RAHASIA Cinta SMA

RAHASIA Cinta SMA
Baikan


__ADS_3

Matahari masih bersembunyi dibalik awan, suasana pagi yang mendung tampak sangat ceria oleh derap langkah para murid menuju lapangan Basket. Ayu sedang membuat poster bertuliskan nama Dimas sedangkan Aura membuat untuk Abas, Diah yang sedari tadi berdiri di depan pintu kelas terus memanggil kami agar bergegas menuju lapangan basket sementara aku tidak berselera untuk ikut dalam keramaian.


Riuh suara penonton semakin mengema tanda pertandingan telah dimulai, Diah tampak semakin tidak sabar untuk menuju lapangan. Setelah poster jadi mereka segera berlari menuju lapangan, aku yang awalnya ingin berdiam diri di kelas saja terpaksa jadi ikut karena teman-teman memaksaku.


Baik Abas maupun Dimas tampak keren pagi itu, dalam keringat yang mengucur deras mereka berlari kesana kemari mengoper bola. Aku melihat Abas dan Dimas tampak kompak, sebenarnya aku senang melihatnya tapi aku merasa itu tidak adil. Maksudku, mengapa Abas bersikap dingin padaku tapi tetap baik kepada Dimas. Sebenarnya dia cemburu padaku atau pada Dimas? Jangan-jangan yang dia sukai adalah Dimas. Entah apa yang aku pikirkan saat itu, aku selalu saja membayangkan hal yang tidak-tidak. Saat sedang asik melamun tiba-tiba Aura memeluk ku dan berkata


“Ciee dikasih hati sama Dimas.”


Rupanya Dimas membentuk hati dari kedua telapak tangannya sebagai selebrasinya setelah mencetak three point. Dimas memang suka seperti itu, membuat bentuk hati dari telapak tanganya dan seolah mengarahkannya pada fans-nya. Hari itu saat memenangkan siswa teladan dia juga seperti itu.


Pagi itu tim Dimas memenangkan pertandingan dan masuk ke babak final. Sekali lagi aku bangga pada Dimas, dia mencetak skor paling banyak diantara pemain lain di timnya. Ayu dan Diah terus mendorongku agar mendekati Dimas untuk memberinya ucapan selamat. Tapi aku melihat ada Abas yang sedari tadi memperhatikanku dan mulai berjalan kearahku. Namun aku ragu saat Aura meraih lenganku dan berbisik


“Eka, lihat itu Abas berjalan ke arahku, aduh gimana ini?”.


Saat itu aku merasa lebih baik jika aku pergi saja dari lapangan itu. Maksudku ada dua kemungkinan, Abas datang untuk menghampiriku atau Aura. Jika dia menghampiri Aaura maka akan lebih baik jika aku tidak melihat Abas bersama Aura, dan jika Abas datang untuk ku maka akan lebih baik untuk pergi terlebih dulu agar Aura tidak kecewa. Saat itu aku dapat merasakan Aura mulai tertarik kepada Abas.


-*-*_*-*-


Parade sekolah telah dimulai, semua murid berbaris sesuai dengan kelasnya. Masyarakat sekitar sekolah menyambut parade dengan penuh suka cita. Mereka berjajar disepanjang bahu jalan untuk melihat parade kami. Anak-anak kecil tampak gembira melihat berbagai macam bentuk maskot kelas yang berlenggang di setiap barisan terdepan.


Setelah berjalan cukup jauh tibalah saatnya pengumuman pemenang lomba kebersihan dan kerapihan kelas serta kostum dan maskot kelas. Hari itu kelas kami meraih juara pertama untuk lomba kebersihan dan kerapihan kelas serta juara tiga untuk lomba kostum dan maskot kelas. Aku sangat bangga pada karyaku sendiri, aku tidak menyangka jika kostum dan maskot rancanganku itu akan menjadi juara tiga.


Dimas dan Abas datang menghampiriku untuk mengucapkan selamat. Abas tampak ramah hari itu, mungkin dia sudah tidak marah namun kami masih canggung. Saat kami sedang ngobrol Ayu datang meminta Dimas untuk foto bersama maskot kelas kami dan begitu juga kelas-kelas lain yang jadi ikutan ingin berfoto dengan Dimas. Bayangkan ada begitu banyak maskot disana tapi seolah Dimaslah maskot yang sesungguhnya karena semua orang ingin berfoto dengannya, padahal sebenarnya dia tidak memiliki kepentingan apapun untuk berfoto dengan siapapun.


Saat itu tidak seperti sekarang yang bisa berfoto kapan saja dan dimana saja menggunakan hand phone. Sudah ada kamera saku dan digital namun hanya dimiliki kalangan tertentu dan digunakan di acara tertentu saja. Aku rasa Dimas ingin menyenangkan hati semua orang selagi ada kesempatan bisa berfoto bersama. Dimas memang begitu, narsis dan suka pamer tapi sebenarnya dia baik.

__ADS_1


“Apa orang itu sekeren itu?” maksud Abas orang itu adalah Dimas


“Mungkin saya perlu menunjukkan foto SD nya disini,” jawabku sambil tertawa membuat Abas turut tertawa


“Hahaha,” Aku senang melihat Abas tertawa rasanya sudah sangat lama


“Abas, saya mau minta maaf,” kataku kepada Abas membuat suasana menjadi serius


“Saya yang seharusnya minta maaf, tidak seharusnya saya bersikap seperti itu, saya tidak mengerti dengan perasaan saya, rasanya saya ingin marah tapi tidak tahu karena apa,”


“Kamu boleh marah sama saya tapi jangan lama-lama,” ucapku berharap bisa menenangkan Abas


“Saya tidak akan marah lagi, saya akan selalu percaya sama kamu,” Kata Abas meyakinkan aku


Rasanya jantung ku berhenti berdetak, apakah ini sebuah pernyataan cinta? Apakah cintaku berbalas? Apakah dia merasakan yang sama denganku? Apakah kita sudah bisa disebut jadian? Apapun itu yang jelas kami sudah baikan. Aku merasa sangat bahagia, aku tidak bisa menyembunyikan rasa bahagiaku. Aku terus tersenyum dan mungkin wajahku sudah tidak lagi merah tapi ungu atau hitam saking senangnya.


-*-*_*-*-


“Ka gimana kalau nanti Dimas cetak skor kita bikin gerakan kayak gini?” Ayu mempraktikkan gerakan tangan seperti ikan duyung yang melompat memasuki ring basket.


“Terus kalau dia cetak three point kita bikin gerakan seperti ini,” Diah mempraktikan gerakan tangan seperti menangkap kupu-kupu dan memasukkannya kedalam dada.


“Terus kalau timnya menang kita bikin gerakan kayak apa?” tanya Aura


“Kita angkat saja Dimas terus kita lempar keatas biar dia terbang terus menghilang hahahaha,” jawabku seakan aku ingin mengatakan 'peduli apa sama Dimas? aku sedang kasmaran kepada Abas sudah biar Dimas menghilang saja'.

__ADS_1


“Eh jangan kasihan Dimas, kita teriak Dimas We Love You aja,” ajak Diah


“Norak ah, kita bikin yel yel aja” kata Ayu


“Begini saja, Diah yang suaranya paling lantang teriak nama Dimas! terus kita sambut dengan teriak Juaranya Juara!” ucap Aura sambil mempraktikan yel yel yang ia usulkan


“Setuju setuju!” teriak Ayu


“Keren tuh!” Diah pun mendukung


“Kalau kalah?” tanyaku kemudian membuat teman-temanku diam sejenak


“Pasti menang hahaha,” teriak Diah membuat kita semua tertawa


“Oke kita ajak semua pendukung Dimas!” Ayu sangat bersemangat


“Buat apa sih repot-repot kan sudah ada tim pemandu sorak?” tanyaku kemudian


“Biar seru Ekaaa!” teriak Diah kepadaku


Kami tertawa bersama, hari itu aku tidak kesal meskipun teman-temanku terus membicarakan Dimas. Aku sedang sangat bahagia dan karena Abas berkata dia akan mempercayaiku maka aku kira tidak akan masalah jika aku melakukan selebrasi itu bersama teman-teman sekedar bersenang-senang dan meramaikan suasana.


Pertandingan basket akan segera dimulai, kami mencari tempat yang pas untuk melakukan gerakan selebrasi untuk Dimas. Diah dan Ayu sangat heboh memberikan contoh selebrasi untuk Dimas kepada para pendukung Dimas.


Dari kejauhan aku melihat Abas melihat kearahku dan tersenyum. Aku mencoba memberinya semangat dengan mengepalkan tangan, lalu dia membalas kepalan tanganku dengan mengepalkan tangannya tapi didepannya tiba-tiba ada Dimas yang juga melakukan hal yang sama. Entah sejak kapan dia berdiri disana. Aku tidak tahu bagaimana orang lain menilainya tapi yang ku rasakan saat itu aku seperti orang yang sedang berselingkuh. Maksudku, tentu saja aku bukan pacar dari keduanya dan aku bebas bergaul dengan siapa saja, tapi diam-diam berbicara dengan Abas dan merasa bersalah kepada Dimas atau sebaliknya membuatku merasa jika aku sedang berselingkuh.

__ADS_1


Pertandingan berjalan sangat baik, nilai kedua tim saling berkejaran. Para penonton sangat antusias dengan jalannya pertandingan. Aku dan teman-temanku heboh dengan tarian selebrasi kami. Aku melihat baik Abas maupun Dimas keduanya tertawa melihat selebrasi kami. Hari itu sangat menyenangkan. Pertandingan ditutup dengan perbedaan skor yang sangat tipis dan tim Dimas lah pemenangnya. Kali ini aku tidak ragu-ragu menghampiri Dimas dan Abas untuk memberikan ucapaan selamat dan meminta foto bersama. Aku sangat senang dan aku rasa begitu pula dengan teman-temanku yang lainnya.


__ADS_2