
"Sayang makan diluar yuk?" tanya Dimas
Aku tahu dia sedang mengodaku gara-gara aku memanggilnya sayang di depan teman-temanku.
"Enggak! langsung pulang saja!" jawabku ketus
"Sayang sebel ya? jangan marah dong sayang"
"Kamu sengaja kan panggil sayang-sayang gitu?"
"Hahahaha, aku suka loh kamu kalau cemburu" ucap Dimas membuatku malu
"Aku nggak cemburu, aku cuma sebel aja, nggak suka"
"Iya nggak suka karena cemburu" goda Dimas sambil mencolek daguku yang berkerut karena kesal.
"Tadi apa yang dibilang Pak Liam?" aku berusaha mengalihkan pembicaraan
"Oh itu, hhhmmm nanti saja di rumah aku ceritakan semuanya, nggak enak sambil nyetir, nggak fokus" jawab Dimas
-*-*_*-*-
Kami memasuki sebuah jalan kecil yang hanya bisa dilalui satu mobil saja, kanan kirinya seperti semak belukar. Aku baru tahu jika masih ada daerah seperti itu di Jakarta.
"Kita mau kemana Mas?" tanyaku heran
"Pulang, tuh sudah sampai" kata Dimas
Aku binggung karena tidak ku lihat ada bangunan sedikitpun disana. Dimas menambah kecepatan lajunya seperti hendak menabrak semak-semak. Aku memejamkan mata dan berpegang erat pada kursi tempatku duduk. Ternyata saat kami melewatinya semak itu otomatis terbuka seperti pintu dengan sensor otomatis.
"Kaget ya? hehehe ini rumahku" ucap Dimas
"Mana?" Aku belum melihat bangunan disana
"Ini" ucap Dimas sambil memarkir mobilnya.
Tiba-tiba mobil kami tertarik turun kebawah tanah seperti naik lift . Lagi-lagi aku dibuat kaget dan Dimas hanya tertawa.
"Ini rumah?" tanyaku tidak percaya
Sesampainya dibawah aku melihat bangunan megah serba canggih. seperti berada di taman hiburan yang dipenuhi wahana bermain.
"Hahaha lucu ya?" tanya Dimas
"Gila!" jawabku sewot
"Eh jangan cemburu ya?" ucap Dimas membuatku heran
Tidak lama kami masuk pintu utama datang sebuah robot perempuan yang wajahnya mirip denganku tapi tubuhnya masih berupa plat besi menghampiri Dimas.
"Selamat datang kekasihku" suara robot itu persis seperti suaraku
Dimas memberikan kontak mobil dan jasnya kepada robot itu lalu robot itu mencium pipi Dimas membuatku terbelalak.
__ADS_1
"Apa ini?" tanyaku sambil setengah tertawa
"Duplikatmu hahaha" jawab Dimas iseng
"Saya kekasih Dimas, Krasiva Eka Putri, kamu siapa?" tanya robot itu
Aku hanya diam membatu terheran-heran dengan apa yang sedang aku lihat.
"Jawab, nanti dia marah kalau kamu cuekin" ucap Dimas
"Saya Krasiva Eka Putri yang asli!" jawabku tegas
"Hu hu hu hu kekasihku telah menikah, aku patah hati" ucap robot itu sambil berlalu pergi
Aku dan Dimas tertawa lepas. Aku masih tidak percaya dengan semua yang aku lihat. Ada robot bulat seperti bola mengelinding yang ternyata sedang mengepel lantai, ada yang sedang menata meja makan bersiap menyiapkan makan malam untuk aku dan Dimas.
"Namanya Koki dia chef dia yang memasakkan aku menu Indonesia saat di luar negeri" ucap Dimas
"Beneran bisa masak?" tanyaku heran
"Koki, kenalkan ini istriku, mulai hari ini selain aku kau juga harus melayaninya, oke?" ucap Dimas kepada Koki robot chef
"Perintah diterima, Koki siap melayani nyonya Eka" jawab Koki dengan suara khas robot yang terbata-bata berbeda dengan Eka yang sudah seperti manusia
"Dia bisa masak banyak menu masakan tapi paling jago masakan indonesia, kalau tidak percaya pesan saja pasti dibuatkan, kamu boleh menilai rasa masakannya nanti" ucap Dimas membuatku ingin mencoba
"Bagaimana caranya?" tanyaku
"Pesan saja seperti pesan di restoran aku sudah memrogramnya untuk melayani kita dengan sensor suara" jawab Dimas
"Tom yum masakan berasal dari Thailand akan segera dihidangkan untuk nyonya" jawan Koki membuatku takjub
"Hhmmm Ka" ucap Dimas tampak ragu
"Apa?" tanyaku dengan masih mengamati Koki memasak
"Kamu satu-satunya yang aku ajak kesini, aku punya banyak rahasia yang kamu boleh tidak percaya atau marah, tapi tolong jangan tinggalkan aku" ucap Dimas
"Termasuk yang dikatakan Pak Liam?" tanyaku
"Ya, termasuk itu"
"Ceritakan itu dulu" aku penasaran apa yang sebenarnya terjadi meskipun aku sudah bisa menebaknya
Dimas mengajakku ke sebuah ruangan, disana dipenuhi layar yang menampilkan semua tempat dimana aku biasa beraktivitas termasuk, ruang kerja dan apartemenku.
"Apa ini? kamu memata-matai aku?" tanyaku serius
"Bisa dibilang seperti itu" jawab Dimas
"Sejak kapan?" tanyaku lagi
"Tidak ingat persisnya, aku hanya ingat saat itu kamu masih kerja di bank" jawab Dimas ragu
__ADS_1
"Bank? itu sudah sekitar 7 tahun lalu" jawabku sambil mengingat-ingat
"Saat itu kita sudah bertemu, tapi kamu tidak menyadarinya, kamu seolah tidak bergairah untuk hidup, bicara seperlunya, tidak pernah tertawa dan tidak memperdulikan sekitarmu, seperti yang penting hidup. Aku merasa bersalah telah membuat hidupmu begitu hampa, aku tidak berani menampakkan diriku didepanmu"
"Aku tampak sangat menyedihkan bukan?"
"Dan juga tertekan, aku tahu kamu tidak nyaman bekerja di bank dan mulai mencari pekerjaan baru, saat itulah aku membeli saham besar milik Liam Group" Jelas Dimas
"Apa dua syarat yang dikatakan Pak Liam?" tanyaku langsung ke intinya
"Yang pertama aku ingin Bagus Liam yang memimpin perusahaan itu, saat itu dia masih anak bawang, tapi aku yakin dia mempunyai bakat dan karisma tersendiri untuk membawa perusahaan itu bangkit"
"Yang kedua?" tanyaku tidak sabar
"Yang kedua menerimamu sebagai karyawan tetap disana" jawab Dimas sambil tertunduk
Aku sudah menduga jawaban itu, aku mengerti Dimas pasti tahu aku tidak suka dibantu dengan cara seperti itu karenanya dia takut aku marah.
"Sejauh apa kamu memata-matai aku?" tanyaku kemudian
"Aku tidak memata-matai seperti yang kamu bayangkan, aku tetap menghormati privasimu, aku hanya ingin menjagamu itu saja" jawab Dimas meyakinkanku
"Apa kamu juga yang memberikan apartemen murah padaku?" tanyaku serius
"Iya, aku membeli apartemen itu dan menyuruh orang untuk menjualnya kepadamu dengan harga murah karena lokasinya dekat dengan kantormu" jawab Dimas sambil meremas-remas tangannya
Dia masih sama, tangannya berkeringat saat gugup.
"Kamu sadar apa yang kamu lakukan?" tanyaku
"Aku tahu kamu tidak suka, kamu boleh marah, kamu boleh menghukumku, tapi ku mohon jangan pergi" ucap Dimas sambil mengenggam tanganku
Aku berusaha melepaskan tangan Dimas. Dimas tampak gelisah dan mulai mengendorkan tangannya. Setelah lepas dari Dimas aku segera memeluknya.
"Tidak marah?" tanya Dimas dengan suara bergetar
"Bukannya harusnya terimakasih?" ucapku sambil mengencangkan pelukanku
"Terimakasih" kata Dimas
"Aku yang terimakasih" jawabku
"Aku" kata Dimas lagi
Aku mengendorkan pelukanku dan melihat dalam ke mata Dimas
"Kalau aku bilang aku ya aku!" ucapku galak
Dimas tersenyum lalu mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku memejamkan mata siap untuk menerima kecupannya tapi Dimas malah mengigit bibirku. Tentusaja aku marah dan memukul dadanya dengan keras dia malah tertawa.
"Tom yumku udah masak belum ya? makan yuk?" ucapku sambil melangkah lepas dari pelukan Dimas
Namun Dimas kembali menarikku dalam pelukannya dan kali ini dia benar-benar menciumku.
__ADS_1
Bukannya aku tidak marah, sebenarnya aku tidak suka dengan cara Dimas menolongku tapi aku merasakan ketidak berdayaan Dimas. Memang sejak dulu dia selalu berusaha melindungiku. Aku teringat saat SMA dia tidak pernah membiarkan aku pulang sekolah sendirian, jika dia tidak bisa mengantarku dia pasti menyuruh Abas untuk mengantarku.
Selain itu aku ingin menghargai usahanya, banyak hal yang sudah dia lakukan untukku dalam waktu yang lama. Aku sadar tidak akan ada yang bisa menandingi cinta Dimas padaku. Karenanya aku ingin berterimakasih telah begitu sabar menantiku.