
Suasana canggung menemaniku dalam sunyi. Ku lihat Dimas masih belum berselera untuk bicara. Aku ingin mengawalinya tapi binggung sendiri memulai dari mana. Hingga Dimas angkat bicara.
"Mau ngomong apa?"
"Hhmm anu itu tentang hhmmm perjodohanku," ucapku terbata.
Dimas tidak bertanya lagi, aku mencoba melanjutkan lagi pembicaraanku tapi Dimas hanya diam.
"Kemarin aku sudah ketemu Mas Adi, kita sudah sepakat untuk....."
Dimas tiba-tiba menghentikan laju mobilnya membuatku terkejut. Untung tidak ada kendaraan lain dibelakang kami. Jika tidak bisa jadi akan terjadi kecelakaan. Aku tentu saja tidak melanjutkan pembicaraanku. Hingga akhirnya Dimas menepi, dia berhenti di depan sebuah warung kecil. Setelah berdiam cukup lama akhirnya dia turun dari mobil menuju warung itu tentu saja aku mengikutinya.
"Bu kopi satu," ucapnya memesan secangkir kopi
"Enggak! teh panas saja dua bu," aku meralat pesanan Dimas
Tentu saja Dimas melihatku seolah kesal tapi aku diam saja. Dimas pergi duduk di depan dan aku menyusulnya setelah memastikan kami memesan teh panas dua cangkir.
Aku melihat Dimas mulai menghisap rokok yang baru ia nyalakan. Sesekali ia tersedak dan batuk, sepertinya dia bukan perokok, aku juga baru sekali itu melihat Dimas merokok. Tapi tentu saja aku tidak tahu selama ini apakah dia memang merokok atau tidak. Entah mengapa aku kesal dan merebut batang rokok dari mulutnya lalu mematikannya dengan menginjak bara apinya. Dimas kembali menyalakan batang rokok yang baru. Aku pun kembali mematikannya. Untuk ketiga kalinya Dimas menyalakan batang rokoknya, kali ini ku biarkan.
"Kamu pasti semalam tidak tidur kan? terus nggak sarapan juga? tadi di tempat reuni aku juga tidak lihat kamu makan, sibuk kecentilan tebar pesona sama cewek-cewek cantik," ku lihat senyum tipis di ujung bibir Dimas.
"Terus sekarang sok mau pesan kopi, ngerokok, mau kamu apa sih? sakit lagi kayak dulu?" tanyaku kemudian.
"Aku menyedihkan ya? seperti ini di depanmu," tutur Dimas sambil menghela nafas panjang kemudian mulai merebahkan tubuhnya di bayang (semacam amben untuk tempat duduk dari bambu).
Aku bisa merasakan betapa putus asanya Dimas. Aku bahkan tidak mendengar candaannya barang sedikit pun, termasuk saat reuni tadi. Aku tidak yakin apakah dia akan memaafkan aku dan masih mau menerimaku.
"Tadinya aku mau bilang kalau aku sama mas Adi sudah sepakat untuk menyudahi perjodohan kita, aku mau menikahnya sama kamu saja," ucapku lirih tidak percaya diri.
Seketika Dimas bangun dari tidurnya seolah tidak percaya apa yang aku katakan. Dia memintaku untuk mengulang perkataanku tapi aku menolaknya.
"Apa?"
"Nggak usah pura-pura tidak dengar!" jawabku ketus engan untuk mengulang perkataanku.
"Aku tadi dengarnya sambil ketiduran dikit jadi nggak yakin, ayolah ulangi!" pinta Dimas
"Nggak mau!" jawabku tegas
"Ayo ayo ayoo! Ekaa," Dimas mulai merengek, sifat aslinya kembali keluar.
"Enggak! udah terusin aja sok cool nya, ngapain ngrengek?" godaku
"Bukan sok cool ya! aku beneran frustasi, mangkanya kamu harus tanggung jawab!" ucapnya dengan wajah kesal
"Tanggung jawab apa? kamu yang nggak mau dengar orang ngomong!" jawabku lebih kesal
"Ya sudah aku yang salah, tapi kamu ulangi lagi yang tadi ya?" Dimas belum menyerah
"Ulangi apa? udah lupa tuuh," jawabku usil
"Kalau nggak mau aku cium disini nih!" ancam Dimas
__ADS_1
"Dih kok maksa sih? pake ancam segala!" jawabku sewot
"Aaah Ekaaaa bilang sekali lagi apa susahnya sih?" rengek Dimas seperti anak kecil
"Kalau udah denger ngapain pake di ulang?" tanyaku usil
"Biar yakin itu bukan mimpi,"
"Bukan, itu bukan mimpi, udah yakin kan?"
"Eka!" Dimas mulai jengkel denganku
Aku tahu dia benar-benar jengkel tapi rasanya aku sangat senang. Kapan lagi aku bikin si raja usil ini kesal. Melihatnya semakin kesal membuatku tertawa tidak tertahankan. Dimas melihatku dalam diam, aku masih terus tertawa. Hingga akhirnya Dimas merebahkan kepalanya dipangkuanku.
"Apa sih Mas, bangun nggak? malu dilihat orang!" ucapku kesal
Suasana warung itu memang sepi hanya ada beberapa orang sedang minum kopi dan makan di dalam. Tapi aku malu jika sampai ada yang melihat.
"Bilang dulu, baru aku bangun," jawab Dimas sambil memejamkan mata seolah bersiap untuk tidur
Seharusnya aku tahu jika Dimas tidak mungkin akan menyerah.
"Ya udah, bangun dulu tapi!"
"Enggak, ngomong dulu!" Dimas masih belum menyerah
"Iiih kamu itu! Aku janji bakal ulangi lagi tapi kamu bangun dulu! malu Mas!" kesalku
"Janji?"
"Kalau tidak aku cium ya?" ucapnya tidak percaya
"Enggak percaya banget sih?"
Setelah aku berjanji barulah dia bangun dari pangkuanku. Dia mengeluarkan hp dan mulai merekamku.
"Ngapain pake direkam?" tanyaku
"Buat bukti," jawabnya serius
"Nggak ah,"
"Sudah janji loh," harusnya aku tahu jika Dimas tidak akan begitu saja melepasku
"Iya tapi nggak pake di videoin segala," jawabku kesal
"Harus biar aku punya bukti kalau kamu berubah pikiran lagi,"
Aku mengerti kekhawatiran Dimas, aku memang kerap berubah fikiran meskipun bukan maksudku untuk seperti itu. Akhirnya aku menuruti keinginan Dimas.
"Ngomong apa nih?" tanyaku bingung
"Ya yang kamu bilang tadi,"
__ADS_1
"Iya tapi gimana?"
"Terserah, aaah Eka buruan!"
"Saya Eka cuma ingin menikah dengan kamu!" ucapku masih ingin menggoda Dimas
"Dimas nya mana?" tanya Dimas kesal
"Disini kan?" jawabku sambil menahan tawa
"Ekaaa," Dimas mulai kesal
"Katanya terserah?" godaku
"Iya tapi sebut namaku biar jelas kalau yang kamu maksud itu aku," pinta Dimas
"Tadi juga aku nggak menyebut namamu kok," jawabku usil
"Iya tapi ini kan buat bukti," ucap Dimas dengan dahi yang masih berkerut tanda dia masih kesal kepadaku
"Aku janjinya cuma ulangi aja, sudah kan?"
"Aku cium nih!"
"Enak saja!"
"Mangkanya ayo!"
"Nggak mau!"
"Yaudah deh huuuuuh!" Dimas menghela nafas kecewa bercampur kesal
"Saya Eka cuma ingin menikah dengan pria yang saya cintai, Dimas Nuzulazmi," ucapku sambil tersenyum malu
Dimas tertunduk dengan senyum yang sama denganku. Pipinya merah, kulihat dia beberapa kali menahan senyum dengan menggigit ujung bibirnya, ooh sangat imut. Kami hanya saling lirik dan tersenyum malu. Hingga teh pesanan kami datang.
Dimas mulai meminum tehnya, aku yakin itu untuk mengalihkan suasana tapi dia malah kepanasan karena aku memang memesan teh panas. Aku tertawa dan dia salah tingkah mengibaskan lidahnya. Suasana siang itu sungguh sempurna hingga Dimas memutar video yang aku kira tidak terekam oleh Dimas.
"Yess!" teriak dimas sambil mengepalkan tangannya
"Jadi kamu cuma pura-pura ngambek tadi?" tanyaku kesal
Dimas hanya tertawa sambil mengulang lagi dan lagi video itu. Aku berusaha merebutnya ingin menghapus video itu tapi Dimas menyimpannya dengan baik. Aku kesal sekali, lalu akupun mulai cemberut berharap Dimas akan luluh dan menghapus video itu. Namun ternyata dia justru berlenggang masuk ke dalam warung membuatku semakin kesal.
Sesaat kemudian dia keluar dan mengajak aku pulang. Tentu saja aku binggung, kami bahkan belum meminum teh yang kami pasan.
"Teh nya giman?" tanyaku
"Kelamaan nunggu dingin, aku sibuk, yuk cepat pulang,"
"Sibuk beneran? kirain cuma alasan buat menghindariku," ucapku sambil bangun dari tempat dudukku.
Kami segera melanjutkan perjalanan. Dimas mengemudi dengan cukup kencang membuat aku berfikir jika dia memang benar-benar sibuk jadi aku tidak menganggunya.
__ADS_1
Perjalanan ini terasa begitu panjang dan penuh dengan rasa. Marah, kesal, sedih, cemas, takut, tapi yang paling aku suka adalah rasa senang dan bahagia. Aku tidak akan melupakan hari ini, perjalanan ini, warung ini dan moment ini.