
Dimas segera melaju tanpa mampir setelah mengantarku pulang. Aku menjadi tidak enak membuatnya terburu-buru, maksudku setelah mendengar ceritanya di bincang alumni tadi tentu saja Dimas adalah orang yang sibuk dan aku malah bermain-main hingga membuat dia harus telat dengan urusannya.
"Tadi itu nak Dimas? kok nggak mampir? nak Adi mana?" tanya bunda saat aku memasuki rumah.
"Oh itu, Mas Adi ada urusan jadi Eka bareng Dimas, terus Dimas juga sibuk jadi tidak bisa mampir," ucapku mencari alasan
Sebenarnya aku ingin segera menceritakan semuanya kepada bunda namun aku harus mengatakan kepada ayah terlebih dulu tentang batalnya perjodohanku dengan Mas Adi. Aku takut Ayah akan kecewa, jadi aku harus menunggu waktu yang tepat untuk menceritakannya.
-*-*_*-*-
Setelah mandi dan sholat isak aku merebahkan tubuhku diatas kasur, rasanya nyaman sekali. Aku masih terbayang kejadian di warung pinggir jalan tadi. Sepertinya keputusanku kali ini tepat, aku merasa bahagia, beban di dada terasa memudar.
"Tinggal bicara sama Ayah besok pagi, oh iya aku harus cerita ke geng kriwul nih,"
Ku raih hp ku dan ku chat di grup geng kriwul.
Aku : Terimakasih semuanya, alhamdulillah masalah dengan Dimas sudah beres
Diah : Waaah bakal jadi nyonya Dimas nih 😍
Aura : Cerita dong Ka
Aku : Ya pokoknya gitulah, hehehe
Ayu : Kapan menikah? jangan lupa undang kami loh yaaa!
Aku : Belum sampai sejauh itu Ayu, kami cuma baikan aja, intinya aku bilang ke Dimas kalau aku mau menikah sama dia
Aura : Pokoknya sebagai ganti rencana hangout yang gagal tadi kita mesti bikin bridal shower buat Eka
Diah : Setujuu 😘😘😘
Aku : Apa kata kalian ajalah hehehehe
Ayu : Aaaaahhh nggak sabar
Aku : Tapi beneran belum sejauh itu, besok aja aku kudu balik Depok jadi nggak tau deh kapan bisa ngomong serius sama Dimas
Aura : Nggak masalah, yang penting kita ngehalu dulu aja hahaha
Ayu : Direncanain dulu, eksekusinya gimana ntar belakangan
Diah : Hajaar baaang 😆
Asik berbalas pesan dengan teman-teman samar aku mendengar suara berisik dari depan rumah. Ku buka cendela kamarku dan ku dapati Dimas datang bersama orangtua dan beberapa orang yang ku kenal dan lainnya tidak ku kenal. Tentu saja aku bertanya-tanya, ada apa ini? Segera aku berlari keluar kamar untuk mencari tahu.
Ayah dan Bunda sudah di ruangtamu menyambut para tamu. Dwi yang baru keluar kamar juga bertanya-tanya ada apa berbondong-bondong orang datang.
"Assalamualaikum," Dimas mengucapkan salam sambil mencium tangan Ayah dan Bunda.
"Waalaikumsalam warohmatullah, ada hajat apa ini kok beramai-ramai ada pak lurah segala?" tanya Ayah
__ADS_1
"Boleh duduk dulu yah?" tanya Dimas sambil menunjukan jempol tangannya ke arah kursi
"Oh iya, mari mari duduk, wah nggak cukup ini kursinya, Dwi ambilkan kursi di dalam Nak," Ayah menyuruh Dwi mengambil beberapa kursi di ruang makan.
Bunda menyuruhku untuk membuat teh hangat dan menghidangkan beberapa makanan ringan yang kami punya. Untung saja masih ada beberapa biskuit, kripik dan kue lain yang masih layak makan sisa acara perjodohan minggu lalu.
"Maaf ini Pak Ikhsan, membuat bingung bapak sekeluarga, saya sendiri juga masih bingung sama kemauan anak muda satu ini" ucap Papa Dimas membuka omongan
"Ada apa ya Pak? kok sepertinya serius sekali? masalah masjid?" tanya Ayah bingung
"Saya mau menikahi Eka Yah," jawab Dimas yakin
Tentu saja aku sangat kaget dan secara spontan langsung berlari mendekati tempat Ayah dan Dimas bicara. Dwi tertawa seolah sangat terhibur dengan aksi konyol Dimas. Ayah dan Bunda jangan ditanya, tentu saja kebingungan.
"Dimas!" teriakku dari ruang tengah.
"Sik toh Mas, Eka dan keluarganya ya bingung no kalau kamu langsung to the point gitu, biar Papa yang ngomong!" papa Dimas berusaha mengambil alih kembali pembicaraan.
Dimas tampak menurut sambil melihatku dan tersenyum usil. Andai di ruangan itu hanya ada kami berdua aku yakin Dimas pasti sudah babak belur ku hajar tanpa ampun. Ayah menyuruhku duduk dan mendengarkan penjelasan Papa Dimas.
"Jadi begini Pak Ikhsan, ini tadi Dimas pulang minta saya sama Mamanya ikut beli mas kawin, katanya Eka sudah setuju untuk menikah, malah Dimas sudah minta tolong Pak Penghulu menikahkan dan Pak Lurah, Pak Polo, Pak RW dan Pak RT untuk menjadi saksi, jadi seperti yang dikatakan Dimas, maksud dan tujuan kami kesini adalah untuk meminta putri Pak Ikhsan menjadi istri putra kami Dimas, mohon maaf kalau mengagetkan karena terlalu buru-buru," jelas Papa Dimas panjang lebar
"Ingeh (Iya) Pak Siswanto, terimakasih sebelumnya, saya sejujurnya juga senang sekali kalau Nak Dimas bisa menjadi anak mantu kami, tapi ngapunten (maaf), Eka ini sudah ada yang meminta sebelumnya, sekarang dalam masa perkenalan, jadi saya kira tidak pantas jika ujug-ujug (tiba-tiba) menikahkan Eka dengan pria lain," Ayah mencoba menjelaskan posisiku dengan Mas Adi.
"Maaf memotong Yah, tapi kalau masalah perjodohan itu Eka dan Adi sudah sepakat untuk menolak, dan Eka inginnya menikah dengan saya, ini buktinya," Dimas memberikan videoku di warung tadi siang.
Aku sontak merebut hp Dimas dan mematikan video itu. Tentu saja aku marah, Dimas sangat lancang mengambil keputusan sepihak.
"Aku serius!" ucap Dimas tegas
"Aku tidak mau!" kesalku
"Kamu sendiri yang bilang mau!"
"Iya tapi nggak sekarang juga! kita bicarakan dulu masak-masak,"
"Bagaimana kalau besok bangun tidur tiba-tiba ini hanya mimpi?" tanya Dimas membuatku bingung.
"Maksudnya?"
"Ya walau cuma mimpi aku ingin menikah sama kamu!" jawab Dimas membuat semua orang tertawa termasuk Ayah
"Sudah-sudah, Eka duduk Nak," Ayah menyuruhku untuk kebali duduk setelah aku berdiri karena emosi
"Ayah mau tanya tolong kamu jawab jujur, kamu sama Adi bagaimana?"
"Eka dan Adi sepakat untuk tidak melanjutkan perjodohan, maaf Eka belum sempat bilang ke Ayah," ucapku sambil tertunduk merasa bersalah
"Terus perasaan kamu ke nak Dimas bagaimana?" pertanyaan Ayah membuatku terdiam
"Benar kamu mau menikah dengan nak Dimas?" tanya Ayah memperjelas pertanyaannya.
__ADS_1
"Ya mau, tapi tidak mendadak begini," ucapku sambil cemberut
"Tapi mau?" tanya Ayah lagi
"Mau," jawabku tertunduk
"Ya sudah, karena ini sudah malam, mari dimulai Pak Penghulu," ucap Ayah membuatku semakin kesal
"Ayah!" seruku
"Menikah nanti atau sekarang sama saja, sama-sama menikah, jadi lebih cepat lebih baik," ucap Ayah yang disambut gembira oleh Dimas
"Bunda tidak setuju," tiba-tiba bunda memberi angin segar
"Kenapa bunda tidak setuju?" tanya Ayah
"Setidaknya biar Eka dandan dulu, masak menikah pakai daster begini?" jawaban bunda mengubah angin segar menjadi ****** beliung.
Semua orang tertawa, aku semakin kesal dengan Dimas yang malah senyam-senyum tidak jelas. Aku lihat Dwi mengacungkan jempol ke arah Dimas membuatku semakin kesal.
"Dimas sudah belikan kebaya, ayo sini Mama bantu dandan," ucap Mama Dimas.
Bunda dan Mama Dimas mengandengku masuk kamar dan merias aku layaknya pengantin betulan. Sambil merias Mama Dimas bercerita.
"Datang sore tadi sekitar jam empat, langsung saya dan papanya diangkut ke kota pesan nasi kotak terus beli mas kawin, seperangkat alat sholat dan seserahan yang lain termasuk kebaya ini"
"Tadi nak Dimas antar Eka pulang sekitar jam satu siang bu, tapi tidak mampir katanya sibuk" ucap bunda
"Iya, sibuk ngebujuk penghulu biar mau menikahkan sekarang juga hahaha" jawab Mama Dimas
"Hahaha nak Dimas itu orangnya penuh kejutan ya bu?"
"Ya begitulah bu, ada saja ulahnya"
"Tapi Bu Sis pasti bangga anaknya bisa sesukse nak Dimas," puji Bunda
"Sukses? justru kata Dimas itu kegagalan!" ucap Mama Dimas membuatku penasaran
"Maksudnya Tante?" tanyaku heran
"Semua yang dia kerjakan itu cuma pelarian dari mikirin Eka katanya,"
Mama dan Bunda tertawa, tapi aku merasa perkataan itu bermakna sangat dalam. Sebesar itukah Dimas mencintaiku? Berapa lama waktu yang ia habiskan untuk menungguku? Lalu sekarang aku marah hanya karena masalah waktu pernikahan yang mendadak?
Setelah aku siap, bunda memberi komando untuk memulai akad nikah. Aku masih di dalam kamar bersama Mama dan Bunda. Aku mendengar lantang suara Dimas ijab qobul dengan Ayah diikuti semangat para saksi menggemakan kata "Sah" membuat seluruh tubuhku merinding hingga rasanya jantung ini berhenti berdetak untuk sesaat.
Rasa senang bercampur haru membuatku meneteskan air mata bahagia. Bunda memelukku dan mencium setiap sudut wajahku. Mama dan Bunda segera mengantarku menemui Dimas yang baru saja resmi menjadi suamiku.
Kami menandatangani beberapa berkas pernikahan kemudian Dimas memberikan aku satu set perhiasan setara 99 gram sebagai mas kawin. Untung saja Dwi memiliki kamera dan cukup mahir fotografi untuk bisa mengabadikan momen itu.
Suasana serba dadakan dan seadanya rupanya tidak mengurangi kesempurnaan kabahagiaan kami. Aku lega melihat semua orang bahagia. Aku lega kekesalanku pada Dimas mereda seketika. Ceritaku tidak akan seistimewah ini jika bukan Dimas pemeren utamanya.
__ADS_1