meninggalkan sekolah. Aku, Diah dan Ayu bermaksud menunggu Aura selesai belajar bersama teman-teman yang mengikuti olimpiade lainnya, kami berencana makan malam bersama di taman kota. Sambil menunggu kami duduk melepas lelah di selasar kelas, lirih terdengar suara gitar yang mengalun merdu namun seolah sangat sedih.
Aura yang baru saja keluar dari lab biologi menyadari suara gitar itu dan langsung berjalan ke sumber suara, maklum insting musiknya sangat kuat. Tidak lama setelah mengintip dia menuju tempat aku Ayu dan Diah duduk menunggunya.
“Ka itu Abas loh yang main gitar, samperin yuk?” ajak Aura kepadaku
“Enggak ah, sudah lapar nih ayo makan saja,” Ayu yang sudah kelaparan tidak setuju degan permintaan Aura
“Halah sebentar aja, ayo Ka,” Aura terus memohon
“Naksir kamu sama Abas?” pertanyaan Diah membuat ku tersentak
“Bukan begitu, kali aja dia mau jadi pengiringku di pensi nanti,” jawab Aura
“Dia pasti tampil bareng RAIN band lah Aura,” kata Diah
“Aku juga tampil sama tim padus, tampil dua kali kan boleh, Ayo Ka pliiis,” tampaknya Aura benar-benar ingin berkolaborasi dengan Abas
“Sebentar saja tapi ya?” jawabku kemudian
“Duh yang nungguin kamu dari tadi kan kami kok begitu selesai malah langsung nyamperin Abas sih?” protes Ayu kepada Aura
“Hehehe maaf deh maaf, nanti ditraktir deh,” jawab Aura meminta maaf
“Bener ya?” tanya Ayu meyakinkan
“Tapi minumnya aja hehehe,” jawab Aura sambil nyengir
Sejujurnya saat itu aku juga ingin melihat Abas bermain gitar, aku membayangkan pasti dia sangat keren dan memang benar dia sangat keren memegang gitar. Jantungku berdegup kencang saat akan memasuki kelas I-1, karena Aura memaksa maka aku beranikan diri menghampiri Abas dan menyapanya
“Abas,” Aku menyapa abas dan Abas menghentikan permainan gitarnya
“Mas pacarmu nyariin nih!” teriak Abas memanggil Dimas
__ADS_1
Entah mengapa saat itu aku merasa Abas sedang marah padaku, dia tidak sedikitpun melihat ke arahku seolah dia sedang mengacuhkanku. Aku bertanya dalam hati apakah mungkin karena kejadian di lomba siswa teladan tadi?
Sementara Dimas berlari kecil ke arahku, aku melihat teman-teman kelasnya memandangku dengan pandangan intimidasi seolah mereka berkata “masak sih ini pacar Dimas? Gak ada bagus-bagusnya” dan aku ingin berteriak menjawab keraguan mereka “bukaaan, aku memang bukan pacarnya Dimas! Puas?” tapi yang sebenarnya terjadi aku hanya diam mematung sampai Dimas menghampiriku.
“Ada apa tumben nyariin sampai ke kelas?” tanya Dimas kepadaku
“Enggak nyari kamu kok, cuma antarin temanku mau bicara sama Abas,” jawabku ketus.
Entah mengapa aku jadi kesal kepada Dimas. Maksudku dia tidak melakukan kesalahan apapun tapi aku merasa sikap Abas yang dingin kepadaku adalah karena dia
“Weeh Abas ada yang naksir nih cieee,” goda Dimas kepada Abas, aku melihat Abas hanya diam menunduk dan kembali memainkan gitarnya namun kali ini tidak beraturan seperti dia bingung ingin memainkan lagu apa
“Bukan begitu, aku cuma suka dengar permainan gitar Abas, hhmmm kamu mau nggak tampil di pensi sama aku?” tanya Aura kepada Abas, Abas masih diam
“Bas ditanya tuh!” Dimas menyenggol lengan Abas
“Enggak!” jawab Abas singkat sambil meletakkan gitar dan berlenggang keluar kelas
“Maaf ya dia lagi PMS hihihi, nanti pasti mau,” kata Dimas
“Hmmm nanti diusahain deh,” jawab Dimas
Segera aku meninggalkan kelas Dimas dan berjalan cepat menuju Ayu dan Diah. Aura yang berlari mengejarku terus memanggil namaku. Suasana hatiku sangat kacau sore itu, aku terus kepikiran ada apa dengan Abas? aku juga kepikiran apa jangan-jangan Aura beneran suka sama Abas? dan aku juga kepikiran kenapa aku bersikap tidak adil kepada Dimas? Aku selalu saja marah padanya tanpa alasan.
-*-*_*-*-
Penilaian lomba kebersihan dan kerapihan kelas telah dimulai, kami berharap kelas kami akan menjadi juaranya. Sementara itu aku mulai merancang kostum dan maskot kelas, ya aku diberikan kepercayaan untuk menjadi penanggung jawab kostum dan maskot kelas karena aku satu-satunya anak ekskul tata busana.
Maskot yang kita sepakati adalah bunga lotus biru yang akan dikenakan oleh Aria siswi tercantik di kelas kami. Ide lotus biru tercetus dari Rendi ketua kelas kami, dia memang seorang musisi yang memiliki kata-kata romantis.
Lotus memiliki filosofi kecantikan sejati akan membuat lingkungan yang kotor tampak cantik dan bersih sedangkan warna biru melambangkan ketenangan tapi penuh semangat selain itu bentuknya yang tidak sepenuhnya mekar memiliki makna bahwa seseorang harus terus belajar tanpa henti dalam mencapai kebijaksanaan hidup.
Kami menganggap bunga lotus biru sangat sesuai dengan kelas kami dimana kami bukanlah kelas unggulan dan ruang kelas kami berada di bagian pojok sekolah yang terlupakan namun dengan semangat dan kerjakeras kami mampu mencitrakan kelas kami sebagai kelas kreatif yang diakui oleh kelas lain dan kami akan terus berusaha menjadi kelas yang terbaik.
__ADS_1
Aku membuat kostum degan mendaur ulang kertas koran dan kain perca, selain itu aku juga memanfaatkan barang-barang bekas seperti botol bekas kemasan air minum untuk membuat maskot. Teman-teman membantuku mengumpulkan bahan-bahan dan merakitnya sesuai dengan gambar rancangan yang aku buat. Kami menghabiskan waktu kurang lebih selama dua hari untuk menyelesaikan maskot kelas. Aku akui memang hasilnya kurang sempurna masih banyak kekurangan karena keterbatasan bahan namun melihat teman-teman dan wali kelas tampak puas aku merasa senang.
-*-*_*-*-
Aura menjadi juara dua olimpiade Biologi. Ayu tentu saja menjadi juara lomba mading dan baca puisi. Dimas sudah tentu menjadi juara siswa teladan. Abas akhirnya bersedia menjadi partner Aura dalam pensi nanti, mereka berlatih bersama setiap sore di kost Abas atau di rumah Aura, terkadang Aura memintaku untuk menemaninya berlatih agar suasana tidak canggung. Suara Aura sangat merdu, kemampuan Abas bermain gitar sangat memukau, bersama mereka terdengar sangat serasi, aku yakin mereka akan menjadi idola baru di sekolah kami.
Sore itu dirumah Aura aku menemani Abas dan Aura berlatih akustik. Sebenarnya Dimas juga ikut tapi dia mampir dulu ke stasiun untuk membeli tiket kereta. Sabtu setelah pensi dia akan berangkat ke Jakarta untuk menghadiri wisuda kak Putri kakaknya.
Sementara Aura menyiapkan cemilan dan minuman untuk kami, aku memberanikan diri untuk membuka obrolan dengan Abas. Saat itu Abas masih bersikap dingin padaku, meskipun sudah jauh lebih baik dari sebelumnya tapi aku merasa kami masih sangat canggung.
“Besok kamu tanding basket ya Bas? Semoga menang ya?” ucapku membuka obrolan
“Tahu dari Dimas?” tanya Abas datar sambil terus memetik senar gitarnya
“Tidak, aku lihat di papan pengumuman,”
“Kamu pasti datang mendukung Dimas,” Ucap Abas ketus seolah dia tidak suka
“Dimas tidak perlu di dukung sudah banyak pendukungnya, aku datang dukung kamu saja,” jawabku sambil tersenyum berharap Abas akan melunak
“Aku?" Abas menghentikan permainan gitarnya
“Iya kamu,” aku tersenyum berharap Abas akan ikut tersenyum
“Biasanya Saya, kenapa jadi Aku?” aku terdiam lalu Abas kembali bertanya “kamu jadian sama Dimas?”
“Tidak! jangan dengarkan Dimas, dia iseng orangnya,” aku berusaha meyakinkan Abas
“Saya hanya menebak apa yang membuat saya menjadi aku,” Abas kembali melanjutkan permainan gitarnya
“Cuma ingin bisa lebih dekat kok!” sinis aku menjawab sambil tertunduk entah mengapa aku menjadi kesal.
Suasana menjadi hening, ada banyak kata bergumul didalam hati tapi aku tak kuasa untuk mengucapkannya. Maksudku apakah perlu aku katakan pada Abas jika aku menyukainya? Jika aku terus memikirkannya? Apakah aku harus menjelaskan kepadanya jika setiap kali dia menganggap aku dan Dimas pacaran hatiku terasa sakit? Apakah aku harus bertanya apa yang dia rasakan kepadaku? Mengapa sikapnya berubah kepadaku? Aku sangat kesal rasanya aku ingin menangis. Aku tidak ingin melihat Abas, aku rasa saat itu adalah pertama kalinya aku berharap Dimas segera datang dan mengajakku pulang.
__ADS_1
-*-*_*-*-