RAHASIA Cinta SMA

RAHASIA Cinta SMA
Kencan Pertama


__ADS_3

Lama aku berdiri di depan cermin, tampak lingkar hitam menghiasi kantung mataku, aku tidak bergairah untuk berangkat sekolah. Kak Ajeng yang sedari tadi memperhatikanku mulai risih untuk tidak bertanya


“Kamu kenapa sih Ka? Ada PR yang belum selesai? Atau mau ada ujian yang kamu tidak bisa? Masih pagi sudah kusut, terus kenapa mata kamu kayak mata panda begitu?” tanya Kak Ajeng membuatku semakin merasa kacau


“Kak boleh pinjam kak Joni buat antar Eka ke sekolah?” tanyaku kepada Kak Ajeng dengan harapan besar aku akan bisa pergi sekolah tanpa bertemu Abas.


“Kamu sakit?” tanya Kak Ajeng heran sedangkan aku hanya mengelengkan kepala


“Berantem sama Dimas?” lanjut Kak Ajeng.


“Aku sehat, Dimas lagi karantina, cuma lagi nggak pingin jalan kaki aja, please kak”


“Enggak boleh!” jawab Kak Ajeng ketus, Kak Ana tampak tersenyum sambil mengelengkan kepala.


“Sekali ini aja kak, pliiis plis plis pliiiis” aku memohon dengan mata berkaca-kaca hampir menangis


“Kamu kenapa sih? Aneh banget!” tanya Kak Ajeng tampak mulai kesal


“Aku malu lewat depan kost Dimas, kemarin teman Dimas antar aku pulang pake motor Dimas terus tanpa sadar aku peluk dia” aku tidak punya pilihan lain selain menceritakan yang sebenarnya kepada Kak Ajeng berharap Kak Ajeng akan mengerti dan mengizinkan aku berangkat bersama Kak Joni.


Kak Ana yang sedari tadi fokus mengerjakan tugas tertawa terbahak-bahak mendengarkan ceritaku, begitu pula Kak Ajeng.


“Kamu mikir apa si Ka? Kamu pikir lagi di bonceng Dimas?” tanya Kak Ana mengodaku


“Ketahuan ya kalau boncengan sama Dimas pake peluk peluk” goda Kak Ajeng membuatku semakin malu


“Bukan begitu! Eka juga tidak tahu kenapa begitu, yang jelas sekarang Eka malu dan tidak mau bertemu teman Dimas itu, tolonglah kak pliiiis” aku terus memohon kepada Kak Ajeng


“hahahahaa, kamu lucu banget sih Eka hahahahaa” Kak Ana masih terus tertawa hingga mengeliat diatas kasur


Beruntung akhirnya Kak Ajeng memperbolehkanku untuk meminta Kak Joni mengantar ke sekolah, setidaknya pagi itu aku tidak perlu bertemu dengan Abas.


-*-*_*-*-


“Kalian ke kantin? Aku nitip roti sama susu kotak ya? Aku ada wawancara buat profil guru nih” pinta Ayu kepada kami


“Ya sudah, roti coklat kan?” tanya Diah


“Makasih cinta, aku pergi dulu ya daa” ucap ayu sambil mencubit pipi Diah dan melambaikan tangan kearah ku dan Aura


“Aku boleh nitip juga nggak?” tanyaku sambil nyengir


“Memang kamu mau ngapain?” Aura balik bertanya padaku


“Nggak ngapa-ngapain sih pingin di kelas aja, hehhehe”


“Enggak bisa, wajib ikut, lagian ngapain bengong dikelas?” Diah menolak permintaanku


“Ya udah deh aku nggak nitip, tapi juga nggak ikut hehehe” jawabku lagi-lagi sambil nyengir berharap Diah dan Aura tidak marah


“Ciee yang baru ditinggal dua hari udah kangen banget nih kayaknya sampai malas ngapa-ngapain gitu” goda Aura kepadaku, mungkin dia berfikir aku sedang merindukan Dimas yang sedang karantina lomba robotik


“Oh ada yang malarindu tropikakangen toh? yowes nitip apa kamu?” Diah ikut mengodaku membuatku menjadi kesal


“Apa sih? Dikit-dikit Dimas, udah ah nggak jadi nitip, jadi nggak selera” jawabku kesal, lagi-lagi Dimas, selalu saja Dimas.


“Jangan uring-uringanlah, becanda Ka!” Aura menepuk pundakku aku hanya diam merebahkan kepalaku diatas tumpukan buku-buku


Hari itu aku sungguh menjadi pemalas, aku takut akan bertemu dengan Abas di kantin atau di perjalanan menuju kantin, secara untuk ke kantin harus melewati kelas Abas. Meskipun samar tapi aku bisa merasakan adanya sinyal Alimabbas, jadi aku rasa berdiam diri di kelas adalah jalan terbaik agar tidak bertemu Abas.

__ADS_1


-*-*_*-*-


Rupanya aku tertidur cukup nyeyak hingga tidak sadar jam pulang sekolah telah tiba dan Aura membangunkanku untuk pulang.


“Ka, Eka, bangun Ka, sudah waktunya pulang” Kata Aura sambil menguncang-guncang badanku.


Aku berjuang mengumpulkan nyawa dan berusaha membuka mata, samar ku lihat wajah Abas “ah masih mimpi” aku bergumam dan melanjutkan tidur


“Mimpi? Eh sudah di tungguin Abas tuh, bangun” kata Aura membuat aku kaget dan langsung terbangun seketika.


Abas? ternyata benar-benar Abas, bukan mimpi. Penampakanku hari itu sungguh sangat berantakan, rambut acak adul dengan bekas air liur disudut bibir tentu saja begitu sadar aku langsung membersihkannya tapi itu tidak berarti apapun, Abas sudah terlanjur melihat diriku yang sangat menyedihkan.


“Saya di suruh Dimas antar kamu pulang” kata Abas kepadaku


“Enak bener jadi kamu Ka, pacar lagi dinas luar kota ada ajudannya yang antar jemput sekolah, aku juga mau dong diantar jemput” Aura mengodaku


“Hehehe karena aku pinjam motor Dimas” jawab Abas sambil mengaruk kepala karena malu


“Hehehe iya iya becanda kok”


“Eh Ra tadi jam terakhir Fisika kan? Terus aku tidur kenapa nggak dibangunin? Abas kamu pulang dulu saja, saya mau salin catatan Aura dulu” Aku mencari alasan agar tidak pulang bersama Abas


“Gurunya nggak ada kok, ikut mendampingi timnya Dimas, ada tugas dikumpulkan minggu depan, udah aku catetin buat kamu, aku masukin di laci sama roti titipan kamu tadi tapi susunya aku minum hehehe” jawab Aura yang membuatku kelabakan harus mencari alasan apalagi


“Eh, lupa hari ini saya piket kelas, nanti Abas kelamaan menunggu”


“Bukannya kamu piketnya besok sama aku?” Lagi-lagi Aura mengagalkan usahaku


“Oh iya ya hehehe, eh hari ini kan kita mau nonton ya Ra?” Aku mengedipkan mata untuk memberi sinyal kepada Aura tapi Aura tidak menangkap sinyal itu


“Masa sih kok aku nggak ingat? tapi aku ada les biola jam tiga” jawab Aura polos


“Nonton sama saya saja” Abas menawarkan diri membuatku semakin tak berdaya


Masih terdapat beberapa teman lain di kelas tapi rasanya seperti kami tinggal berdua saja. Aku mengemasi buku-buku Abas duduk di bangku Ayu menghadap belakang ke arahku, dia memperhatikan aku sambil membantu membereskan kotak pensilku. Apa yang harus ku katakan padanya? Maksud hati ingin menghindarinya tapi malah terperangkap dalam acara nonton berdua. Mengapa aku selalu terjebak dalam kondisi seperti ini?


“Maaf tadi pagi saya tidak sempat jemput kamu karena bangun kesiangan” kata Abas memecah sepi diatara kita


“Tidak apa-apa, lagi pula kamu tidak harus antar jemput saya” jawabku berusaha bersikap sewajar mungkin


“Harus! soalnya itu amanah dari Dimas, besok saya jemput ya?” tanyanya membuatku sedikit kesal, maksudku mengapa harus karena Dimas? Tidak bisakah Abas berkata jika dia ingin melaukannya untuk ku? Seperti saat dia menemaniku jalan kaki waktu itu


“Saya bukan pacar Dimas, jadi Dimas juga tidak berhak menentukan saya berangkat dan pulang sekolah dengan siapa” jawabku sedikit jutek


“Kalau ajak makan siang boleh? Yang ini bukan perintah Dimas, murni keinginan pribadi” ajak Abas membuatku senang tapi aku masih menahan senyum, akan aneh rasanya jika baru saja jutek langsung menjadi ramah


“Tapi saya tidak lapar” jawabku jual mahal


“Tadi jam istirahat saya lihat kamu sedang tidur jadi saya pikir kamu pasti belum makan” jawabnya membuatku tersadar jika sinyal Alimabbas tadi benar-benar terjadi, aku senang Abas memperhatikanku


“Ya sudah kita makan saja tidak usah nonton” jawabku masih jual mahal


“Kenapa? Kita bisa makan sambil tunggu film nya mulai kan?” tanya Abas membuatku senang, reaksinya benar-benar seperti harapanku


“Saya lagi hemat” Aku tetap melanjutkan aksi jual mahalku tapi entah mengapa alasan konyol itu yang keluar dari mulutku


“Saya yang traktir”


“Saya tidak mau berhutang budi”

__ADS_1


“Saya Abas bukan Budi”


“Hahahaha” tidak sadar aku tertawa mendengar candaan Abas, runtuhlah sudah tembok jual mahalku dan Abas pun ikut tertawa


“Oke deal kita nonton” kata Abas membuatku melambung tinggi.


Menjerit, berteriak kencang, bersorak dan loncat kegirangan, aku benar-benar ingin melakukannya namun aku tahan demi gengsiku di depan Abas. Oh Tuhan terimakasih atas kesempatan ini, indah sekali hidup ini Tuhan. Hari itu aku sangat bahagia, berdua saja dengan Abas, makan siang, nonton, jalan-jalan dan diantar pulang rasanya seperti mimpi. Ingin ku hentikan waktu saat itu agar aku bisa berdua bersama Abas selamanya.


Sebenarnya aku masih sangat malu dengan kejadian pelukan di atas motor itu bahkan seharian aku menghindari Abas, namun sepertinya Abas sudah melupakannya jadi aku putuskan untuk menikmati saja hari itu tanpa membahas lagi masalah itu. Hari yang tidak akan pernah terlupakan dalam hidupku. Hari yang sangat cerah meskipun sebenarnya mendung.


Bahkan saat aku mengenang masa itu aku masih bisa merasakan bahagianya hatiku saat itu, aku tersenyum sendiri dalam sepi terlebih saat mengenang saat makan siang bersama, kami berbincang santai dengan Dimas sebagai topik utama perbincangan kami.


“Kamu kok mau-maunya sih disuruh Dimas?” tanyaku mengawali pembicaraan


“Dimas itu panutan saya, sejak saya berteman dengan Dimas saya jadi lebih baik, dulu saya suka bolos sekolah,”


“Tapi kamu bisa masuk kelas unggulan berarti nilai kamu bagus dong?”


“Iya tapi hasil mencontek,” jawabnya membuatku kaget


“Mencontek?” tanyaku memastikan


“Iya, saat ujian nasional SMP saya mencontek teman saya, malah bisa dikatakan guru saya yang mengatur posisi duduk siswa agar mudah dalam mencontek tujuannya sih supaya semua bisa lulus dengan baik,” Abas mencoba menjelaskan kepadaku


“Tapi kan itu tidak baik!” seruku


“Iya karena itu saya beruntung berteman dengan Dimas yang bisa menjadi panutan saya, berkat Dimas sekarang saya sudah berubah. Dia itu benar-benar keren, dia tidak mudah menghakimi orang lain, memang terkesan selengekan tapi sebenarnya sangat baik dia memiliki prinsip dan tujuan hidup yang kuat tidak mudah terbawa arus tapi sangat pandai merangkul orang lain. Dia juga pintar bahkan bisa dikatakan jenius, kalau menjelaskan sesuatu sangat mudah dipahami bahkan lebih mudah dipahami daripada guru di kelas,”


“Kamu terdengar sangat mengagumi Dimas ya?” aku tersenyum membuat Abas seperti merasa malu


“Hehehe ya begitulah, Kamu sendiri kenapa suka Dimas?”


“Siapa yang suka? Yang ada saya itu sebel sama dia!”


“Masak? Dimas bilang kamu yang pertama suka dia,” tanya Abas membuatku kaget


“Apa? Bohong dia itu!” Aku mencoba menjelaskan kepada Abas jika aku tidak mempunyai perasaan kepada Dimas.


“Tapi Dimas bilang alasan dia suka sama kamu itu karena kamu sudah suka dia sejak dia masih bulet dan cupu, nggak kayak cewek-cewek yang melihat dia dari muka ganteng dan otak pinternya dia saja,” Abas terus bercerita seakan dia lebih percaya kepada Dimas.


“Dih percaya diri sekali, yang ada saya itu sebel sama dia karena dia seketika datang mengambil seluruh dunia saya, sedikit-sedikit Dimas, apa-apa Dimas, bahkan teman geng kriwul dan teman kost saya juga setiap hari menanyakan tentang Dimas Bosan saya Dimas terus,” Aku terus menjelaskan kepada Abas jika apa yang diceritakan Dimas itu tidak benar.


“Jadi yang Dimas bilang kamu suka memperhatikan dia itu sebenarnya bukan karena kamu suka tapi justru karena kamu kesal sama dia?” tanya Abas mengkonfirmasi perkataanku.


“Iya begitulah,"


“Tapi Dimas itu beneran suka loh sama kamu, setiap malam tidak pernah absen cerita tentang kamu,”


“Huuft terserah lah saya tidak tertarik sedikitpun,” jawabku sambil menghela nafas panjang dan membuang muka mulai kesal karena Abas terus meyakinkan aku kalau Dimas menyukaiku sedangkan aku sangat ingin mengatakan jika aku menyukai Abas.


“Eka orangnya asik ya?” tiba-tiba Abas mengatakan hal yang mengejutkan


“Maksudnya?” tanyaku ingin memastikan jika aku tidak salah sangka


“Sebenarnya saya penasaran dengan Eka, saya kira kamu orangnya kaku, habisnya kalau ngomong sama saya formal banget, tapi kalau ngomong sama Dimas judes-judes manja hehehe lucu dilihatnya, kalau sama geng kriwul suka tertawa lepas terkesan lebih ceria, sepertinya kehidupan Eka itu sangat seru, ternyata benar ngobrol lama-lama sama kamu memang asik jadi nggak pingin cepat-cepet pulang, pingin ngobrol terus saja sampai malam,”


“Tapi harus nonton hehehe,” jawabku berusaha menutupi rona bahagiaku, Abas tertawa mungkin dia sudah menyadari jika aku sedang salah tingkah.


Kata-kata Abas terdengar sangat manis tapi berbahaya, aku seperti sedang terkena serangan jantung. Aku yakin saat itu muka ku pasti sangat merah, aku tidak tahu harus berkata apa yang jelas aku sangat senang Abas memujiku seperti itu. Aku berharap saat nonton akan terjadi adegan seperti di film-film romantis, berawal dari mengambil popcorn lalu tangan kami saling bertemu lalu dia mengengamnya dengan erat kemudian kami saling pandang dalam gelap dan sesuatu yang diinginkan terjadi.

__ADS_1


Namun sayang harapanku tidak terwujud, entah bosan atau memang sedang lelah Abas ketiduran saat nonton. Aku sengaja tidak membagunkannya, aku mengamatinya dalam gelap lalu ku ambil buku dan pensil dari dalam tas, aku berusaha mengambar wajahnya yang sedang tidur. Entah film itu bercerita tentang apa, aku lebih menikmati wajah pria yang sedang tidur pulas di sampingku.


Hari itu berjalan dengan sangat baik, sepertinya aku tidak melakukan kesalahan yang berarti. Entah apa yang difikirkan oleh Abas tapi bagiku hari itu seperti kencan pertama kami. Aku merasa seperti ada harapan, seolah perasaanku berbalas dengannya.


__ADS_2