
Setelah menempuh perjalanan panjang dan penuh cerita akhirnya kami sampai di kampung halaman. Bunda dan Ayah telah menunggu di halaman rumah. Mereka tampak kaget aku pulang bersama Dimas, mungkin karena kami sudah lama tidak tampak bersama-sama.
“Assalamualaikum Bunda,” sapa Dimas sambil mencium tangan Ayah dan Bunda.
“Waalaikumsalam, alhamdulillah akhirnya bertemu, Bunda sudah kangen banget loh,”
“Ayo Bunda ajak masuk,” ucap Ayah meminta Dimas untuk mampir ke rumah tapi dia menolak, ingin segera bertemu keponakannya katanya.
“Maaf bukan maksud menolak cuma sudah ditunggu yang di rumah, nanti si cantik ngomel kalau Omnya mampir dulu nanti sore insyaallah saya main kesini,” ucap Dimas menolak dengan halus.
“Anaknya Putri ya? Tadi lewat sini yang besar cantik yang kecil lucu sekali, bunda jadi pingin punya cucu,” kata bunda sambil melirik ke arahku.
“Ehm, orang mau pulang ya biarin pulang, ini anaknya juga pulang loh, malah sibuk menyambut orang lain,” kataku mengalihkan topik pembicaraan karena aku tahu ujungnya pasti menyuruhku cepat menikah dan memiliki anak, ekspresiku yang sedikit ngambek membuat semua yang disana tertawa.
Aku suka suasana hari itu, rasanya sudah lama sekali aku tidak tertawa bersama keluargaku. Sudah lama sekali aku tidak merasa sebahagia ini. Sekali lagi terimakasih Dimas, terimakasih kamu telah membawa kehangatan didalam hidupku. Terimakasih telah membawaku kembali pulang kerumah setelah tersesat cukup jauh. Kamu memang sahabat sejati, aku mencari yang sepertimu tapi tidak ku temukan dimanapun, Dimas Nuzulazmi memang hanya satu dan satu-satunya di Dunia.
-*-*_*-*-
“Assalamualaikum,” ku dengar Suara Dimas yang segera disambut Ayah dan Bunda tentu saja dengan “Waalaikumsalam,” aku tengok dari cendela kamarku, Dimas berlalu pergi.
Aku baru saja bangun tidur sore itu. Aku berlari kecil menuju ruang tamu, Ayah dan Bunda masih berdiri di depan pintu. Samar aku mendengar Bunda dan Ayah membicarakan Dimas.
“Mau di renovasi total Yah masjid nya?” tanya Bunda kepada Ayah yang masih berdiri di depan pintu
“Nak Dimas sih begitu inginnya, di robohkan lalu dibangun kembali yang lebih besar di tanah wakaf nya nak Dimas seperti gambar ini, tapi masih mau dimusyawarahkan dulu sama pengurus masjid,” jawab Ayah, rupanya Dimas hendak menambahkan tanah wakaf untuk masjid dan merenovasinya.
“Benar-benar sudah sukses ya Yah nak Dimas itu,” kata Bunda kagum.
“Selain itu anaknya soleh dan bertanggung jawab,” kata Ayah memuji Dimas, tampaknya orang tuaku sangat terpesona dengan Dimas. Yaaah memang sejak kecil dia sudah mencuri hati orang tuaku sih.
“Ngomongin Dimas ya? Kok Eka nggak dibangunkan Dimas kesini?” ucapku menyela obrolan seru Ayah dan Bunda.
“Kamu sudah bangun? tadi mau bunda bangunin nggak boleh sama nak Dimas, katanya kamu capek di kereta tidak tidur sama sekali,”
Aku merasa sepertinya dia mengintaiku selama di kereta, dia tau aku melamun sendirian, dia tahu aku pergi ke restorasi, dia juga tahu aku tidak tidur.
“Cepat mandi sana, sudah hampir maghrib,” sambung bunda membangunkan aku dari lamunan.
__ADS_1
-*-*_*-*-
Malam begitu sunyi, terdengar suara jangkrik saling beradu. Aku mendengar Adzan Isya’ berkumandang, Ayah dan Dwi tampak meninggalkan rumah menuju masjid. Pukul tujuh malam di Depok adalah saat lalulintas sedang padat-padatnya, suara klakson dan gas kendaraan bermotor membuat suasana terasa begitu sibuk.
Berada di kampung halaman seperti ini rasanya sangat tenang. Aku bisa merasakan dinginnya angin malam dan merdunya suara sunyi. Aku memandang rembulan dari balik jeruji cendela kamar. Rupanya malam itu sedang bulan purnama, sangat cantik. Suasana syahdu malam itu menemaniku menjelajahi masa lalu.
-*-*_*-*-
Aku ingat waktu itu kami sudah naik ke kelas tiga SMA, formasi kelas kami kembali berubah. Aura dan Dimas di kelas 3 IPA I, Diah bergeser ke kelas 3 IPA III, Ayu di 3 Bahasa I, Aku di 3 IPA II dengan Rendi dan yang mengejutkan adalah Abas yang menjadi teman kelasku.
Abas duduk satu bangku dengan Rendi dan aku di belakang mereka duduk dengan Aria. Saat itu adalah pertama kalinya aku memiliki HP tapi aku hanya menggunakannya untuk menghubungi orang tuaku. Aku sengaja tidak memberitahu teman-temanku kecuali Abas. Sebenarnya aku juga tidak berniat untuk memberi tahu Abas tapi hari itu tanpa sengaja Abas melihat aku memasukkan HP kedalam tas. Karena sudah tertangkap basah maka kami bertukar nomor. Sejak saat itu Abas sering mengirimku sms dan kita semakin dekat. Jika di ingat kembali rasanya saat itu aku dan Abas seperti sedang selingkuh dari Dimas dan Aura.
“Tolong rahasiakan ini ya Bas? Saya tidak mau yang lain tahu dan akan membuat saya sibuk degan HP lalu lupa dengan belajar, kita kan sudah kelas tiga,” ucapku memohon kepada Abas.
“Hhmm kalau begitu, saya kasih nama kontak kamu pakai nama samaran saja ya?” tanya Abas membuatku berfikir hal yang sama.
“Boleh, saya juga simpan kontakmu dengan nama lain, tapi apa ya?” ucapku sambil mencari ide.
“Bagaimana kalau kita buat nama rahasia khusus kita berdua, jadi hanya kita saja yang tahu,” ucap Abas memberikan ide.
“Kura-kura,” gumam Abas sambil tersenyum, aku ingin tahu apa yang ada di kepalanya saat itu.
“Kamu mau panggil saya kura-kura? Kenapa?” tanyaku penasaran.
“Karena kamu lucu kayak kura-kura, suka diam-diam melihat tapi kalau didekati malu, seperti kura-kura yang berjalan pelan lalu masuk cangkang saat ada orang,” ucap Abas membuatku malu.
“Kalau begitu saya kasih kamu nama Penguin,” Jawabku semangat.
“Kenapa?” Tanya Abas terlihat penasaran.
“Karena sejak kecil saya ingin sekali melihat penguin tapi tidak pernah kesampaian,” jawabku sambil tersenyum.
Nama kura-kura dan penguin resmi menjadi nama kami. Hampir setiap malam kami bertukar SMS.
-*-*_*-*-
Memasuki kelas tiga kami mendapatkan kelas tambahan sepulang sekolah. Sebelum memulai kelas kami bisa istirahat untuk makan siang dan sholat. Hari itu Suasana kantin tidak seramai biasanya, aku dan geng kriwul serta Abas, Dimas dan Rendi baru selesai menikmati makan siang bersama. Aura tampak murung sejak pagi mungkin karena dia sedang datang bulan, kebetulan jadwal kami bersamaan jadi aku tahu. Sementara yang lain pergi sholat aku dan Aura menunggu di kantin.
__ADS_1
“Ka, apa kamu tahu Abas sedang dekat dengan siapa?” tiba-tiba Aura bertanya kepadaku, aku memiliki firasat yang buruk.
“Kamu kan?” jawabku seolah tidak mengerti arah pembicaraan Aura.
“Tidak sengaja aku membaca sms nya dengan seseorang yang dia panggil kura-kura, dan orang itu memanggilnya penguin,” ucap Aura membuatku merasa bersalah, apa yang aku khawatirkan akhirnya terjadi. Hari itu rasanya aku seperti sedang mengkhianati sahabatku.
“Mungkin teman atau saudaranya,” aku mencoba mencari alasan agar Aura tidak curiga dan berfikir jika Abas sedang dekat dengan wanita lain.
“Dia murid sini, mereka janjian untuk makan mie ayam bersama siang ini,” ucap Aura dengan pandangan kosong
“Tadi kan Abas makan bersama kita, sudah jangan mikir yang macam-macam,” kataku kepada Aura
“Karena itu aku penasaran, mengapa mereka tidak jadi bertemu, padahal aku ingin tahu siapa wanita itu,” Aura mulai meneteskan air mata, aku merasa sangat tidak enak berbohong padannya
“Kamu tahu kan Ka, aku menyukai Abas sejak masih kelas satu? Aku sangat menyukainya,” kali ini pipi aura telah basah aku hanya bisa mengusap-usap punggungnya. Aku merasa sangat buruk telah membuat sahabatku menangis seperti itu.
“Ka, kamu mau kan bantu aku?” tanya Aura sambil menyeka air matanya.
“Kamu kan satu kelas sama dia, tolong kamu perhatikan mungkin saja wanita itu teman sekelas kalian,” pinta Aura kepadaku, aku hanya bisa mengangguk tanpa tahu harus bagaimana mengatakan yang sebenarnya
“Lalu tolong kamu tanyakan Dimas, mungkin dia tahu sesuatu,” tambah Aura.
Bagaikan disambar petir, rasanya aku hangus, hancur menjadi abu. Apa yang akan aku lakukan selanjutnya? Bagaimana aku akan menjelaskan kepada Aura? Setiap hari Aura terus mencari informasi tentang si kura-kura dan akhirnya Ayu dan Diah pun mendengar kabar itu. Keadaan semakin memojokan aku, kini Ayu dan Diah juga sangat penasaran dengan si kura-kura itu. Bahkan mereka terkesan membencinya.
“Sudah jelas Abas itu dekat sama kamu, berani-beraninya dia mendekati Abas? siapa sih dia? Bikin kesal saja!” ungkap Diah dengan wajah kesal
“Paling juga adik kelas, kalau teman seangkatan pasti sudah tahu kalau Abas sedang dekat dengan Aura” jawab Ayu ikut kesal
“Pokoknya kalau ketahuan kita datangi rame-rame kita minta dia mundur baik-baik,” ucap Diah dengan wajah marah
“Tidak bisa begitu juga, bagaimana jika Abas yang suka dengan wanita itu?” Aura tampak sangat terluka, dia seperti tidak bergairah untuk hidup. Aku semakin merasa bersalah.
“Sudah jelas Abas itu suka sama kamu Aura, kamu tenang saja,” hibur Ayu kepada Aura yang mulai menangis
Masa-masa indah bersama Abas berakhirlah sudah. Aku tidak ingin menyakiti Aura, jika Aura tahu akulah kura-kura itu dia akan sangat membenciku. Satu-satunya jalan yang bisa aku tempuh untuk menyudahi keadaan itu adalah dengan menjahui Abas.
-*-*_*-*-
__ADS_1