RAHASIA Cinta SMA

RAHASIA Cinta SMA
HUT 36


__ADS_3

Bulan Juni adalah hari ulang tahun SMA kami perayaannya begitu meriah. Kala itu pertama kalinya aku mengikuti acara HUT sekolah seperti ini, semasa SD atau SMP HUT sekolah cukup dirayakan dengan pemotongan tumpeng saat upacara bendera hari senin.


Ada beberapa perlombaan baik individu, kelompok maupun kelas. Ada Lomba siswa teladan, olimpiade beberapa mata pelajaran seperti matematika, biologi, kimia, fisika, ekonomi, geografi dan sejarah, yang tentu saja di ikuti oleh Dimas dan Aura. Ada juga debat bahasa inggris, pagelaran sastra seni dan budaya yang tentu saja diikuti oleh Ayu. Ada turnamen olahraga seperti futsal, basket, volly, panjat dinding, pencak silat dan sebagainya, Dimas dan Abas mengikuti turnamen basket dalam satu tim. Ada juga lomba antar kelas seperti lomba kebersihan dan kerapihan kelas serta lomba kostum dan maskot kelas. HUT 36 ditutup dengan malam pentas seni, Aura, Ayu dan Abas tampil di acara itu.


Pagi yang lebih pagi dari biasanya Dimas menjemputku dengan penuh semangat. Wajahnya tampak antusias, aku senang Dimas yang seperti ini, maksudku dia memang selalu tampak ceria tapi ketika dia bersemangat aura dirinya tampak begitu cemerlang hingga menularkan energinya kepada setiap orang di sekitarnya.


"Semangat sekali yang mau ngeborong piala, mau ikut lomba apa saja kamu?" tanyaku kepada Dimas yang sedang berkaca di spion motornya sambil merapikan kerah bajunya


"Iya dong, aku mau jadi siswa teladan," jawabnya dengan percaya diri


"Kamu pasti menang, tanpa ikut lomba pun kamu sudah jadi siswa teladan," jawabku sambil duduk di atas motor Dimas


"Aku ingin jadi siswa teladan biar apa coba?" tanya Dimas sambil menyalakan mesin motornya


"Biar eksis," jawabku asal


"Ah itu sih sudah, aku nggak butuh gelar buat jadi sombong hahaha," jawab Dimas dengan sombong membuatku tertawa, Dimas memang seperti itu dia menyadari dirinya keren dan digandrungi banyak orang terutama para wanita.


"Hahaha, terus biar apa dong?" tanyaku ingin tahu, aku menduga jawabannya pasti konyol

__ADS_1


"Biar kamu yakin sama aku" jawabnya sambil tersenyum dan mengerakan kedua alisnya bergantian


"Maksudnya?" tanyaku sambil menahan tawa, aku tebak itu adalah jurus gombalan Dimas


"Ya kalau satu sekolah saja yakin menjadikan aku teladan masak kamu enggak?" jawabnya sambil meletakkan jari telunjuk dan jempolnya di dagu membentuk huruf V


"Dasar gombal teruus!" aku berseru sambil memukul punggungnya dia hanya tertawa


Dimas memang selalu seperti itu, jika terdengar orang yang belum mengenalnya bisa jadi orang tersebut akan salah sangka.


Jangankan aku, Mbok Nah orang tua di desa kami yang sudah pikun saking tuanya saja juga sering digombali sama dia, malah dia memanggil Mbok Nah dengan sebutan 'cinta' yang membuat Mbok Nah tersipu malu. Kacau kan Dimas itu?


-*-*_*-*-


Aku dan Diah hadir di aula sekolah untuk menyaksikan final lomba siswa teladan. Disana kami bertemu Abas. Ayu sibuk dengan persiapan madingnya dan Aura sedang ikut babak penyisihan olimpiade kimia. Finalis siswa teladan hari itu ada tiga orang dua diantaranya dari kelas dua dan Dimas dari kelas satu. Aku sangat antusias setiap kali Dimas mendapat kesempatan menjawab. Aku berdoa sepanjang pertandingan agar jawaban Dimas benar. Rasanya saat itu sungguh sangat mendebarkan, Dimas yang lomba aku yang deg-degan.


Suasana Aula sangat meriah, anak-anak kelas satu bersorak mendukung Dimas, beberapa senior perempuan juga bersorak meneriakkan nama Dimas. Temanku itu memang menjadi idola para wanita di sekolah. Para guru juga banyak yang datang untuk mendukungnya. Ayu dan Diah juga sangat mengaguminya, setiap hari mereka selalu memintaku bercerita tentang Dimas. Aku tahu Dimas memang pintar dan tampan tapi sebelumnya aku tidak tahu jika dia sekeren itu.


Hari itu tanpa sengaja aku melihat wajah serius Dimas tampak sangat keren. Pantas saja murid perempuan saling menjerit dan meneriakkan namanya. Mungkin jika aku tidak mengenalnya sejak lama aku juga akan seperti mereka. Aku jarang sekali melihat Dimas dengan wajah serius seperti saat itu. Rasanya setiap kali bersamaku yang dia lakukaan hanyalah berbuat konyol dan menyebalkan.

__ADS_1


Saat itu entah mengapa aku jadi mengamati detail ekspresi serius Dimas. aku merekam setiap gerakan dirinya lalu tersenyum membandingkannya dengan saat dia bersikap iseng dan menyebalkan. Rasanya sangat tidak cocok, seperti dua orang yang berbeda saja. Asik memperhatikan Dimas sampai aku tidak menyadari jika perlombaan telah usai dan Dimas keluar menjadi juaranya.


Dia tersenyum kearahku dan melingkarkan kedua telapak tangannya membentuk simbol hati aku tersenyum melihatnya.


'Mulai lagi, hilang sudah kerennya' kataku dalam hati.


Diah menghantam lenganku degan lengannya membangunkanku dari lamunan sambil berkata


“Ciee senengnya yang di kasih hati senyum-senyum sendiri,” aku hanya tertawa kecil dan mengelak seperti biasa.


Tanpa sengaja aku melihat Abas yang duduk disamping kananku tampak menundukkan wajah, dia tersenyum tapi tidak seperti biasanya. Rasanya seperti senyuman seseorang yang sedang kesal. Entah mengapa saat itu aku merasa bersalah kepada Abas, maksudku aku memang tidak melakukan apapun dan kami juga tidak memiliki hubungan apapun tapi mengamati Dimas seperti itu disaat aku menyukai Abas rasanya seperti aku sedang selingkuh.


-*-*_*-*-


Aura kalah dalam olimpiade kimia tapi dia masih semangat untuk mengikuti olimpiade biologi esok hari. Aura memang paling pintar diantara geng kriwul, dia juga sangat rajin mencatat. Ayu paling senang meminjam catataan Aura saat tertinggal materi sekolah, katanya catatan Aura sangat rapih dan penuh dengan warna warni yang nggak bikin bosen untuk membacanya.


Sepulang sekolah aku membantu Ayu mendekor mading kelas untuk lomba kebersihan dan kerapihan kelas. Diah dan beberapa teman lain menanam pohon dan menghias taman depan kelas. Murid laki-laki bergotong royong mengangkat bangku keluar kelas untuk dibersihkan, murid perempuan mengelap kaca cendela, menyapu dan mengepel lantai kelas, beberapa diantaranya merapikan isi lemari.


Wali kelas kami pak Tri juga datang untuk memberikan semangat dengan membawa beberapa makanan dan minuman untuk kami. Sebenarnya beliau datang untuk membantu Aura dan beberapa teman lainnya belajar mempersiapkan diri untuk olimpiade besok.

__ADS_1


Aku senang berada di kelas ini, selain kompak muridnya sangat toleran, kami mendukung teman-teman yang akan ikut olimpiade atau lomba lainya. Bahkan untuk lomba kostum dan maskot kelas kami sengaja menggunakan bahan-bahan dari barang bekas agar teman kami yang kurang mampu tidak terbebani biaya kostum mereka. Selain itu wali kelas kami juga sabar dan perhatian. Rasanya kelas I-4 adalah kelas yang paling berkesan sepanjang aku sekolah.


__ADS_2