RAHASIA Cinta SMA

RAHASIA Cinta SMA
Publikasi


__ADS_3

Derap langkah kakiku semakin kencang mengejar waktu yang kian menghimpit. Sedari pagi aku sudah bersiap tapi ada saja acara yang dilakukan Dimas untuk mengulur waktuku berangkat kerja. Aku mengerti dia masih rindu akupun begitu namun kewajiban sudah menantiku dan aku harus bergegas berangkat.


Setibanya di kantor aku melihat Silfi, Tara dan rekan lainnya berkerumun di meja Mbak Fina. Pasti sedang ngomongin aku pikirku.


"Ehm ehm," aku berdaham untuk membuyarkan kerumunan


"Eh Eka sudah datang," sambut Mbak Fina


"Nggak usah basa-basi, aku tahu kalian sedang ngomongin aku," ucapku sambil meletakkan tas bawaanku di meja dan duduk di kursiku


"Hehehe kita kepo nih Ka, beneran cowok kemarin suamimu?" tanya Silfi


"Ia dia suamiku, kenapa?" tanyaku balik


"Kapan lu nikah? kok nggak bilang-bilang sih?" tanya Silfi dengan wajah cemberut


"Iya nih katanya kemarin cuti cuma mau dijodohin, gak tahunya langsung nikah," ujar Mbak Fina


"Ceritanya panjang meskipun kejadiannya sangat singkat, aku sendiri juga tidak menyangka," ucapku sambil mulai menyalakan laptop di depanku


"Kalau yang dijodohkan keren gitu siapa yang nolak Mbak, gue juga mau hahahaha," ucap Tara sambil tertawa


"Eh iya, dia bukan yang mau dijodohin sama gue Ra, lu mau gue kenalin? orangnya baik kok, dokter dan nggak kalah cakep sama suami gue," tanyaku kepada Tara


Tara adalah teman senasibku, sebelumnya kami sama-sama perawan tua penggila kerja. Bedanya Tara orang yang lebih terbuka, kalau aku selalu menolak saat akan dikenalkan dengan pria Tara lebih mau mencoba lebih dulu. Namun tetap saja ujungnya di tolak juga, belum ada yang cocok katanya.


"Enggak ah, masak batal sama lu terus dikasih gue? emang gue apaan?" ucap Tara membuat semua tertawa


"Loh tunggu deh, jadi suamimu itu bukan yang dijodohin sama kamu Ka?" tanya Mbak Fina memastikan


"Bukan Mbak, suamiku itu temanku dari kecil, tetangga gitu deh, tapi udah lama nggak ketemu," ucapku mengawali cerita


"Terus kok bisa tiba-tiba nikah sama elu? ini bukan semacam nikah kontrak untuk membatalkan perjodohan kan Ka?" tanya Silfi membuat semua bersorak serentak


"Kebanyakan nonton drakor lu Sil," ejek Tara


"Hahaha, dia emang udah suka gue dari lama kok, waktu SMA pernah jadian," ucapku membuat semua berseru heboh


"Wooow Cinta Lama Bersemi Kembali nih ceritanya?" goda Mbak Fina


"Cinta Lama Belum Kelar Mbak hahaha," tambah Tara


"Oh ya bisa jadi, mangkanya Eka ogah dikenalin yang lain, masih terjebak masalalu dia," sambung Mbak Fina


Aku hanya tersenyum sambil mengelengkan kepala menerima semua ledekan rekan-rekanku.


-*-*_*-*-


Sore menjelang malam, suasana jalan begitu sibuk, aku berencana akan pulang ke rumah Dimas. Bukan untuk selamanya hanya semalam saja. Kami sepakat akan tinggal di apartemenku setiap Senin hingga Kamis, kemudian pulang ke rumah Dimas di hari Jumat hingga Minggu.


Dimas tinggal dengan orangtuanya di rumah masa kecilnya yang ia beli kembali dari tangan pemilik sebelumnya. Saat Dimas dan keluarganya pindah ke rumah Abah, rumah itu dijual ke salah seorang teman Papa. Setelah Dimas Sukses dan memiliki cukup uang, dia kembali membeli rumah itu. Beruntung meskipun tidak ditinggali namun rumah itu masih terawat dan masih seperti bentuk aslinya.


Papa dan Mama belum kembali dari kampung halaman, namun Dimas ingin memperkenalkan aku dengan pengurus rumah dan para tetangga disana. Kami memesan beberapa kotak nasi dan kue untuk dibagikan ke para tetangga.

__ADS_1


"Tetangga Ayah sudah, tetangga Papa juga sudah, apa perlu kita berkenalan dengan tetangga apartemenmu juga?" tanya Dimas


"Tidak perlu, sepertinya mereka juga tidak tahu ada aku disana," ucapku sambil tertawa


"Itulah kenapa aku tidak begitu suka tinggal di apartemen," ucap Dimas


"Apa perlu kita cari kontrakan saja?" tanyaku


"Tapi aku ingin tinggal di rumah Abah," ucap Dimas sambil memandangku


Aku hampir lupa jika Dimas bercita-cita tinggal di desa sambil mengurus masjid peninggalan Abah dan menjadi guru di sekolah IT saat sudah jadi nanti.


-*-*_*-*-


Malam semakin larut, Dimas merebahkan tubuhnya di kasur. Aku yang baru saja selesai memakai krim malam segera menyusulnya.


"Apa aku resign saja?" tanyaku membuat Dimas tersenyum


"Yakin?" tanya Dimas


"Ya mau gimana lagi? aku sudah jadi istrimu jadi ya kudu ikut kemana kamu pergi kan?"


"Istri sholekha," ucap Dimas sambil memeluk dan mencium keningku


"Jadi beneran harus resign?" tanyaku memastikan


"Hahaha, dasar plin-plan!" Dimas menarik hidungku sambil mengoyangkannya


"Kalau kamu lebih nyaman disini, tidak masalah kita tinggal disini saja," sambung Dimas


"Paling aku ngajar cuma dua kali seminggu, sisanya bisa pulang, lagian masih lama, mungkin tiga atau lima tahun lagi baru akan terealisasi,"


Aku membalikkan badan tengkurap di dada Dimas yang bidang


"Rencana bisnis yang kamu bilang di kereta waktu itu apa maksudnya sekolah itu?" tanyaku penasaran


"Bukan, aku ingin membuka rumah fashion," jawab Dimas membuatku bingung


"Maksudnya?"


"Jika kamu mau," jawabnya membuatku semakin bingung


"Kamu mau bikinin aku butik?" tanyaku meyakinkan


"Iya semacam itu," jawabnya


"Tapi waktu itu kita bahkan belum tahu kalau mau menikah, masak iya kamu mau bikinkan aku butik? kamu bohong ya?" tanyaku dengan memasang wajah curiga


"Aku memang sudah berencana menikahimu kok, ya meskipun sempat ada tragedi perjodohanmu yang diluar rencanaku,"


"Tapi kan aku belum tentu mau sama kamu!" jawabku


"Buktinya sekarang kamu ada di kamarku," ucap Dimas membuat aku tertawa

__ADS_1


Bicara dengan Dimas memang bikin pusing kepala dan tidak pernah akan menang.


-*-*_*-*-


Ayu : Eka sudah menikah?


pagi buta aku membuka mata sudah dikejutkan oleh pesan Ayu di grup chating. Ayu mengcapture status Dimas yang berisikan fotoku yang sedang terlelap dipelukan Dimas dengan keterangan


'bobok ada yang nemenin'


Aku kesal dengan Dimas, bisa-bisanya dia membuat status seperti itu.


Eka : Hehehe maaf lupa belum ngabarin, habisnya terjadi begitu cepat, waktu itu Dimas pulang reuni tiba-tiba bawa penghulu ke rumah😅


Ayu : What? jadi kalian nikah hari itu juga?


Eka : Iya 😁


Aura : Apa ini??? bukan mimpi kan? Eka beneran sudah menikah sama Dimas?


Diah : Dimas gendheng (gila)!


Aura : Terus rencana bridal shower kita gimana?


Ayu : Ya batal lah, pengantennya sudah ngak perawan!


Eka : Hahaha maaf ya?


Diah : Kapan resepsi?


Eka : Belum tahu


Diah : Awas saja kalau dadakan lagi!


Ayu : Hahaha Dimas memang sesuatu ya Ka 😂


Eka : 😅


Aura : Ciyeee Bu Dimas hahaha


Diah : Gimana Ka rasanya bobok sama cowok keren? uhuuy 😆


Asik berbalas pesan dengan teman-teman tiba-tiba Dimas memelukku dari belakang dan mencium leherku mesra. Tentu saja aku terkejut dan berusaha menghindar karena mentari sudah semakin tinggi.


"Dimas! jangan ah udah siang aku mau siap-siap kerja nih,"


"Sebentar aja,"


kluklik kluklik kluklik


Ku dengar ramai suara pesan masuk, rupanya Dimas dengan sengaja menekan tombol voice notes untuk mengirim pesan suara. Jangan tanyakan reaksi geng kriwul mendengar kemesrasaan pagi kami. Sudah barang pasti mereka meledekku habis-habisan.


Aku sangat jengkel dengan Dimas, rasanya ingin ku jitak kepalanya. Maksudku untuk apa dia melakukan semua itu? isengnya sungguh keterlaluan. Aku mengomel panjang tapi dia malah tertawa senang membuatku semakin jengkel.

__ADS_1


-*-*_*-*-


__ADS_2