
Aku memandang jauh keluar jendela. Suasana di luar sudah jauh berbeda dengan lima belas tahun yang lalu saat aku dan Dimas masih Sekolah. Aku teringat suatu hari kami ketinggalan kereta api, lalu kami memberanikan diri pulang naik sepedah motor, entah mengapa saat itu kami tidak berfikir untuk naik bus. Sebenarnya setelah Dimas kecelakaan Abah pernah berpesan agar lebih hati-hati berkendara karena itu sebisa mungkin kami tidak pulang naik motor kecuali terpaksa.
Jika diingat hari itu sungguh sial, tiba-tiba ban motor Dimas bocor ditengah jalan, kami mendorong sepedah motor itu cukup jauh. Suasana waktu itu sangat terik dan sepi, kanan dan kiri jalan adalah sawah tebu, orang sekitar menyebutnya tuangan. Kini tuangan itu berubah menjadi kawasan industri yang ramai kendaraan besar melintas.
Beruntung saat itu ada tukang tambal ban tepat disebelah orang jual minuman es tebu.
Saat tukang tambal ban melepas ban motor Dimas, kami melihat ban itu telah robek, dan harus diganti dengan yang baru. Uang saku Dimas baru saja habis digunakan untuk membeli bensin. Aku ada sedikit uang yang cukup untuk membeli ban baru, dengan berat hati aku melepaskannya, ku berikan pada tukang tambal ban itu untuk dibelikan ban baru di pasar.
Sembari menunggu tukang tambal ban itu, aku dan Dimas menelan ludah melihat embun merembes dari kaca tempat es tebu yang terlihat sangat segar. Mas penjual es tebu itu tampaknya mendengar suara hati kami, tiba-tiba beliau memberikan satu gelas es tebu untuk berdua. Beliau masih cukup muda, mungkin usianya dua atau tiga tahun diatas kami, namanya Cak Di. Cak adalah sebutan untuk laki-laki yang lebih tua, sama seperti mas, abang atau kakak.
“Nyoh le gawe cah loro,” kata Cak Di sembari memberikan segelas es tebu kepada Dimas, kurang lebih artinya 'ini dek buat berdua' rasanya saat itu seperti mendapat minuman dari surga. Allah memang Maha Kaya.
“Tapi kami tidak punya uang,” kata Dimas takut jika akan di suruh membayar
“Ora popo, iki gratis, wis di ombe wong loro kunu, mesti ngelak toh mari nyurung honda?” jawab Cak Di yang artinya 'tidak apa-apa ini gratis, silahkan diminum berdua, pasti kalian haus habis dorong sepedah motor' orang di daerah itu memang meyebut sebedah motor dengan honda meskipun merek motor itu yamaha atau kawasaki.
-*-*_*-*-
__ADS_1
Setelah hari itu setiap kali kami pulang naik sepedah motor kami akan mampir untuk membeli es tebu Cak Di. Cak Di orang yang sangat baik, meskipun dia sendiri dalam kesusahan tapi dia tidak segan untuk membantu orang lain. Setiap kali kami mampir selalu ada hal baru yang bisa kami pelajari dari Cak Di. Kata Dimas orang seperti Cak Di patut dijadikan guru, di gugu lan ditiru.
Dimas itu memang orangnya suka pamer aku sering menyebutnya sombong tapi sebenarnya bukan itu maksudku. Dimas adalah orang yang bersahaja, meskipun tergolong jenius tapi dia tidak segan belajar dari siapapun, bahkan dia pernah bangun sebelum subuh untuk belajar memulung sampah dari pemulung yang sering mengambil sampah di lingkungan sekitar sekolah kami.
Katanya pemulung itu hebat, mereka bisa mencari kesempatan besar dari hal kecil yang dianggap tidak berguna oleh orang lain.
"Suatu saat orang di dunia ini akan menghargai pekerjaan mereka."
Aku masih mengingat Dimas pernah mengatakannya dan itu terbukti, saat ini di Indonesia sedang marak gerakan bank sampah. Setiap rumah tangga memilah sampah mereka sendiri, sampah yang dapat dimanfaatkan di pisahkan dari sampah residu yang dibuang ke Tempat Pemrosesan Akhir atau TPA. Gerakan seperti ini telah dilakukan terlebih dulu oleh Negara maju seperti Jerman, Jepang, Swedia dan yang lainnya. Mereka bahkan membuat tekhnologi canggih untuk mengolah sampah menjadi energi terbaharukan.
-*-*_*-*-
Sepanjang perjalanan aku asik dengan kenanganku sendiri hingga tidak sadar kami berhenti di depan sebuah warung makan yang cukup besar, ada rest area, mushollah dan beberapa kamar mandi disana. Mugkin kami berhenti untuk sarapan pikirku. Ketika masuk ke dalam warung itu aku melihat ada Cak Di disana, beliau sudah tidak seperti dulu, sekarang sudah tampak lebih tua, dengan jengot yang rapi dan peci putih di kepala.
Rupanya itu adalah warung es tebu Cak Di, tempatnya berjualan di gusur untuk pembangunan kawasan industri. Dimas diam-diam membantunya membuka warung kecil sekedar untuk nongkrong para supir dari area industri itu. Karena ramai pengunjung lalu istrinya mencoba untuk menjual makanan, hanya beberapa menu sederhana seperti pecel dan lodeh, namun sangat laris karena memang rasanya enak dan harganya murah.
Sekarang warung kecil itu telah menjadi besar dengan rasa dan harga yang masih enak dan murah. Tidak kusangka orang yang dulu ku kenal sebagai penjual es tebu di tepi jalan kini berubah menjadi juragan rumah makan yang sukses. Roda kehidupan memang selalu berputar.
__ADS_1
“Masyaallah ini Cak Di? Wah sekarang sudah sukses ya?” aku berdercik kagum
“Alhamdulillah, berkat Mas Dimas,” ucap Cak Di sambil menepuk pungung Dimas
“Berkat kerja keras dan ketulusan hati Cak Di,” ucap Dimas mengelak
“Leres loh Mbak Eka, kalau tidak ada Mas Dimas pasti sudah menyerah saya,” ucap Cak Di meyakinkan aku
“Alhamdulillah Cak Di, kalau tidak ada Cak Di hari itu kami juga pasti sudah menyerah ya Mas? Haus banget nggak punya uang buat beli minum hehehe,” ucapku kepada Cak Di yang disambut senyum oleh beliau.
“Betul, Allah itu Maha Kaya dan penuh kasih sayang, rezeki saya dititipkan Cak Di, rezeki Cak Di dititipkan saya supaya bisa saling tolong menolong dan menjadi saudara,” ucap Dimas menambahkan
“Insyaallah dulur saklawase,” jawab Cak Di sambil tertawa dan memeluk pundak Dimas, Dulur saklawase artinya adalah saudara selamanya.
Perjalanan pulang ini penuh dengan memori masa lalu yang memberikan aku begitu banyak pelajaran. Sejenak aku terdiam melihat Dimas yang tampak begitu keren dimataku. Bagaimana tidak, dia yang berada jauh di luar negeri justru malah lebih peduli dengan orang-orang disini dibandingkan aku yang hanya pergi ke Ibu Kota.
Dalam diam aku berfikir betapa meruginya aku yang menutup diri dari setiap kenyataan di hadapanku dan sibuk menciptakan ilusi yang ku nikmati sendiri. Seandainya lima belas tahun lalu aku lebih berani menghadapi masalah mungkin hari ini aku akan menjadi pribadi yang lebih bahagia. Dimas mengajarkan aku bagaimana merasakan bahagia dari kebahagian orang lain. Terimakasi Dimas, terimakasih yang sangat banyak.
__ADS_1