
Pagi begitu cerah, seakan turut bahagia merayakan rindu yang berbalas. Suasana meriah menghiasi setiap sudut sekolah. Sudah banyak yang berubah tapi rasanya tetap sama. Aku sangat merindukan hari-hariku di sekolah ini. Meskipun berakhir pahit tapi aku merasakan asam manis kehidupan remaja disini.
Bersemangat bersama geng kriwul dan teman-teman lainnya. Mencuri pandang dan merasakan sinyal alimabbas. Kesal tapi senang bersama Dimas. Masa-masa remaja yang seru.
Dari gapura selamat datang ku lihat Ayu dan Aura melambaikan tangan. Segera ku berlari kecil dan memeluk mereka. Saking senangnya hampir-hampir aku lupa jika datang bersama Adi. Setelah ku kenalkan Adi pada mereka, Adi pamit bergabung dengan teman-teman angkatannya.
Sepeninggalan Adi, Aura bertanya panjang lebar siapa Adi. Akupun menceritakan semua termasuk tentang hubunganku dengan Dimas.
"Jadi kamu dijodohin sama dokter itu terus Dimas tau?" tanya Aura
"Iya, tapi semua sudah selesai antara aku dan Adi, tinggal Dimas," jawabku lemas
"Dimas biar kami yang urus!" ujar Ayu
"Urus apa?" tanya Diah mengagetkan kita semua
"Diaaaah sejak kapan kamu disini?" tanyaku
"Hehe barusan kok, maaf telat kudu antar anak-anak ke Mbahnya dulu" jawab Diah
Kami semua berpelukan seperti anak kecil. Untuk sesaat aku bisa istirahat dari memikirkan Dimas. Rindu kepada kawan-kawan berbalas sudah. Aku senang semua sudah berbahagia. Ayu menikah dengan Rendi dan mempunyai satu anak perempuan berusia tiga tahun. Aura menikah dengan seorang jaksa dan mempunyai satu orang anak laki-laki berusia lima tahun. Diah menikah dengan seorang pilot dan mempunyai du anak laki-laki berusia tujuh dan dua tahun serta satu anak perempuan berusia empat tahun. Kami berencana untuk lanjut main di luar selepas acara reoni. Pergi ke tempat-tempat favorit kita saat SMA dulu.
Sedang asik melepas rindu dengan teman-teman ku lihat Dimas datang dengan disambut ramai para wanita mengerubunginya. Rupanya dia masih menjadi idola sekolah meskipun sudah lama tidak bersekolah. Dimas datang bersama Abas yang tampak lebih rapih setelah mencukur brewoknya.
"Waaah Dimas makin ganteng aja, Ka buruan samperin," ucap Diah
"Ehh kamu ini nggak tahu apa-apa! mereka lagi marahan jadi Eka lagi pusing mau baikan gimana caranya," ucap Aura
"Ooh yang tadi kalian omongin itu Dimas? aaah kalau itu sih gampang," ucap Diah sambil menjentikkan jari tangannya
"Apa memang rencanamu?" tanya Aura
"Kan nanti Ayu jadi moderator waktu Dimas jadi pembicara, yah Eka undang aja ke panggung terus minta maaf disana," jawab Diah membuat Aura bersemangat
"Setuju!" teriak Aura
"Heeeh ngawur! Yang bener aja ngerusak acara, bisa marah panitia, lagian Eka bisa jadi bahan bulian para fans Dimas kalau kayak gitu," ucap Ayu menyelamatkanku dari ide gila Diah
"Tapi romantis Yuuu," rengek Aura
__ADS_1
"Enggak! ntar aku bilang sama Dimas aja deh, selesai acara kita temukan kalian, gimana Ka?" tanya Ayu
"Tapi bukannya nanti kita mau pergi bareng?" tanyaku kepada semuanya dan disambut dengan ekspresi kesal semua orang
"Ekaaaa! pergi sama kita bisa kapan-kapan tapi kalau masalah Dimas nggak bisa ditawar, kudu cepat diselesaikan!" ucap Aura
"Cewek mana yang nggak mau sama Dimas? dia bisa kapan saja dapat cewek yang lebih oke dari kamu Ka!" Diah membuatku tersadar Dimas memang menjadi rebutan para wanita muda, jika dia mau ada ratusan wanita yang lebih baik dari aku yang bisa dia miliki.
"Udah serahkan aja pada kami, pokoknya kamu nggak usah kuatir, kami jamin kalian akan baikan, tapi kamu juga harus berani Ka jangan maju mundur!" tambah Ayu
"Ya, kali ini aku pasti akan berani mengakui perasaanku!" ucapku bersemangat membuat semua orang ikut bersemangat.
"Eh btw yang datang sama Dimas itu Abas?" tanya Aura
"Ciieee CLBK Ra?" goda Diah
"hahaha bukaaan, tapi kok bisa ya jadi bulat begitu?" tanya Aura heran
"Kamu nyindir aku?" Diah memadukan kedua alisnya dan memonyongkon mulutnya
Aku dan Ayu tertawa melihat Aura kelabakan mencari jawaban
"Halah alasan! lihat yaaa aku bakal diet dan akan lebih kurus dari kamu!" ucap Diah sinis
"Yakin? itu ada menu lontong kikil favoritmu looh," ucap Ayu menggoda
"Ada rujak cingur juga, aku lama nggak makan itu yuuuk makan yuuk," ajak ku
"Hayuuuk," ucap Diah sambil mengandengku
"Dietnya gimana jadinya?" goda Ayu
"Mulai besok aja hahahaha,"
kami semua terlarut dalam obrolan tanpa arah yang berisikan candaan semata. Sudah sangat lama rasanya. Bersama tenan-teman memang merupakan nikmat terindah. Bodohnya aku yang menutup diri nyaris lima belas tahun lamanya.
-*-*_*-*-
Sesi bincang alumni dengan Dimas segera dimulai. Ayu telah bersiap dibalik panggung bersama Dimas. Aku, Aura, Diah, Rendi dan Abbas duduk dikursi tamu yang sudah disediakan panitia.
__ADS_1
"Tadi aku lihat dokter yang nyapa kamu waktu itu, dia alumni sini juga?" tanya Abas
"Iya, Dimas juga ketemu?" tanyaku
"Iya, bahkan disapa, kalian jadi makan siang waktu itu?"
"Enggak malah kami berantem,"
"Dimas cerita katanya dia calon suamimu?" Abas tampak tidak percaya
"Huuuft panjang ceritanya," jawabku lemas
"Heee jangan banyak tanya, bantu aja!" ucap Diah yang duduk di sampingku
"Bantu gimana?" tanya Abas
"Pokoknya bantu! Rendi juga!"
"Siap boss!" jawab Rendi dan Abas hampir bersamaan.
-*-*_*-*-
Mendengarkan Dimas bicara aku merasa menjadi orang yang paling tidak mengenal Dimas. Dia menjadi sukses lebih dari ekspektasiku. Rupanya dia baru saja mendapat penghargaan dari pemerintah atas prestasinya yang mengemparkan dunia. Jerman, Rusia dan Amerika berebut meminang kewarganegaraannya. Aku semakin bangga padanya saat dia bilang
"Saya memutuskan untuk tetap menjadi WNI dengan syarat didirikan sekolah IT setara SMK di kampung halaman saya, dan pemerintah setuju, saat ini sudah dalam tahap pembebasan lahan, mohon do'anya supaya berjalan baik dan bermanfaat untuk lingkungan kota kita ini dan bagi Indonesia tentunya,"
Setelah selesai sesi bincang alumni Ayu segera menuju ketempat kami duduk
"Dimas pulang, cepat Ka kejar!" ucap Ayu dengan nafas tersengal karena selesai berlari
Aku dan geng kriwul, Abas dan juga Rendi segera berlari menuju pintu keluar untuk menemui Dimas.
"Dimaaaaas!" teriakku memanggilnya "Ah ahkuh huf ingin bicara," ucapku dengan lidah yang kelu
"Maaf tapi aku sibuk hari ini," ucap Dimas dingin sambil membuka pintu mobilnya hendak berlalu pergi
Kulihat Diah berdiri di depan mobil Dimas dengan tangan terlentang dan Aura menyeretku masuk ke dalam mobil Dimas. Dimas tampak bingung sebenarnya aku juga.
"Kalau mau pergi, pergi sama Eka, kalian harus bicara!" ucap Aura yang kemudian menutup pintu mobil Dimas
__ADS_1
Aku beruntung memiliki teman-teman yang tangguh. Saat mereka berkata serahkan pada kami aku sudah menduga jika mereka akan melakukan segala cara untuk aku bisa bicara dengan Dimas.