
Saat SMA adalah pertama kali aku tinggal jauh dari orang tua, aku sangat sedih waktu itu, dalam satu minggu pertama hampir setiap hari aku menangis karena rindu Bunda. Pernah suatu malam aku berlari ke kost Dimas dengan mata yang basah, aku menangis di depan kost Dimas dengan tersedu-sedu. Jika dikenang kembali rasanya aku sangat malu.
Saat itu bapak kost Dimas yang pertama kali menemuiku, beliau tampak bingung kenapa ada seorang gadis mencari anak kostnya sambil menangis di halaman rumahnya. Untung bapak kost Dimas itu sangat baik, beliau mempersilahkan aku duduk dan mengambilkan segelas air agar aku merasa lebih tenang lalu mengutus salah seorang anak kost untuk memanggil Dimas.
Saat Dimas datang dengan wajah khawatir aku melihat dia diikuti oleh banyak teman kostnya, mereka mengintip dari balik pintu seolah penuh dengan rasa penasaran, samar aku mendengar mereka menyebut aku pacarnya Dimas. Entah kebodohan apa yang telah aku perbuat saat itu, hanya karena kangen bunda aku menangis di kost Dimas dan menimbulkan persepsi yang salah kaprah.
Malam itu Dimas meminta izin bapak kostnya untuk mengantarkan aku pulang. Diperjalanan pulang kami mampir membeli arbanat (permen kapas) di taman kota. Aku tau Dimas sedang berusaha menghiburku. Dia bercerita jika dia sedang kesal dengan Abah karena beliau terus menelponnya sampai-sampai teman kostnya menertawakannya dan mengatainya anak mama.
“Masak si Abah telfon sudah kayak jam minum obat, sampai aku dikatai anak mama sama teman-teman kost ku, padahal kan aku cucu Abah, yang telfon aku si Abah bukan mama, lagian kalau bukan anak mama, terus aku anak siapa?” katanya dengan muka seolah-olah sangat kesal, aku tahu ekspresi itu dibuat-buat olehnya.
“Harusnya yang telepon tanya aku sudah makan atau belum, sudah mandi atau belum, sudah kangen apa belum itu kan gadis cantik kayak kamu bukan malah si Abah,” lanjutnya membuatku sedikit tersenyum.
“Yasudahlah, besok kita beli tiket kereta untuk hari sabtu kita pulang,”
“Janji?” tanyaku memastikan
“Asal kamu berhenti menangis,” dia mencondongkan tubuhnya mendekati telingaku lalu berbisik “aku takut dikira kamu lagi nangis minta pertanggung jawaban,” jawabnya iseng membuatku menjadi kesal.
“Enak saja memangnya aku perempuan macam apa?” tanyaku kesal sambil melipat tangan dan kusimpan di depan dadaku
__ADS_1
“Macam bidadari,” jawab Dimas mengodaku.
Dia berhasil membuatku tertawa dan memukul lengannya sambil mengomel panjang. Hari itu aku menyadari jika Dimas adalah teman terbaik dalam hidupku, aku sangat beruntung memiliki teman seperti Dimas.
-*-*_*-*-
Sesampainya di kost, aku langsung masuk ke kamar, disana ku dapati teman kostku tampak sangat khawatir, mereka langsung memeluk ku.
Aku kost di Green House, salah satu kost putri yang terkenal dikalangan mahasiswa karena penghuni kost yang cantik-cantik. Teman kamarku adalah Kak Ana dan Kak Ajeng, mereka satu kampus namun berbeda angkatan. Kak Ana semester 3 sedangkan Kak Ajeng semester 7 yang sudah sibuk dengan persiapan skripsi.
Hari itu aku juga menyadari jika aku beruntung medapatkan teman kost yang perhatian seperti mereka. Jika diingat kembali rasanya hari itu tidak begitu buruk, setidaknya itu adalah awal aku membuka diri untuk memulai berteman dan menikmati kehidupan remajaku.
Kak Ana tergolong wanita yang cuek dengan penampilan tapi dia tampak manis dengan kulit sawo matangnya. Dia suka kegiataan out door seperti naik gunung, teman prianya sangat banyak, aku tahu karena setiap hari yang mengantarnya pulang kuliah selalu berganti-ganti, namun sepertinya Kak Ana tergolong orang yang pemilih, tidak satupun dari para lelaki itu yang bisa merebut hatinya. Katanya dia mencari yang seperti Dimas versi dewasa.
Berbeda dengan Kak Ana, Kak Ajeng mempunyai pacar namanya Kak Joni, rumahnya dekat dengan taman kota. Kak Ajeng sering mengajak Aku dan Kak Ana main ke rumah Kak Joni. Konon mereka pacaran sejak Kak Ajeng semester pertama kuliah. Kak Joni adalah senior Kak Ajeng di Fakultas, dia banyak membantu tugas ospek Kak Ajeng dan jadilah mereka dekat lalu pacaran.
Kak Ajeng asli Surabaya namun sejak kelas dua SD tinggal di Batam karena orangtuanya ditugaskan kerja disana. Kak Ajeng orang yang perhatian dan pendengar yang baik namun kadang juga cerewet. Dia sudah seperti ibu bagi aku dan Kak Ana.
Kami bertiga hampir selalu makan malam bersama, karena kost kami hanya menyediakan sarapan maka kami membeli makan malam di warung. Kadang kami makan malam di rumah Kak Joni.
__ADS_1
Di akhir pekan jika kami tidak pulang, kami akan jalan-jalan ke pasar untuk membeli keperluan sehari-hari. Kadang kami pergi berenang atau nonton bioskop. Kami paling suka nonton film horror meskipun setelah itu kami tidak bisa tidur terbayang hantu di film yang kami tonton. Kurang lebih sampai tiga hari kami akan saling menemani jika ada yang ingin pergi ke kamar mandi, maklum kamar mandi kost kami berada di belakang terpisah dari bangunan kamar jadi kesan seramnya semakin terasa.
Kadang Kak Ajeng suka membuat masker wajah, lalu memaksa aku dan Kak Ana ikut memakainya. Kak Ajeng juga sering menjadikan aku sebagai objek latihan make up.
Aku dan Kak Ana sering membantu Kak Ajeng mengerjakan skripsinya, kami menemaninya survei dan meng-input data atau sekedar memeriksa redaksional laporan skripsi yang telah disusun Kak Ajeng untuk asistensi.
Terkadang Aku dan Kak Ajeng membantu Kak Ana mengerjakan tugas organisasinya. Begitu pula Kak Ajeng dan Kak Ana juga sering membantuku dalam belajar.
Kehidupan kos kami tidak selalu rukun, adakalanya kami berdebat, bertengkar hingga saling menjauh tapi setiap masalah dapat kami selesaikan dengan kekeluargaan.
Terkadang kami juga saling meminjam uang saat uang saku mulai menipis, meminjam barang hingga berbagi makanan.
Kami saling mendukung namun juga saling mengingatkan saat ada yang salah. Terutama Kak Ajeng yang suka sekali menasehati aku dan Kak Ana.
Begitulah kehidupan anak kost, kami jauh dari rumah dan berusaha menjadi keluarga untuk satu sama lain. Apa kabar mereka sekarang? Terakhir bertemu sebelas tahun yang lalu di pernikahan Kak Ana, Kak Ajeng dan kak Joni sudah mempunyai satu anak perempuan yang cantik waktu itu.
Aku rindu mereka, aku bisa membayangkan panjangnya nasehat Kak Ajeng supaya aku lekas menikah diusiaku yang sudah kepala tiga ini.
-*-*_*-*-
__ADS_1