RAHASIA Cinta SMA

RAHASIA Cinta SMA
Survei


__ADS_3

"Mas memang kapan sih kita mau resepsi?" tanyaku mengawali sarapan kami


Menu hari ini nasi pecel lengkap dengan bendoyo (semacam mentimun yang dikukus) dan sambel tumpang lauknya tahu bali, ikan asin dan peyek rebon yang renyah, hhhmmmm nikmat sekali. Koki memang juaranya chef, aku tidak tahu harus memuji siapa atas kehandalan Koki. Karena pada dasarnya Dimaslah yang memrogramnya.


"Terserah kamu" jawab Dimas santai


"Di sini apa di kampung?" tanyaku lagi


"Terserah kamu" jawab Dimas


"Kok terserah terus sih? yaudah nggak usah resepsi aja kalau gitu" ucapku sewot


"Ya pake dong, kan aku sudah janji sama teman kantormu" jawab Dimas


"Kalau gitu disini saja" jawabku


"Boleh, nanti kita sewa gedung yang besar" ucap Dimas


"Aku ingin semacam pesta kebun aja, gimana kalau disini saja? biar hemat tidak perlu sewa?" tanyaku


"Tidak! tempat ini rahasia! cuma kamu saja yang boleh tahu" ucap Dimas tegas "Kita sewa lapangan golf saja kalau perlu, aku punya saham di beberapa lapangan golf" sambung Dimas.


"Lapangan golf juga ada sahamnya?" tanyaku polos


Dimas hanya tertawa, aku tidak tahu maksudnya, mungkin dia berbohong. Tapi aku sudah tidak bisa lagi menganggap ucapannya guyonan. Dia selalu saja seperti bercanda tapi setiap perkataannya itu serius membuatku binggung saja.


"Kita sekalian survei venue buat resepsi gimana?" tanyaku antusias


"Iya boleh sayang"


"Asiiik jadi kita survei rumah terus lanjut lihat venue resepsi ya? Hhmmmm cari di daerah mana ya Mas rumahnya?" tanyaku sambil mencari di browser hp ku.


Dimas memberikan notebook padaku, didalamnya kulihat banyak informasi rumah dan tanah dijual di daerah dekat tempatku kerja.


"Kamu sudah mencari informasi? kapan?" tanyaku heran karena semalam kita tidur larut dan bangun bersamaan


"Eka yang mencarikannya" jawab Dimas sambil melirik robot Eka yang sedang berkacak pinggang mengamati kami.


Wajahnya tampak kesal dan dia langsung membalikkan badan saat aku tersenyum kepadanya.


"Dia masih marah?" tanyaku


"Dia galak ya? kayak kamu hahaha" Dimas membuatku kesal


"Memang dia punya perasaan?" tanyaku


"Punya dong, semua robot disini punya perasaan," jawab Dimas tegas aku hanya tersenyum.


Aku sangat bangga kepada suamiku ini, dia sangat jenius bisa menciptakan semua robot canggih ini. Rasanya aku seperti menikahi Tony Stark.


Notebook yang ku pegang tiba-tiba layarnya berkedip dan memunculkan notifikasi baru. Saat ku buka ternyata itu informasi tentang venue yang bagus untuk pesta kebun.


"Mas apa ini?" tanyaku


"Oh itu Eka sedang menginput informasi venue yang kamu mau" ucap Dimas

__ADS_1


"Hah dia melakukan tanpa disuruh?" tanyaku heran


"Dia diprogram untuk membahagiakan aku, dan aku bahagia saat kamu bahagia jadi dia akan melakukan semua yang bisa membahagiakanmu tanpa disuruh"


Aku terkesima dengan penjelasan Dimas, benarkah robot Eka secanggih itu?


"Tapi dia pasti sangat sedih, dia kan lagi patah hati" ucapku sambil cemberut


"Hahahaha, aku seperti punya dua istri" ucap Dimas mengodaku


-*-*_*-*-


Siang cukup terik, kami beristirahat untuk makan siang di sebuah rumah makan berkonsep lesehan yang menghidangkan berbagai macam menu seafood dengan sambel yang nikmat.


Sudah beberapa rumah yang kami survei namun belum ada yang cocok dengan keinginanku terutama dibagian harganya.


"Mahal banget rumah di Depok, apalagi di Jakarta! huuuh apa coba lihat tanah aja kali ya?" aku mengerutu kesal


"Minum dulu biar lega" ucap Dimas sambil mendekatkan minuman yang sudah kami pesan ke bibirku.


"Tanah yang ini bagus, tapi terlalu luas, kita cari yang ukuran 100m2 aja" ucapku sambil melihat-lihat informasi yang telah dikumpulkan robot Eka


"Katanya mau yang halamannya luas? rumah segitu mana bisa dapat halaman luas?" tanya Dimas


"Iya sih, tapi mahal banget kalau yang luas gini, per meternya aja 3 juta paling murah"


"Terus gimana?" tanya Dimas


"Hhmmm aku hitung dulu deh,penghasilan kamu sebulan berapa?" tanyaku


"Masak nggak tahu penghasilannya berapa? mau aku hitung kita bisa nabung berapa buat nyicil beli tanah plus bangun rumahnya" ucapku kesal


"Hhmm sebulan ya? sekitar 100 sampai 150an lah"


"Juta?" tanyaku tidak percaya


"Miliar" jawab Dimas enteng yang membuatku berhenti menghitung


Aku tidak tahu harus percaya atau tidak mendengar ucapan Dimas yang begitu entengnya seperti bercanda.


"Serius?" tanyaku kemudian


"Nggak tahu juga, kurang lebih sih segitu"


'Apalah aku yang gaji satu abadpun kalau dikumpulin tidak sampai segitu' ucapku dalam hati.


"Ya udah kalau gitu beli langsung saja" ucapku sambil menunduk malu


"Iiiih imutnya sih istriku ini?" ucap Dimas sambil mencubit pipiku


"Habis ini kita lihat tanah yang ini terus ke venue yang ini ya?" ucapku menyembunyikan rasa malu


"Siap nyonya" ucap Dimas mengodaku


Aku benar-benat tidak tahu jika suamiku sekaya itu. Maksudku aku tahu Dimas kaya karena dia banyak membantu pembangunan di desaku, memberi santunan pada orang-orang dan bahkan menambah tanah wakaf Abah menjadi masjid besar dan megah lengkap dengan TPQ nya. Tapi aku tidak menyangka jika penghasilannya sefantastis itu. Masalahnya Dimas tampak biasa saja, sederhana dan apa adanya. Mobilnya juga biasa saja, bukan mobil mewah seperti yang dimiliki milyader pada umumnya.

__ADS_1


-*-*_*-*-


"Aku lebih suka yang ini, aksesnya mudah dan strategis, lingkungannya juga bersih dan asri, tidak terlalu ramai lalu lalang kendaraan, yang penting warganya masih terlihat guyub, bukan yang perumahan elite banget sampai warganya cuek atau yang menempati rumahnya hanya pembantunya saja" ucapku panjang lebar


"Jadi beli yang ini?" tanya Dimas


"Lihat yang lain dulu deh" jawabku ragu


Dimas hanya tersenyum lalu mengandengku menuju mobil.


"Sekarang mau kemana?" tanya Dimas


"Lihat venue dulu gimana?" tanyaku balik


"Boleh, ke lapangan golf yang ini? atau bukit ini? beberapa artis wedding disini, lokasinya di puncak udaranya dingin segar medannya sedikit terjal, jadi cocoknya untuk acara yang santai, jangan sampai pakai kebaya nanti bakal susah jalannya" ucap Dimas menjelaskan beberapa tempat yang dia tahu


"Bagus sih, tapi tiba-tiba aku kepikiran di pantai aja bagus kali ya?" ucapku sambil melilit rambut di jari telunjukku


"Boleh tuh, sekalian bisa liburan bareng keluarga" ucap Dimas


"Tapi undangannya tertentu saja, jangan banyak-banyak, kalau bisa keluarga saja, terus untuk akomodasinya gimana?" tanyaku kemudian


"Biar diurus W.O kita survei W.O nya saja gimana?"


"Wedding Organizer?" tanyaku


"Walk out! ya iyalah sayang Wedding Organizer" ucap Dimas sambil mencubit pipiku


"Tapikan mahal Mas, sayang uangnya" ucapku sambil cemberut


"Daripada ribet urus sendiri? mending kita serahkan saja semuanya ke W.O, kita tinggal minta mau gimana"


"Nanti aku tanya-tanya dulu deh" ucapku ragu


Aku tahu Dimas kaya tapi rasanya masih sayang kalau keluar uang banyak untuk resepsi saja.


"Terus kita kemana lagi sekarang?" tanya Dimas mulai mengemudikan mobilnya


"Nonton saja gimana?" tanyaku


"Nonton?" tanya Dimas heran


"Iya, kenapa? kamu kesel ya udah seharian survei nggak dapat apa-apa malah mau nonton?" tanyaku sambil mengerutkan dahi dan dagu


"Aku senang kok bisa jalan seharian sama kamu, cuma aku kaget aja kamu randomnya kebangetan hahaha" Dimas tertawa membuatku tampak konyol


"Apa sih? random apanya?" kesalku


"Yaa gimana ya? hahaha aku kira kamu bakal minta lanjut cari tanah atau minta pulang ternyata minta nonton, aku sih seneng bisa kencan hehehe"


"Hahaha iya sih, habisnya aku capek survei terus" jawabku dengan ikut tertawa


"Istriku gemesin banget siiih" ucap Dimas genit


Menurutku yang membuatku paling beruntung bukanlah suami yang kaya, sukses, cakep, pintar atau keren tapi aku beruntung mempunyai suami yang sayaaang sekali padaku.

__ADS_1


__ADS_2