RAHASIA Cinta SMA

RAHASIA Cinta SMA
Andai


__ADS_3

“Tidak akan hilang bulannya, tidak perlu diperhatikan sampai seperti itu,” terdengar suara Dimas membuyarkan lamunanku.


Rupanya dia sedang berdiri di bawah cendela kamarku memandang bulan yang sama denganku. Aku tersenyum melihat dia.


“Eh kamu, pulang dari masjid?” tanyaku kepada Dimas


“Iya, lalu aku melihat ada bidadari yang sedang merindukan rembulan, sepertinya dia ingin pulang kesana,” Ucap Dimas sambil menunjuk ke arah bulan itu bersinar. Aku hanya tertawa dan tiba-tiba Dimas bertanya


“Lagi mikirin Abas ya?”


Aku terkejut mendengarnya menyebut nama Abas. Mengapa dia berfikir aku sedang memikirkan Abas?


“Aku pergi ke Amerika selain memang ingin sekolah disana juga supaya kalian tidak perlu sungkan jika saling suka,” kata Dimas sambil menyandarkan bahu kirinya di daun cendela kamarku.


“Apa maksudmu?” tanyaku heran


“Aku tahu kamu suka Abas, begitu juga dengan Abas, jadi aku pikir lebih baik aku menjauh supaya kalian bisa leluasa. Sayang sudah terlambat, sendainya aku menyadarinya lebih cepat, aku tidak akan menjadi penghalang untuk kalian,” kata Dimas sambil menendang pelan kerikil-kerikil di tanah


“Darimana kamu tahu tentang aku dan Abas?” tanyaku penasaran


“Aura yang memberitahuku,” ucap Dimas kemudian


“Apa ? Aura juga tahu?” tanyaku terkejut


“Aura bercerita jika Abas sempat mengajaknya makan malam bersama untuk mengatakan kalau yang dia sukai adalah kamu,” Ungkap Dimas kepadaku


“Bukannya Abas menyatakan perasaan kepada Aura saat itu?” tanyaku tidak mengerti


“Itulah masalahnya, Aura berkali-kali ingin menjelaskannya padamu tapi kamu tidak pernah memberinya kesempatan,” Ucap Dimas yang membuatku teringat pada masa dimana aku berusaha menghindari geng kriwul dan Abas.


-*-*_*-*-


Setelah ujian kelulusan aku jarang sekali berkumpul dengan geng kriwul, aku terus menghindari mereka terutama Aura. Aku merasa saat itu aku tidak akan sanggup mendengar cerita bahagia antara Aura dan Abas. Aku selalu menjadikan belajar untuk persiapan ujian masuk perguruan tinggi sebagai alasan. Sempat juga mereka mengajakku belajar bersama di rumah Aura tapi aku menolak, aku bilang jika aku sudah mengikuti les pemantapan. Sampai dengan hari pengumuman kelulusan aku juga tidak ikut dalam selebrasi. Rencana liburan di villa juga ku lewatkan begitu saja.


“Eka SMA kita lulus 100% loh, Dimas mendapat nilai sempurna sekaligus mendapat penghargaan lulusan terbaik Nasional,” ucap Ayu dengan mengebu-gebu dia terlihat sangat senang aku hanya tersenyum.


“Kita tukar tanda tangan dibaju kita yuk, aku bawa spidol nih,” ajak Diah sambil menunjukkan spidol di tangannya


“Maaf aku tidak ikutan, aku janji akan memberikan seragamku untuk teman adikku,” aku menolak secara halus permintaan Diah


“Kita rayakan kelulusan di rumah ku yuk? Ajak Rendi, Abas dan Dimas sekalian ngomongin rencana liburan di villa,” Ajak Aura kepada geng kriwul


“Maaf hari ini aku sudah ada janji dan sepertinya aku tidak bisa ikut liburan itu karena ada urusan yang tidak bisa aku tinggalkan,” kali ini aku menolak ajakan Aura.


Saat itu aku berfikir jika Aura dan Abas sudah jadian lalu bertemu mereka sedang berdua akan membuat susana canggung yang mungkin aku tidak bisa menolong diriku sendiri. Karena itu aku memilih untuk menarik diri dari pergaulan bersama geng kriwul dan yang lain.


Aku juga ingat Aura mencoba untuk berbicara tentang Abas di hari wisuda namun aku menghindarinya. Entah mengapa saat itu rasanya aku sangat yakin jika Aura dan Abas telah berpacaran dan Aura hanya akan terus curhat tentang hubungannya dengan Abas sehingga aku merasa tidak sanggup untuk sekedar berbincang dengan Aura.


“Geng, yuk kita foto bersama buat kenang-kenangan,” ajak Ayu dan kemudian kami foto beberapa kali di depan aula tempat wisuda


“Aku pamit mau foto sama teman kelas dulu ya,” ucapku undur diri

__ADS_1


“Ka tunggu, apa bisa setelah ini kita ngobrol berdua?” tanya Aura kepadaku


“Maaf tapi aku sudah di tunggu oleh orang tuaku,” jawabku mencoba menghindar


“Ini soal Abas Ka!” ucap Aura mencoba meyakinkan aku


“Maaf Ra tapi aku tidak bisa, kamu cerita ke yang lain aja,” jawabku sambil bergegas meninggalkan teman-temanku dan menuju teman kelas ku. Disana aku bertemu Abas namun aku juga menghindarinya


“Ka boleh aku minta waktunya sebentar?”pinta Abas kepadaku


“Maaf aku buru-buru orangtua ku sudah menunggu,” jawabku menolak permintaan Abas.


Setelah foto beberapa kali dengan teman kelas aku langsung pergi meninggalkan sekolah. Hari itu aku sedang tidak bersemangat maksudku aku senang akhirnya lulus dengan nilai yang memuaskan namun aku sedih akan berpisah dengan sahabat-sahabatku dan juga Abas dengan kondisi yang kurang baik.


-*-*_*-*-


“Di hari wisuda waktu itu aku mencarimu tapi Aura bilang kamu sudah pulang,” Ucap Dimas yang masih berdiri bersandar di tembok kamarku


“Oh iya hari itu kita belum sempat foto ya? Maaf waktu itu aku tidak sempat meyapamu,” ucapku merasa bersalah telah meninggalkan Dimas di hari wisuda SMA.


“Aura meminta waktu untuk bicara tentang kamu berdua saja denganku, saat itu aku merasa menjadi orang paling bodoh di dunia ”


Dimas bercerita sambil sesekali menghela nafas panjang tampak seperti sedang mengingat-ingat masa itu


“Aura cerita apa saja?” aku masih ingin memastikan apakah Aura benar-benar telah mengetahui semuanya


“Abas bersikap baik pada Aura karena dia temanmu, namun Abas tidak ingin dia salah paham dan berharap lebih untuk itu Abas menjelaskan jika sebenarnya yang ia sukai adalah kamu dan begitupula dengan kamu,” ungkap Dimas sambil menerawang jauh kearah bulan


“Lalu apakah Aura marah?” tanyaku ingin tahu


“Kenapa kamu tidak bilang waktu itu?” tanyaku kepada Dimas


“Saat terakhir kita bertemu aku tidak bisa bicara banyak, aku ingin mengatakannya tapi tidak bisa, semua kata-kataku tertahan di tengorokan tidak mau keluar, aku tidak sanggup,” Aku mengerti yang dirasakan Dimas saat itu, aku pun begitu kepada Aura dan Abas.


Malam itu kami kembali mengenang masa lalu, sebenarnya aku ragu untuk membicarakannya, takut Dimas akan marah lagi seperti di kereta. Namun aku butuh penjelasan dari apa yang sudah Dimas katakan. Maksudku, aku memutuskan untuk menyimpan sendiri ceritaku dengan Abas karena ingin menjaga perasaan Dimas dan Aura agar mereka tidak tersakiti. Tapi setelah mendengar cerita Dimas aku justru merasa aku adalah satu-satunya orang yang tidak tahu apa-apa.


“Saat malam perpisahan aku sempat memukul Abas,” ucap Dimas sambil memejamkan mata, kulihat ada penyesalan yang mendalam pada dirinya


“Maaf, gara-gara aku persahabatan kalian rusak,” ucapku penuh penyesalan


“Sejak awal aku yang salah, aku menyukaimu tapi terus merepotkan dia untuk menjagamu sedangkan aku malah asik sendiri dengan dunia ku, dengan ambisiku, bukan salah Abas jika kemudian dia jatuh hati padamu, kamu memang wanita yang istimewah Ka, justru aku memukulnya karena dia membiarkanmu bersedih,” Kali ini Dimas berbicara sambil menatapku dengan tatapan penuh penyesalan


“Bukan Abas tapi aku yang menyebabkan semua itu terjadi,” ucapku merasa bersalah.


“Jika dia laki-laki seharusnya dia berani untuk memperjuangkanmu, jika berjuang saja tidak bisa bagaimana dia akan bisa membahagiakanmu? Aku tidak mempunyai sahabat seorang pengecut! Itulah yang membuatku marah,” Dimas menyampaikan isi hatinya dengan penuh rasa emosi seakan dia kembali pada masa itu.


-*-*_*-*-


Aku teringat malam perpisahan, saat itu aku tidak datang ke sekolah. Aku tidak ingin bertemu siapapun. Aku mengemasi barang untuk dibawa pulang, waktu itu aku berniat untuk segera pindah dari kostan agar tidak lagi bertemu teman-teman.


“Udah berkemas? Beneran mau pindah? Yah aku sendirian dong?” keluh Kak Ana kepadaku, saat itu Kak Ajeng sudah menikah dengan Kak Joni.

__ADS_1


“Mangkanya buruan lulus!” jawabku sambil mengoda Kak Ana yang sedang pusing menyelesaikan skripsinya


“Iya, insyaallah semester depan aku lulus, doakan ya,”


“Amin, semoga cepet nikah juga nyusul Kak Ajeng,”


“Amin, tapi calonnya belum ada hahahaha,” jawab Kak Ana memelas sambil tertawa


“Kak Ana sih yang mau banyak tinggal pilih aja,” jawabku usil


“Tapi aku maunya yang kayak Dimas hahaha, eh sampai lupa tadi aku lihat ada Dimas di warung Bu Ida,” aku hanya diam saja “Sepertinya dia lagi cari kamu deh, soalnya gelisah gitu lihat ke kostan kita terus,” Kak Ana mencoba meyakinkan aku untuk keluar menemui Dimas


Saat itu aku ingin mengabaikannya tapi hati kecilku tidak mau. Selain karena belum sempat bicara banyak di acara wisuda tadi siang aku juga penasaran mengapa dia ada disini bukannya di sekolah untuk menghadiri acara perpisahan. Akhirnya aku keluar kost untuk menemuinya. Saat itu dia tidak banyak bicara, dia hanya menatapku tajam lalu mengucapkan selamat tinggal.


“Dimas ngapain kamu disini?” Aku menyapa Dimas yang saat itu kulihat sedang mondar-mandir resah di depan warung Bu Ida, aku belum pernah melihat Dimas seperti itu.


“Aku akan ke Amerika,” jawabnya setelah cukup lama terdiam melihatku


“Lolos beasiswa itu? Selamat ya, aku bangga kamu jadi lulusan terbaik dan sekarang lolos beasiswa yang kamu harapkan, sejak awal aku yakin kamu pasti bisa mencapai apa yang kamu cita-citakan,” aku memberikan ucapan selamat kepada Dimas namun dia hanya diam menatapku sangat tajam lalu mengucapkan selamat tinggal.


Hari itu adalah terakhir kali aku melihat Dimas, aku terus memandangnya dari titik aku berdiri. Dia semakin menjauh hingga hilang ditelan jarak. Hari itu aku sangat sedih, aku bahkan menangis seharian hingga mataku bengkak.


Satu minggu berlalu, aku mendengar Dimas akan pergi ke Jakarta untuk pemantapan bahasa. Aku ingin menghampirinya dan mengucapkan selamat jalan tapi entah mengapa kakiku tertahan. Aku lagi–lagi menangis, entah apa yang aku tangisi tapi rasanya sangat sulit membayangkan tidak ada Dimas disampingku, tidak ada yang akan menghiburku, tidak ada lagi yang iseng dan membuatku marah. Seandainya hari itu aku datang dan mengatakan sampai jumpa lagi atau bahkan jangan pergi mungkin beban di dadaku akan terasa lebih ringan.


-*-*_*-*-


“Apakah sekarang kamu menyesal?” tanya Dimas kepadaku yang mungkin tampak melamun dimata Dimas


“Menyesal sekarang sudah tidak ada gunanya. Semuanya sudah terlambat, faktanya adalah aku tidak berjodoh dengan Abas,” ucapku membuat Dimas tersenyum


“Apakah kamu masih menyukai Abas?” tanya Dimas kemudian, kali ini aku yang tersenyum.


“Jika iya pun aku bisa apa? Sekarang baik Abas, Aura, Ayu dan Diah sudah menikah dan bahagia dengan kehidupan baru mereka, aku rasa mungkin aku juga harus menemukan kebahagiaanku sendiri,” ucapku sambil tersenyum dan disambut senyuman Dimas


“Eka,” Dimas menyebut namaku seperti hendak mengatakan sesuatu namun ucapannya tertahan oleh Ayah yang tiba-tiba muncul


“Ehem hem hem,” Ayah berdaham seperti sedang tidak enak tenggorkan. Beliau berjalan bersama Dwi dari arah masjid. Dimas yang melihat Ayah langsung salah tingkah


“Eh Ayah, anu tadi cuma mampir kok ini sudah mau pulang hehehehe, assalamualaikum,” ucap Dimas sambil mencium tangan Ayah dan kabur begitu saja.


“Kenapa dia? Orang Ayah mau suruh dia masuk duduk di dalam biar ngobrolnya lebih enak kok malah kabur,” ucap Ayah sambil mengelengkan kepala. Aku dan Dwi hanya tertawa melihat kekonyolan Dimas.


Ayah dan Dwi berjalan memasuki rumah, aku masih bersandar pada cendela kamarku sambil memandang bulan yang perlahan tertutup awan. Seperti biasa kalimat pengandaian bergemuruh di fikiranku.


Seandainya sejak awal aku jelas mengatakan jika yang aku mau adalah Abas bukan Dimas mungkin cerita cinta masa SMA ku tidak akan berakhir seperti ini. Andai aku mengungkapkan isi hatiku kepada teman-teman SMA ku dan lebih berani menghadapi masalah mungkin hubungan kami tidak akan menjadi seperti ini. Mungkin jika aku tidak merahasiakannya maka aku dan Abas bisa bersama, mungkin kami semua masih bisa saling bertemu dan bertukar kabar.


Sekarang aku menyesal telah menjadi pengecut dan memilih untuk menghindari masalah. Jika hari ini aku tidak bertemu Dimas, jika Dimas tidak menceritakan segalanya, entah sampai kapan aku akan terus membelengu diriku sendiri dalam masa lalu. Aku tidak bisa mengubah apa yang telah terjadi namun aku ingin memperbaiki kondisi untuk mengembalikan lima belas tahun yang hilang. Terimakasih Dimas, terimakasih yang sangat banyak kamu telah membawakan sudut pandang yang baru untuk ku.


Aku mungkin tidak pernah mengungkapkannya, bagiku Dimas adalah segalanya. Dia adalah teman disaat senang, kakak disaat sulit dan adik disaat menyebalkan. Selama kita terpisah tidak ada hari tanpa aku merindukannya. Saat aku dalam kesulitan aku teringat dia pernah mengatakan ini setiap kali aku mengeluh


“setiap orang pasti punya kesulitan, bahkan aku yang jenius ini juga kesulitan memenangkan hati seorang Eka,”

__ADS_1


Aku selalu memukulnya setiap kali dia berkata seperti itu, tapi aku tidak sunguh-sunguh marah, justru aku terhibur dan kembali bersemangat. Aku tidak menganggap ucapannya itu serius, aku hanya berfikir dia mencoba menghiburku.


Dalam ceritaku begitulah Dimas Nuzulazmi, dia adalah sumber masalah dalam hidupku, tapi dia juga merupakan solusi dari setiap masalahku. Dia itu seperti penawar racun yang terbuat dari racun itu sendiri. Aku bisa merasa sangat kesal sekaligus sangat senang saat bersamanya. Selamat datang teman lama, selamat bertemu lagi.


__ADS_2