
Hari-hari setelah putus dari Dimas menjadi hari paling suram dalam kehidupan remajaku. Aku seperti mati rasa, tidak bisa merasakan senang, sedih ataupun marah. Keadaan ini sama sekali berbeda dari yang aku bayangkan sebelumnya. Aku kira setelah putus aku akan sangat senang dan bisa kembali menikmati hari-hari mencuri pandang kepada Abas. Namun kenyataannya aku sama sekali tidak bergairah untuk itu. Bukan hanya karena Dimas tapi juga karena Aura yang sudah mulai terang-terangan menyukai Abas.
Abas cukup sering ke kelasku untuk bertemu Rendi. Sinyal Alimabbas yang dulu aku rasakan begitu kuat kini telah redup bahkan kadang aku tidak lagi merasakannya. Terkadang Abas datang ke bangku ku untuk sekedar menyapa atau membicarakan project akustik dengan Aura. Abas dan Aura terlihat semakin dekat, mereka sering pergi latihan bersama bahkan terkadang Aura ikut kolaborasi dengan RAIN band.
Suatu hari Aura datang ke sekolah dengan memakai riasan wajah yang berbeda dari biasanya. Dia juga memakai sweater rajut berwarna pink yang selaras dengan sepatu barunya. Hari-hari setelah ujian memang diperbolehkan memakai apa saja asal masih berseragam. Aura tampak sangat ceria, sedari pagi ia terus menyanyi lagu-lagu cinta. Tentu saja aku, Ayu dan Diah penasaran apa yang terjadi, meskipun aku bisa menebak jika itu pasti berhubungan dengan Abas.
“Kamu beda banget hari ini Ra?” tanya Ayu ingin tahu, tapi Aura hanya senyum senyum sambil merapikan riasannya di kaca
“Kesambet kamu Ra?” tanyaku heran, tidak biasanya Aura centil seperti itu
“Coba tebak Abas ajak aku ngapain?” tanya Aura kepada kami
Saat itu hatiku terasa sakit, rupanya benar tentang Abas. Sisa-sisa harapan untuk bisa bersama Abas rasanya habislah sudah. Tampaknya Aura benar-benar menyukai Abas, mana mungkin aku akan merusak kebahagiannya dengan mengungkapkan perasaanku kepada Abas.
“Ajak pacaran?” tanya Diah antusias
“Hahaha amiiin, tapi belum," Aura berpura-pura sedih dengan melengkungkan bibirnya kebawah
"Terus apa? sampai kamu sebahagia ini?" tanya Diah penasaran
"Dia ajak aku kolaborasi sama RAIN band buat manggung di Festival Musik, dan hari ini latihan pertamanya,” jelas Aura dengan wajah yang sangat gembira
“Wah seru tuh, jadi kamu bakal menghabiskan hari libur untuk latihan sama Abas dong Ra?” tanya Diah, Aura hanya mengangguk sambil tersipu malu
__ADS_1
“Ahhhh aku juga ingin habiskan liburan sama gebetan,” kata Ayu mengeluh
“Gebetan kamu kan banyak tinggal pilih, lah apa kabar aku?” kata Diah sewot
Aura, Ayu dan Diah tertawa bersama, aku berusaha tersenyum untuk formalitas.
“Apakabar si Bagas yang waktu itu Yu?” ucapku mengalihkan topik pembicaraan, bukan maksudku untuk tidak turut bahagia atas kebahagiaan Aura tapi aku butuh waktu untuk bisa menerima keadaan.
“Hmmm sudah tidak aku tanggapi” kata Ayu seperti menyembunyikan sesuatu
“Bagus itu Yu, jangan di tanggapi orang kayak dia, mending yang lain aja,” kata Diah membenarkan sikap Ayu
"Eh hampir lupa, kamu dapat salam dari Kak Mail anak 3 IPA - 1, dia anak teman Papa ku, kemarin ketemu di kondangan," ucap Aura
"IPA-1 pinter tuh yuk," ucapku mencoba berbaur dengan keadaan, aku berusaha sebisa mungkin agar tidak tampak murung
"Enggak ah, aku mau cuti mikirin cowok dulu," jawab Ayu
"Aaah kamu yu, tadi katanya pingin punya gebetan? giliran ada yang naksir bilangnya mau cuti," ucap Diah sewot
Ayu hanya tersenyum kecut. Entah mengapa aku merasa ada yang aneh. Sepertinya Ayu menyembunyikan sesuatu dari kita semua. Mungkin dia diam-diam sudah bertemu dengan Bagas atau mungkin dia masih saling berbalas puisi dengannya.
-*-*_*-*-
__ADS_1
Libur semester genap akan dimulai, Aku dengar Dimas sedang mempersiapkan jurnal untuk kompetisi di Amerika. Sepertinya dia sudah bisa melupakan aku dan fokus pada jurnalnya. Sebelumnya beberapa kali aku mendapati Dimas sedang memperhatikanku dan tersenyum padaku, tapi aku tidak mengindahkannya dan menghindarinya. Entah lelah menghadapi sikapku atau memang sedang sibuk, Dimas tidak lagi muncul dihadapanku.
Aku pernah mejumpai Dimas di perpustakaan saat aku sedang menemani Ayu mencari bahan untuk mading. Dimas sedang berdiskusi dengan teman perempuannya yang aku tahu namanya Ratna. Mereka tampak ceria bersama, entah apa yang sedang mereka perbincangkan, sepertinya tentang rencana penelitian mereka. Dimas sempat melihat ke arahku, saat itu aku juga sedang melihat kearahnya, namun kami tidak saling sapa. aku berlalu begitu saja meninggalkan mereka dan Dimas kembali berbincang ceria bersama Ratna.
“Kalian sudah benar-benar putus?” tanya Ayu kepadaku, aku hanya mengangguk
“Gadis itu namanya Ratna anak kelas II Bahasa 1, tapi umurnya masih sepantaran kita dia pernah ikut kelas percepatan waktu SMP, pinter anaknya dia sering menjurai lomba debat bahasa inggris, aku pernah mewawancarainya sebagai profil siswa berprestasi,” Ayu mencoba untuk menceritakan profil wanita yang sedang bersama Dimas padaku tapi aku hanya diam dan pura-pura membaca
“Kabarnya Ratna ikut dalam kompetisi itu untuk membantu bahasa inggris Dimas, memang dia bahasa inggrisnya jago, maklum bapaknya kerja di luar negeri” Ayu terus bercerita meskipun aku tidak memintanya.
Aku merasa tidak perlu mengetahui apapun tentang Ratna. Meskipun sebenarnya aku juga penasaran belum pernah aku melihat Dimas sedekat itu dengan wanita. Bagaimanapun aku tidak berhak ikut campur urusan Dimas dan Ratna. Ratna tampak seperti gadis baik-baik, mereka sama-sama pintar dan tampak serasi. Lalu aku mengalihkan topik pembicaraan.
“Yu, apa benar kamu sudah tidak menanggapi Bagas?” tanyaku membuat Ayu seketika diam dari dongengnya tentang Ratna, aku melihat dia melirik ke arahku lalu melihat kondisi sekitar kami
“Jangan bialang Aura dan Diah ya?” Ayu memohon kepadaku seakan dugaanku benar
“Aku masih suka membalas puisinya, tapi janji jangan bilang yang lain!” lanjut Ayu
“Kenapa kalian tidak bertemu saja sih? Supaya jelas dia itu Bagas yang mana,” kataku memberi saran kepada Ayu
“Aku takut jika ternyata benar Bagas yang itu nanti Aura, Diah dan kamu tidak setuju lalu aku jadi tidak bisa berbalas puisi lagi sama dia,” kata Ayu dengan wajah sedih
“Waktu aku bilang ingin putus dari Dimas kalian juga marah tidak setuju, tapi sekarang kita masih tetap berteman kan? aku yakin kalian teman yang baik jadi aku tidak ragu untuk memutuskan putus dari Dimas, dan aku yakin dalam kasusmu Aura dan Diah juga akan mengerti jika ternyata kamu mau sama si Bagas itu,” jawabku meyakinkan Ayu agar berani mengambil keputusan.Entah mengapa aku mempunyai firasat baik terhadap Bagas. Ayu tampak terdiam memikirkan kata-kataku.
__ADS_1
-*-*_*-*-