RAHASIA Cinta SMA

RAHASIA Cinta SMA
Hari Yang Terik


__ADS_3

Terkadang aku tidak mengerti dengan isi kepala Dimas, maksudku dia memang pintar tapi ide gilanya sering membuat aku tidak habis pikir. Pernah aku merasa sangat kesal pada Dimas, bagaimana tidak aku dibuatnya malu dihadapan seisi kelas.


Saat pelajaran berlangsung tiba-tiba Dimas masuk ke dalam kelas ku dan meminta izin untuk mengikuti pelajaran. Jika tidak salah waktu itu sedang pelajaran biologi gurunya Pak Tri wali kelasku.


“Permisi Pak, boleh saya ikut kelas ini sebentar?” tanya Dimas kepada Pak Tri yang sedang menjelaskan di depan kelas


“Bukannya kelas kamu di sebelah?” tanya Pak Tri heran


“Tapi saya ingin ikut kelas ini Pak,” jawab Dimas memelas


“Memangnya kenapa?” tanya Pak Tri penasaran


“Soalnya di kelas sebelah saya tidak bisa konsentrasi,”


“Kenapa?” Pak Tri mulai mengeryitkan dahinya


“Karena rindu murid Bapak” jawab Dimas dengan cengar cengir malu


Jangan tanyakan kondisi kelas saat itu, karena sudah pasti seisi kelas riuh bersorak mengoda kami. Sementara Pak Tri hanya menggelengkan kepala dan entah mengapa beliau mengizinkan Dimas mengikuti kelasnya.


Aura yang seakan mengerti jika Dimas ingin duduk bersamaku segera bergeser duduk di samping Aria yang saat itu sedang duduk sendiri karena Togar sedang tidak masuk sekolah. Teman-teman semakin ribut bersorak kearah kami.


Bukan hanya malu perasaan yang aku rasakan saat itu tapi juga sungkan kepada guru dan teman-temanku, maksudku itu adalah jam pelajaran dan perilaku Dimas itu jelas menganggu jam pelajaran. Mungkin saja Pak Tri sebenarnya ingin marah namun karena tahu Dimas anak emas sekolah maka ditahannya saja amarah itu. Aku melihat Pak Tri mengelengkan kepala dan melanjutkan pelajaran membuat seisi kelas kembali tenang.


“Ngapain sih?” tanyaku kepada Dimas dengan berbisik


“Rindu kan?” jawabnya sambil nyengir


“Nggak usah aneh-aneh!” aku melotot ke arahnya lalu dia tersenyum usil


“Aku terpilih untuk ikut lomba robotik, nanti pulang sekolah ada pembekalan dari kepala sekolah, jadi aku tidak bisa antar kamu pulang,” jawabnya dengan berbisik


“Selamat!” jawabku singkat meskipun aku sangat jengkel padanya tapi sejujurnya aku bangga dia terpilih lomba robotik jadi aku memberinya ucapan selamat.


“Mulai besok aku harus ikut karantina di Surabaya, jadi kita tidak bisa bertemu paling tidak tiga hari,” dia berkata sambil berusaha mengambil sesuatu dari saku celananya


“Alhamdulillah,” jawabku singkat


“Kalau kamu rindu baca ini saja,” dia memberikan sebuah buku catatan kecil, aku mengambilnya dan membuka buku itu tapi Dimas segera menutupnya dan berkata


“masih ada orangnya sudah rindu, gimana besok?” dia tersenyum dan aku jadi kesal sendiri dibuatnya.

__ADS_1


-*-*_*-*-


Masih di hari yang sama dan dengan perasaan kesal oleh perilaku Dimas, aku berjalan sendiri menyusuri trotoar yang tertutup dedaunan. Sedari tadi aku merasakan adanya sinyal Alimabas namun aku abaikan saja karena sedang tidak berselera.


Dari belakang terdengar suara yang tidak asing memanggilku


“Pacar Dimas!”.


Hari yang sempurna! siang yang terik berjalan sendirian, kesal oleh sikap Dimas belum reda ditambah kesal dengan Abas yang memanggilku 'Pacar Dimas!' maksudku aku bukanlah pacar Dimas dan kenapa seluruh hidupku ini selalu saja dikelilingi oleh Dimas?


“Berapa kali harus saya jelaskan, saya bukan pacar Dimas!” jawabku dengan nada sedikit tinggi


“Maaf deh, Eka cantik aja gimana?” Abas mencoba mencari senyumku tapi aku sungguh sedang tidak berselera


“Eka saja!” jawabku ketus


“Iya deh, Eka saja, tidak pake cantik,” Abas tersenyum aku hanya menghela nafas panjang dan lanjut berjalan. Abas mengikuti berjalan di sampingku.


Siang itu harusnya menjadi siang yang indah, berjalan berdua saja dengan Abas adalah impianku sejak lama. Tapi hari itu sungguh sangat menyebalkan bagiku. Kami hanya berjalan dalam diam. Sesampainya di depan kost Abas, aku berhenti sejenak bermaksud meminta maaf telah bersikap buruk padanya, namun ku dapati Abas terus melaju.


“Kost kamu disini kan?” tanyaku memastikan kalau-kalau Abas sedang lupa


“Kenapa kamu tidak berhenti?” tanyaku heran


“Saya bermaksud untuk mengantar kamu sampai di kost,” jawab Abas dengan bahasa formal tidak seperti biasanya.


Entah apa yang aku rasakan saat itu rasa kesal yang tadi memenuhi ruang hatiku tiba-tiba lenyap, tersunging senyum di sudut bibirku. Abas lucu dengan bahasa formal seperti itu, apakah aku juga seperti itu dimata Abas saat berbicara dengannya? Pantas saja dia selalu berkata 'kamu lucu'.


Kami meneruskan perjalanan kami. Aku merasa tidak enak mendiamkan Abas yang sudah berbaik hati menemaniku pulang.


“Kenapa kamu mau mengantar saya pulang?” tanyaku mencoba untuk mengusir canggung diantara kami


“Saya khawatir kamu tidak sampai kost,” jawabnya sambil terus berjalan dengan tatapan lurus ke depan


“Maksudnya?” tanyaku heran


“Kamu terlihat sangat marah,” jawabnya sambil menengok kearahku, aku mencoba tersenyum dan dia membalas senyumanku


“Terimakasih,” Aku tersipu malu


“Untuk apa? kan belum sampai kost?” tanya Abas kemudian

__ADS_1


“Terimakasih sudah meredakan amarah saya ” jawabku membuat Abas tersenyum dan aku membalas senyumnya, dia mengeluarkan tangannya dari kantong celana, sebungkus permen di genggamannya diberikan kepadaku


“Ini buat kamu, ada obat biusnya, saya mau culik kamu” ucap Abas dengan wajah misterius yang dibuat-buat membuatku tertawa


“Hahaha sejak kapan penculik membuat pengumuman akan menculik orang?” kali ini aku yang membuat Abas tertawa.


Aku sangat menikmati siang itu. Aku berharap akan ada orang hajatan atau perbaikan jalan, atau apa saja yang bisa membuat jalan menuju kostku ditutup sehingga kami harus memutar lebih jauh untuk bisa sampai di kost, sayang doa ku tidak terkabul.


-*-*_*-*-


Pagi hari yang cerah aku sangat bersemangat pergi ke sekolah. Saking semangatnya aku sampai memakai bedak dan lipstik kak Ajeng supaya terlihat cantik oleh Abas. Pagi itu seperti biasa aku berjalan kaki melewati kost Abas, namun tidak aku rasakan sinyal Alimabbas. Aku menunggu cukup lama di depan kost Abas disana aku bertemu dengan teman kost Abas yang tidak aku kenal siapa namanya. Dia datang menghampiriku


“Pacarnya Dimas ya? Dimasnya sudah berangkat karantina diantar Abas”. Rupanya benar, semua teman kost Dimas mengira jika aku adalah pacar Dimas, itu sangat menyebalkan dan lebih menyebalkan lagi aku sudah dandan cantik-cantik malah tidak bertemu dengan Abas.


Sesampainya di sekolah aku langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan muka, aku tidak mau teman-teman heboh dengan penampilanku pagi itu, masalahnya aku sedang tidak berselera untuk menjawab pertanyaan mereka.


Setelah selesai cuci muka aku berjalan menuju kelasku dengan melewati kelas Abas, tiba-tiba aku merasakan sinyal Alimabbas, aku heboh sendiri harus bersikap bagaimana. Abas datang menghampiriku dan memberikan sapu tangan untuk ku. Dia hanya tersenyum sambil mengelengkan kepala lalu berlalu memasuki kelasnya, entah apa artinya. Mungkin dia menertawakan mukaku yang basah kuyup. Aku sangat malu dan hari itu seolah terik mengikis senyumku.


Aku merasa hari berlalu lambat saat itu, bel pulang sekolah baru saja berbunyi, Aura segera meninggalkan kelas karena harus mengikuti latihan paduan suara, sementara Diah sudah dituggu mobil jemputannya dan Ayu masih sibuk menyiapkan materi mading.


Aku sudah berkemas namun tidak juga beranjak dari bangku tempatku duduk, saat itu aku merasakan sinyal Alimabbas yang begitu kuat. Aku sangat resah mengamati lingkungan sekitar, mungkin Abas akan datang ke kalasku untuk menemui Rendi tapi tidak ku jumpai ada Rendi di dalam kelas.


"Tok tok tok tok" ku dengar seseorang mengetuk cendela disampingku, aku tersentak kaget saat kulihat Abas ada dibalik cendela, dia mengerak-gerakkan tangannya dan tersenyum kepadaku seakan mengisyaratkan untuk menyuruhku keluar kelas. Tanpa berfikir panjang aku berpamitan kepada Ayu dan segera keluar kelas menemui Abas.


“Ada apa?” tanyaku kepada Abas


“Dimas menyuruh saya mengantarkan kamu pulang,” dia berkata sambil menunjukan kunci motor Dimas.


Sebenarnya aku masih malu dengan kejadian tadi pagi, tapi aku memilih untuk menikmati siang itu saja, toh sepertinya Abas juga sudah lupa dengan kejadian tadi pagi. Lagipula siang itu terlalu terik menyengat kulit untuk berjalan kaki sendirian.


Diatas motor berdua membuatku melamun sambil senyum-senyum sendiri. Aku membayangkan kami sedang melaju dijalanan yang banyak bunga sakura berguguran, bersendagurau dan tertawa bersama sambil berpegangan tangan.


Tanpa sadar aku memeluk pinggang Abas dan menyandarkan kepalaku di punggungnya. Abas yang seperti merasa tidak nyaman menegurku dengan lembut.


“Ehhm, Eka mengantuk ya?” tanya Abas sambil memegang tanganku yang sudah melingkar di pinggangya, sepertinya dia berusaha melepaskan pelukanku


“Eh maaf” aku yang tersentak langsung melepaskan pelukanku.


Aaaahhhhhh bodohnya, bagaimana aku bisa terbuai dalam lamunan dan melakukan hal memalukan itu. Rasanya aku ingin dikubur hidup-hidup saja dari pada harus menanggung malu saat itu.


Sisa perjalanan itu kami habiskan dengan diam. Aku terus bertanya kepada diriku sendiri mengapa aku terus melakukan hal bodoh saat bersama Abas? Apa tidak bisa sekali saja bersikap normal? Jika seperti ini terus bagaimana aku bisa dekat dengan Abas? Aku terus mengutuk diriku sendiri.

__ADS_1


__ADS_2