
Kereta melaju dengan cepat mengantarkanku sampai ke Ibu Kota. Aku melihat Dimas mengirim foto dia tidur sendiri memeluk guling, dia bilang sudah kangen. Aku hanya tersenyum melihatnya dan ku sampaikan jika aku sudah sampai tujuan dan siap bekerja.
Hari pertama bekerja setelah cuti cukup lama membuatku bersemangat. Setumpuk pekerjaan telah menanti untuk diselesaikan.
"Kamu tampak lebih ceria setelah cuti Ka," ucap mbak Fina teman kerjaku
"Eh iya mbak hehehe," jawabku malu
"Ini pekerjaanmu yang aku handle kemarin, mungkin mau kamu arsipkan, terus ini yang belum selesai," Mbak Fina memberikan beberapa dokumen untukku
"Iya terimakasih ya mba,"
"Sama-sama tapi minggu depan ganti aku yang cuti ya Ka, ini sudah aku list pekerjaan yang bisa kamu gantikan hehehe,"
"Siaaap," jawabku semangat
Hari Senin berjalan dengan baik, aku disibukkan dengan pekerjaan yang mengunung hingga membuatku hampir lupa akan Dimas. Jam kerja telah berakhir tapi aku masih asik dengan berkas yang diberikan Mbak Fina padaku.
"Lu nggak pulang?" Tanya Tito teman kerjaku
"Masih banyak kerjaan gue,"
"Lanjut besok aja, jangan dikebut,"
"Bentar lagi deh, nanggung nih,"
"Yaudah sepuluh menit ya?"
"Lima belas menit deh," tawarku
"Hhhmmm lu demen banget lembur dah, nggak dibayarpun," kata Tito heran sambil menggelengkan kepalanya
"hehehe janji deh lima belas menit nggak lebih,"
"Yaudah, jangan lupa matikan lampu dan ac ya,"
"Siap boss!"
Tito memang bertugas untuk memastikan keselamatan kerja para karyawan. Jika tidak benar-benar penting dia tidak izinkan kita untuk lembur. Aku beruntung bekerja di perusahaan yang cukup memperhatikan kesejahteraan pegawainya.
-*-*_*-*-
Sepulang kerja aku mampir ke swalayan dekat apartemenku untuk membeli bahan makanan yang sudah tidak bersisa di kulkas. Aku sengaja mengosongkan kulkas selama cuti supaya tidak ada makanan yang busuk dan membuat kulkas berjamur.
Entah mengapa melihat buah duku aku jadi terfikirkan Dimas, mungkin karena dia suka duku. Sewaktu kecil setiap kali bunda membeli duku selalu Dimas yang menghabiskan karena aku dan Dwi tidak suka buah duku. Aku malas dengan lengket getahnya dan rasa pahit jika terkena bijinya. Tapi hari itu aku membeli 1 kg buah duku meskipun aku tahu Dimas tidak disini.
Baru saja difikirkan dia sudah videocall
Dimas : " Hai sayang sudah pulang kerja?"
Eka : "Ssssstttt, aku lagi di swalayan, lagian salam dulu lah,"
Dimas : "Assalamualaikum istriku,"
Eka : "Waalaikumsalam, eh aku beli duku loh"
Dimas : "Buat apa?kan kamu tidak suka? "
Eka : "Kan kamu suka,"
Dimas : "Kan aku tidak disana?"
Eka : "Iya sih hehehe,"
Dimas : "Kangen banget ya?"
Eka : "Enggak tuh!"
Dimas : "Tapiii?"
Eka : "Nggak pake tapi,"
Dimas : "Tapi nggak ngaku hahaha,"
Eka : "Hahaha nyebelin, udah ah aku mau bayar dulu,"
__ADS_1
Dimas : "Eh Ka tunggu,"
Eka : "Apa?"
Dimas : "Hhhmmmm nggak jadi deh, nanti aja,"
Eka : "Dasar nggak jelas,"
Dimas : "Jangan dimatiin deh,"
Eka : "Terus?"
Dimas : "Ya biarin aja, aku pingin tau kamu ngapain aja,"
Eka : "Ribet ah bawa hp nya,"
Dimas : "Masukin tas dulu nggak papa yang penting masih dengar suaramu,"
Eka : "Apaan sih Mas? nanti sambung lagi, aku mau bayar dulu,"
Aku masih tidak bisa mengerti isi dalam kepala Dimas. Dia selalu saja berbuat seenaknya dan tidak ada yang tahu apa yang akan dia lakukan. Malam itu akhirnya aku menurutinya untuk ngobrol semalaman. Kami membicarakan hal hal yang tidak jelas, bercanda dan tertawa. Entah mengapa aku jadi begitu rindu padanya.
"Andai kamu disini," ucapku pelan
"Kangen banget ya? aku juga"
"Krasiva Eka Putri 23" aku mulai membaca buku kecil Dimas
"Aku suka semua hal tentang dia, senyumnya, tawanya, marahnya, tangisnya, kecuali satu hal..... sedihnya," aku melanjutkan membaca beberapa tulisan Dimas hingga aku mulai mengantuk
"Langit Biru
Aku bertanya mengapa langit berwarna biru. Teori tidak memuaskan keingintahuanku.
Tapi Eka menjawab semuanya.
Kalau malam hitam, kalau senja jingga, kalau mendung kelabu katanya. Itulah Eka....
Melengkapi sudut pandangku,
"Krasiva Eka Putri 24
Tuhan menciptakannya untuk aku cintai. Tuhan memilihnya dari yang lain karena tahu dia yang paling aku cintai," aku tersenyum membacanya
"Krasiva Eka Putri 25
Aku memilihmu dan akan terus memilihmu, lagi, lagi dan lagi tanpa henti, tanpa ragu, tanpa istirahat,"
"Kamu harus istirahat, besok kerja kan?"ucap Dimas menghentikanku membaca bukunya
"Tapi masih kangen," kataku manja
"Bisa ulangi nggak?" pinta Dimas
"Hahaha nggak bisa!"
"Aku seneng kamu manja," ucap Dimas membuatku terdiam
"Krasiva Eka Putri 999.999.999.999.999" ucap Dimas membuatku bertanya
"Banyak banget sampai trilyun?"
"Harusnya lebih, jumlah rinduku selama lima belas tahun jika dikumpulkan akan lebih banyak dari pasir dilautan," jawabnya sok romantis
"Gombal!" seruku
"Mau dengar isinya nggak? baru judul tuh!" ucapnya ingin melanjutkan sajaknya
"Iya iya lanjutin," jawabku
"Kamu istriku, tapi aku tidur sendiri," jawabnya membuatku tertawa
"Hahahaha, kirain apa,"
"Selamat tidur sayang, ku pastikan malam berikutnya kau tidur dalam pelukanku," lanjutnya
__ADS_1
"Love you!" ucapku lirih
"My love belongs to you," Balas Dimas membuatku tersenyum
"Buatkan satu puisi lagi tapi yang serius," pintaku manja
"Aaah Ka, aku kesana sekarang ya?" ucap Dimas membuatku tertawa
"Hahaha, katanya senang aku manja?" tanyaku
"Iya, tapi nggak kuat rasanya huuuh," Dimas menghela nafas panjang
"Yaudah ayo buatin satuuu aja habis itu aku bobok," pintaku semakin kubuat manja
"Hhhmmmm bentar aku ambil gitar,"
"Sudah bisa main gitar?" tanyaku ingin tahu
"Sudah dong, aku bikin lagu spesial buat kamu, dengerin ya?"
Rupanya Dimas sudah mahir bermain gitar. Ku tebak itu hasil ajaran si Abas. Diam-diam dia membuatkanku sebuah lagu yang cukup romantis. Suara Dimas ternyata merdu juga, aku belum pernah mendengarnya bernyanyi serius. Biasanya dia hanya bernyanyi candaan yang menyebalkan.
" Jreng 🎶
Ada berjuta wanita di dunia namun tak satupun sanggup memalingkanku darimu
Gemerlap suasana kota tak sanggup mengusir sepi ku merindukanmu
Aku mencintaimu lebih dari yang ku inginkan dan aku tak sanggup menghentikannya
Ada berjuta kata di dunia namun hanya rindu yang mampu menyiksaku
Aku mencintaimu lebih dari yang ku inginkan dan aku tak sanggup menghentikannya,"
"Bagus, aku suka," aku memuji karya Dimas yang memang menurutku bagus
"Tapi masih lebih jago Abas," ucap Dimas tiba-tiba
"Kenapa jadi Abas?" tanyaku
"Kamu masih suka dia?"
"Kamu cemburu?"
"Iya, aku tahu itu sudah masa lalu tapi sekeras apapun aku mencoba tetap saja aku cemburu, karena kamu pernah sayang banget sama dia," Dimas terdengar tidak percaya diri
"Kamu tahu?" tanyaku membuat Dimas bingung
"Tahu apa?"
"Dari semua keputusan yang pernah kubuat, memilihmu adalah yang paling tepat," ucapku membuat Dimas terdiam
"Eka"
"Apa?" tanyaku
"Eka"
"Apa sih Mas?"
"Eka"
"Apa sayang?" jawabku usil
"Aku ngantuk kelonin," ucapnya manja membuatku tertawa
"Geli ah, sudah tua juga hahahaha, yuuk istirahat, besok aku masuk pagi nih,"
"Ekaaaaaa"
"Apa lagi?"
"Kangen," rengek Dimas membuatku semakin berat mengakhiri obrolan malam itu
Aku tidak tahu apa yang akan dipikirkan orang diluar sana jika tahu sifat asli Dimas yang seperti ini. Maksudku kebanyakan orang ganteng seperti Dimas berkepribadian dingin, misterius, cuek pokoknya yang keren kerenlah. Tapi aku suka Dimas yang seperti ini, apa adanya dan unik. Hanya Dimas yang bisa seperti ini.
__ADS_1
Hari pertama LDR sudah begitu menyiksa bagiku, aku rasa Dimaspun merasakan hal yang sama. Aku tidak tahu sampai kapan kami akan bertahan dengan keadaan ini. Sempat terpikirkan olehku untuk berhenti bekerja dan mengikuti kemanapun Dimas pergi. Tentu saja aku harus membicarakannya dengan Dimas terlebih dulu.