RAHASIA Cinta SMA

RAHASIA Cinta SMA
Canggung


__ADS_3

Malam mencapai puncaknya, aku mendapati Dimas tidak sedikitpun melepaskan pandangannya dariku. Aku merasa sangat canggung, rasanya tidak enak menangis seperti ini di depannya.


“Maaf membuatmu melihat aku menangis, kamu benar, aku memang cengeng” ucapku sambil menyeka air mata dan tertawa kecil.


Dia tidak mengucapkan sepatah katapun, dari saku celananya dia keluarkan selembar saputangan, itu adalah saputangan yang kuberikan padanya setelah Abah meninggal.


“Ini sapu tangan yang dulu? Masih kamu simpan?” tanyaku heran


“Hanya itu satu-satunya yang tersisa dari kamu,” jawab Dimas sambil merubah posisi duduknya.


Suasana semakin canggung, aku merasa seperti orang yang jahat sudah meninggalkan dia begitu saja. Segera ku coba untuk mencairkan suasana.


“Kamu tiggal dimana?” tanyaku kemudian


“Rencananya di rumah Abah,” jawab Dimas membuatku bingung, apa maksudnya rencana? Memangnya sekarang dia tinggal dimana?


“Maksudnya?” tanyaku tidak mengerti


“Aku baru pindah dari Amerika, mau merintis usaha di kampung,” jawab Dimas menjelaskan dengan singkat


“Oh begitu, lalu ada perlu apa kamu dari Jakarta?” tanyaku masih penasaran


“Setelah Citra menikah orangtuaku pindah ke Jakarta, kami berkumpul di rumah Abah untuk memperingati haul Abah”


“Lalu mengapa kamu sendirian? Dimana orangtuamu?”


“Sudah duluan, mampir ke rumah Kak Putri”


“Kenapa tidak bareng?”


“Aku masih ada urusan,”


“Kamu bekerja di Bidang apa?”


“Programer,”


“Hebat! sekali insinyur tetap insinyur! Tidak seperti aku, dulu ingin jadi dokter lalu guru lalu desainer tapi akhirnya malah jadi marketing hehehe,” ucapku sambil tertawa, dia hanya tersenyum tipis, sangat tipis hingga hampir tidak tampak seperti senyum.

__ADS_1


“Kamu tidak ingin tanya sesuatu tentang aku?” aku mencoba memancingnya berbicara siapa tahu dia juga ingin tahu tentang aku.


“Aku tidak tahu apa yang tidak aku tahu tentang kamu,” jawab Dimas


“Memang kamu tahu apa tentang aku? Kita kan sudah lama tidak bertemu, aku sudah banyak berubah loh,” dia tidak menjawab hanya menatap mataku dengan tajam seakan dia berkata “aku tahu segalanya!” aku takut dengan Dimas yang seperti ini.


Aku memutar otak mencari topik pembicaraan lain. Lalu aku teringat coklat panas dan sepucuk surat yang tadi Dimas berikan untuk ku.


“Tadi kok kamu tahu tempat duduk ku? mana tahu kalau aku lagi ngelamun, jangan-jangan kamu cenayang ya? hehehe” aku berharap kali ini akan berhasil mengembalikan suasana hatinya


“Aku cari kamu, tapi kamu lagi bengong sampai tidak dengar aku memanggil jadi aku kira kamu sedang tidak mau di ganggu,” jawabnya dengan ekspresi yang masih datar.


Entah mengapa aku jadi merasa kesal padanya. Maksudku aku sudah berusaha untuk mencairkan suasana tapi dia terus saja bersikap dingin seperti itu.


“Pertanyaan terkhir! Kamu belajar darimana sih jutek kayak gini? Nyebelin tahu nggak?” tanyaku marah


“Aku kangen Ka, kangen kamu galakin,” ucapnya sambil tersenyum tapi aku tidak luluh.


Jika dia bersikap seperti itu hanya untuk membuat aku kesal tentu saja akan aku kabulkan permintaannya. Aku membuang muka dan melipat tanganku di depan dadaku.


-*-*_*-*-


Malam telah berkemas untuk pergi, hangat perlahan memeluk bumi. Aku masih terjaga dengan jiwa yang jauh dimasa lalu. Laju kereta api mulai melambat kulihat di luar cendela tampak kawasan pemakaman umum, aku teringat suatu hari aku dan Dimas naik kereta tanpa membeli tiket karena tempat duduknya sudah penuh. Masa itu manajemen Kereta Api Indonesia belum sebaik sekarang, banyak orang naik kereta tanpa membayar tiket. Ada juga yang membayar tapi tidak kebagian tempat duduk. Di dalam kereta penuh sesak, ada yang berjualan, ada yang membawa ayam, ada yang tidur di lantai kereta, ada yang merokok, sangat tidak nyaman.


Hari itu kami masih memakai seragam sekolah. Kami berdiri di samping pintu kereta di gerbong paling belakang, dimas berdiri di belakangku, menjaga agar aku tidak terdorong oleh orang-orang.


“Aku tidak akan mengajak kamu pacaran di kuburan seperti itu,” kata Dimas sambil menunjuk beberapa pasang orang pacaran di kuburan belakang stasiun.


“Pacaran? Kita sudah putus!” jawabku jutek


“Iya, iya, maksudku nanti kalau kita pacaran lagi,” jawab Dimas dengan percaya diri


“Ogah!” jawabku marah sambil memasang earphone walkman di telinggaku


Hari ini entah karena masih terlalu pagi atau memang sudah ada penertiban jadi tidak ku jumpai ada anak pacaran di kawasan pemakaman itu. Kereta tiba pukul tujuh, aku turun dengan menjinjing tas bawaanku, dari jauh aku melihat Dimas berdiri di samping pintu stasiun. Rupanya dia sengaja menungguku.


“Di jemput?” tanya Dimas sambil menarik tas yang ku bawa, dia bermaksud membawakannya, ku lihat dia tidak membawa banyak bawaan, hanya tas ransel yang bersandar di punggungnya, jadi kubiarkan saja dia membawakan tasku.

__ADS_1


“Iya, kamu?” tayaku ingin tahu


“Udah bawain tas masak nggak diajak bareng?” dia tersenyum usil sambil berlenggang meninggalkan aku, aku hanya bisa tertawa dibuatnya. Dimas memang sangat pandai membuat orang kesal dan senang dalam satu waktu yang bersamaan.


-*-*_*-*-


Setibanya di depan stasiun aku mengamati suasana sekitar setasiun. Itu adalah stasiun tempat aku dan Dimas menunggu kereta atau bahkan berlari mengejar kereta yang sudah mulai berjalan untuk mengantar kami pulang. Kereta api dari Jakarta memang hanya berhenti di stasiun besar saja sehingga kami harus turun di stasiun kota.


Aku melihat adik ku Dwi dengan pacarnya Ranti dari kejauhan berjalan menghampiri kami. Dwi dan Ranti sudah tiga tahun pacaran, orang tua Ranti meminta agar Dwi segera menikahi Ranti. Karenanya orang tua ku mendesak agar aku segera menikah. Bunda tidak ingin aku dilangkahi oleh adik ku. Kata orang jawa itu akan membawa sial dan membuatku menjadi perawan tua. Padahal semua orang juga tau jika kini aku sudah menjadi perawan tua.


Aku lulus SMA lima belas tahun lalu, itu artinya jika ada temanku yang menikah setelah lulus SMA maka kemungkinan anak mereka sudah SMP tahun ini. Waktu itu anak gadis di desaku banyak yang dinikahkan setelah lulus SMA. Orang tua mereka percaya jika seorang wanita takdirnya adalah menjadi ibu rumah tangga yang pekerjaannya masak, manak, macak atau 3M. Masak adalah memasak, menyiapkan makanan untuk keluarga. Manak adalah melahirkan dan merawat anak. Macak adalah berdandan untuk menyenangkan suami. Beruntung orangtua ku termasuk orang tua yang modern dan demokratis. Mereka membebaskan aku memilih jalan hidupku sendiri, meskipun dalam urusan jodoh Bunda sangat cerewet. Aku mengerti kekhawatiran mereka, anak gadis seusiaku memang seharusnya sudah memiliki pendamping hidup. Apalagi usia Ayah sudah tidak muda lagi beliau sangat mengharapkan hadirnya cucu.


“Mas Dimas kapan datang dari Amerika?” tanya Dwi pada Dimas, bahkan adikku saja tahu jika Dimas tinggal di Amerika. Aku sungguh apatis lima belas tahun ini.


“Sudah minggu lalu, tapi mampir dulu di Jakarta, kamu gimana? Sibuk apa sekarang?” tanya Dimas kepada Dwi


“Aku menjadi guru olah raga Kak”


“Oh ya? Bugus itu, dimana kamu mengajar?” tanya Dimas kemudian


“Sebuah SMA swasta di Surabaya, bulan depan insyaalah mau ikut test CPNS, doa kan ya Kak?” ucap Dwi meminta doa Dimas


“Amin, pasti enak ya jadi guru, di gandrungi banyak siswi cantik,” jawab Dimas dengan wajah yang berandai-andai.


“Kalau gurunya seperti Kak Dimas dijamin siswinya bakal rajin olah raga,” kata Ranti membuat semua tertawa


“Kalau kamu sibuk apa? Eh siapa tadi namanya?” tanya Dimas kepada Ranti


“Ranti mas, saya masih melanjutkan S2,” jawab Ranti


“Wah, hebat! sudah cantik, pintar pula, cepet di rabi Wi selak digondol kucing” goda Dimas kepada Dwi dalam bahasa jawa yang artinya 'cepat di nakahi Wi sebelum di ambil kucing'. Kucing yang dimaksud bukanlah hewan melainkan istilah untuk mengambarkan laki-laki hidung belang.


“Mangkanya Mbak Eka buruan di halalin biar saya bisa segera melaksanakan yang harus dilaksanakan hahahaha,” jawab Dwi sambil tertawa


Dimas, Dwi dan Ranti tertawa bersama seolah itu adalah hal yang lucu. Aku hanya bisa menjewer telingga Dwi dari belakang. Formasi duduk kami saat itu jika digambarkan Dimas duduk di depan di samping Dwi yang sedang mengemudikan mobil. Aku duduk dibelakang Dimas dan Ranti duduk disampingku tepat di belakang Dwi.


-*-*_*-*-

__ADS_1


__ADS_2