
"Nduk ayo bangun, sebentar lagi teman Ayahmu datang loh, kamu dandan yang cantik, pake baju yang pantes,"
"Ini kan hari minggu Bundaa, hari tidur hehe, Eka juga masih capek banget dari perjalanan jauh, nggak bisa besok aja?" jawabku berusaha menghindari perjodohan.
"Eeeh kok malah ngenyang, wis ndang bangun, perawan kok tangine awan men" (eeh kok malah nawar, udah cepat bangun, anak gadis kok bangunnya siang banget).
Bunda pergi keluar dari kamarku, aku masih bermalas malasan di kasur. Aku berfikir akan memakai baju apa? baju yang pantes untuk acara perjodohan.
"Kebaya kah? atau bluose saja? ooh sepertinya aku bawa dress, aaah bahkan aku belum sempat membongkar isi tasku, males bangeeeet!" gumamku sendirian
Disaat seperti itu bukannya segera membongkar tas dan menyiapkan pakaian aku malah melihat HP dan berselancar di dunia maya. Aku mencoba mencari Aura, Ayu dan Diah juga Abas dan Dimas. Tidak sulit menemukan mereka, terutama Ayu yang sekarang sudah menjadi news anchor di sebuah televisi swasta di Surabaya.
"Ayu semakin cantik, ooh benarkah ini Diah? sekarang jadi gendut hahaha, sepertinya sih iya add aja deh. Hhmmm Aura yang ini bukan ya? di lock sosmednya nggak bisa kepo deh, tapi dari profil picture sih kayak biolanya dia jaman SMA, aaah add aja deh. Terus selanjutnya Dimas!" aku asik sendiri hingga lupa waktu.
"Woow Dimas ganteng banget, eh ini kan artis, ini juga, laah ini bukannya presiden? waaah Dimas sebenarnya kerjanya apa sih? Programer kok bisa sampai foto sama orang-orang terkenal? Eh ini Abas ya yang comment? kepoin ah... buahahahaha gendut bangeet,"
buuuuk
Sebuah bantal mendarat di punggungku
"Disuruh bangun malah cekikikan, lihat udah jam berapa ini? cepat mandi, keburu tamunya datang!" kesal Bunda
Saat aku keluar kamar kudapati makanan telah tertata rapih di meja makan, sepertinya Bunda ingin menyajikan menu spesial hari ini. Ayah berkali-kali menyapu lantai agar terkesan bersih. Dwi sedang membantu Bunda mengelap sendok dan garpu. Adikku meskipun lelaki tapi dia sangat rajin membantu orang tua.
Sepertinya semua orang sangat menanti hari ini kecuali aku.Bisa dikatakan ini adalah hari ku, tapi justru aku yang paling tidak bersemangat. Akhirnya ku putuskan untuk setidaknya berdandan yang cantik agar bunda tidak kecewa.
-*-*_*-*-
Tepat pukul 9 pagi tamu yang ditunggu telah datang. Ayah menyambut hangat temannya dengan bersalaman dan berpelukan. Ibu mempersilahkan tamu untuk duduk di kursi yang sudah disiapkan. Ayah sedikit bercengkrama mengingat masa lalu dengan Om Tiyo.
Ada dua pria muda disana, aku memperhatikan mereka berdua. Yang satu seperti sepantaran dengan Dwi adikku, gayanya gaul, memakai kaos hitam yang dirangkap dengan kemeja putih kotak kotak hitam. Sepertinya bukan dia, aku menebak-nebak siapakah yang akan dijodohkan denganku.
Satu lagi memakai baju koko putih dengan jam tangan mahal bertengger di pergelangan tangannya. Menyadari aku mengamatinya, pria itu tersenyum kepadaku, tentu saja ku balas senyumnya. Sebenarnya aku malu karena ketahuan mengamati dia.
__ADS_1
"Ini yang namanya Eka?waah anakmu cantik San," kata teman Ayah membuatku malu, oh ya Ayahku bernama Ikhsan.
"Iya, siapa dulu bapaknya hahaha," Semua tertawa
"Kalau ini dua jagoanku San, yang ini Adi, dokter di Rumah Sakit Harapan, yang ini adeknya Hari masih lanjut kuliah S2 di Surabaya, calon dosen,"
"Waah pintar semua anakmu, Terus yang mana nih yang mau jadi mantuku?" tanya ayah tidak sabar
"Terserah tinggal pilih saja, Eka mau yang mana?" tanya Om Tiyo aku hanya tertunduk malu
"Aaah macam ikan di pasar saja boleh pilih pilih," kata ayah yang disambut tawa semua orang
"Hahahahaha, dua anak ku ini sama-sama bujang, kalau anak jaman sekarang bilang jomblo, yang satu asik kerja, yang satu asik belajar, bapaknya ini yang sudah makin tua pingin punya cucu seperti kawan sejawat lainnya, "
"Lain halnya aku, ini Dwi adeknya Eka sudah punya pacar, orang tuanya sering tanya anaknya kapan dilamar, maksud hati pingin cepat mantu, punya cucu, tapi mau gimana kakaknya itu loh susahnya kalau urusan jodoh, begini tidak mau, begitu tidak mau, pusing yang nyarikan," keluh Ayah
"Bukan maksud pilah-pilih, cuma belum ketemu yang cocok," jawabku membela diri
"Benar itu, meskipun perempuan tetap harus mencari yang cocok dihati, pernikahan kan sekali seumur hidup San, sabar," ucap Om Tiyo membuatku lega
"Iya, kita sebagai orangtua memang hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk anak-anak kita, mereka berhak memutuskan pilihan mereka sendiri," tambah ayah
"Bener itu, karena pada dasarnya itu kan hidup mereka sendiri San, nggak bisa kita atur-atur! jaman sekarang beda dengan jaman dulu, dulu bapak bilang nikah kamu sama dia! udah berangkat ke KUA, alhamdulillah langgeng sampai sekarang hahahaha,"
"Wah kalau aku, bunga desa yang ku nikahi Yok, nggak mau aku kalau nggak cantik," jawab ayah sambil melirik ke arah ibu yang membuat ibu tersipu malu dan semua tertawa.
Sejujurnya aku suka suasana hari itu, penuh kehangatan. Seandainya itu bukan moment perjodohanku mungkin aku akan lebih menikmatinya.
"Nak Adi usia berapa?" Tanya ibu kepada pria yang memakai baju koko
"Bulan ini saya genap 37 tahun buk" jawabnya sambil tersenyum
"Wah mau ulang tahun ya? Kalau nak Hari?"
__ADS_1
"Saya 35 tahun tante" Jawab pria ber hem kotak-kotak membuat aku terkaget.
Dari gaya dan penampakannya dia terlihat masih sekitar 25 tahunan tapi ternyata sudah 35 tahun. Mungkin karena dia dosen, banyak bergaul dengan mahasiswa jadi ikut terlihat muda.
"Wah wah kalau saya jadi Eka pusing ini kepala saya, dua duanya top markotop," goda ibu kepadaku sambil mencubit pinggangku
"Hahaha, Alhamdulillah bu anak-anak ini nurut, nggak neko-neko," ucap istri Om Tiyo
"Kalau dek Eka, suka pria yang bagaimana?" tanya Adi membuatku kelabakan
"Sebenarnya tidak ada kriteria tertentu, yang penting cocok saja,"
"Kalau sama mas Adi cocok?" tanya Hari sambil menyenggol bahu Adi, sepertinya dia sedang mengoda kakaknya
"Hhmmm dilihat nanti deh," jawabku ragu
"Nggak nolak tuh mas, hihihi," lagi lagi Hari mengoda kakaknya
Ku lihat Adi tampak malu, dia mencoba menyembunyikan senyumnya, tapi Hari terus mengodanya.
"Hari ini lebih rame anaknya, ceria, suka becanda mangkanya awet muda, kalau Adi lebih serius dan lebih kalem," jelas Om Tiyo
"Wah sama ini, Eka juga serius anaknya," ucap Abah
"Berarti cocok Om" lagi-lagi Hari mengoda Adi
"Kalau saya sih cocok pak, tidak tahu Dek Eka" jawab Adi membuat suasana riuh ramai
"Wah wah Adi udah terpikat nih San, Eka gimana? mau sama Adi?" tanya Om Tiyo
"Hhhmmm biar kita saling kenal dulu ya Om?" jawabku kemudian
Aku tahu Adi itu tampan, mapan, pinter, dokter pula, sepertinya dia juga baik dan sabar, tapi aku tidak mau asal setuju tanpa tahu kepribadiannya terlebih dulu. Seperti yang dibilang om Tiyo menikah itu sekali seumur hidup jadi harus benar-benar selektif.
__ADS_1
Setelah lama berbincang bunda mengundang semua pindah ke meja makan untuk makan. Hari itu pun ditutup dengan aku bertukar nomer hp dengan Adi untuk bisa berkomunikasi dan saling mengenal.