RAHASIA Cinta SMA

RAHASIA Cinta SMA
Geng Kriwul


__ADS_3

Kehidupan SMA ku biasa-biasa saja, berbeda dengan Dimas yang mengikuti OSIS, Ekskul basket, robotik dan SKI (Sie Kerohanian Islam) aku tidak banyak mengikuti kegiatan sekolah, aku hanya berfokus pada belajar, karena memang itu tujuan utamaku berada disini.


Aku hanya mengikuti satu ekskul tata busana, entah mengapa sejak kecil aku suka memadu padankan warna pakaian yang aku kenakan. Aku terinspirasi bundaku yang selalu cantik saat mengenakan baju, berbeda dari kebanyakan ibu-ibu di Desa yang suka memakai pakaian dengan warna yang bertabrakan dan panas dipandang mata. Bunda memang anak dari keluarga yang terpandang jadi tidak heran jika selera fashion-nya cukup berkelas.


Kelas I-4 adalah kelas yang asik, terkenal dengan sebutan kelasnya anak kreatif. Di kelas itu aku bertemu dengan tiga temanku yaitu Ayu, Aura dan Diah. Teman-teman memanggil kami geng kriwul karena rambut kami yang keriting.


Ayu adalah seorang pengurus mading, dia mendapat julukan si pena emas, artikel yang dia buat selalu menarik dan diminati banyak pembaca, bahkan karyanya pernah dimuat disalah satu majalah remaja yang sedang ngetren di jaman itu.


Aura teman sebangku ku, suaranya lembut dan merdu dia tergabung dalam anggota paduan suara inti yang sering mewakili sekolah kami dalam kejuaraan di dalam maupun luar Kota, sekolah kami memang terkenal dengan Paduan Suaranya yang merdu dan kreatif.


Diah sama sepertiku tidak memiliki keahlian khusus, namun Diah cukup terampil dalam berkebun. Kelas kami mendapat juara kebersihan kelas berkat Diah yang mengatur taman sedemikian rupa sehingga tampak cantik dipandang mata.


Aku, Aura, Ayu dan Diah sering pergi bersama, mengerjakan tugas atau sekedar makan di kantin saat jam istirahat. Sebenarnya kami tidak bermaksud membentuk sebuah geng, kami hanya kebetulan duduk di bangku yang berdekatan. Aku sebangku dengan Aura, Ayu sebangku dengan Diah yang duduk di depan meja ku dan Aura.


Saat jam kosong kami sering bercanda bersama atau membantu Ayu menyiapkan perlengkapan materi mading seperti mewarnai, mengunting atau melipat kertas-kertas yang akan ditempel di mading. Kebetulan rambut kami berempat sama keritingnya, karena kami tampak sering bersama maka teman sekelas kami menjuluki kami geng kriwul. Awalnya kami tidak begitu suka dengan jukukan itu namun seiring berjalannya waktu, itu menjadi hal yang biasa dan kami menikmatinya. Toh itu bukan hal yang buruk, kenyataannya memang kami kriwul, dan berkat julukan itu kami menjadi eksis di kelas. Bahkan berkat Ayu orang tidak berbakat seperti aku dan Diah juga bisa dikenal oleh sebagian besar warga SMA sebagai anggota geng kriwul.


“Eh kamu anak geng kriwul temannya Ayu kan? Boleh nitip ini buat Ayu?”


Tidak jarang ada siswa yang menitipkan karyanya untuk dimuat di mading, kadang ada juga laki-laki yang titip salam atau surat untuk Ayu. Ayu memang yang paling populer diantara kami berempat, dia cantik dan gaul tapi Ayu tidak sombong, dia ramah dan murah senyum kepada semua orang yang menyapanya. Mungkin karena itu banyak laki-laki yang menyukainya, sementara aku, Aura dan Diah hanya sibuk menyeleksi laki-laki yang sedang mendekati Ayu.


Suatu hari...


“Mas Galang cakep yu, boleh tuh diterima jadi pacar kamu,” kata Diah

__ADS_1


“Kelas sastra pula, pas banget sama Ayu,” ucapku mendukung Diah


“Tapi kakinya bau!” kata Aura setengah berbisik


“Yang benar? Tahu dari mana kamu kakinya bau?” tanya Diah tidak percaya


“Pernah dia ada perlu sama pak Yoyok (pembina padus) nah masuk studio padus kan musti lepas sepatu tuh, waktu dia lepas sepatu hhhmmmm aromanya semerbak membius seisi ruangan, bau bangeet!” ungkap Aura membuat kami semua tertawa dan Mas Galang resmi tereliminasi sebagai calon pacar Ayu akibat kakinya yang bau.


Hari yang lain....


“Kalian kenal Bagas nggak sih?” tanya ayu kepada geng kriwul saat makan siang di kantin sekolah


“Bagas teman ekskul Eka?” tanya Aura memastikan


“Bukan! ya iya lah tata busana memang aku ikut ekskul apalagi?” jawabku sewot


“Memang kenapa yu?” tanya Aura ingin tahu


“Ada orang yang suka kasih aku puisi ditaruh di keranjang sepedah aku, kata pak Min namanya Bagas,” jawab Ayu sedikit berbisik mungkin takut akan terdengar orang lain.


“Ciee, dia lumayan cakep kok yu, udah terima aja hahaha,” godaku kepada Ayu


“Tapi kan anak tata busana,” jawab ayu dengan wajah kecewa

__ADS_1


“Memang kenapa? Aku juga anak tata busana loh!” jawabku sedikit emosi tapi tidak benar-benar emosi, aku hanya becanda karena mengerti arah pembicaraan Ayu


“Kamu perempuan Eka! Masak laki-laki ekskulnya tata busana? Jangan-jangan dia lekong, ihh ogah ah,” jawab Ayu dengan ekspresi sedikit jijik


“Hahaha ember, tapi anaknya baik kok dan yang penting kalau dia suka sama kamu kan berarti dia normal,” aku ingin tetap meyakinkan Ayu, Aura dan Diah tertawa terpigkal-pingkal


“Memang bener Bagas yang itu? Bukan Bagas yang lain?” tanya Aura memberi harapan pada Ayu


“Memang ada Bagas yang lain?” tanya Ayu dengan wajah penasaran


“Ada kak Bagas kelas II IPS 3, tapi mending Bagasnya Eka deh daripada Bagas yang itu," jawab Diah dengan wajah yang berubah serius


“Memang kenapa?” Ayu semakin penasaran


“Preman dia, suka tawuran, pernah sampai ditangkap polisi,”


“Padahal puisinya romantis, masak sih dia anarkis?” Ayu tampak kecewa


“Ya kan belum tentu Bagas yang itu, mungkin ada Bagas yang lain lagi, mending kamu tulis surat buat minta ketemuan,” aku memberikan saran kepada Ayu, entah mengapa aku merasa Ayu tertarik dengan si Bagas itu, tidak biasanya dia menanggapi laki-laki bahkan sampai penasaran seperti itu.


“Jangan ah Yu, serem, kalau ternyata benar Bagas yang itu gimana? banyak kok yang lain yang mau sama kamu, pilih yang normal-normal aja,” Diah tidak setuju dengan saranku, mungkin dia khawatir jika Ayu akan dalam masalah jika berhubungan dengan Bagas.


“He’em Yu yang pasti-pasti aja,” Aura setuju dengan Diah.

__ADS_1


Aku melihat Ayu tampak kecewa, sepertinya dia sangat penasaran dengan si Bagas itu. Persahabatan wanita memang begitu, terlalu ikut campur. Kadang aku sendiri tidak mengerti mengapa kita harus turut menghakimi seseorang yang belum kita kenal hanya karena kata teman dia tidak baik. Meskipun begitu aku tetap senang berteman dengan mereka, mereka sangat tulus dalam berteman, mereka juga tidak suka nongkrong dan berfoya-foya tidak jelas seperti anak-anak kota lainnya. Terutama Aura, dia berbakat dan berasal dari keluarga yang kaya namun dia sangat sederhana dan baik hati.


__ADS_2